
Ibu muncul lagi. Ternyata beliau membawakan sepiring gorengan untuk Dicto. Kikan menegakkan tubuhnya. Sedikit tidak suka pada ibu yang memperlakukan Dicto sangat baik. Lalu ia menghapus ekspresi marahnya. Kikan mencoba berekspresi wajar.
"Ini, ibu baru saja menggorengnya." Terlihat dari asap yang keluar dari atas makanan itu.
Dicto langsung berdiri dan membantu Ibu yang hendak meletakkan piring berisi gorengan. "Jangan repot-repot lagi, Ibu. Tangan Ibu pasti masih sakit," ujar Dicto.
"Anggap saja sebagai latihan agar tangan ibu tidak kaku nantinya," kata ibu sambil tersenyum pada Kikan dan Dicto. Kikan menghela napas. Ibu berpamitan untuk pergi sebentar ke rumah tetangga. Kikan mengangguk. Sekarang mereka hanya berdua di rumah ini.
"Kamu bisa pergi sekarang. Bukannya ini jam kerja? Oh, iya aku lupa. Kamu adalah putra pemilik ZEUs. Jadi kamu bisa melakukan apa saja seenaknya hatimu," cibir Kikan. Dia bicara dan memutuskan sendiri kalimatnya. Dicto tidak mempedulikan cibiran perempuan ini.
Tidak sengaja, Kikan membuat isi dalam kresek yang di pegangnya tadi tumpah dan berserakan di lantai. Dengan tergesa-gesa, Kikan memunguti obat-obatan itu. Dicto ikut membungkuk, memungutinya. Saat itu ia menemukan kapsul Dangan tulisan agak mencurigakan.
"Kapsul ...." Belum selesai Dicto membaca obat itu, Kikan sudah merampasnya. Lalu dengan cepat, perempuan itu berdiri dan memasukkan obat itu ke dalam kresek. "Obat apa itu Kikan? Aku yakin itu bukan vitamin atau pereda demam," tanya Dicto curiga. Kikan diam tidak menjawab. Dia hanya berusaha menyembunyikan plastik berisi obat-obatan itu. Namun Dicto yang sudah berdiri, lebih cekatan untuk secepatnya merebut dari tangan Kikan. Hingga dalam sekejap saja plastik obat itu ada pada tangan pria ini.
Bola mata Kian melebar. "Berikan padaku, Dicto," pinta Kikan dengan raut wajah panik.
"Tidak," sahut Dicto tegas. Tangan Kikan berusaha menggapai-gapai tas kresek kecil tadi.
"Berikan Dicto," pinta Kikan mulai tidak sabar.
"Aku bisa membelikannya jika ini memang sebuah vitamin atau sejenisnya," kata Dicto seraya mengamankan plastik itu dari jangkauan Kikan.
"Jangan main-main, Dicto. Berikan padaku," desis Kikan menahan marah. Sepertinya wanita ini ingin berteriak kencang dan melakukan apa saja untuk mendapatkan obat itu.
"Sepertinya obat ini berbahaya. Aku tidak akan memberikan padamu." Dicto yakin itu bukan obat untuk orang sakit. Pria ini yakin obat itu untuk menggugurkan kandungan. Meskipun sekilas, Dicto yakin akan hal itu. Apalagi melihat reaksi Kikan yang ingin menyembunyikan obat-obatan itu.
“Apa pedulimu?” Kikan menunjuk dada Dicto dengan amarah. “Apapun isi obat itu, kamu tidak berhak untuk melarang ku.”
“Kalau benar, obat ini penggugur kandungan, aku berhak melarangmu, Kikan. Aku berhak mencegah kamu melakukannya. Karena di dalam perutmu ada bayi yang tidak berdosa yang harus hidup. Dan itu adalah bayiku juga," ujar Dicto tegas.
__ADS_1
“Persetan dengan semua hal yang menyangkut soal bayi. Aku tidak menginginkannya. Aku tidak pernah menginginkannya sebelum waktunya, Dicto. Kamu tidak akan pernah memahaminya," kata Kikan frustasi.
“Sudah aku katakan dari awal, aku belum pernah mengalaminya, Kikan. Ini pertama kalinya bagiku. Aku memang tidak memahami semua hal yang terjadi padamu dan aku sekarang. Bayi adalah hal baru bagiku, apalagi itu adalah bayiku. Darah daging ku.” Dicto berusaha memberi Kikan penjelasan.
“Aku tidak peduli, aku ... Ougghh.” Tiba-tiba Kikan memegangi kepalanya. Dia mengalami pusing berat. Karena terlalu berpikir keras, Kikan merasakan tubuhnya oleng. Dicto memasukkan plastik obat itu ke dalam sakunya, dia langsung menangkap tubuh itu.
Kikan merintih sakit. Dicto kebingungan. Dia membimbing tubuh perempuan ini untuk duduk di kursi panjang.
“Kikan, kamu tidak apa-apa?” tanya Dicto cemas. Kikan masih memegangi kepalanya. Mendadak perempuan ini bersusah payah bangkit dari tempat duduk dan mulai berjalan. “Sebaiknya kamu tiduran atau duduk dengan nyaman, Kikan,” pinta Dicto seraya membuntuti wanita ini. Ternyata Kikan menuju ke kamar mandi.
“Hoek. Hoek.” Kikan muntah-muntah. Sepertinya Kikan berusaha menahan suaranya agar tidak terlalu terdengar dari luar. Dicto hendak masuk ke dalam kamar mandi, membantu menyiram bekas muntahan atau memijit pundak Kikan. Namun perempuan ini langsung memberi aba-aba dengan tangannya agar Dicto tidak ikut masuk.
Aku yang harus aku lakukan? tanya Dicto panik di dalam hati. Dia harus melihat Kikan muntah-muntah sementara dirinya tetap diam di ambang pintu. Kikan berusaha menuntaskan muntahnya dan membantu dirinya sendiri untuk bisa kuat.
Dicto ke belakang, mencari minuman di dapur. Meskipun sempat kebingungan karena ini pertama kali ia masuk ke dalam rumah Kikan, akhirnya ia menemukan gelas. Lalu membawakan air untuk Kikan yang sudah berhenti muntah.
Kikan memilih berdiri tanpa mengindahkan perkataan Dicto. Pria ini menghela napas. Sadar bahwa semua yang ia lakukan akan di abaikan oleh Kikan. Perempuan itu ke dapur mengambil air sendiri. Tangannya gemetar karena masih lemas. Akibatnya gelas itu meluncur bebas dari tangannya.
Pyaar! Gelas pecah di lantai.
“Kikan!” Dicto mendekat setelah meletakkan gelas berisi air di tangannya. “Jangan bergerak,” cegah Dicto. “Tidak. Aku bilang jangan bergerak, Kikan.” Dicto langsung membungkukkan tubuh menahan Kikan untuk memunguti pecahan gelas di bawah kakinya. “Kamu boleh bergerak setelah aku membereskan pecahan yang ada di kakimu. Sebentar.” Dicto memunguti pecahan yang ada di sekitarnya saja. “Sudah. Kamu bisa lewat.”
Dicto mempersilakan Kikan melewati lantai yang sudah bersih sambil mengawasinya. Setelah itu ia membereskannya lagi. Kikan melirik ke arah air minum yang di siapkan Dicto. Kemudian menghela napas kemudian.
Kikan merebahkan tubuhnya di kursi dengan mata terpejam.
__ADS_1
“Ibu datang,” kata ibu di depan pintu. Kikan terkejut. Ia membetulkan duduknya dan menoleh ke belakang. Panik karena takut Dicto masih membersihkan pecahan kaca.
“Oh, ibu sudah datang.” Dicto muncul dan tersenyum. Ibu sedikit heran melihat pria ini muncul dari arah belakang. “Saya menumpang kamar mandi barusan,” kata Dicto beralasan.
“Benarkah? Aduh. Maaf ya ... Kamar mandinya berantakan.” Ibu langsung masuk dan menuju area belakang. Ibu malu melihat tamu pria menggunakan kamar mandi, karena cucian di dekat mesin cuci masih menumpuk dengan sembarangan.
Dicto akhirnya merasa kasihan dan bersalah karena memilih berbohong soal itu. Namun dia menoleh ke arah Kikan yang merintih pelan.
“Masih mau muntah?” tanya Dicto pelan dengan raut wajah khawatir.
“Tolong pulanglah. Jangan berada di sini,” pinta Kikan.
“Aku harap obat seperti tadi tidak ada lagi, Kikan. Jangan melakukan hal yang berbahaya lagi,” pesan Dicto. Kikan mengerutkan wajah menerima nasehat dari pria ini. Dia lebih ingin Dicto segera pergi dari rumahnya sekarang juga.
Manik mata Dicto melihat ponsel Kikan yang tergelatak di atas meja. Mendadak ia mengambilnya.
“Mau apa kamu?” tanya Kikan sembari mencoba meraih ponsel miliknya. Dicto berusaha mencegah tangan Kikan bisa meraih ponselnya.
“Aku yakin tidak ada nomorku di ponselmu.” Dicto memaksa mengutak-atik ponsel Kikan. “Hubungi aku jika kamu sudah siap bertemu untuk membahas surat pengunduran diri kamu.” Dicto menyerahkan gawai berbentuk pipih itu pada Kikan setelah menyimpan nomornya sendiri disana. Kikan merampasnya dengan kesal. “Aku anggap kamu ijin sakit sementara ini. Aku akan membuang obat ini,” kata Dicto menunjuk pada sakunya.
Kikan menoleh ke arah lain.
“Sampaikan terima kasihku pada ibu,” ujar Dicto dan keluar menuju mobilnya. Saat itu ibu muncul.
“Lho, teman kamu kok sudah pulang?” tanya ibu yang melihat mobil Dicto mulai menjauh dari halaman rumah mereka. “Mau kemana?” tanya ibu yang melihat Kikan berdiri.
“Aku pusing. Mau istirahat," kata Kikan setelah meraih ponsel di atas meja dan menuju ke kamarnya.
_____
__ADS_1