Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 54


__ADS_3

"Oke. Cukup sudah kehebohan yang aku buat. Jadi nanti aku akan traktir kalian semua karena sudah merasa tidak nyaman dengan kejadian barusan," kata Aurora mengejutkan. Manajernya menoleh dengan heran. Aurora sudah terlanjur sangat malu.


 


Setelah semua berdengung karena pengumuman yang dibicarakan oleh wakil Presdir mereka, kini mereka berdengung kembali karena pernyataan Aurora. Bahkan manajernya pun tidak yakin kalau Aurora akan melakukan itu. Bola mata Aurora mendelik, itu artinya manajernya harus diam.


 


Semuanya pun bersorak gembira bersamaan. Tentu saja setuju. Siapa yang tidak mau makan gratis bukan? Tidak peduli wanita ini sudah bersikap gila tadi. Sekarang yang terpenting adalah makanan gratis. Begitu pikir orang-orang ini.


 


"Kamu berdua tidak aku traktir. Karena aku tidak suka kalian. Jadi jangan datang," kata Aurora menunjuk Kikan dan Dicto di depannya. Tim perencanaan 1 tersenyum mencela. Dicto hanya mengangkat bahu. Kikan juga mengangkat alisnya. Menerima kalau keduanya tidak termasuk undangan. Setelah mengatakan itu, Aurora pergi di ikuti manajernya.


 


"Jangan protes, kalau aku mengumumkan hubungan kita yang sebenarnya. Kamu sudah janji membiarkan aku mengatakan pada semuanya," kata Dicto yang di tatap dengan bola mata Kikan. Dia menangkis tatapan menuduh istrinya. Perempuan ini menipiskan bibir seraya menghela napas.


 


“Aku tidak mengatakan apa-apa,” kata Kikan pelan.


 


“Namun bola matamu ingin memprotes aku,” jelas Dicto yang peka.


 


“Tadinya iya, tapi aku sudah berjanji untuk membiarkanmu mengatakan pada semuanya soal hubungan kita,” kata Kikan pasrah. Dicto terkekeh.


 


 


"Denna, biarkan aku bicara dengan Kikan. Setelah itu akan aku kembalikan Kikan, dan kalian bisa bicara lagi,” kata Dicto yang langsung diberi anggukan setuju oleh Denna.


 


Siapa yang bisa membantah wakil Presdir?


 


“Ayo,” ajak Dicto menggiring tubuh Kikan untuk menjauh dari tempat itu.


 


“Kemana?” tanya Kikan tidak mengerti.


 


“Makan siang berdua.”


 


“Kamu sedang makan siang di sini. Sebentar lagi syuting akan di mulai lagi,” kata Kikan tidak ingin Dicto kehilangan kesempatan melihat proses jalannya syuting iklan.


 


“Aku bisa menyerahkan pada Astra. Kamu tahu dia bisa di andalkan soal pekerjaan.” Dicto menarik tangan Kikan dengan sedikit memaksa. Saat hendak mendekat ke Astra, Ruby menghadang.


 


“Kak Dicto mau kemana?”


 


“Menyelesaikan urusan yang lain," jawab Dicto.

__ADS_1


 


“Sepertinya kamu puas sudah membuat banyak orang memihakmu,” tuding Ruby pada Kikan.


 


“Semua orang tidak memihak ku, Ruby. Mereka tidak melakukan itu. Hingga Dicto tetap wajib mengikuti prosedur dengan memindahkan aku dari tim 1 meski aku adalah istrinya. Kamu tahu itu kan?” kata Kikan tidak ingin kalah. Dicto menoleh ke samping dengan cepat. Ini pertama kalinya Kikan menyebut dirinya sendiri istri. Ruby menata wajahnya yang menjadi masam.


 


“Kamu juga sudah membuat Kak Aurora malu,” imbuh Ruby masih ingin membuat Kikan terpojok.


 


“Bukan aku yang membuat dia malu, tapi dirinya sendiri dan orang yang selalu membenciku tanpa suatu alasan yang jelas, yaitu kamu,” tunjuk Kikan pada Ruby. “Sepertinya kamu selalu mengatakan hal buruk tentangku padanya. Itu membuat Aurora merasa perlu tidak menyukaiku juga.” Kikan tidak lagi menahan diri.


 


"Berhenti menjadikan Kikan alasan kamu marah karena Dicto pernah menjadi kekasihnya," tegur Dicto membuat Astra yang mendekat mengerjapkan mata heran. Ruby melebarkan mata. "Jangan menyembunyikan fakta bahwa Astralah yang mengkhianati Kikan dan memilih bersamamu. Itu berarti dia tidak bersalah. Jika kamu melihat sikap Astra berbeda ke Kikan, itu murni dari dia, bukan Kikan.”


 


Mendengar ini Ruby mendengus pada Dicto. Apa yang di katakan kakaknya benar  Dia hanya menjadikan Kikan alasan untuk menyenangkan dirinya. Melupakan fakta bahwa Astra ternyata masih mencintai Kikan.


 


“Berhenti membuat dirimu menyebalkan, Ruby,” pungkas Dicto ingin menghentikan benang kusut di antara mereka berdua. Ruby diam. Dicto mengajak Kikan berjalan menjauh dari Ruby dan berhenti tepat di depan Astra.


 


“Sebaiknya apapun yang kamu rasakan pada Kikan saat ini, buanglah. Kikan milikku. Dia istriku. Jadi aku tidak akan mendiamkan segala hal yang merusak hubungan kita.” Sekarang Dicto memperingati Astra. “Fokuslah pada Ruby yang sangat mencintaimu hingga menjadi gila,” kata Dicto menggerakkan dagunya menunjuk adiknya. “Aku menyayanginya meski dia seperti itu, karena dia adikku. Tetapkan hatimu padanya dan buatlah dia nyaman. Aku mohon padamu.”


 


Kikan menatap Dicto terpana.


 


 


“Bagus. Memang seharusnya seperti itu. Ayo Kikan kita juga harus menyelesaikan urusan kita,” ajak Dicto dengan senyum miringnya. Kikan tidak paham itu. Namun wajahnya terasa panas.


 


Ternyata Dicto mengajak Kikan ke area parkir menuju mobilnya.


 


“Kamu kesini naik mobil sendiri?” tanya Dicto. Kepala Kikan menggeleng.


 


“Tidak. Aku naik mobil online. Bukannya tadi pagi aku ikut denganmu,” kata Kikan mengingatkan.


 


“Ah, iya. Masuklah,” pinta Dicto membukakan pintu mobil. Kikan masuk tanpa ragu. Dicto menyusul kemudian. Setelah duduk di bangku belakang kemudi, pria tidak langsung menyalakan mesin.


 


“Ada apa?” tanya Kikan heran.


 


“Ada yang lupa.”


 

__ADS_1


“Ya? Apa?” tanya Kikan panik. Ia menoleh ke luar jendela. “Barang mu tertinggal?” Kikan sudah mau membuka pintu, bermaksud ikut turun mencari barang Dicto yang tertinggal.


 


“Bukan itu Kikan,” cegah Dicto menahan bahu Kikan. Perempuan ini urung membuka pintu.


 


“Bukan? Lalu apa?” tanya Kikan menoleh pada Dicto. Mendadak pria ini mendekatkan tubuhnya dan memeluk Kikan erat. “Dicto ...”


 


“Aku lupa memelukmu erat tadi. Aku terlalu sibuk menjelaskan banyak hal hingga lupa hal penting seperti ini.”


 


“Memangnya aku bilang butuh di peluk?” tanya Kikan mencela.


 


“Bukan kamu yang butuh, tapi aku. Aku yang butuh pelukanmu,” kata Dicto mengaku. Kikan tergelak ringan.


 


“Kenapa tidak memelukku di tempat tadi?” iseng Kikan bertanya. Dicto langsung menjauhkan tubuhnya dari Kikan.


 


“Kamu tidak marah, jika aku memelukmu di depan semua orang?” tanya Dicto terkejut.


 


“Aku tidak tahu.” Kikan masih jual mahal. Dia masih berupaya bersikap terbuka secara perlahan.


 


“Kamu membolak-balikkan perasaanku, Kikan.”


 


“Aku tidak tahu karena itu pertama kalinya orang lain tahu hubungan kita berdua,” jelas Kikan.


 


“Jadi, maksudmu ... kamu ingin tahu?” tanya Dicto antusias. Kikan melempar punggungnya ke sandaran mobil sambil menghela napas. Ia menghindari pertanyaan itu. Dia memang sempat menunggu di peluk pria ini tadi.


 


“Aku ingin makan buah,” kata Kikan mendadak. Jika begini, Dicto tahu bayinya sedang lapar.


 


“Oke. Di tempat lain mau? Karena kamu harus makan nasi dulu,” tawar Dicto langsung menyalakan mesin mobilnya.


 


“Iya.”


 


“Baiklah. Tenang dulu ya anakku. Jangan membuat sakit mama mu. Papa akan mencari tempat makan buah yang baru,” kata Dicto sambil menoleh pada perut Kikan. Seakan dia sedang berdialog dengan bayi di dalam kandungan.


...____...



 

__ADS_1


__ADS_2