
Gosip pertengkaran Astra dan Ruby sudah beredar di kalangan tim perencanaan 1. Cintya tentu tidak memendam kabar ini untuk dirinya sendiri. Dialah yang memberitahu. Kabar Ini sampai juga di telinga Kikan.
"Kalian boleh menggosip. Bebas. Namun jika itu tentang putri dan menantu pemilik ZEUs, aku harap kalian bijak dalam membicarakannya. Karena bisa saja Ruby mengadu pada presdir jika kalian ketahuan sedang membicarakan dirinya dengan buruk," nasehat Kikan. "Itu bisa jadi akhir dari karir kalian. Bahkan bisa saja di luar, kalian juga sulit mendapatkan pekerjaan jika mereka sudah bertindak."
Kepala mereka mengangguk setuju. Akhirnya mereka berikrar untuk hanya membicarakan soal Astra dan Ruby dalam lingkup tim perencanaan 1 saja. Kikan akhirnya bisa bernapas lega. Dia tidak harus terus cemas kapan anggotanya membongkar berita ini keluar, dimana itu juga akan berpengaruh pada kisahnya dengan Astra.
***
Rapat kali ini terasa berbeda karena sekarang Ruby tahu soal dia dan Astra yang pernah menjadi kekasih. Sedikit lebih tegang daripada biasanya. Bukan karena takut proposal-nya di tolak Astra, tapi takut salah bicara atau salah bertingkah. Karena manik mata Ruby tidak berhenti memperhatikannya dengan seksama, bahkan saat perempuan itu menjelaskan tentang ide iklannya.
"Bagaimana menurutmu soal ide Ruby, Rangga?" tanya Astra pada Rangga. Sungguh dilema saat yang di kritik dan di beri saran adalah putri atasan. Namun Rangga tetap harus menjawab karena itu perintah. Ia tidak bisa diam saja jika ketua tim sudah memberi perintah seperti itu.
"Aku rasa ide kosmetik yang menggunakan model Amora yang terkenal, sangatlah bagus. Apapun idenya, itu pasti bagus. Karena orang sudah mengenal nama Amora terlebih dahulu di bandingkan yang lainnya," kata Rangga yang langsung menyatakan kalau dia setuju dengan ide Ruby. Perempuan itu tersenyum tipis.
Arin merengut di kursinya. Ia tidak suka jika kekasihnya lebih membela Ruby. Rangga serba salah. Sepertinya dia tidak aman nantinya.
"Namun perusahaan kosmetik saingan Glow ini juga sedang memakai model Amora. Jadi mereka membatalkan kontrak dengan Amora,” jelas Kikan. “Aku baru saja mendapatkan kabar itu sekarang.” Kikan mengangkat ponselnya untuk menunjukkan bahwa ia tidak berbohong. Ruby berdecih. Yang lain langsung berdengung. "Glow meminta maaf soal kabar yang mendadak ini. Mereka menggunakan model yang baru dan fresh." Kikan membacakan lagi pesta yang ia terima.
“Kenapa pihak Glow mengganti model mendadak? Bahkan itu bukan model yang sangat terkenal.” Terasa ada persaingan ketat dalam nada bicara Ruby. Merasa idenya yang muncul dalam otak, dihempaskan begitu saja. "Memangnya ada, model lain yang bisa menandingi nama besar Amora? Aku rasa hanya Amora yang pantas berada dalam iklan ini," kata Ruby.
"Untuk kosmetik GLoW yang sekarang, aku rasa lebih cocok dengan memakai model baru yang begitu fresh. Karena moto kosmetik GLoW kali ini adalah fresh and beauty. Juga di khususkan untuk remaja yang baru saja belajar kosmetik. Jadi model yang tepat adalah artis baru yang sedang di kenal banyak orang. Aku rasa mereka benar.” Kikan setuju dengan pihak kosmetik.
Ruby menipiskan bibir. Ini membuat Ruby merasa tersingkirkan. Karena idenya akan tergeser oleh ide-ide yang lain. Termasuk ide Kikan. Astra paham situasi yang ada pada istrinya sekarang.
__ADS_1
“Ide Ruby mungkin bisa di gunakan untuk tim perencanaan 2 yang akan memulai membuat iklan untuk ...” Astra mencari jalan lain untuk tetap memakai ide dari istrinya. Karena ide Ruby sebenarnya bagus, hanya kurang tepat untuk iklan produk ini. Meskipun begitu, Ruby tetap menekuk wajahnya. Karena itu berarti dia hanya akan mendapatkan tempat kedua.
**
"Kamu sengaja membuat aku malu di depan Kikan?" tegur Ruby.
“Apa yang kamu katakan? Aku tidak pernah ingin membuatmu malu, Ruby. Apalagi di depan Kikan,” jelas Astra.
“Tapi itu tadi tidak menunjukkan kalau kamu membelaku. Kamu seperti membela Kikan,” kata Ruby dengan wajah kesal.
“Oh ya? Itu semua bukan karena dia adalah Kikan?”
“Ayolah Ruby, kamu bukan gadis kecil yang meminta perhatian lebih dalam sebuah lingkungan pekerjaan. Kamu wanita dewasa, mandiri. Kamu bisa melihat mana yang tepat dan tidak. Jika kamu marah hanya karena hal seperti itu, kamu tidak akan menjadi dewasa.”
“Aku memang butuh perhatianmu Astra.” Tangisan Ruby merebak.
Kemarahan Ruby seringkali terjadi. Perempuan ini jadi sering marah untuk hal kecil sekalipun. Astra tidak bisa berbuat banyak. Dia harus tetap minta maaf, untuk meluluhkan hati Ruby.
Karena posesif, Ruby pernah hampir mati karena bunuh diri. Semua itu karena Astra sudah ingin lepas dari dia karena ingin serius dengan Kikan. Namun nyatanya, dia terikat oleh tali pernikahan. Karena permintaan presdir, ia tidak bisa berkutik.
Presdir meminta Astra untuk tetap dengan putrinya, kalau tidak, ia akan kehilangan nyawa putrinya.
__ADS_1
**
Ruby menekan bel berulang-ulang. Sehabis pulang dari kantor, ia tidak langsung pulang, tapi menuju apartemen. Tidak lama, pintu apartemen pun terbuka.
“Kenapa muncul di sini?” tanya Dicto yang langsung di dorong Ruby yang terburu-buru masuk ke dalam apartemen. Pria itu memandang punggung adiknya yang langsung duduk di sofa seraya melipat tangan. Dicto mendekat dan melihat wajah Ruby muram.
“Apa kakak tidak tahu, kalau Astra itu pernah dekat dengan seorang perempuan sebelum kenal denganku?” tanya Ruby dengan tetap melihat lurus ke depan. Ia masih melipat tangannya.
“Yang aku tahu, Astra tidak sedang menjalin hubungan asmara dengan siapa-siapa,” kata Dicto seraya duduk di samping adiknya. Dia yang kenal lebih dulu dengan Astra juga tidak tahu soal itu. Astra menutup erat hubungannya dengan Kikan bahkan yang lainnya. “Apa dia membuatmu sakit hati? Astra menjalin hubungan dengan wanita lain?” tanya Dicto dengan mata melebar ingin marah.
“T-tidak. J-justru sebaliknya. Wanita itu. Wanita itu yang mendekati Astra,” kata Ruby panik. Dia yang sangat mencintai Astra, tidak ingin pria itu tampak cacat di mata orang lain. Hingga mulutnya mengatakan hal yang berbeda.
“Mendekati Astra?” tanya Dicto mulai terpengaruhi.
“Y-ya. Dia selalu mencari perhatian Astra. Padahal ia tahu kita sudah menikah. Sudah tahu Astra tidak mencintainya lagi.” Ruby menjadi-jadi. Matanya merah. Tangisannya mulai merebak. Ia sangat tersakiti, sampai-sampai yang keluar adalah kata-kata bohong.
“Siapa dia? Kenapa berani sekali mendekati pria yang sudah beristri?” tanya Dicto geram. Sebagai kakak, ia tidak bisa terima. Ia marah. Apalagi saat air mata Ruby meleleh. Dicto memeluk adiknya. “Sebaiknya aku memberi dia pelajaran agar jera mendekati Astra,” desis Dicto yang tidak rela Ruby tersakiti.
______
__ADS_1