
Dicto menghela napas lega saat mendengar kabar baik. Bayinya masih selamat meski Kikan sempat pendarahan. Namun itu membuat kandungan Kikan menjadi lemah.
"Terima kasih sudah menanganinya dengan baik, dokter" ujar Dicto bersyukur. Setelah mendapat penjelasan tentang kondisi Kikan dan bayinya, Dicto kembali ke ruangan perawatan.
"Bagaimana? Dia baik-baik saja, bukan?" tanya Giska ingin tahu. "Dia pucat sekali."
"Ya, dia baik-baik saja," ujar Dicto sambil memandangi Kikan yang masih terlelap.
"Lalu ... Apa ada hal lain yang perlu kamu ceritakan pada kakakmu ini?" tagih Giska sambil melipat tangan.
"Soal apa?"
"Semuanya. Semua hal yang aku tidak ketahui. Mulai dari kamu yang membawa perempuan ini ke apartemenku, sampai aku tiba di rumah sakit dan berjaga untuknya sekarang." Giska menunjuk Kikan dengan dagunya. Dicto diam. "Kamu wajib mengatakan semuanya. Karena sepertinya ini adalah masalah yang serius."
Dicto menghela napas kemudian. "Dia hamil. Itu anakku. Aku yang menghamilinya." Dicto mengatakannya satu persatu dengan jeda di tiap kalimatnya.
Pengakuan pertama membuat Giska terkejut sekaligus heran. Apalagi pengakuan kedua dan ketiga.
"K-kamu menghamilinya?" Giska menutup mulutnya karena terkejut. Dicto mengangguk dengan berat. "Tapi kamu bilang, dia bukan kekasihmu," kejar Giska ingin tahu kelanjutannya.
"Ya. Dia hamil tanpa ada hubungan asmara di antara kita terlebih dahulu. Itu ... sebuah kesalahan besar yang aku lakukan." Dicto mengatakannya dengan rasa bersalah yang besar.
"Dicto ...," desis Giska menyayangkan apa yang sudah dilakukan adiknya. "Kenapa bisa? Ini tidak seperti dirimu saja. Ada apa?" Giska merasa Dicto masih menyembunyikan sesuatu.
"Itu sebuah kesalahan. Itu saja." Dicto tidak mengatakan peran Ruby ada di dalam kesalahan itu. Karena menurutnya, peran dia lebih besar dalam masalah ini.
"Lalu, bagaimana dia?" tanya Giska sambil melihat ke arah perempuan itu. "Kamu harus bertanggung jawab, Dicto. Tidak bisa hanya seperti ini saja. Kamu harus segera menikahinya," tuntut Giska.
"Aku tahu Giska, tapi ... dia membenciku. Dia tidak ingin menikah. Bahkan dia berusaha menggugurkan kandungan dengan berbagai cara." Dicto frustasi.
__ADS_1
"Termasuk ini semua?" tegas Giska dengan semua hal yang terjadi pada Kikan semalam.
"Ya. Dia sengaja minum minuman beralkohol demi menghilangkan bayinya. Bayi kita ...," kata Dicto dengan wajah terpukul.
"Kikan keguguran?" tebak Giska ngeri. Dicto menggeleng.
"Tidak. Aku bersyukur karena tidak terjadi apa-apa pada bayinya.” Terlihat jelas rasa lega di wajah adiknya. Giska mengerjapkan mata melihat ekspresi barusan.
"Oh, aku juga lega.” Giska berusngguh-sungguh. “Kamu bilang dia bukan kekasihmu, tapi yang aku lihat ... dia bukan hanya sekedar teman atau bawahan. Dia spesial. Kamu terlihat begitu menyayanginya." Giska mengatakan apa yang dia lihat.
"Benarkah?"
"Yang aku lihat seperti itu."
"Engg ... " Kikan terbangun. Giska dan Dicto menoleh serempak. Wanita itu mengerjapkan mata seraya merintih sebentar. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, lalu mengedarkan pandangan ke sekitar. "Ini ... dimana?" tanya Kikan bingung. Setelah sebelumnya dia sudah terheran-heran karena berada di tempat asing, kini ia kembali merasa bingung karena tempat ia bangun dari tidur, kembali berbeda.
"Rumah sakit?" tanya Kikan terkejut.
"Ya. Kamu pingsan setelah muntah-muntah di kamar mandi," jelas Dicto. Kikan masih menoleh ke sekitar dengan perasaan tidak karuan. Bola matanya sampai pada tubuhnya sendiri. Ke arah perutnya.
"Lalu ... Bagaimana aku? Apakah aku bisa bebas?" tanya Kikan dingin. Dicto tahu apa yang di maksud perempuan ini. Itu pasti soal kandungannya. Dicto diam. Dia tidak menjawab. Giska melirik. Dicto hanya menatap perempuan yang masih di infus itu agak lama.
"Halo, aku Giska." Perempuan ini langsung mengalihkan pembicaraan barusan dengan mengenalkan diri. Dia mengulurkan tangan. Kikan mengerjap sebentar sebelum akhirnya ikut mengulurkan tangan menyambut Giska.
"Ya. Aku Kikan."
"Kikan ya ... Nama yang bagus. Tidak seperti nama adikku ini." Giska berusaha mencairkan suasana. Kikan mengulas senyum tipis. Menanggapi candaan Giska barusan. "Aku merasa lega kamu tidak apa-apa. Bukankah memang seharusnya kita mendapat kabar baik, ya?" tanya Giska sambil mulai duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
Dicto pun menjauh dari ranjang. Melihat sorot mata Kikan yang tajam tadi, seakan menunjukkan kalau dia berharap bayi itu tidak ada, Dicto ingin marah. Namun akhirnya urung karena dia tidak bisa marah pada Kikan yang labil.
"Aku keluar dulu." Dicto memilih keluar dulu untuk mendinginkan kepalanya.
"Aku kakak Dicto. Kamu pasti sudah tahu Ruby, karena kalian berkerja di ZEUs. Dia juga adikku," ujar Giska mengungkap siapa dirinya. Kikan mengangguk.
Tiba-tiba tangan Giska menarik tangan Kikan pelan dan menggenggam jari-jarinya. Bola mata Kikan mengerjap heran. Setelah ia menunduk melihat jari-jari itu, kini ia mendongak lagi.
"Sebagai perempuan, yang sangat di inginkan setelah menikah adalah bayi. Aku, setelah bertahun-tahun menikah, ternyata Tuhan tidak memberiku anugerah itu. Hingga akhirnya aku memilih bercerai karena keluarga suamiku menginginkan bayi yang aku sendiri tidak tahu kenapa tidak kunjung ada di dalam rahimku. Jadi ... dalam pandanganku bayi itu anugerah," ujar Giska.
"Jadi Kak Giska tahu soal bayi di dalam rahimku?" tanya Kikan yang mulai paham bahwa dia tidak bisa menutupi persoalan dirinya yang hamil.
Giska mengangguk pelan.
"Cerita Kak Giska dengan aku berbeda. Aku bukan tidak menyukai memiliki bayi, tapi jika ceritanya seperti ini ... aku tidak mau. Aku bukan hamil karena menginginkannya, tapi aku di hamili. Tidak semua orang bisa menerima itu dengan mudah. Begitu juga aku," tunjuk Kikan pada dirinya dengan marah.
Giska mengangguk.
"Aku mengerti. Jadi kamu perlu ubah cara pandangmu, jika kamu marah ... marahlah pada Dicto. Dia yang membuatmu kebingungan seperti ini. Bukan anak yang ada di dalam rahimmu. Dia tidak bersalah."
Mata Kikan berkaca-kaca.
"Jika kamu ingin menyiksa seseorang karena membuatmu panik dan tersiksa dengan segala hal yang menyebabkan perutmu sakit dan muntah, siksalah Dicto, bukan bayi itu. Dicto yang membuatmu hamil. Kamu memang harus memberi pelajaran padanya."
Kikan menggigit bibir bawah menahan air mata agar tidak jatuh.
"Balas Dicto dengan perlakuan yang setimpal dengan penderitaan mu saat merasakan perutmu bergolak. Jangan membuat dirimu atau bahkan bayimu yang menderita. Buatlah Dicto menderita dengan harus merawat kalian berdua dengan bersungguh-sungguh. Bayi itu tidak tahu apa-apa soal kesalahan yang Dicto lakukan. Jadi jangan salahkan dia yang singgah di rahim kamu. Aku tahu, dari dalam lubuk hati kamu yang paling dalam, jika terjadi hal yang mengerikan terjadi pada bayimu, kamulah yang paling menderita dan tersiksa. Karena dasarnya seorang ibu itu selalu mengharapkan kehidupan untuk anaknya, bukanlah sebuah kematian."
Kikan menangis.
__ADS_1
___