
"Ma-maaf." Kikan menurunkan tangannya, tapi Dicto menangkapnya. "A-apa?" tanya Kikan yang terkejut.
"Kamu tahu? Aku berdebar sekarang." Tiba-tiba saja Dicto meletakkan tangan Kikan di atas dadanya. Kikan membeliak. Dia terkejut dengan apa yang dilakukan pria ini sekarang.
Kikan hendak menarik tangannya, tapi dengan tangkas, Dicto menahannya.
"Tidak. Rasakan dulu apa yang terjadi karena kamu berdiri dekat denganku." Dicto tidak bohong. Berdiri sedekat ini dengan Kikan ternyata membuatnya kacau.
Kikan mengedip berulang kali. Di paksa menyentuh dada pria ini membuatnya kebingungan.
"Dicto, lepaskan tanganku," kata Kikan geram.
"Aku akan lepaskan jika kamu bersedia makan siang denganku, Kikan. Bukan hanya untukmu tapi untuk nyawa yang ada di dalam rahim kamu," bisik Dicto. Kikan mendengus kesal.
"Oke, tapi lepaskan dulu tanganku. Aku tidak mau orang tahu kita sedang berdiri seperti ini." Kepala Kikan melongok ke luar. Bola matanya masih memantau ke arah lorong. Takut kalau tiba-tiba anggota tim muncul.
"Aku lepaskan. Jangan ingkar," kata Dicto masih takut Kikan akan memilih pergi daripada makan siang dengannya. Dirasa cekalan Dicto longgar, Kikan menarik tangannya dengan cepat.
"Aku tidak akan ingkar. Oke. Sekarang kita makan siang, tapi ingat jangan sampai ada yang tahu aku dan kamu bersama. Aku tidak mau di interogasi banyak orang soal hubungan kita," desis Kikan. Dicto mengangguk. Kikan hendak menyambar tasnya saat Dicto menahan.
"Tidak perlu membawa tas. Kita hanya akan makan siang di sini. Di ruanganku," kata Dicto membuat Kikan melebarkan mata tidak percaya.
"Bukankah aku sudah bilang, jangan sampai ada yang tahu hubungan kita, tapi kamu justru mengajakku makan siang di ruanganmu?" tanya Kikan marah.
"Ruangan paling aman di sini adalah ruanganku. Tidak ada yang berani masuk kecuali ada perlu penting denganku. Aku pastikan kamu aman denganku di sana." Dicto menunjuk ruangnya.
Ruangan pria ini, meskipun ada di ujung lorong, tapi ruangan keramat yang tidak akan di masuki sembarang orang. Apalagi jika Dicto bilang, jangan ganggu. Siapa berani membantah saat wakil Presdir mengatakannya? Tidak ada.
Kikan tidak bisa membantah. Dia pun berjalan lebih dulu menuju ruangan Dicto. Tentu dengan rasa was-was yang menyergap hatinya. Dia takut tiba-tiba saja ada anggota tim yang muncul di lorong saat dirinya belum berhasil masuk ke dalam ruangan pria ini.
...***...
__ADS_1
Sungguh mengejutkan di dalam ruangan Dicto sudah banyak makanan rumahan dalam box sekaligus peralatan makan. Melihat dari tampilannya saja, Kikan sudah tahu bahwa Dicto memesannya.
"Aku tidak tahu pasti apa kesukaanmu, jadi aku memesan beberapa makanan," kata Dicto yang tahu arti dari pandangan Kikan.
"Ini terlalu berlebihan," ejek Kikan.
"Tidak berlebihan jika itu untuk kamu, Kikan," ujar Dicto menanggapi ejekan Kikan barusan. Kepala Kikan mendongak sebentar karena terpana dengan kalimat pria ini. Kemudian ia menunduk seraya menghela napas.
Kikan memijit pergelangan tangannya yang terasa sakit. Kemungkinan itu karena cekalan tangan Dicto yang kencang tadi. Melihat itu, Dicto segera menyambar tangan Kikan.
"Apa yang kamu lakukan?" tegur Kikan ingin marah.
"Maaf, ini pasti sakit. Aku menahan tanganmu dengan kencang sepertinya." Dicto langsung memijit pergelangan tangan Kikan. Kikan yang ingin marah urung. Kemarahannya hanya sampai di rongga dada. Tidak bisa keluar dari mulutnya. Ia pun membuang muka ke arah lain. Menghela napas dan mendengus kesal.
Walau begitu, ia membiarkan pria ini memijit tangannya.
"Merasa baikan?" tanya Dicto setelah beberapa menit.
"Sekarang waktunya makan. Aku juga memesan buah potong yang baik untuk ibu hamil," celoteh Dicto.
Kikan hanya diam sambil mencicipi makanan sedikit demi sedikit. Enak. Lidahnya cocok dengan masakan yang di pesan Dicto. Ini membuat pria ini merekam dengan baik apa yang di sukai Kikan.
Mereka yang memang belum mengenal masing-masing, tentu kurang dalam pengetahuan suka atau tidak sukanya dalam segala hal, termasuk makanan.
"Kamu tidak makan?" tegur Kikan yang baru sadar pria ini hanya memperhatikannya.
"Makan. Aku akan makan. Pasti," sahut Dicto cepat. Pertanyaan Kikan barusan bukan karena rasa peduli, tapi lebih karena risih harus di perhatikan terus menerus saat makan. Namun Dicto terlihat senang saat dia bertanya.
Saat makan makanan yang bersantan, Kikan merasa tidak nyaman. Perutnya menolaknya.
"Makan yang lain saja. Letakkan piring nasi mu dan aku akan ambilkan piring baru." Dicto langsung mengultimatum. Dia tidak ingin melihat Kikan kesusahan. Kikan meraih buah untuk menetralkan rasa mualnya. Meskipun tidak sepenuhnya bisa, tapi itu lumayan.
__ADS_1
"Ternyata makanan yang bersantan membuatmu mual. Oke, aku mengerti." Dicto mengatakannya bagai seorang bocah yang sedang belajar. Kikan tidak menduga akan melihat sisi bocah manis milik Dicto. Ia pun menunduk saat Dicto menatapnya. "Sepertinya ketidaksukaan kita sama. Aku juga tidak menyukai makanan yang bersantan," kata Dicto. Itu saja membuat dia senang.
"Aku menyukainya. Ini hanya karena aku hamil," kilah Kikan. Dia tidak mau di samakan oleh Dicto. Sedikit kekanak-kanakan, tapi Kikan memang menyukai makanan bersantan. Kemungkinan dia sekarang tidak suka adalah karena hamil.
"Kalau begitu, apa mungkin anak itu mirip denganku? Sama-sama tidak menyukai makanan bersantan." Setelah mendapat kalimat bantahan dari Kikan, dia punya kesimpulan lain. Kesimpulan yang lebih lucu dan imut.
Perempuan ini terkejut mendengar kesimpulan yang di jabarkan Dicto barusan. Dia memilih diam. Dia tidak ingin membuat pria ini kesenangan.
"Aku juga beli kelengkeng," kata Dicto. Sungguh membuat orang kalap jika melihat semua ini. Di meja ini, sekarang banyak sekali makanan dan buah-buahan. Dicto bisa di cap orang gila saat memesan, jika dia bilang akan makan semuanya sendirian.
"Aku tidak suka kelengkeng." Ini kalimat jujur. Bukan hanya ingin membuat Dicto sakit hati. Kikan tidak menyukai kelengkeng. Karena entah kenapa, menurutnya rasa buah ini aneh.
"Aku taruh saja. Mungkin kamu ingin buah yang tidak seperti buah yang biasa kamu makan." Dicto tersenyum.
Meski sudah menolak, tiba-tiba saja ia merasa ingin makan buah itu. Meski awalnya, egonya melarang ia mengambil buah kelengkeng, rasa ingin makan buah itu makin besar.
Dicto tahu itu. Dia langsung mengambil kelengkeng dan mengupasnya dengan baik.
"Makanlah. Muntahkan saja jika tidak suka. Namun kalau ternyata suka, jangan sungkan untuk menelan," kata Dicto dengan lembut.
Kikan malu untuk mengambilnya. Apalagi dengan kalimat Dicto barusan. Namun Dicto langsung menyambar tangan Kikan dan membuka telapak tangan perempuan ini. Dicto meletakkan buah kelengkeng yang sudah di kupas di atas telapak tangan Kikan.
Setelah menerima buah itu di tangannya, Kikan menoleh ke arah lain saat memakannya. Sungguh mengejutkan bahwa buah itu cocok di lidahnya.
Apa buah ini sudah di beri mantra?
"Suka? Aku kupaskan lagi, ya ..." ujar Dicto penuh perhatian. Dia membiarkan piring berisi makanan miliknya di atas meja. Dia memilih melayani Kikan.
Semua hal yang tidak di sukainya, kini justru terasa enak di lidah. Namun saat makanan yang disukainya, justru di tolak oleh perutnya. Pertanda apa ini? Apakah bayi di dalam kandungannya sungguh mirip dengan Dicto?
"Dicto, aku lihat kamu ..." Astra muncul tanpa permisi. Kikan dan Dicto menoleh bersama. Kikan lupa bahwa ada juga orang yang bisa seenaknya masuk ke ruangan ini walaupun tidak ada hal penting. Itu Dicto dan Ruby.
__ADS_1
...______...