
Pesta pernikahan Astra dan Ruby akan berlangsung. Ini semua mengiris-iris hati Kikan. Belum cukup itu, presiden direktur bahkan meminta Kikanlah yang mengatur semua keperluan pesta. Sebenarnya niat beliau bukan ingin menambah sakit hati Kikan, Presdir hanya sangat percaya pada perempuan itu.
“Kakak enggak apa-apa?” tanya Arin saat berdiri di dekat Kikan mencari EO untuk mendekor hall tempat pesta berlangsung lewat browsing.
“Aku tidak lelah. Ini juga pekerjaan. Lagipula aku di bayar lebih di luar gaji di ZEUs. Jadi apa yang di khawatirkan?” ujar Kikan masih tetap melihat ke depan. Arin yang melihat seniornya dari samping mengerti. Wanita ini hanya sedang mencoba kuat dan baik-baik. “Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku, Arin.”
“Kak Rangga juga khawatir,” bisik Arin selanjutnya. Kikan tergelak.
“Yah, bilang juga padanya terima kasih atas perhatiannya.” Kali ini Kikan menoleh ke Arin saat bicara.
“Akan aku sampaikan,” kata Arin. Kikan tersenyum.
“Kikan, Ruby memintaku mengantarkan dia ke bridal house. Aku tidak bisa karena perutmu mulas,” bisik Cintya.
“Kenapa kamu yang di suruh? Bukannya seharusnya Pak Astra yang mengantarkan?” tanya Kikan heran. Menurut tradisi yang ada, biasanya sepasang kekasih itu sendiri yang datang ke bridal house. Memilih pakaian pengantin untuk di coba.
“Pak Astra ada perlu mendadak dengan klien. Jadi dia tidak bisa. Sudah. Aku mau ke toilet,” kata Cintya terburu-buru.
Kikan termangu. Mengantarkan Ruby fitting baju?
__ADS_1
“Biar aku saja yang berangkat,” kata Arin tahu bagaimana keadaan Kikan. Sangat menyakitkan sekali mengantar calon istri mantan kekasih.
“Kenapa kamu? Cintya sudah memberikan tanggung jawab padaku. Lagipula aku sudah selesai," kata Kikan tidak ingin terlihat bagaimana keadaan hatinya sekarang.
“Baiklah kalau begitu," kata Arin berat hati.
**
“Seingatku yang akan mengantarku, adalah Cintya. Kenapa kamu yang datang?” tanya Ruby heran dengan kemunculan Kikan di sana.
“Baiklah. Siapa saja bisa membantuku.” Ruby pun duduk di sofa. Sementara Kikan berdiri di seberangnya. Saat ini Ruby sedang menunggu pemilik bridal house yang belum muncul. “Soal gadis berseragam waktu itu ... Apa kamu merasa dia sebenarnya memang adik Astra?” tanya Ruby mengejutkan.
“Aku tidak paham. Maaf.” Kikan memilih jawaban aman.
“Bukannya kamu lumayan lama berteman dengan dia?” tanya Ruby lagi.
__ADS_1
“Kita tidak membicarakan masalah pribadi," sahut Kikan singkat. Sebisa mungkin untuk tidak membahas soal kehidupan Astra. Karena bisa saja itu berujung padanya.
“Bahkan soal kekasih?” Ruby masih ingin tahu.
“Ya.” Jika Ruby paham, ada setitik cemas yang ada di wajah Kikan. Benar. Ia sangat marah, sakit hati dan ingin menghancurkan pernikahan mereka berdua, tapi dia tetap berupaya terlihat wajar.
“Dia termasuk pria yang tampan dan berdedikasi tinggi pada pekerjaannya. Apakah sebagai perempuan kamu tidak pernah ingin memilikinya?” Pertanyaan terakhir sempat membuat jantungnya seperti bertabrakan dengan benda keras. Terdengar suara dentuman yang keras. Yang mungkin hanya dia yang mampu mendengarnya.
Pertanyaan ini seperti sengaja di tujukan untuknya. Seperti bertanya soal dirinya dan Astra.
“Nona ... Maafkan saya baru muncul.” Betty pemilik bridal house ini merasa bersalah. Kikan terselamatkan dari pertanyaan yang tidak ingin ia jawab.
“Tidak apa-apa. Aku yang datang lebih awal.”
“Anda sendirian? Tidak bersama tunangan Anda yang tampan itu?” tanya pemilik bridal house ini melihat dengan keheranan.
“Astra sangat sibuk. Bahkan saat kita mau menikah, dia masih memikirkan pekerjaan.” Ruby mengejek Astra dengan jenaka. Betty ikut tergelak. “Namun sisi dia yang seperti itu yang membuat ayahku menyetujuinya untuk menjadi menantunya.”
____
__ADS_1