Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 21 Doa yang terkabul


__ADS_3

Sungguh mengejutkan bahwa akan ada orang baru di perusahaan ini. Bahkan itu menggantikan wakil presiden yang akan di mutasi ke perusahaan milik keluarga Ruby yang lain. Karena itu adalah doa Mirna kemarin.


 


Mirna, Cintya, dan Arin saling berpandangan. Mereka tidak menduga bahwa doa mereka kemarin terkabul. Senyum mereka mengembang secara bersamaan. Ini bagai sebuah keajaiban. Keinginan mereka terwujud. Mereka mencoba menahan tawa bahagia di dalam hati.


 


“Nanti siang, wakil presiden yang baru akan datang. Jadi siapkan segalanya,” kata Astra yang baru keluar dari ruangannya.


 


“Apa kita juga butuh semacam perayaan kecil, Pak?” tanya Rangga yang langsung melihat celah ada makanan gratis. Jika begitu, dia bisa menghemat dan tabungannya banyak. Yang lainpun berharap demikian.


 


“Perayaan? Aku rasa tidak perlu. Kemungkinan wakil presiden langsung bekerja,” kata Astra lalu berlalu dari meja para anggota. Rangga dan yang lain pun, kecewa. “Emm ... Sedikit camilan di dalam toples bisa juga," kata Astra menambahi. Kepala Rangga menoleh ke yang lain dan bersorak tanpa suara. Itu artinya, mereka bisa punya camilan gratis. “Kikan, siapkan itu,” tunjuk Astra.


 


“Ya," sahut Kikan masih lemah." Walaupun sudah berisitirahat seminggu, dia tetap terlihat lemas dan tidak bertenaga. Banyaknya masalah yang ia hadapi sejak ibunya harus di operasi, membuat tubuh dan pikirannya lelah. Apalagi harus di paksa untuk kuat dan memendamnya sendiri. Beban Kikan kian menggunung.


 


Ruby muncul dari arah lorong keluar.


 


“Sepertinya dia datang sekarang,” kata Ruby memberi tahu. Sepertinya ia mengecek kedatangan calon wakil presiden direktur. Astra terkejut karena tidak ada informasi jika pria itu akan datang sekarang.


 


“Benarkah?” tanya Astra. Ruby mengangguk. "Kita belum bersiap, Ruby." Astra cemas.


 


“Tidak perlu penyambutan resmi. Dia tidak masalah dengan itu. Lagipula kita sudah mengenalnya lebih dulu. Kecuali dia tidak datang sendiri,” kata Ruby. Kemungkinan mereka sudah mengenal orang yang akan menjadi wakil presiden direktur ini.


 


Terdengar suara langkah kaki di lorong. Sepertinya bukan hanya satu karena suara itu terdengar begitu ramai. Semua kepala melongok ke arah lorong. Dan benar. Ada beberapa orang. Wakil presiden direktur sedang di kawal.


 


Astra mendekat ke pintu masuk. Sementara Ruby berdiri di sampingnya. Semua pun mengikuti apa yang di lakukan mereka berdua. Kikan memilih berdiri sedikit jauh dari samping Astra. Dia tidak ingin ada kegaduhan jika dia berada di samping Astra. Kikan mencoba meminimalisir keributan antara Ruby dan Astra menyangkut dirinya.


Perlahan mulai terlihat seorang pria. Tubuhnya tinggi dan bagus. Sepertinya itu orang yang menjadi pengganti wakil Presdir.


 

__ADS_1


Deg, deg, deg.


 


Jantung Kikan berdetak kencang. Rahangnya mengetat. Tangannya mengepal kuat. Saat ini seluruh sendinya seakan-akan hancur. Hingga ia tidak bisa menopang tubuhnya sendiri. Dia sudah mencoba sekuat tenaga untuk tetap berdiri meski hatinya tersayat-sayat. Pedih dan pilu. Namun saat tubuh itu mulai mendekat, Kikan tidak mampu lagi menahan tubuhnya.


 


Bruk! Kikan tiba-tiba jatuh terduduk. Cintya yang ada di sebelahnya terkejut. Di ikuti mereka yang berdiri di dekat Kikan.


 


“Kikan,” sebut Cintya yang berada di samping Kikan panik. Langkah rombongan tadi sudah dekat. Berhenti tepat di depan Astra. Namun Astra dan Ruby heran karena bola mata pria itu tidak sedang menatap keduanya. Perhatiannya teralihkan oleh salah satu karyawan yang jatuh terduduk. Ruby dan Astra mengikuti arah pandangan pria itu.


 


Arin dan Mirna ikut mendekat karena cemas. Rangga pun yang berdiri lebih jauh dari Kikan langsung datang menghampiri untuk menolong. Cintya masih menopang kepala Kikan di dadanya.


 


“Dia kenapa?" tanya Rangga. Cintya menggeleng. Dia memang hanya tahu saat Kikan terduduk di lantai. "Kikan, kamu tidak apa-apa?” tanya Rangga dengan cemas. Kikan masih sadar, tapi tubuhnya sudah tidak kuat untuk berdiri.  Arin yang ikut jongkok memegangi tangan Kikan. Wajah anggota tim perencanaan langsung pucat pasi karena mencemaskan AE mereka.


 


“Ada apa dengan Kikan?” tanya Astra yang baru sadar bahwa Kikan berada di lantai langsung mendekat. Meski berdecih karena tidak suka, tapi dia mengikuti Astra yang ikut mendekat.


 


 


“Ayo, bawa dia ke ruang kesehatan,” ujar Astra hendak ikut membopong tubuh Kikan yang lunglai.


 


“Biar saya dan Candra yang membopong Kikan ke ruang istirahat. Bapak di sini saja karena ada wakil Presdir kita yang baru.” Rangga langsung ambil alih. Dia tahu situasi Kikan. Jadi dia mencoba meminimalisir keadaan tidak memungkinkan yang terjadi antara Kikan dan istri Astra. “Ayo, Candra. Kita bawa Kikan." Pria yang lebih banyak diam itu mengangguk.


 


Mereka semua pun berdiri setelah Kikan di bawa Rangga pergi dari sana.


 


“Saya boleh ikut menemani Kak Kikan, Pak?” tanya Arin berharap di perbolehkan.


 


“Ya. Ikutlah mereka,” kata Astra memberi ijin. Dia tahu Arin dekat dengan Kikan. Arin menganggukkan kepala memberi salam pada wakil Presdir yang baru lalu pergi menyusul Rangga.


 

__ADS_1


“Ada karyawan yang sakit?” tanya wakil Presdir lagi. Dia belum melihat dengan jelas wajah Kikan karena dia sudah di kerubuti yang lain terlebih dahulu.


 


“Ya. Sepertinya kelelahan,” jawab Astra. “Maaf. Penyambutanmu tertunda sebentar.”


 


“Tidak masalah,” sahut pria itu.


 


“Tenang saja, Kak Dicto tidak apa-apa,” kata Ruby mengelus lengan Astra lembut. Cintya dan Mirna baru sadar kalau wakil presiden mereka yang baru, masih muda dan juga tampan. Mereka tidak berhenti menatap pria itu. Bakal ada idola baru di tim perencanaan 1. Begitu yang terbaca dari raut wajah Mirna dan Cintya.


 


**


 


Kikan masih terbaring lemah di atas ranjang ruang kesehatan. Arin duduk di samping Kikan seraya memijit lengan Kikan perlahan. Guna membuat tubuh Kikan rileks.


 


Tanpa terasa air mata Kikan meleleh. Kikan menangis.


 


Arin terkejut.


 


“Kak Kikan. Kakak kenapa? Ada yang sakit? Aku akan panggilkan petugas kesehatan,” tanya Arin cemas. Namun bukan menjawab, tangan Kikan menutupi wajahnya dan makin menangis. Arin tambah panik.


 


Rangga dan Candra sudah kembali ke ruangan karena tidak sopan berlama-lama di sini. Arin akhirnya hanya ikut menitikkan air mata karena melihat Kikan. Dari tangisannya yang tidak bersuara, Arin tahu tangisan itu dari hati yang pilu. Mungkin airmata itu juga sudah ingin keluar sejak tadi, tapi di tahan sekuat tenaga.


_____


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2