
Bruk!
Kikan yang baru saja keluar dari lift, langsung berjalan dengan tergesa-gesa. Karena itu ia menabrak lengan seseorang di lorong tanpa sengaja. Kakinya langsung berhenti dan meminta maaf.
"Maaf. Aku terburu-buru," kata Kikan seraya membungkukkan badan meminta maaf dengan tanpa mendongakkan kepala sama sekali. Setelah itu, ia segera melangkah dengan cepat menuju ke pintu keluar. Dia tidak tahu bahwa yang ditabraknya barusan adalah Astra.
Melihat langkah Kikan yang terburu-buru, Astra memandangi punggung itu. Ia merasa ada sesuatu yang janggal dengannya. Apalagi saat ia melihat Kikan mengangkat ponselnya dengan wajah cemas di luar. Dari dinding kaca perusahaan, ia bisa melihat ekspresi panik perempuan itu.
Bola mata Astra menatap lift dan Kikan bergantian. Sejenak ia berpikir. Akhirnya ia memilih keluar untuk menanyakan situasi perempuan itu secara langsung. Ini jam kerja, tapi perempuan itu hendak pergi bahkan tanpa membawa tasnya. Bahkan itu tergesa-gesa. Kemungkinan ada sesuatu yang gawat dan darurat sedang terjadi sekarang.
"Ada apa Kikan?" tanya Astra mengejutkan. Kikan menoleh pada pria itu seraya mengerjapkan mata. Ia tidak menduga tiba-tiba saja ada pria ini di dekatnya.
"Oh, Astra. Maaf aku belum memberitahu. Aku minta ijin pulang lebih awal," kata Kikan tanpa bermaksud meminta simpati pria ini. Sebagai bawahan dia tahu harus bagaimana jika dalam situasi sekarang. Kikan hanya ingin meminta ijin sesuai prosedur perusahaan.
"Ada apa?" tanya Astra lagi. Dia belum mendapat jawaban dari pertanyaannya tadi. Astra mengulangi lagi pertanyaannya.
"Ibuku jatuh. Sekarang ... Sekarang ibu ada di rumah sakit," jawab Kikan meski tersendat-sendat karena panik. Sepertinya ia ingin menangis.
"Ibu?" Astra terkejut. "Aku akan antar kamu." Astra langsung berinisiatif.
"Tidak," tolak Kikan langsung. Kaki Astra berhenti melangkah. "Aku bisa berangkat sendiri. Maaf jika aku tidak bisa bekerja sesuai jadwal. Aku harus pergi," kata Kikan seraya mendekati mobil lamanya yang di parkir.
Meskipun di tolak, tapi pria ini tidak segera pergi. Ia tetap masih di sana. Memperhatikan Kikan yang kebingungan ingin membuka pintu mobil, tapi tidak bisa. Rupanya ia tidak memegang kontak mobil. Itu karena Ia tidak membawa tas dan lainnya. Kikan hanya membawa ponsel yang sudah di pegangnya sejak tadi. Padahal ia menaruh kontak mobil di dalam tas. Kikan berdecih gusar karena ia harus kembali ke atas untuk mengambil tasnya. Itu akan memakan waktu yang lama.
"Ayo, Kikan. Sebaiknya aku yang antar." Astra yang mengerti situasi, masih mencoba untuk membujuk Kikan.
__ADS_1
"Kenapa kamu masih di sana?" tanya Kikan yang menyangka pria ini sudah pergi. Astra diam tidak menjawab. "Aku tidak perlu bantuanmu. Aku bisa berangkat sendiri, Astra," ujar Kikan gusar. Ia tidak ingin membuat masalah dengan Ruby. Kikan berjalan ingin kembali ke atas. Astra masih diam memperhatikan. Sampai ponsel Kikan berdering lagi, dan membuat wajah perempuan ini pucat.
"Ada apa Kikan?" tanya Astra yang langsung mendekat saat tubuh itu limbung. Menahan bahu Kikan agar tidak terjatuh. Wajah Kikan pucat dengan mata nanar. "Ayo, kita segera ke rumah sakit."
"T-tidak. Pergilah. Aku bisa berangkat sendiri," kata Kikan seraya menjauh dari Astra.
"Jangan bercanda. Lihatlah tanganmu gemetaran sejak tadi. Tidak mungkin kamu bisa mengemudi dengan baik," kata Astra menunjuk tangannya. Astra rupanya sempat melihat tubuh perempuan itu gemetaran. Kikan tahu itu, tapi ia tidak harus di antar oleh pria ini.
Ia berjalan menuju mobilnya yang tidak jauh dari mobil Kikan. "Segera masuk Kikan. Kamu tidak boleh terlambat ke rumah sakit karena masih harus kembali ke atas mengambil kontak mobil dan sebagainya. Ayo. Jangan berpikiran macam-macam," ajak Astra.
Kikan dilema. Tidak ada jalan cepat menuju rumah sakit selain di antar Astra. Akhirnya dengan berat hati, ia naik ke mobil Astra.
Di dalam perusahaan, Ruby melihat mereka berdua masuk ke dalam mobil yang sama dengan wajah geram. Matanya sangat tajam menyaksikan interaksi barusan.
**
Rupanya Astra tetap menemani Kikan saat ibu di operasi karena patah tulang. "Duduklah, Kikan." Ia tidak sampai hati melihat Kikan yang terus berjalan kesana kemari dengan mengepalkan tangan karena cemas. Sesekali ia memejamkan mata. Berdoa demi keselamatan beliau.
"Pulanglah Astra. Terima kasih sudah mengantarkan aku. Kembalilah ke kantor. Kamu tidak harus menemaniku. Ruby bisa marah. Ini sangat tidak nyaman," pinta Kikan.
"Ya. Aku tahu. Aku akan pulang sebentar lagi. Abaikan saja aku."
Kikan menghela napas. Ia takut Ruby akan meledak-meledak. Namun sekarang ibu adalah prioritas utama. Dia tidak harus mempedulikan hal lain.
**
__ADS_1
Mendengar kabar tentang ibu Kikan, anggota tim perencanaan 1 datang hampir bersamaan. Rangga membawakan mobil Kikan, juga tas kerjanya. Namun tentu tidak ada Ruby bersama mereka.
"Kak Kikan enggak apa-apa?" tanya Arin bersimpati. "Pasti kakak tadi panik sekali hingga tidak membawa apapun."
"Terima kasih sudah membawakan tas dan mobilku ke sini," kata Kikan ke Arin seraya tersenyum.
"Lalu siapa yang antarin kamu ke rumah sakit, Kikan?" tanya Cintya. "Bukannya mobil kamu masih ada di tempat parkir perusahaan tadi?" Semuanya melihat ke arah Kikan bersamaan.
Kikan tidak menduga dia dalam posisi seperti sekarang. Yaitu kesulitan menjawab pertanyaan yang mudah saat orang lain bertanya padanya.
"Ya, naik ojek lah. Kan dia bawa handphone," celetuk Rangga yang ternyata berguna dan membantu. Kikan tersenyum tipis. Dia menoleh pada Rangga penuh arti. Padahal ia juga bisa menjawab seperti itu. Sepertinya kekasih Arin itu tahu bahwa Kikan di antar oleh Astra. Jadi dia berinisiatif menyelamatkan.
Setelah menyambut kedatangan para anggota timnya, Kikan ingin pulang sebentar untuk membersihkan diri dan sebagainya. Operasi sudah selesai langsung tadi. Dan ibu masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Meskipun begitu, keadaan tegang tadi sudah lenyap.
Sebagai anak tunggal dan yatim, tidak ada lagi yang bisa di ajak sharing soal kepedihan ini. Untung saja adik ibu bisa membantu. Jadi Kikan bisa bergantian berjaga.
**
Setelah membersihkan diri dan memasukkan barang yang di butuhkan ke dalam tas, Kikan kembali berangkat ke rumah sakit. Ia akan menginap.
Jalanan terlihat sepi padahal masih jam sembilan malam. Setelah sampai di rumah sakit, ia masih ingin membeli sesuatu di minimarket yang ada di seberang jalan. Karena bibi pesan sesuatu. Karena di minimarket ini tidak ada, ia menggiring kakinya melangkah menuju mini market lainnya.
Tiba-tiba saja ia merasa di tarik seseorang. Dan dalam hitungan detik saat ingin protes, ia merasa tubuhnya lemah.
______
__ADS_1