
“Masuk!” kata Astra. Pintu ruangan terbuka. Benar itu Kikan yang muncul dari balik pintu itu.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Kikan datar di depan pintu. Namun tetap berusaha terdengar sopan. Ia harus tetap tampak normal-normal saja.
“Masuklah," sambut Astra. Kikan berjalan masuk. Astra menatapnya lama saat perempuan itu berjalan menuju ke mejanya. Melihat dari keadaannya, sepertinya Kikan lelah.
“Maaf, aku terlambat,” ucap Kikan seraya membungkuk.
“Kamu sakit?” tanya Astra.
“Aku sedikit lelah. Jadi aku terlambat bangun,” ujar Kikan tidak berbohong. Astra tahu itu. Kikan karyawan paling rajin di sini. Dan dia juga tahu bahwa kemungkinan lelahnya karena persiapan acara pernikahan kemarin.
“Jika masih kurang enak badan, kamu bisa pulang. Aku ijinkan kamu beristirahat.”
“Tidak. Aku masih bisa bekerja,” jawab Kikan. Astra sudah tahu perempuan ini akan berkata demikian. Dia tahu sifat Kikan.
“Baiklah. Karena ini pertama kalinya kamu terlambat, aku tidak akan memarahimu," kata Astra.
“Terima kasih. Aku mau kembali ke meja,” pamit Kikan. Astra mempersilakan. Namun saat tepat di dekat pintu, kaki Kikan berhenti. Astra yang masih memperhatikan punggung perempuan ini, terkejut. Tidak menduga bahwa Kikan akan berhenti dan membalikkan badan. “Selamat atas pernikahannya, Pak,” ucap Kikan dengan wajah tersenyum. “Aku permisi.” Setelah mengucapkan itu, Kikan keluar.
Astra tertegun. Selain bisa bersikap biasa saja, perempuan ini bahkan dengan tenang mengucap selamat untuknya. Astra terdiam sejenak setelah kepergian Kikan dari ruangannya.
Di kursinya, Ruby memperhatikan perempuan ini mulai dari terlihat di kursinya, singgah berjalan masuk ke dalam ruangan Astra. Bahkan saat mereka berdua berbincang. Ruby tidak ingin mengalihkan pandangan dari hal lain kecuali mereka berdua.
“Kamu memberi penjelasan pada Astra kenapa kamu terlambat?” tanya Ruby tepat saat Kikan hendak duduk di kursinya.
“Ya.”
“Kenapa?” tanya Ruby membuat yang lain mendongak dan menoleh keheranan.
“Apa yang kenapa?” tanya Kikan balik. Dia tidak mengerti apa yang di maksud Ruby.
“Kenapa kamu perlu memberitahu Astra soal kamu yang terlambat?” tanya Ruby yang mengejutkan. Kikan melihat ke sekeliling. Semuanya sedang melihat ke Ruby. Bahkan dengan wajah masam. Kikan mencoba melihat mereka dengan memberi kode untuk melanjutkan pekerjaan. Mereka mengerti. Dan membiarkan Kikan menjawab pertanyaan putri pemilik ZEUs ini.
“Aku masih tidak mengerti dengan pasti apa yang sebenarnya ingin kamu tanyakan, tapi aku memberitahu Astra soal keterlambatanku karena aku ini seorang karyawan. Aku seorang bawahan. Ada seorang atasan yang harus aku hormati. Jadi aku punya tanggung jawab soal keterlambatanku yang seharusnya tidak terjadi,” jelas Kikan dengan sabar.
__ADS_1
Ruby mendengus. Ia tergelak.
“Benar. Kamu kan bawahannya Astra.” Ruby terdengar senang. Meskipun sudah di suruh tidak mendengarkan, anggota yang lain menggelengkan kepala heran dengan kalimat Ruby.
Kenapa dia seperti tengah menyerangku terus menerus? Apa dia tahu aku mantan kekasih Astra? Itu sangat tidak mungkin. Karena yang tahu hanya Rangga, Arin, bahkan Astra sendiri.
**
“Aku berada di ruanganmu. Aku ingin meletakan kejutan untukmu di atas meja,” kata Ruby yang sedang menelepon Astra.
“Oh, ya? Kejutan apa?” tanya Astra di seberang. Pria itu sedang ada janji temu dengan klien.
“Ada deh.”
“Ya sudah. Ku tutup teleponnya ya sayang ... Klien ku sudah datang.”
“Baiklah. Cepat kembali ke kantor.“
Sebelum pergi, Ruby ingin memberi sedikit ucapan untuk memberitahu tentang kejutan kecilnya ini. Ia menemukan kertas note.
“Untuk cintaku, Astra. Dari cintamu, Ruby.” Begitu kalimat yang ia tulis di atas kertas berwarna itu.
Setelah selesai dengan sekotak cup cake, kini Ruby mengeluarkan selembar foto dari tas bening yang ia bawa. Meraih bingkai foto yang ada di atas meja. Ia ingin mengganti foto Astra yang sendirian dengan foto pernikahan mereka.
Ruby membayangkan pria ini akan selalu tersenyum ketika bekerja seraya memandangi foto pernikahan mereka.
Namun saat membuka penutup belakang bingkai, dia menemukan foto lain di balik foto Astra yang tengah sendirian. Awalnya ia pikir itu hanya penutup belakang bingkai, tapi saat foto itu tak sengaja terjatuh di lantai, Ruby menemukan foto perempuan lain. Itu foto Kikan.
Tubuhnya tidak jadi memungut foto yang terjatuh di lantai. Dia tertegun.
“Kikan?” lirih Ruby tertahan. Tangannya menggenggam erat. Ia langsung menoleh keluar. Ke arah meja kerja anggota tim perencanaan 1. Tidak ada Kikan di sana. Kakinya segera berbalik keluar ruangan. Dia membiarkan keadaan meja kerja Astra berantakan. Ia ingin menemui Kikan sekarang juga.
Ada foto Astra dengan Kikan. Dari foto itu sudah bisa di simpulkan kalau mereka pernah menjalin hubungan asmara.
__ADS_1
“Berarti dugaanku benar, kalau mereka pernah dekat. Astra ... Ternyata masih banyak hal yang tidak aku ketahui tentangnya,” sesal Ruby.
**
Ruby menemukan perempuan itu di lorong setelah toilet. Dia sedang bersama Arin. Mungkin habis makan siang di kantin.
“Hei, Kikan,” panggil Ruby.
Kikan dan Arin terkejut. Setelah membuat Kikan menoleh dengan terkejut, Ruby langsung mendekati Kikan dengan gerakan tergesa-gesa. Bahkan wajahnya di selimuti awan mendung.
Kedua wanita ini saling berpandangan.
“Bisa kita bicara berdua?” tanya Ruby seraya melirik Arin.
“Oh, baiklah jika itu penting,” kata Kikan menyetujui. “Kamu bisa kembali lebih dulu,” kata Kikan pada Arin. Meskipun ragu, Arin tetap membiarkan Kikan berdua dengan Ruby.
Kikan sendiri tidak berpikir kemana-mana selain pekerjaan. Walaupun ada jejak kecemasan di hatinya meskipun sejentik nyamuk.
“Jadi kalian pernah dekat?” tegur Ruby tanpa basa-basi.
“Ini soal apa? Bukannya kamu ingin membahas soal pekerjaan?” tanya Kikan. Mata Ruby menatap Kikan lurus-lurus. Dari sini jantung Kikan mulai berdetak hebat. Dia cemas. Tiba-tiba saja terlintas nama Astra di benaknya sekarang.
“Tidak. Aku ingin bertanya soal Astra,” ungkap Ruby dengan sorot mata dingin. Kikan pun menelan ludah samar. Sebenarnya ia tidak perlu merasa gelisah karena dia tidak bersalah, tapi dia tidak ingin hal seperti ini terjadi. Dia tidak mau.
“Aku rasa kamu lebih tahu banyak daripada aku. Bukankah kamu istrinya?” Kikan berusaha tenang.
Kalimatnya tepat pada sasaran. Karena itu Ruby terdiam sejenak karena pertanyaan Kikan. Dia sadar seharusnya dialah yang mengerti tentang Astra dengan baik.
“Ada hal yang aku tahu, ada juga yang tidak. Seperti ... ternyata kamu adalah orang yang dekat dengan dia. Atau lebih tepat aku sebut mantan kekasihnya.” Ruby mengungkap itu bagaikan membuat luka bagi dirinya sendiri. Namun dia tidak sadar.
____
__ADS_1