Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 28 Perayaan


__ADS_3

Walaupun tahu keadaan Kikan, Arin tidak memberitahu siapapun bahkan Rangga. Dia menutup rapat-rapat kenyataan pahit yang di alami Kikan. Itu hal yang sangat berat. Apalagi ibu Kikan baru saja si operasi.


 


Suasana tim perencanaan 1 terasa tegang. Kikan diam saja sejak tadi. Ruby pun demikian.


 


**


 


Wakil Presdir mengadakan acara penyambutan dirinya dengan tim perencanaan satu. Undangan di layangkan di grup chat sejak tadi, tapi Kikan yang sibuk dengan pikirannya sendiri tidak tahu itu.


 


“Acara penyambutan?” tanya Kikan bingung. Dia mengerjapkan mata.


 


“Ya. Ayo segera berangkat. Pak Dicto memesankan tempat untuk kita di Hongdae,” kata Cintya seraya mengerlingkan mata pada Rangga. Maksudnya berterima kasih karena perjuangan pria itu, mereka akhirnya bisa makan gratis di tempat makan yang enak. Namun itu membuat Rangga panik.


 


“Hei, mata kamu kelilipan?” tegur Rangga yang merasa sedang di awasi oleh seseorang. Arin tahu interaksi tadi. Sejak tadi mengawasi. Makanya Rangga panik saat Cintya mengerlingkan mata padanya.


 


“Itu tanda terima kasih sudah memilihkan ide tempat makan yang sip untuk kita semua. Benarkan, Mir?” tanya Cintya yang menoleh pada Mirna yang memoles wajahnya dengan make-up.


 


“Ya. Benar, benar. Kita memang butuh asupan gizi yang baik. Dan seperti inilah asupan gizi yang baik itu. Mahal dan gratis,” ujar Mirna membuat semua orang setuju. Mood baik menghampiri mereka. Kecuali Kikan pastinya.


 


“Aku enggak ikut. Aku ...”


 


“Tidak," potong Cintya. Ia langsung memeluk lengan Kikan. Menahan tubuh perempuan ini untuk pergi. “Tidak ada yang boleh tidak ikut. Semua harus ikut, termasuk kamu, Kikan.” Cintya memakai mode memaksa.


 


“Maaf, tapi ibu ...” Kikan tetap berusaha menolak.


 


“Ibumu pasti mengerti kalau kamu bilang ini penyambutan wakil Presdir yang baru. Jangan bilang kamu tidak akan mengatakan begitu pada beliau,” pesan Mirna sambil menunjuk botol maskara padanya. Ia mengancam Kikan untuk ikut.


 

__ADS_1


Arin yang tahu keadaan Kikan tidak ikut memaksa. Dia mengerti. Kikan tidak ingin bertemu dengan tiga orang itu.


 


“Iya, tapi ...”


 


“Uh, ni anak. Kamu harus tetap ikut apapun yang terjadi. Jangan membantah.” Cintya kekeh menahan Kikan untuk pergi. “Hei, Arin. Ayo. Kamu juga ikut membujuk Kikan untuk ikut, dong.” Cintya mulai menemukan Arin yang diam saja sejak tadi.


 


“Iya ... Kalau Kak Kikan mau, ayo ikut. Kalau enggak mau ...” Arin kebingungan. Karena dia tahu alasan Kikan menolak ikut. Makanya sejak tadi Arin tidak angkat bicara karena tidak enak dengan Kikan.


 


“Aishh ... Kenapa membujuknya seperti itu?” tanya Cintya gemas. Dia tidak setuju dengan cara membujuk Arin. “Sudah. Ayo bawa Kikan paksa saja," ajak Cintya. Mirna yang sudah selesai make-up pun memeluk lengan Kikan. Akhirnya Kikan pasrah. Dia ikut mereka menuju ke Hongdae. Merayakan pesta penyambutan wakil presdir.


 


**


 


Kikan sudah berusaha duduk jauh dari tiga orang itu, tapi sudah kebiasaan anggota tim bahwa AE duduk dekat dengan ketua tim. Apalagi ada wakil Presdir. Kursi yang kosong hanyalah di sebelah Dicto. Bukan di sengaja. Tanpa di sadari ada urutan sendiri untuk duduk sesuai pekerjaan. Walaupun sebenarnya itu tidak perlu.


 


.


Pria itu mengerjapkan mata. Namun Rangga langsung berpikir, kemungkinan Kikan tidak ingin duduk disana karena dekat dengan tempat duduk Astra dan Ruby. Dicto yang memperhatikan Kikan, mengerti, kalau perempuan itu idak ingin duduk dekat dengan dirinya.


 


“Bisa, tapi aku akan canggung jika duduk di dekat wakil Presdir,” bisik Rangga meringis. Kikan menipiskan bibir. Namun itu bukan hal baru. Mereka enggan duduk dengan atasan karena tidak bisa makan dengan bebas. Mereka harus jaga sikap. Semua mengangguk samar. Menunjukkan kalau mereka setuju dengan pendapat Rangga.


 


Kikan menghela napas.


 


“Benar. Kenapa duduk saja repot,” kata Kikan dalam hati menghentikan keengganannya. Perempuan ini duduk tepat di sebelah Dicto. Arin yang duduk di sebelahnya tersenyum. Berusaha menenangkan Kikan. Kikan membalas dengan senyuman tipis.


 


**


 


Saat yang lainnya asyik memanggang daging sapi dan ayam di atas grill pan yang panjang, Kikan hanya memakan dessert yang ia pesan. Roti yang berisi eskrim rasa stroberi.

__ADS_1


 


“Kak sudah matang. Ayo ambil,” kata Arin. Kikan enggan, tapi dia mencoba menghormatinya. Kikan kesulitan mengambilnya karena memakai sumpit. Ia tidak terbiasa.


 


“Pakai garpu saja,” ujar Dicto menyodorkan garpu. Rupanya pria ini masih memperhatikan Kikan sejak tadi. Kikan terkejut. Ia langsung menatap ke arah Dicto dingin. Arin melirik. Ia yang duduk di sebelah Kikan mendengar itu. Kikan melirik ke arah meja Arin, tidak ada garpu di sana.


 


“Ya,” ujar Kikan tidak ingin banyak mata memandangnya curiga. Ia pun memakai garpu yang di berikan Dicto. Dan sibuk dengan daging dan ayam yang sudah di panggang Arin.


 


Ruby menipiskan bibir melihat itu. Sementara Astra heran. Setahu dia, Kikan tidak mengenal Dicto sebelumnya.


 


Meskipun begitu, Kikan sebenarnya menahan diri dari rasa sedih. Apalagi itu di depan semua teman-temannya. Ia berusaha tersenyum dan menyahuti celetukan-celetukan anggota tim perencanaan 1 yang bahagia mendapat makanan gratis.


 


Setelah mengunyah daging ayam dan menelannya, Kikan merasa tidak nyaman.


 


“Kenapa, Kak?” tanya Arin yang melihat tangan Kikan berhenti mengambil makanan lagi. Hanya mengambang begitu saja.


 


“Aku merasa perutku tidak nyaman,” bisik Kikan. Di dalam perutnya terasa bergolak. Saat makanan masuk, perutnya seakan melilit dan sakit.


 


“Itu pasti maag. Kakak sering telat makan ya?” tebak Arin tidak salah. Karena banyak hal yang menimpanya, ia butuh waktu banyak untuk berpikir dan berpikir. Semua itu membuat pola makannya berantakan. Bahkan kadang ia hanya makan roti saat pagi saja. Siang hari pun hanya di isi dengan susu kemasan yang ia beli di mesin otomatis kantin perusahaan.


 


Kikan tersenyum tipis.


 


Sekejap ia mencoba menekan perutnya dengan lengannya. Agar sakit yang ia rasakan tadi tidak terasa, dan semua akan berjalan wajar.


 


_____


 


__ADS_1


__ADS_2