Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 30 Masih ada bahagia yang lain


__ADS_3

"Tidak. Maaf. Aku bisa lepaskan tanganku." Dicto melepas tangannya. "Tolong jangan tarik tanganmu, Kikan. Biarkan tetap berada di bawah air yang mengalir." Dicto langsung memberi nasehat saat ia menyadari Kikan hendak menarik tangannya dari bawah kran. "Tanganmu akan melepuh," imbuh Dicto.


 


Kikan menatap Dicto sebentar, kemudian mengalihkan padangan ke arah lain. Ia membiarkan tangannya tetap di aliri air.


 


Sementara itu, Dicto mengedarkan pandangan ke sekitar. Tanpa berpamitan, pria itu pergi. Kikan tidak peduli. Kini ia menatap tangannya dengan pandangan kosong.


 


Kenapa aku mengaduh? Bukannya sakit ini tidak seberapa daripada sakit hati yang aku rasakan karena para orang-orang tidak tahu diri itu?


 


Kikan menahan getir yang ia rasakan. Ia menggigit bawah bibirnya untuk menahan tangis. Namun nyatanya air mata itu muncul dan menggenang di manik mata bulatnya.


 


"Aku bawakan salep dan handuk bersih."


 


Kikan di kejutkan oleh suara Dicto yang tiba-tiba muncul. Sekejap, ia langsung mengusap air mata yang menggenang di ujung mata, dengan tangan yang tidak terkena air panas.


 


 Dicto sebenarnya menyadari kalau perempuan itu sedang menangis dari balik punggungnya. Maka dari itu ia harus memberi tanda keberadaannya. Dia tidak bisa mendekat begitu saja saat airmata itu menetes. Pun dia tidak pergi karena masih belum membantu mengobati luka bakar di tangannya perempuan itu.


 


 Kikan berpikir bahwa Dicto sudah tidak akan kembali. Namun ternyata pria ini muncul lagi dengan membawa obat.


 


"Aku tidak butuh obat. Setelah terkena air, tanganku sudah sembuh," ujar Kikan merasa apa yang di bawakan pria ini, tidak penting.


 


 


"Aku hanya ingin mengobati lukamu," kata Dicto.


 


"Tidak perlu. Pergilah. Sebagai wakil presdir, kamu tidak akan punya banyak waktu senggang hanya untuk mengobati luka karyawan biasa seperti aku. Jadi jangan buang waktumu untuk hal yang tidak berarti seperti ini," ejek Kikan masih menunjukkan keengganannya di bantu Dicto.


 


Dicto diam. Dia menatap Kikan sedikit lebih lama. Kikan tidak peduli meskipun pria ini sudah membawa obat-obatan. Dia akan pergi sekarang.


 

__ADS_1


 "Jika kamu hanya seorang karyawan biasa, itu berarti kamu harus patuh padaku karena aku adalah wakil Presdir di sini," balas Dicto tegas. Sebagai atasan, dia punya wewenang. Tanpa mendengar bahwa gadis ini menolak untuk di obati, Dicto menjulurkan tangannya untuk menarik tangan Kikan dari bawah air kran yang mengalir.


 


"Diam dan lihat saja saat aku sedang mengobati tanganmu, Kikan," kata Dicto serius. Ini membuat Kikan diam seribu bahasa. Dia tidak percaya akan di balas oleh pria ini dengan mudahnya. Kikan tertegun.


 


Mata Kikan mendadak nanar. Entah kalimat apa yang membuatnya nanar. Ia langsung membuang muka ke arah lain. Mencari obyek yang bisa membuatnya berhenti membayangkan sesuatu yang membuat hatinya sedih.


 


Dicto meraih tangan Kikan dan membersihkannya dengan handuk bersih kecil yang di bawanya.


 


"Pegang dengan lembut. Aku akan mengoleskan salep," ujar Dicto. Kikan mengikuti anjuran Dicto tanpa suara. Pria itu mengambil salep. Kemudian mengoleskannya pada punggung tangan Kikan perlahan. "Sudah." Dicto melepas tangan Kikan.


 


Tanpa mengucapkan apa-apa, Kikan pergi. Ia mengabaikan tangannya yang sakit dan berjalan menjauh. Dicto mengamati punggung perempuan itu dan menghela napas.


**


Saat Kikan muncul, Arin segera mendekat. Orang yang selalu mencari Kikan adalah dia. Karena dia selalu cemas dengan kakak seniornya yang seringkali menatap kosong ke arah komputer di depannya. Dengan kebiasaan Arin mencari Kikan jika perempuan itu lama tidak muncul di mejanya, membuatnya mengetahui banyak hal yang di rahasiakan Kikan.


 


“Kak Kikan.” Tanpa sengaja Arin menyentuh tangan Kikan yang baru saja terkena air panas. Kikan tersentak kaget dan mendesis pelan. “Kak Kikan kenapa?” tanya Arin terkejut. Ia langsung meraih tangan yang sempat di sembunyikan Kikan tadi. “Tangan Kakak kenapa? Kena air panas ya? Perih?” tebak Arin.


 


“Kakak enggak jadi berhenti kerja, kan?” tanya Arin seraya memasang wajah tidak rela. Kabar soal dirinya berencana resign sudah terdengar. Kikan terkejut. Mirna mendekat.


 


"Emang kenapa kamu mau berhenti kerja? Sudah bosan sama kita?" tanya Mirna membuat wajahnya terlihat judes.


 


"Kita kurang care sama kamu? Kita kurang asyik?" Cintya menambahi.


 


"Ih ... Kak Mirna sama Kak Cintya jangan gitu, dong. Kasihan Kak Kikan di desak terus. Sudah jangan dengarkan mereka Kak." Arin memeluk Kikan.


 


Kikan mengerjapkan mata. Meskipun sekarang hatinya penuh luka, tapi masih banyak orang baik yang tetap bersamanya. Walaupun mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya, tapi setidaknya mereka ada untuk membuat hatinya gembira.


 


Kikan lupa masih ada hal menggembirakan di tempat ini. Dia tidak boleh melupakan mereka begitu saja. Karena di tempat impiannya ini, bukan hanya berisi orang-orang yang menyakitinya. Masih banyak orang-orang yang baik hatinya.

__ADS_1


 


Tiba-tiba saja Kikan menitikkan air mata. Arin yang pertama kali menyadari, terkejut. Mirna dan Cintya menyusul. Meraka juga ikut mendekat dan memeluk Kikan karena terkejut dan bingung. Ada apa dengan Kikan?


 


**


 


Makan siang di kantin perusahaan.


 


Kikan mencoba kembali menata hatinya yang hancur karena banyak hal. Kembali berbaur dengan yang lain. Ia tidak sendirian. Semua anggota tim perencanaan 1 termasuk keluarganya.


 


Aroma masakan dari dapur kantin perusahaan menyeruak. Kikan menekan hidungnya lembut. Entah kenapa aroma itu terasa menyengat.


 


“Kenapa Ki?” tanya Cintya.


 


“Bau masakan dari dapur kantin agak menyengat hari ini,” sahut Kikan dengan tetap menutup hidung.


 


“Oh, ya? Sepertinya kaya biasanya, tuh.” Cintya coba membaui udara kantin dengan hidungnya. Namun yang di terima Indra penciumannya adalah aroma donat dari outlet kue di seberang. “Bau donat outlet depan. Beli pulang nanti ah,” kata Cintya tergelak.


 


Kikan makin merasa aneh. Bermacam-macam bau-bauan aneh dari dapur sangat menusuk hidungnya. Ia kembali menekan hidungnya.


 


Arin yang tepat ada di depannya memperhatikan.


 


“Kakak kenapa?” tanya Arin sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


 


“Aku tidak tahan dengan aroma yang lewat ini,” keluh Kikan. Dia benar-benar kebingungan. Akhirnya ia memilih pergi dari meja dan menuju ke toilet. Perutnya tidak bisa lagi kompromi. Ada rasa bergolak di dalam perut dan memaksa isi perutnya keluar. Kikan muntah. Untung saja ia sudah masuk ke dalam toilet. Karena sedikit saja telat, ia akan muntah di jalan.


 


“Ah ... Kenapa perutku ini?” Kikan menekan-nekan perutnya. “Mungkin karena belakangan ini aku jarang makan. Makanya maag kambuh. Bisa jadi lambungku infeksi. Ah ...” Kikan meringis lagi. Ada lagi sebuah dorongan dalam perutnya. Ia mual dan muntah lagi.


______

__ADS_1



 


__ADS_2