
Setelah kemunculan Dicto, malam ini yang datang mengunjungi Kikan dengan Rangga.
"Kakak sakit beneran ya?" tanya perempuan ini saat melihat wajah Kikan yang pucat.
"Kamu pikir aku berbohong?" Kikan berpura-pura tidak setuju.
"Emmm ... padahal aku sudah kangen Kak Kikan nih ...," rengek Arin seraya memeluk Kikan. Perempuan ini tersenyum sambil mengelus kepala Arin yang jadi mirip kucing ndusel-ndusel.
"Belakangan ini kamu kok sakit-sakitan sih, Ki? Padahal dulu enggak deh. Kamu orang paling rajin, paling kuat di tim kita." Rangga heran dengan kondisi Kikan belakangan ini.
Kikan tergelak ringan. "Manusia kan bisa saja cepat berubah, Ga. Kamu pikir aku sendiri yang membuat tubuhku sakit-sakitan begini? Ini memang faktor alam," protes Kikan.
"Ya enggak gitu kali, tapi kondisi tubuhmu berubah drastis. Bikin banyak orang cemas saja." Rangga ikutan protes. Kikan menarik bibirnya sedikit.
"Kakak enggak mau resign lagi, kan?" selidik Arin. Pertanyaan Arin ini sempat bikin Kikan gugup. Ia memang ingin keluar dari perusahaan itu.
"Kenapa tanya itu, Beb?" tanya Rangga.
"Takutnya Kak Kikan masih maksa buat keluar dari perusahaan." Feeling Arin benar soal Kikan.
"Ya enggak. Dia kan masih fokus sama kesehatannya yang memburuk dengan tiba-tiba," sangkal Rangga seperti tahu saja apa yang ada di dalam benak Kikan sekarang.
"Syukur deh kalau begitu." Arin lega. Kikan menipiskan bibir mendengar mereka mengharap dirinya tidak keluar dari perusahaan.
"Ibu sudah baikan, Ki?" tanya Rangga kemudian.
"Ya."
"Ibu kemana? Kok enggak kelihatan, Kak?" tanya Arin melongok ke belakang.
"Ibu tidur. Mungkin capek," jawab Kikan.
"Itu oleh-oleh buat kamu dan ibu," kata Rangga menunjuk keranjang buah yang ada di belakang Arin. Perempuan ini mengambilnya dan menyerahkannya pada Kikan.
"Kalian mau pulang?" tanya Kikan melihat mereka beranjak dari kursi.
"Enggak. Kita mau kencan," sahut Rangga bangga. Kikan mendengus.
__ADS_1
"Ya, ya, ya ... kalian memang harus terus kencan selagi bisa,” kata Kikan setuju.
"Sepertinya kamu sedang menyumpahi kita deh," kata Rangga.
"Enggak mungkin," tepis Kikan. "Sudah. Kalian cepat kencan dan pulang jangan malam-malam," nasehat Kikan seperti pada adiknya. Rangga dan Arin pun berpamitan.
Selepas mereka pulang, Kikan membawa keranjang buah itu ke belakang. Air liurnya menetes ingin memakan buah. Ia mencoba mengambil buah pir. Mengupas dan memakannya. Hmmm ... segar. Perutnya terasa nyaman. Tiba-tiba ia berhenti mengunyah. Memuntahkan buah yang tadi ia makan dan meletakkan buah itu di meja dapur begitu saja. Ia memilih tidur.
**
Dicto menuju ke ruangan tim perencanaan 1. Meja Kikan masih kosong. Melihat kakaknya seperti mencari seseorang, Ruby bertanya, "Kak Dicto sedang mencari siapa?"
Bukan hanya Ruby yang penasaran, tapi semua anggota tim. Meskipun begitu, mereka tidak berani bertanya. Karena Dicto sendiri tidak mengeluarkan kalimat apapun. Hanya melihat dan diam. Mendengar Ruby bertanya, mereka ikut mendengarkan.
"Dia." Jika kemarin Dicto tidak mengatakan apapun saat Ruby bertanya, kali ini ia menjawab. Ruby sedikit terkejut karena telunjuk Dicto menunjuk meja Kikan. Yang lainnya pun ikut menoleh ke arah bangku Kikan.
"Kikan?" tanya Ruby menegaskan.
"Ya. Sudah dua hari dia tidak masuk kerja. Apa kalian sudah menjenguknya?" tanya Dicto. Kali ini dia bertanya pada semuanya. Bukan hanya bicara dengan Ruby.
"Saya sudah menjenguknya, Pak." Arin bersuara. Namun dia tidak bilang kalau ke rumah Kikan dengan Rangga. Cintya dan Mirna mendelik ke arah Arin. Mereka protes karena Arin tidak mengajak. Arin merasa bersalah. Dicto menoleh ke arah Arin.
"Ya."
"Kalau bisa, kalian jenguk dia agar cepat sembuh," ujar Dicto memberi saran. Semua mengangguk. Ruby menipiskan bibir mendengar kakaknya menyarankan semua anggota menjenguk perempuan itu. Astra yang melihat Dicto berada di meja tim perencanaan 1 heran. Sejak tadi dia mengamati dari ruangannya.
**
"Kak Dicto menyarankan semua anggota menjenguk Kikan. Kenapa harus berlebihan seperti itu. Tanpa di suruh pun mereka pasti akan menjenguknya." Ruby mengomel di ruangan Astra saat mengantarkan dokumen dari bagian keuangan.
Astra hanya mengangguk saja.
"Kenapa tidak bicara apa-apa?" tegur Ruby. Dicto yang sedang membaca dokumen itu, kini mendongak.
"Aku tidak akan mengatakan apapun jika itu berurusan dengan Kikan. Karena apapun yang aku katakan, kamu akan menuduhku sembarangan," sahut Astra jelas.
"Aku tidak akan menuduh sembarangan kalau kamu menuntaskan semuanya sebelum aku tahu," kata Ruby kesal. Menurutnya, Astra yang menyimpan foto itu pantas membuat ia marah. Astra diam saja. Ia tidak ingin melanjutkan bicara.
__ADS_1
"Kenapa kalian terus saja seperti itu?" celetuk Dicto yang muncul di ruangan tanpa mengetuk pintu. Dia mendengar obrolan barusan.
"Kakak tidak tahu apa yang Ruby rasakan," keluh Ruby sambil bersila tangan.
"Aku tidak ingin tahu lagi apapun tentang kamu dan Astra. Cukup waktu itu saja, Ruby," kata Dicto sambil menunjuk Ruby. Ini membuat Astra menoleh. Ruby panik. Astra memang tidak tahu apa yang sudah di lakukan pada Kikan di belakangnya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Astra yang merasa dia sendiri yang tidak tahu apa-apa.
"Tidak ada," potong Dicto. "Bagaimana dengan iklan Glow yang kalian tangani?"
"Bukannya itu tanggung jawab, Kikan? Apalagi soal model yang mereka ganti dengan tiba-tiba," gerutu Ruby. Dia tetap tidak suka pemilihan model oleh pihak Glow. Dicto melirik ke arah adiknya.
"Kikan sekarang sedang sakit, jadi aku akan ikut melakukan komunikasi dengan pihak Glow dan memantau penanganan iklan ini secara langsung," kata Dicto membuat Astra dan Ruby heran sekaligus terkejut.
"Kenapa jadi Kak Dicto yang menangani ini?" tanya Ruby aneh.
"Lebih baik setuju saja tanpa protes Ruby," ujar Dicto tidak mau mendengar penolakan Ruby.
"A-apa?" Ruby terheran-heran. Ia bertanya pada Astra tanpa mengeluarkan suara. Astra tidak mengatakan apa-apa. Dia menoleh pada Dicto. Namun pria itu tengah sibuk pada layar komputer Astra.
"Bilang pada seluruh anggota untuk berkumpul di ruang rapat," kata Dicto tanpa menoleh. Ia tetap melihat ke arah komputer Astra. Astra hendak bergerak untuk memberitahu yang lainnya. "Aku menyuruhmu, Ruby. Bukan Astra," cegah Dicto. Sekarang pria ini melihat langsung ke arah Ruby.
"A-aku?" tanya Ruby sembari menunjuk pada dirinya sendiri dengan heran.
"Ya. Bukankah kamu juga anggota tim perencanaan 1?" tanya Dicto dengan raut wajah tidak ingin di bantah. Ruby berdecak kesal. Ia pun keluar ruangan ruangan tidak ingin melihat Dicto marah.
"Ada apa denganmu?" tanya Astra heran. Ini pertama kalinya dia melihat Dicto bersikap seperti itu pada adiknya. Itu tidak biasanya.
"Ada apa?" tanya Dicto balik.
"Sikapmu ke Ruby, ini pertama kalinya."
"Dia tidak harus selalu manja. Dan aku harap kamu juga melakukannya sedikit demi sedikit. Jangan biarkan ia menggila." Dicto mengatakan ini dengan serius.
"Apa dia sudah melakukan sesuatu yang membuatmu merasa tidak bisa lagi menerima sifat manjanya?” selidik Astra.
“Sebaiknya kita segera menuju ruang rapat,” kata Dicto menjauh dari meja Astra tanpa menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
_____