
"Kakak tidak apa-apa?" tanya Arin yang langsung mendekati Kikan. Barusan, wanita ini sekejap membeku. Arin tahu karena apa itu. Itu sebabnya dia mendekat.
"Oh, Arin. Ya, aku tidak apa-apa,” sahut Kikan seperti tersadar dari tidurnya. Ia pun jongkok, di ikuti Arin untuk membersihkan pecahan keramik di lantai.
"Suruh OB aja bersihin. Entar kena tangannya juga. Ayo Kikan, Arin," ajak Mirna. "Mas!" Mirna memanggil OB yang tadi sedang bersih-bersih di ruangan dengan pantry. Meminta tolong untuk membersihkan tumpahan cappucino, juga pecahan keramik.
Mereka bertiga berjalan menuju ruang tim perencanaan 1. “Ruby? Apa kak Mirna tidak salah dengar?” tanya Arin berharap saat mereka berjalan ke ruangan.
“Enggak. Katanya ada atasan yang sudah menerima undangan pernikahannya.” Mirna sangat yakin soal gosip yang di terimanya. Kikan menelan ludah. Dia juga berharap gosip itu tidak benar, tapi hatinya sejak tadi tidak tenang.
Kikan masih tertegun dengan berita tentang Astra. Menikah dengan Ruby? Ada apa sebenarnya ini?
**
Terlihat Astra jalan di lorong dan masuk ke ruangannya. Kikan berdiri dan menuju ruangan Astra. Pria itu tidak terlalu terkejut saat Kikan menemuinya di sini. Ia pasti sudah tahu maksud kedatangan perempuan ini.
"Aku yakin kamu tahu apa tujuanku ke sini,” kata Kikan. Kepala Astra melihat ke kanan dan kiri. Lalu ia berdiri dan mendekat ke dinding kaca. Menarik tirai agar tidak terlihat isi di dalam ruangan. Hingga semuanya tertutup.
"Duduklah," pinta Astra.
"Aku bukan mau mengajakmu diskusi soal pekerjaan. Aku ingin marah," ungkap Kikan jujur.
"Marah pun perlu duduk," kata Astra seraya membimbing tubuh Kikan untuk duduk di sofa.
"Lepaskan," pinta Kikan dengan marah. Astra akhirnya melepaskan dan kembali ke kursi kerjanya. "Jangan bertingkah tidak ada apa-apa, Astra. Katakan, apa benar kabar yang beredar tentangmu? Tentang pernikahanmu dengan Ruby?" tanya Kikan dengan sorot mata tajam.
__ADS_1
"Maaf, Kikan."
Bagai di sambar petir, Kikan membeku di tempatnya. Maaf? Kalimat yang Astra ucapkan adalah kata maaf? Jika meminta maaf, itu berarti dia memang bersalah?
"Kamu tidak menyangkal?" tanya Kikan tidak percaya. Astra diam. Ini membuat Kikan tertegun. Sampai dia tidak bisa berkata-kata lagi.
Tangannya mengepal keras. Matanya nanar. Napasnya naik turun tidak teratur karena marah. Sesak seketika memenuhi relung hatinya.
"Lalu apa arti hubungan kita selama ini Astra?" lirih Kikan hampir saja meneteskan mata. Namun ia pantang melakukannya. Dengan upaya keras, Kikan menahan diri untuk tidak menangis. Apalagi di depan pria ini.
"Aku tidak bisa bicara banyak soal hubungan kita, Kikan. Hubungan kita sudah berakhir sekarang. Maafkan aku," kata Astra dengan tatapan sendu.
"Jadi hanya dalam sekejap hubungan kita hancur? Kamu sangat kejam, Astra. Jika memang tidak ada lagi cinta di hatimu, setidaknya putuskan aku dulu baru kamu dengan Ruby. Bukan seperti ini," kata Kikan masih mencoba kuat.
Ruby masuk ke dalam ruangan tiba-tiba.
"Astra, kenapa gorden ruanganmu tertutup?" tanya Ruby. Saat sadar, ia terkejut melihat Kikan ada di dalam ruangan. Bola mata Ruby melihat ke sekitar. Dinding kaca di samping tertutup. Hingga tidak ada yang tahu ada apa di dalam ruangan. Bola matanya mengerjap. "Apa yang di bicarakan kalian, sampai semua tertutup? Apa ada sebuah rahasia?" tanya Ruby melangkah masuk dan mendekat ke Astra.
Kikan yang sejak suara Ruby terdengar tidak menoleh sama sekali, kini mencoba tersenyum karena putri presiden direktur berada tepat di depannya. Di samping Astra seraya menyentuh bahu pria itu.
Kepala Kikan mengangguk mencoba menyapa putri atasannya. Dia hapus semua gurat kesedihan yang tadi nampak pada wajahnya.
__ADS_1
"Kami sedang membicarakan ide iklan kosmetik itu, Ruby," kata Astra mencoba berdalih. Kikan tidak bisa bicara. Ia hanya berdiri seraya melihat mereka yang berdekatan. Ia mencoba baik-baik saja. Menekan tangis yang akan merebak.
"Ruby? Bukankah seharusnya kamu panggil aku, ‘sayang’? Sebentar lagi kita menikah. Jadi kamu harus membiasakan untuk memanggilku sayang, Astra," rengek Ruby makin mengiris-iris hati Kikan.
Manik mata Astra melirik Kikan sekilas.
"Jangan seperti ini saat bekerja, Ruby," pinta Astra yang rupanya masih tidak nyaman bermesraan di depan Kikan. Tentu saja. Bukan satu tahun yang lalu atau sebulan yang lalu mereka berpacaran, tapi kemarin saja dia masih berstatus sebagai kekasih Astra. Namun hari ini status itu berubah menjadi mantan kekasih.
"Aku permisi dulu. Ada janji dengan klien," kata Kikan mengakhiri sendiri pertemuan ini. Dia tidak harus dijejali kemesraan dua orang ini.
Ruby memperhatikan Kikan yang berjalan keluar ruangan. Kemudian ia melirik ke arah Astra.
“Dia perempuan hebat, ya? Kamu sampai melihat dia seperti itu,” ujar Ruby.
“Melihat seperti itu bagaimana? Jangan berpikir aneh-aneh.” Astra berdiri hendak membuka tirai.
“Biarkan seperti itu. Aku mau hadiah di sini,” tunjuk Ruby pada bibirnya.
“Ini masih jam kerja,” kata Astra setengah mengeluh.
“Hanya sekali tidak masalah kan?” Astra menghela napas.
_____
__ADS_1