Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 41


__ADS_3

Dicto lumayan cekatan dalam membuatkan mi. Sebagai orang kaya, membuat mi ini akan terlihat sulit jika tidak pernah melakukannya. Namun pria ini mampu menunjukkan skill memasak mi dengan apik. Kikan sempat mengakui bahwa pria ini hebat, meksipun itu tidak terucap langsung dari bibirnya. Hanya ucapan di dalam hati.


 


"Kamu bisa duduk di sana. Mungkin tidak lama, tapi lebih baik menunggunya matang dengan duduk," pinta Dicto.


 


"Tidak. Aku harus tetap di sini," kata Kikan keras kepala.


 


"Jadi ... kamu mau menemaniku memasak mi?" tanya Dicto di luar dugaan. Apalagi dengan bola mata menatap nakal dan senyuman miring. Kikan mengerjapkan mata. "Tidak masalah. Karena aku lebih senang di temani olehmu daripada berdiri sendiri saat memasak mi," lanjut Dicto.


 


Kikan menipiskan bibir. Akhirnya dia memilih duduk dan menunggu Dicto selesai di kursi makan tanpa bicara. Senyum miring terlihat lagi dari bibir Dicto. Ia senang bisa sedikit menggoda perempuan dingin ini.


 


Rupanya Dicto tidak hanya merebus mi saja. Dia menambahkan sayuran dan telur yang ada di dalam kulkas. Dia begitu menikmati membuat mi. Seakan-akan membuat mi adalah hal istimewa baginya.


 


Apa bagusnya memasak mi? Pria ini aneh.


 


Kikan tidak sadar bahwa kegembiraan Dicto tidak lain karena dirinya. Meski hanya sedikit, tapi ada celah yang bisa di masuki Dicto dalam diri Kikan. Ia bahagia karena itu.


 


Hanya dalam beberapa menit, mi instan jadi. Sungguh, hasilnya begitu wow dan menggiurkan. Ada warna warni campuran dari sayuran berwarna hijau, juga warna putih dari telur. Nafsu makan Kikan meningkat. Namun ia urung makan, karena Dicto terus saja memandanginya.


 


"Jangan menatapku seperti itu. Kamu bisa melakukan hal lain," pinta Kikan terdengar jahat. Itu di karenakan mi yang akan disantapnya adalah hasil kreasi pria ini. Namun dirinya dengan tega mengusir Dicto untuk melakukan hal lain. Ya. Dicto hanya membuat satu mangkuk mi. Dia tidak memasak mi untuk dirinya sendiri.


 


Kepala Dicto mengangguk maklum. Kikan masih enggan makan di depannya. Itu wajar. Dicto punya banyak akal untuk mengisi waktu kosong saat menunggu Kikan selesai makan. Tangan Dicto membuka lemari pendingin dan mengambil buah apel dan melon oranye yang sudah di kupas.


 


"Aku menemukan ini untukmu." Dicto menunjukkan wadah berisi buah itu di sana. Kikan hendak mengelap mulutnya, tapi ia tidak menemukan tisu makan di atas meja. Jadinya ia akan menggunakan punggung tangannya untuk mengelap bekas mi di sekitar bibirnya.


 


Dicto melihat itu.


 

__ADS_1


“Aku akan mengambilkan tisu,” kata Dicto menahan Kikan mengelap dengan tangannya. Ia membalikkan tubuhnya dan mengambil tisu untuk Kikan.


 


Dicto menyerahkan tisu dan buah di depan Kikan. Perempuan ini mendongak.


 


"Buah sangat bagus untuk ibu hamil." Yang ada di kepala Dicto adalah kesehatan bayinya. Lalu Kikan menunduk melihat ke arah buah yang menyegarkan itu. Air liurnya serasa menetes. Dicto menusuk buah melon potong itu dan memberikan ke Kikan. "Makanlah. Walaupun kamu tidak menyukai buah, tetap makanlah karena itu sehat untuk bayi di dalam perutmu."


 


Kikan menyambar buah yang di tusuk oleh garpu itu. Lalu memakannya tanpa bicara. Dari sini Dicto menyimpulkan, Kikan sangat menyukai buah. Karena setelah satu potong tadi habis dengan cepat, Kikan menambah lagi satu potong buah.


 


...***...


 


Morning sickness selalu mengincar ibu hamil. Sampai sekarang masih belum di ketahui penyebab utama Morning sickness atau emesis gravidarum ini muncul. Namun, teori yang paling sering di dengar adalah, itu terjadi sebagai reaksi tubuh terhadap hormon kehamilan, yaitu hormon gonadotropin (hCG) dan estrogen.


 


Kikan pun mengalaminya pagi seperti itu. Saat hendak membersihkan tubuhnya, ia mual dan muntah. Air dingin seakan memicu perutnya bergolak. Suara muntah terdengar di luar kamar mandi yang letaknya ada di dalam kamar ini.


 


Dengan cepat, Dicto mendekat ke pintu kamar mandi.


 


 


Ia tidak mampu bicara apa-apa karena rasa sakit dari perutnya sangat melilit.


 


"Kikan!" panggil Dicto cemas di luar pintu. Hingga akhirnya, pria ini memilih mendobrak pintu. Kikan sudah berusaha mencegah pria ini, tapi perutnya kembali bergolak. Ia tidak mampu mengatakan apa-apa pada Dicto agar jangan mendobrak pintu.


 


Setelah dua kali mendobrak, pintu itu akhirnya bisa di buka. Bukan karena dobrakan Dicto, tapi karena Kikan memaksakan diri untuk membuka pintu dari dalam saat Dicto menjeda dobrakannya.


 


Saat pintu terbuka, Dicto langsung berhenti ingin mendobrak dan masuk tanpa pikir panjang.


 


"Kamu tidak apa-apa, Kikan?" tanya Dicto langsung menyentuh kedua lengan Kikan yang terduduk di samping pintu. Tidak ada jawaban. Hanya memalingkan muka.

__ADS_1


 


Saat itu Dicto baru menyadari kalau perempuan ini sedang dalam keadaan hanya memakai handuk piyama saja tanpa daleman. Dicto terkejut saat handuk itu tersibak di ujungnya. Lipatan bagian atas juga terbuka hingga memperlihatkan gundukan milik Kikan sedikit.


 


Dicto berdiri dan segera meraih handuk bersih yang masih di lipat di tempatnya. Kemudian membungkus tubuh Kikan dan menggendongnya tanpa permisi. Membawanya ke atas ranjang. Kini Kikan jadi mirip dengan kepompong.


 


"Kamu akan merasa hangat jika di bungkus seperti itu," kilah Dicto menjelaskan hasil karyanya. Kikan tidak bodoh. Dia tahu Dicto sempat menyoroti tubuhnya yang terbuka tadi. Dia menekuk tubuhnya dan meringkuk.


 


Dicto masih mencoba menenangkan degup jantungnya karena melihat tubuh Kikan tadi. Ia memejamkan mata ingin membuang apa yang di lihatnya tadi.


 


Sial. Apa yang aku pikirkan. Dia butuh pertolongan, tapi aku berpikir macam-macam. Dicto merutuk dirinya sendiri.


 


"Aku akan turun ke bawah. Mengambil minuman hangat untukmu. Kamu bisa ganti baju saat aku pergi," kata Dicto memberi tahu. Tidak ada jawaban. Dicto pun keluar kamar dengan pikiran tidak karu-karuan karena tubuh itu.


 


...***...


 


"Ada apa?" tanya mama Dewi yang melihat Dicto terburu-buru dari lantai atas.


 


"Kikan muntah dan mual terus. Aku ingin membuat minuman hangat untuknya," kata Dicto langsung meraih cangkir dan menyalakan kompor tanam berwarna hitam marble itu. Dewi mengerjap melihat putranya seantusias itu.


 


"Boleh mama bantu?" tawar Dewi.


 


"Tidak apa-apa. Dicto bisa," tolak Dicto. Dewi tersenyum melihat putranya.


 


"Dulu mama pikir kamu tidak akan segera menikah. Karena mama selalu berpikir kamulah satu-satunya putra Mama yang tidak ingin menikah," kata Dewi takjub.


 


Dicto juga tahu soal itu. Saat bicara dengan Ruby, dia juga berkata masih tidak ingin menikah apalagi punya anak. Kini justru dia menikah lebih cepat dari perkiraan. Bukan hanya itu, dia juga langsung mendapat bayi di dalam perut Kikan. Menikah dengan cepat sekaligus mendapat bayi.

__ADS_1


...____...



__ADS_2