Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 40


__ADS_3

Pernikahan Kikan dan Dicto berjalan tertutup. Bukan karena keluarga Presdir tidak menyetujui, tapi karena permintaan Kikan sendiri pada Dicto. Walaupun tertutup, undangan tetap di layangkan untuk saudara dan kolega terdekat.


 


Kikan nampak cantik dengan kebaya warna putih. Dicto tidak henti-hentinya menatap kagum. Kikan tidak tahu itu. Karena ia seringkali menunduk dan memilih melihat pada satu titik.


 


Meskipun tertutup, Astra termasuk dalam daftar orang yang wajib hadir. Tentu saja sebagai adik ipar dari Dicto.


 


Sejak kabar pernikahan ini yang keluar dari mulut Ruby, Astra tidak henti-hentinya berpikir keras. Bagaimana bisa Dicto menikahi Kikan? Dan darimana mereka bisa dekat? Karena setahu semua orang, Kikan dan Dicto jarang sekali terlihat bersama.


 


"Kamu terkejut?" tanya Ruby yang bisa memahami apa yang ada di dalam pikiran Astra sekarang. Pria itu menoleh ke istrinya setelah memperbaiki ekspresi tertegunnya melihat wanita itu bersama Dicto.


 


Astra memilih tidak menjawab.


 


"Kamu juga tidak tahu soal kedekatan mereka?" tanya Ruby menyelidik.


 


"Kenapa aku harus tahu?" Astra balik tanya.


 


"Mungkin saja. Mungkin kamu masih ingin tahu bagaimana cerita mantan kekasihmu itu," sahut Ruby ketus. Astra meneguk minuman di tangannya. Mengabaikan Ruby yang terus menggerutu.


 


...***...


 


Acara pesta usai. Kikan sudah melepas kebaya dan segala printilannya. Tangannya mengusap wajahnya dengan facial foam. Menggosoknya pelan, lalu membilas dengan air. Menghela napas sambil bercermin.


 


Kakinya keluar dari kamar mandi dan langsung menemukan Dicto yang duduk di sofa. Pria itu memakai kacamata untuk membaca buku. Kaki Kikan melangkah menuju ranjang king size yang mewah. Naik ke atas ranjang perlahan, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, kemudian tidur. Dia tidak peduli dengan Dicto.


 


Ini malam pertama, tapi tidak ada rintihan, *******, ataupun lolongan kepuasan dua manusia yang menyatu. Malam ini sepi dan suram.


 


Dicto melirik ke arah Kikan yang tidur miring memunggunginya. Saat perempuan itu melangkah keluar dari kamar mandi, ia tidak benar-benar membaca buku. Dicto tidak fokus. Ia hanya ingin membuat dirinya nyaman.


 


Ini bukan pertama kalinya ia dan Kikan di dalam satu kamar, tapi sekarang ia dalam keadaan sadar sepenuhnya. Tidak lagi terbawa pengaruh alkohol seperti waktu itu. Dadanya berdegup kencang. Dicto bertingkah gugup sendiri meskipun Kikan tidak peduli padanya. Sungguh miris.


 


Bola mata Dicto melihat ke arah bantal yang berada di samping Kikan. Perempuan itu tidak memakai ranjang besar ini sepenuhnya. Masih ada sisi kosong di sampingnya. Apakah perempuan itu memberi ruang untuknya untuk tidur?


 


Dicto menghapus bayangan indah di otaknya. Tidak mungkin Kikan melakukan itu. Trauma yang ia beri sungguh melekat erat di hatinya. Namun Dicto tetap mendekat karena ia harus mengambil bantal di samping Kikan.

__ADS_1


 


Perempuan ini tidur dengan lelap. Dicto tidak ingin melepaskan pemandangan ini begitu saja. Ia tetap berdiri di samping ranjang dengan bola mata menatap ke arah Kikan.


 


Mendadak, kelopak mata perempuan itu bangun. Padahal Dicto masih memfokuskan pandangannya padanya. Ia salah tingkah. Dicto meraih bantal perlahan.


 


"Aku ... mau mengambil bantal," kata Dicto menunjukkan bantal yang sudah berada di dalam pelukannya. Lalu ia melangkah menjauh dari ranjang menuju sofa.


 


Ya. Dicto akan tidur di sofa. Dia sudah memikirkan ini sebelumnya. Ia tidak harus memaksa tidur di satu ranjang dengan Kikan. Karena dia tahu, Kikan masih tidak sudi tidur satu ranjang dengannya.


 


Setelah Dicto mengatakan itu, Kikan menutup matanya lagi. Dia tidur lagi.


 


Dia ... benar-benar tidak ingin melihatku, kata Dicto saat berjalan menuju ke sofanya. Ada rasa kecewa di sana.


 


...***...


 


Dicto terbangun karena ingin ke kamar mandi. Saat ia menoleh ke atas ranjang setelah keluar dari kamar mandi, ia terkejut ketika mendapati ranjang besar itu kosong.


 


"Kikan," ucap Dicto panik. "Dia kabur?" Dicto meyakinkan dirinya bahwa di atas ranjang memang tidak ada perempuan itu dengan mendekat dan memeriksanya. Benar. Kikan tidak ada di atas ranjang.


 


 


Ini lantai dua.


 


Dicto menuruni tangga. Melihat semua sudut rumah untuk mencari keberadaan Kikan.


 


Dimana dia? tanya Dicto dengan rasa cemas yang menggunung. Saat itu ia mencoba ke dapur. Lampu dapur menyala. Dicto mendekat ingin bertanya pada bibi.


 


Saat membuka pintu dapur, baru Dicto tahu bahwa itu adalah istrinya. Kikan tampak mencari-cari sesuatu di sana.


 


"Kikan ..." panggil Dicto pelan. Se-pelan apapun, Kikan bisa mendengar suara pria ini karena suasana sunyi. Tubuh perempuan itu berjingkat kaget. "Maaf aku membuatmu kaget. Aku mencarimu." Dicto menyadari panggilannya membuat perempuan ini begitu terkejut.


 


"Mungkin kamu berpikir aku kabur," kata Kikan tepat.


 


"Bukan begitu."

__ADS_1


 


"Aku memang ingin kabur," kata Kikan mengaku. Dia kembali menghadap ke rak pantry. Dicto yang tadinya sudah lega, kini tegang. "Tapi tenang saja. Karena sudah berjanji pada ibu untuk menutupi nama keluarga karena aibku, aku tidak akan kabur karena setuju menikah denganmu." Kikan pandai mengombang-ambingkan perasaan Dicto.


 


"Aku berterima kasih," kata Dicto membuat Kikan menoleh.


 


"Kenapa berterima kasih. Di sini tidak ada hal penting yang aku lakukan untukmu. Justru kamu yang sudah melakukan hal besar untukku."


 


"Entahlah. Mendengar kamu setuju menikah dengan ku, aku senang," ungkap Dicto jujur. Kikan langsung mengerjapkan mata. Ini sungguh aneh. Dia yang seharusnya bahagia saat ada pria yang sudah memperrkosanya, lalu mau bertanggung jawab. Bukan sebaliknya.


 


Kikan memilih mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia masih mencoba mencari sesuatu di rak.


 


"Kamu lapar?" tanya Dicto. Kikan diam. Itu karena pertanyaan Dicto tepat sasaran. "Aku melihatmu tidak makan saat acara makan bersama tadi." Ternyata meski Kikan berpura-pura bahwa dia ikut makan, Dicto menyadarinya. Kikan tidak punya nafsu makan. "Mau makan apa?" tanya Dicto mendekat.


 


"Apapun yang ada di sini," kata Kikan pasrah. Ia harus mengaku karena perutnya benar-benar kelaparan. Dicto mencoba mencari sesuatu di rak pantry dan kulkas.


 


"Tidak ada makanan, Kikan. Di sini hanya ada mie instan." Dicto menemukan beberapa mi instan. Sepertinya milik pembantu rumah.


 


"Ya, aku bisa makan itu." Kikan menunjukkan keantusiasannya. Dicto melirik. Sedikit terkejut. Sepertinya perempuan ini sangat lapar hingga tanpa sadar menunjukkan dirinya yang bersemangat karena mau makan.


 


"Tapi, maaf. Ibu hamil tidak boleh makan mie instan," kata Dicto yang pernah dengar soal itu. Kikan diam. Mendengus pelan. Harapannya untuk makan musnah dalam sekejap. Dicto yang melirik, tahu itu. "Namun ... mungkin jika hanya sekali dan porsinya sedikit, tidak masalah." Dicto melanggar sendiri kalimat larangannya. Ia tentu lebih suka melihat Kikan senang daripada kecewa.


 


Kikan mengangguk setuju.


 


"Berikan padaku. Aku akan memasaknya. Kamu bisa kembali ke kamar untuk tidur. Bukannya kamu sedang tidur tadi. Lebih baik aku melakukannya sendiri, karena sekarang akulah yang lapar." Tangan Kikan meminta mi instan di tangan Dicto. Namun pria itu tidak menyerahkannya.


 


"Biar aku yang membuatkan mi untukmu." Dicto mengambil inisiatif.


 


"Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri," tolak Kikan terang-terangan. Dicto diam. Dia tidak langsung memberikan pada Kikan.


 


"Ini malam pertama. Dimana pengantin seharusnya melakukan hal yang sangat wajar.” Tiba-tiba Dicto mengatakan hal itu tanpa basa-basi. Kikan terkejut. “Aku sadar kita tidak mungkin melakukan itu. Jadi biarkan aku melakukan hal lain di malam pertama ini denganmu. Meskipun itu hanya memasak mi instan di dapur denganmu.”


 


Kikan langsung membuang pandangan ke arah lain. “Terserah.”


____

__ADS_1



__ADS_2