
Terpaksa Kikan harus kembali ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah menyatu dengan Dicto. Dan itu membuatnya lapar. Yang ada di dalam pikirannya adalah ... buah-buahan.
"Aku ingin salad buah," pinta Kikan. Dicto menoleh ke ponselnya. Jam 12 lebih. Ini mungkin terlalu malam hanya untuk mencari salad buah. Namun dia harus mengabulkan permintaan istrinya. Karena kemungkinan itu juga permintaan bayi di dalam kandungan.
Setelah mengganti pakaian. Ia mengambil mantel dan membantu Kikan memakainya.
Mobil melaju pelan di kesunyian malam. Kikan sedikit menggigil. Dicto menyalakan pemanas.
"Mendekatlah," pinta Dicto. Kikan tidak paham, tapi dia menuruti permintaan pria ini. Saat mendekat, lengan Dicto memeluk tubuh Kikan. Kemudian menggosok lengan Kikan dengan perlahan. Menyalurkan hangat dari tangannya untuk perempuan ini. "Aku harap ini bisa mengurangi rasa dingin."
Kikan tersenyum.
"Ya. Ini cukup hangat," kata Kikan seraya mendongak. Dicto ikut tersenyum. Sepertinya mereka tidak berhasil menemukan outlet penjual salad buah di malam hari, kecuali mini market yang buka 24 jam.
"Sepertinya hanya minimarket itu yang buka," tunjuk Dicto. "Pasti di sana ada salad dan buah potong."
Kikan mengangguk.
Dugaan Dicto benar. Mereka beruntung masih ada stok buah potong dan salad di lemari pendingin.
"Aku makan di sini saja," pinta Kikan seraya menunjuk ke kursi yang di sediakan minimarket ini. Tempat yang ada di pojok.
"Tapi kamu akan kedinginan."
"Kan ada kamu yang bisa membuat hangat," kata Kikan menunjuk Dicto dengan bola matanya.
"Ohh ... begitu." Dicto tergelak senang. "Baiklah. Kita duduk di sini." Tangan Dicto menarik kursi untuk Kikan duduk. Lalu dia pun ikut duduk di samping istrinya.
"Oh, hujan," seru Kikan seraya menunjuk ke dinding kaca di depan mereka. Sepertinya ini hujan pertama yang di lihat mereka berdua. Sambil menyuapkan salad ke dalam mulutnya, Kikan menatap air turun dari langit.
"Untung saja kamu meminta makan salad di sini," ucap Dicto. Kikan mengangguk. Lalu menawarkan salad buahnya pada Dicto. "Tidak. Aku tidak akan meminta makanan yang di sukai bayiku," tolak Dicto. Kikan tergelak. Mereka pun sama-sama melihat air hujan yang membasahi bumi. Makin lama makin deras.
"Terima kasih Dicto," ucap Kikan tiba-tiba. Dicto menoleh sambil menyelipkan anak rambut Kikan di balik telinga.
"Kenapa?"
"Terima kasih kamu tidak lari saat aku terpuruk." Kikan mengatakan dengan lirih. Perempuan ini tetap melihat ke depan. Tangannya mengambang, tidak lagi menyuapkan salad buah ke mulutnya. Lalu meletakkan sendok salad di tempatnya. Dicto mengamati wajah perempuan ini.
"Aku yang bersalah. Jadi aku yang harus bertanggung jawab."
__ADS_1
"Meskipun begitu, kamu bisa lari dan bicara pada semua orang kalau aku tidak mengandung benih mu. Kamu punya kesempatan itu," kata Kikan menoleh pelan pada Dicto.
"Untuk apa aku melakukan itu. Sejak malam itu, aku selalu di bayangi oleh wajahmu. Daripada lari, aku justru ingin bertemu denganmu. Aku merasa rindu." Tangan Dicto terulur menyentuh garis wajah Kikan. Hangat. "Setuju menjadi bagian dari ZEUs ternyata membuatku bertemu denganmu. Aku senang sekaligus gelisah."
"Ya. Aku marah dan benci padamu." Kikan mengatakan dengan jujur.
"Aku tahu. Maaf salahku, Kikan," kata Dicto sambil menggenggam tangan perempuan ini erat.
"Kalau saja kamu tidak gigih dan sabar mendekatiku, aku memilih pergi selama-lamanya," kata Kikan membuat Dicto langsung memeluknya dari samping.
"Aku bodoh jika membiarkanmu memilih jalan seperti itu." Dicto mengecup pucuk kepala istrinya. "Kita sudah bisa memperbaiki atmosfir tidak menyenangkan di antara kita berdua. Jadi langkah kita sudah benar. Jangan harap kamu bisa membenciku lagi Kikan," ancam Dicto.
Kikan tergelak.
"Astra ..." sebut Kikan tiba-tiba.
"Kikan ... Saat ini aku sedang memelukmu dan kamu malah menyebut nama mantanmu?" tegur Dicto dengan geram. Pria ini ingin marah. Bola mata Kikan mendongak pada Dicto seraya menipiskan bibir.
"Tenang Dicto. Jangan salah paham."
"Lihatlah keluar baik-baik." Kikan menggerakkan dagu pria ini untuk melihat keluar dinding. Saat itu tubuh seorang pria baru saja melintas.
"Aku tidak melihat siapa-siapa," kata Dicto tidak percaya.
"Sekarang dia sudah masuk ke dalam minimarket ini. Tuh," tunjuk Kikan di dekat pintu. Ternyata apa yang di katakan Kikan benar adanya. Ada Astra yang masuk ke dalam minimarket, dengan tubuh setengah basah.
"Astra!" panggil Dicto. Pria itu menoleh dengan wajah lelah. "Sebentar, Kikan," kata Dicto pelan. Kepala Kikan mengangguk setuju. Ia membiarkan Dicto berdiri dan mendekati mantan kekasihnya. "Kamu terlihat panik. Ada apa?"
"Ruby minta di belikan cokelat."
"Cokelat? Kenapa harus sejauh ini?" tanya Dicto heran.
"Ruby minta cokelat dengan tulisan jepang."
"Ha? Memangnya ada di minimarket ini?" tanya Dicto terkejut.
"Biasanya memang ada. Tidak mahal, tapi stock sering habis. Dan aku sudah mencari sepanjang minimarket yang buka 24 jam, tapi stock tidak ada," jelas Astra dengan wajah putus asa.
__ADS_1
Saat itu Ruby juga turun dari mobil dengan memakai payung.
"Sayang ... kenapa kamu turun dari mobil?" tanya Astra terkejut. Dia langsung menyentuh tubuh istrinya. Mengusap-usap tubuh wanita itu dengan harapan bisa membuatnya hangat. Kikan melongok dari mejanya.
"Kenapa Kak Dicto ada di sini?" tanya Ruby terkejut.
"Aku bersama Kikan," jawab Dicto menunjuk perempuan itu. Bola mata Kikan memandang mereka. Ruby menghela napas. Dia sedikit terganggu dengan pertemuan ini. Karena sekarang, dimana ada Dicto pasti ada perempuan itu. Karena Kikan adalah istrinya.
"Kenapa harus cokelat itu dan malam-malam seperti ini? Kamu bukan lagi bocah," tegur Dicto tanpa basa-basi.
"Dicto, dia ini sedang ..." Astra ingin menjelaskan.
"Enggak perlu ngomong ke Kak Dicto," potong Ruby. "Cokelatnya ada enggak?" tanya perempuan ini dengan bibir tertekuk.
"Jangan manja, Ruby. Masih banyak cokelat lain selain yang kamu inginkan sekarang. Jangan bersikap seperti bocah." Dicto masih menegur karena tidak setuju dengan sikap manja adiknya.
Wajah Ruby makin kesal dengan pertanyaan kakaknya.
"Istriku hamil, Dicto," ungkap Astra juga mulai tidak sabar.
"Hamil?" tanya Dicto terkejut. Ruby menipiskan bibir sebal. "Benarkah Ruby?" tanya Dicto tidak percaya. Dia melihat ke adiknya.
"Iya, kenapa?" tanya Ruby kesal.
"Maaf, aku tidak tahu," kata Dicto merasa bersalah.
"Dia memang tidak bicara soal kehamilannya karena baru tahu saat dia mengeluh mual," jelas Astra.
"Iya, kakak tidak lagi peduli padaku karena aku selalu kesal pada Kikan. Jadi kak Dicto selalu marah-marah," ujar Ruby. Astra mengelus lengan istrinya. Dicto menghela napas. Tubuh Ruby menggigil karena dingin. Astra tidak bisa memberikan jaketnya karena pria itu tidak memakai jaket sekarang. Dicto pun hendak melepas jaketnya untuk Ruby.
"Pakai mantelku. Di luar sangat dingin." Tiba-tiba Kikan mendekat dan mengulurkan mantel. Ruby terkejut. Pandangan Ruby dan Astra tertuju pada mantel yang ada di tangan Kikan. Dicto melihat Kikan sudah melepas mantel yang di pakainya.
"Kenapa ..."
Tangan Kikan menahan kalimat Dicto dengan menyentuh lengannya. Akhirnya pria ini diam. Dia hanya mendengarkan.
"Ambillah. Udara dingin makin menyiksa ibu hamil. Mual kamu akan bertambah parah." Kikan tahu itu karena dia juga mengalaminya.
..._____...
__ADS_1