Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 23 Tertegun


__ADS_3

Dari kejauhan saja, Dicto sudah merasa mengenali perempuan yang berada di meja kerjanya itu. Tubuhnya bangkit dan hendak keluar untuk menemui perempuan itu. Namun ternyata Astra lebih dulu yang melewatinya. Pria ini juga bergegas keluar. Maka Dicto pun mengikuti di belakangnya.


 


Dengan jarak yang lebih dekat ini, Dicto paham kalau memang pernah bertemu dengan perempuan yang sekarang terlihat pucat. Dia orang ZEUs yang bertemu di ruang ganti saat pernikahan Astra dan adiknya.


 


Dicto juga bisa mengambil kesimpulan kalau dialah yang tadi dibopong karyawan pria ke ruang kesehatan setelah Astra menanyakan keadaan perempuan itu. Bola mata Dicto masih tetap sama seperti saat pertama kali menatap bola mata bulat itu. Menatap agak lama. Tanpa sadar bibirnya tersenyum samar.


 


“Dicto, dia Kikan. AE kita,” kata Astra memperkenalkan perempuan itu dan langsung menghapus senyuman di bibir Dicto seketika.


 


Dia? AE?


 


Tiba-tiba saja ia ingat perkataan Ruby tentang perempuan yang menggoda Astra. Seorang AE dari ZEUs.


 


Tunggu, jadi dia adalah perempuan itu? Perempuan yang menggoda Astra? Bola mata Dicto mengamati perempuan ini dan melihat ke Astra bergantian.

__ADS_1


 


Memory dalam ingatannya berputar membawanya kembali ke malam itu. Malam dimana dia usai pesta di klub bersama teman-temannya. Malam dimana Ruby meminta tolong untuk memberi pelajaran pada seorang perempuan yang telah menggoda Astra yang telah menjadi suaminya.


 


Bukankah bodoh, jika dia hanya mengiyakan permintaan itu, tanpa mencari tahu lagi kebenaran dari semua perkataan adiknya yang manja. Ya. Dia bodoh. Namun semuanya tidak bisa lagi di salahkan karena percuma. Itu sudah terlanjur terjadi.


 


Pun karena Dicto sedang dalam mode setengah mabuk. Waktu itu ia dalam batas sadar dan tidak. Jadi ingatannya dan pandangannya kabur. Namun memory yang terlupa itu kembali mencuat sesaat setelah Astra mengenalkan Kikan padanya.


 


Bodoh! Penjahat! umpat Dicto di dalam hati. Ternyata orang yang ia nodai malam itu adalah karyawan kebanggaan ZEUs.


 


 


Dalam pikiran Dicto sekarang, perempuan ini pasti jijik saat melihatnya. Dia pasti akan menamparku dan meneriaki aku sebagai pemerrkosa. Dicto menjadi tegang sendiri. Dia pasti akan menggila sebentar lagi. Pikiran Dicto bertarung sendiri.


 


"Kikan," ujarnya seraya mengulurkan tangan. Dicto tertegun.

__ADS_1


 


Dia mengenalkan dirinya?


 


Dicto tidak menduga wanita ini akan mengulurkan tangan.Bukankah dia seharusnya menamparnya atau apapun itu?


 


"Dicto? Kikan mengulurkan tangannya," ujar Astra memberi tahu. Dia heran Dicto bengong. Dengan teguran ini Dicto pun mulai sadar.


 


"Oh, iya." Dicto menyambut uluran tangan perempuan ini. Kikan segera menarik tangannya kembali setelah hanya beberapa detik berjabat tangan. "Sepertinya kamu sakit. Jadi sebaiknya kamu pulang dan istirahat," ujar Dicto sengaja berbasa-basi.


 


Dia cukup canggung karena di dalam otaknya sekarang tergambar jelas malam berpeluh itu. Sungguh memalukan sekarang yang ia ingat adalah kejadian di vila.


 


"Terima kasih, tapi maaf, saya sehat. Saya bisa kembali bekerja setelah istirahat tadi," ujar Kikan memaksakan diri. "Bisa saya melanjutkan pekerjaan saya?" pinta Kikan seakan ingin mengusirnya.


 

__ADS_1


"Kalau merasa sehat aku bersyukur, tapi saat terasa tidak enak badan, kamu wajib istirahat di rumah." Astra wajib tegas pada bawahan. "Kita pergi Dicto." Mereka pun meninggalkan meja anggota tim. "Kikan adalah AE dengan semangat kerja yang tinggi, Dicto. Kamu harus bangga punya karyawan seperti dia," ujar Astra membicarakan Kikan dengan bangga. Dicto kembali menoleh pada Kikan yang diam di mejanya dengan perasaan tidak menentu.


_____


__ADS_2