
Setelah proses pembersihan rahim dan Kikan di nyatakan sehat, ibu hamil ini di pindah ke kamar perawatan. Semua keluarga bisa masuk untuk menjenguk.
"Selamat ya, Kikan. Kamu berhasil menjadi ibu," kata Giska setelah bermain dengan bayi Kikan.
"Terima kasih. Semoga Kak Giska juga segera dapat jodoh lagi dan menjadi ibu juga," kata Kikan tulus. Dia tahu cerita kehidupan kakak perempuan Dicto ini.
"Terima kasih." Giska tersenyum tipis sambil mengusap kepala adik iparnya.
"Sayang ... lihatlah. Sepertinya kita tidak kebagian untuk menggendong bayi kita. Para nenek dan kakek sibuk rebutan," keluh Dicto tapi dengan wajah bahagia. Kikan tergelak. Ibunya juga masih ada di sana.
"Adikmu kok enggak muncul, Dic? Mama takut kenapa-kenapa seperti jatuh dari tangga seperti waktu itu," kata mama masih ingat saat tidak sengaja berkunjung ke rumah putri bungsunya, beliau melihat Ruby duduk di kursi roda.
"Mungkin masih dalam perjalanan," kata Presdir menenangkan istrinya.
"Janjinya kan setelah pulang kerja, Pa." Mama protes. "Sampai sekarang belum datang."
"Coba kamu telepon, Dic," perintah Presdir yang tidak ingin istrinya terus menerus cemas.
"Ya, Pa," sahut Dicto.
"Ruby masih tidak menyukaimu?" tanya Giska yang tahu kisah itu dari Dicto, pelan. Perempuan ini menoleh pada kakak iparnya. Dicto sibuk menelepon adiknya.
"Aku rasa tidak. Karena dia tidak pernah lagi melontarkan kalimat sinis saat bertemu denganku di kantor. Kita baik-baik saja. Aku harap begitu," sahut Kikan.
"Syukurlah kalau begitu. Dia terlalu di manja mama dan papa. Jadinya begitu. Kebablasan," kata Giska berpendapat. Kikan hanya tersenyum.
"Kenapa sayang?" tanya Kikan pada Dicto yang terlihat cemas.
"Ruby tidak bisa di telepon."
"Astra saja," kata Kikan. Karena sudah panik duluan, Dicto lupa kalau dia bisa menghubungi Astra. Sekarang ia sedang berusaha menelepon ipar dan temannya itu.
"Astra juga tidak bisa di telepon?" tanya Giska karena Dicto terus saja mendekatkan ponsel pada telinganya tanpa ada pembicaraan apapun.
"Bisa, tapi tidak di angkat," jawab Dicto.
Saat itu pintu kamar perawatan di buka. Muncul Astra dan Ruby. "Itu mereka," kata Kikan. Anak bungsu itu sudah mulai bisa berjalan. Jadi setelah operasi, dia kerap menjalani pelatihan untuk kakinya yang sudah tidak sesempurna ketika sebelum peristiwa jatuh dari tangga. Dia berjuang keras untuk itu.
__ADS_1
"Mama pikir kamu ada apa-apa, sayang ..." Mama dan Ruby berpelukan. Lalu ganti berpelukan dengan mama. "Ini lihatlah anak kakakmu," kata mama seraya menunjukkan pada Ruby.
Bola mata bayi yang belum bisa melihat dengan benar itu menatap Ruby. Seakan-akan tahu dialah pelaku yang membuat dia ada di rahim mamanya.
"Kenapa kamu mirip papamu? Kenapa bukan mirip mamamu?" tanya Ruby seraya menyentil pelan hidung mungil bayi yang masih berwarna merah itu.
"Hei ... ya enggak apa-apa. Kakakmu itu juga tampan, jadi enggak masalah kalau mirip," bela mama.
"Halo Kak Giska. Lama sekali kita enggak pernah bertemu," kata Ruby. Giska tersenyum lalu meminta Ruby mendekat. Mereka juga berpelukan.
"Kenapa bawa bunga segala," kata Dicto yang menemukan buket bunga tulip berwarna putih di tangan Kikan.
"Ini untuk Kikan. Bagus kan? Bisa jadi pajangan di atas meja," kata Ruby asal. Kikan melihat itu. Ia pernah dengar soal arti tulip putih. Memberikan bunga tulip berwarna putih merupakan cara yang bagus untuk mengungkapkan permintaan maaf Anda kepada seseorang.
"Ini bukan artinya kamu berbela sungkawa kan?" celetuk Giska mengejutkan. Dicto terkejut. Ruby menekuk bibirnya. Dia tidak percaya kalau Kak Giska justru membelokkan ungkapan yang ingin di sampaikannya. "Jangan di buat serius. Aku mengerti." Giska tergelak.
Perempuan ini menghela napas. Sementara itu Kikan tidak peduli arti dari bunga yang di bawa Ruby. Menurutnya, kedatangan Ruby sudah mengatakan ada kemajuan dalam hubungan di antara mereka berdua. Mungkin Ruby seiring kesal jika ingat kisah Astra dan dirinya, tapi Ruby berusaha menepisnya.
"Terima kasih atas bunganya, Ruby," kata Kikan.
"Tanya saja pada Kikan, karena dia tahu," kata Giska melempar jawaban pada adik iparnya. Kikan tersenyum. Dicto menatap istrinya sambil menagih jawaban.
Giska mengelus kepala adik bungsunya.
"Semua manusia wajib berusaha. Aku yakin kamu bisa tidak selalu mengandalkan orang lain," pesan Giska.
"Tapi Ruby wajib mengandalkan aku," kata Astra membuat Ruby menipiskan bibir dengan wajah sedikit tersipu.
"Benar. Kamu bisa andalkan dia," kata Dicto setuju. Semua tertawa bersamaan.
***
Jika tadi para nenek dan kakek yang sibuk menggendong, kini gantian Ruby yang mencoba menggendong. Dia yang sempat akan menjadi ibu, terlihat sedikit emosional saat menggendong bayi Kikan. Ada rasa haru yang membuat matanya berkaca-kaca.
"Kamu benar-benar serius menjadi suami Kikan," kata Giska yang sedang menyendiri di sofa. "Kakak salut kamu bisa menunjukkan, bahwa tidak semua yang berawal dari kesedihan akan tetap berakhir dengan air mata."
"Dalam perjalanan membuktikan diri kalau aku sungguh-sungguh ingin bertanggung jawab, tenyata aku juga butuh dia. Aku mencintai Kikan. Yang awalnya pernikahan ini hanya sebatas sebagai perbaikan kesalahan yang sudah aku buat, tenyata aku tidak ingin dia meninggalkan aku," ungkap Dicto.
__ADS_1
Giska tersenyum.
"Kamu sudah belajar mata pelajaran menjalani hidup ya?" ledek Giska.
"Sepertinya iya," sahut Dicto jenaka. "Ya. Setelah yakin kalau dia akan menjadi pendampingku, aku harus belajar banyak hal. Aku bertekad seperti itu," kata Dicto.
"Aku akan bergabung dengan mereka," kata Giska yang bangkit dari duduknya. Di ganti dengan kemunculan Astra yang baru saja dari toilet.
"Selamat ya, sudah menjadi papa," ucap Astra.
"Terima kasih. Apa Ruby sudah tidak menggila?"
"Tidak. Dia lebih banyak diam," kata Astra lirih. Mereka berdua memandang Ruby.
"Mungkin Ruby itu salah besar, tapi semuanya tidak terjadi jika kamu bisa menempatkan diri dengan benar. Ruby itu hanya terlalu posesif padamu. Cintailah dia seperti tidak ada lagi perempuan yang bisa kamu cintai. Karena bagaimanapun aku ingin adikku bahagia."
"Aku mengerti," kata Astra menyadari kesalahannya. Dicto tersenyum pada Kikan yang menoleh padanya. Lalu perempuan itu membalas dengan senyuman indah.
Tidak lama kemudian, Kikan melambai. Ruby yang tengah menggendong bayinya, ikut menoleh.
"Ayo, Astra. Kita ikut gabung bersama mereka. Jarang-jarang kita satu keluarga bisa berkumpul seperti ini," ajak Dicto. Astra turut serta.
Setelah kedua pria ini mendekat, Ruby menunjukkan bayi Kikan pada suaminya.
"Dia cantik. Sepertimu," seloroh Astra cepat-cepat. Ia takut Ruby salah paham. Mendengar itu Ruby mendengus. Merasa lucu dengan kepanikan Astra.
"Ya, karena dia keponakanku," sahut Ruby. Di saat semua masih terfokus pada bayi kecil yang ada di gendongan Ruby, Kikan berbisik sangat lirih di telinga Dicto yang duduk di tepi ranjang.
"Aku mencintaimu."
Ini membuat Dicto terkejut. Dia menoleh pada Kikan dengan tatap mata yang dalam. Ini pertama kalinya dia mendengar pernyataan cinta yang resmi dari perempuan ini. Bibirnya tersenyum.
"Aku juga mencintaimu," lirih Dicto.
...T A M A T...
......................
__ADS_1