
Pagi yang sejuk ini, Kikan sibuk muntah di kamar mandi. Ia membiarkan pintu kamar mandi terbuka karena ibu masih di pasar.
Muntah pagi acapkali membuat Kikan lemas tidak berdaya. Hingga saat perut itu bergolak, ia harus istirahat agak lama di dalam kamar mandi untuk memulihkan tenaga saat berjalan menuju ke kamarnya.
Tangannya memegang perut dan menekannya agar rasa tidak nyaman itu hilang. Namun yang dia lakukan justru menambah mual. Dan ia pun di paksa memuntahkan semua isi perutnya.
"Hoek! Hoek?" Kikan kembali muntah-muntah. Sungguh waktu yang tidak tepat, ibu pulang dari pasar kala Kikan masih berada di kamar mandi dengan mual dan muntahnya.
Kalaupun tidak ada isi, karena masih pagi untuk sarapan, rasa tidak nyaman itu memaksanya memuntahkan apapun yang ada di dalam perutnya. Alhasil cairan berwarna kuning pun keluar dari mulutnya saat muntah.
"Kikan ...," lirih ibu yang melihat putrinya jongkok sambil memegangi perutnya di dalam kamar mandi.
"Hoek, Hoek."
Muntah Kikan masih berlanjut. Ini makin membuat ibu tertegun. Sebagai seorang perempuan yang pernah melahirkan, beliau paham muntah itu bukan muntah biasa. Itu kebiasaan ibu hamil di saat pagi hari.
Mual dan muntah Kikan mereda. Dia terkesiap saat melihat ibu tertegun menatapnya.
"I-ibu," kata Kikan terbata.
...****************...
Kepala Kikan tertunduk saat ibu duduk di pinggir ranjang. Beliau menatap putrinya lurus-lurus.
"Ada yang harus kamu katakan pada ibu, Kikan. Tentang kamu. Soal muntah mual barusan," kata ibu. Kikan masih diam. Tubuhnya baru pulih dari rasa tidak nyaman karena muntah dan mual tadi. Kikan tidak ingin membicarakan aib ini. Kikan ingin bungkam dan menyelesaikan sendiri masalah ini.
"Jika kamu tidak bicara pada ibu, baik. Tanpa diberitahu, ibu bisa menduga bahwa kamu itu hamil," kata ibu akhirnya mengungkap sendiri apa yang sejak tadi bercokol di benaknya. Ibu menelan ludah. Ada rasa sakit di hatinya. Air mukanya berubah muram. Ibu pasti sedih melihat hal ini.
Kikan tetap bungkam. Ia ingin menangis.
__ADS_1
"Ibu ingin marah dan menangis keras, Kikan. Ini masalah besar. Kamu yang belum menikah ternyata sudah hamil, itu aib Nak ... Kamu sudah mencoreng keluargamu sendiri." Suara ibu mulai serak karena menahan tangis.
"Ini bukan keinginan Kikan, Bu. Kikan dinodai. Ini sebuah kecelakaan. Semuanya murni kecelakaan," kata Kikan akhirnya buka mulut. Ia tidak ingin di anggap mencoreng nama keluarga dengan sengaja.
"Di nodai? Jadi kamu ..." Ibu tidak mampu meneruskan kalimatnya. Beliau menutup mulutnya dengan tangan karena terkejut. Ibu langsung memeluk tubuh putrinya. Air mata beliau pun terjatuh. Kikan juga menitikkan air mata. "Selama ini kamu menutup mulut? Kamu diam saja?" tanya ibu frustasi. "Siapa yang menodaimu, Nak?" tanya ibu.
Tok! Tok!
Suara pintu depan di ketuk seseorang. Ibu menoleh ke depan sejenak. Tangan beliau menghapus air mata yang meleleh. Kemudian beranjak dari ranjang dan menuju ke ruang tamu. Kikan ikut menghapus air matanya.
Hhh ... Kikan menghela napas. Meskipun soal ini belum selesai, ibu akhirnya tahu.
"Kikan," panggil ibu dari luar. Kikan bangkit dan berjalan keluar. Namun dia di kejutkan oleh Dicto yang muncul bersama keluarganya. Ya. Itu Nyonya Dewi dan Presdir. Kikan panik karena berpakaian seadanya. Dia juga habis kacau karena muntah.
...****************...
Suasana ruang tamu mendadak tegang saat keluarga Dicto mengatakan semuanya. Mungkin bagi keluarga Dicto yang sudah tahu dan paham soal Kikan yang hamil, bisa bersikap tenang. Namun ibu yang baru mengerti kalau pria yang menodai putrinya adalah Dicto terkejut. Lebih terkejut lagi karena Dicto langsung membawa keluarganya dan melamar Kikan.
"Kami meminta maaf sebesar-besarnya atas kesalahan putra kami, Dicto. Karena itu, kami datang dengan niat baik untuk bertanggung jawab," ujar mama Dewi.
Ibu Kikan mengerjapkan mata. Beliau masih kebingungan dengan semuanya. Meskipun sudah paham soal kehamilan Kikan_ meskipun putrinya itu belum mengaku, beliau masih perlu mencerna semuanya perlahan. Ternyata orang yang menodai putrinya adalah Dicto yang belakangan ini sering ke rumahnya menggantikan cerita Astra yang mendadak lenyap dari bibir Kikan.
Keluarga Dicto yang datang ke rumah ini memang hanya dua orang. Hanya kedua orang tuanya saja, tapi itu sudah mampu mewakilkan banyak orang. Kikan sendiri sudah cukup kehabisan napas menyambut kedatangan mereka yang membahas soal kesalahan Dicto.
“Maafkan saya sudah membuat ibu terkejut,” ujar Dicto merasa bersalah. Ia membantu ibu untuk mencerna semuanya dengan baik. Dia paham kalau ibu Kikan tidak mengerti tentang semua ini. Karena dia yakin bahwa Kikan menyembunyikan semuanya dari ibu. “Saya mengajak mama dan papa untuk melamar Kikan.”
...*****...
__ADS_1
“Kak Dicto mau menikah dengan Kikan?” tanya Ruby saat mendengar mama bicara di telepon.
“Ya. Kenapa terkejut? Bukannya dia AE di ZEUs? Kata papa, dia satu tim sama kamu.”
“Aku tahu kalau Kikan itu, AE di tim perencanaan 1, tapi aku tidak tahu kalau Kak Dicto menjalin hubungan dengannya.” Ruby syok. Bagaimana tidak? Ini skenario buruk untuknya. Perempuan yang di bencinya akan menjadi kakak iparnya dalam waktu yang tidak lama lagi. “Mama merestuinya?” selidik Ruby.
“Tentu saja. Apalagi papa. Papa bilang Kikan itu pintar. Jadi kenapa tidak? Lagipula ... Sepertinya kakakmu itu memang mencintainya,” kata Dewi yang urung membicarakan perkara Kikan yang sudah hamil.
Ruby menyudahi pembicaraannya dengan mama, lalu ke ruangannya Dicto. Karena terbawa oleh rasa kesal mendengar berita dari mamanya, Ruby masuk ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Kakak. Aku mau bicara,” kata Ruby langsung berkacak pinggang. Dicto yang baru saja selesai menelepon di dekat jendela, menoleh.
“Ketuk pintu sebelum masuk, Ruby,” tegur Dicto. Ruby memandang pintu di Belakangnya dengan kesal. Dicto menuju kursi kerjanya dan duduk. “Ada apa?”
“Kakak akan menikah dengan Kikan?” tanya Ruby yang langsung menunjukkan wajah tidak setuju di awal.
“Aku pikir kamu akan bicara tentang pekerjaan. Ternyata kamu mau bertanya soal itu.” Dicto terlihat tenang dan santai. “Darimana kamu tahu?”
“Mama. Jadi kak Dicto memang benar-benar akan menikah dengan perempuan itu?” tanya Ruby tidak percaya.
“Ya. Aku memang mau menikah dengan dia. Kenapa?” Dicto tidak menoleh pada Ruby. Dia melihat ke arah komputernya.
“Kenapa? Kakak lupa dia adalah mantan Astra?” tanya Ruby heran. “Jika lupa, aku akan mengingatkan lagi tentang siapa dia.”
“Diam dan perhatikan saja, Ruby,” desis Dicto. Ruby mengatupkan rahangnya. “Sudah aku bilang. Urusi saja kehidupan kamu dan Astra. Aku tetap ingat bahwa kamu sudah memfitnah Kikan. Jadi, sebaiknya kamu diam tanpa perlu mengurusi banyak hal. Karena aku bisa marah besar."
..._____...
__ADS_1