
Sungguh mengejutkan memang saat Dicto membawakan kotak barang-barang Kikan ke ruang 2. Semua mata menatap ke arah Dicto dan Kikan yang masuk ke ruangan tim 2 dengan heran.
Ini perlakuan istimewa. Bagaimana tidak, sangat jarang ada wakil Presdir ikut membawakan kotak barang bawahannya meskipun itu sekedar basa-basi. Kikan tahu pandangan mereka yang terheran-heran itu. Dia langsung membungkuk sedikit untuk memberi salam.
Denna, ketua tim 2 menganggukkan kepala. Di ikuti anggota tim lain yang tadinya duduk di kursinya, sekarang langsung berdiri.
"Dia akan bekerja di tim 2, jadi sebagai pimpinan di sini ... aku harap kalian bisa bekerja sama," ujar Dicto membuat Kikan canggung sebenarnya. Namun ia sudah berjanji akan membiarkan pria ini mengatakan pada semua soal hubungan mereka.
"Baik, Pak,” kata mereka hampir bersamaan.
"Aku kembali ke ruangan," kata Dicto lembut sambil menyentuh lengan perempuan ini. Kikan mengangguk. Seusai mengatakan itu, Dicto kembali ke ruangannya dengan tersenyum penuh arti.
Ternyata pria itu hanya mengerjai Kikan. Nyatanya Dicto tidak memberitahu dengan pasti mereka berdua adalah suami istri. Bibir Kikan tersenyum saat menyadari bahwa dia dikerjai Dicto. Ini sungguh lucu. Karena Kikan sudah panik sendiri tadi.
...*****...
Aurora bergerak indah di bawah air mancur. Sekarang proses pembuatan video iklan Glow. Karena pihak Glow masih belum tahu soal kebocoran desain kosmetik terbaru miliknya, ZEUs berusaha sebaik mungkin membereskan masalah itu hingga masalah itu tidak sampai pada telinga mereka.
Pembuatan iklan harus tetap berjalan dengan baik sebagaimana rencana di awal. Mereka tetap menggunakan ide milik Kikan meskipun perempuan itu di keluarkan dari tim.
Dicto mengawasi jalannya proses pembuatan iklan di belakang sutradara. Tangannya bersedekap sambil berdiri. Matanya nyalang mengawasi. Di sampingnya ada Astra dan Ruby. Semua mata tertuju pada satu orang. Yaitu bintang iklan produk, Aurora. Semua mengawasi perempuan cantik itu.
"Cut! Semua bisa istirahat dulu!" kata sutradara memberi waktu istirahat karena adegan barusan sudah di lakukan dengan baik.
"Aku pikir Kak Dicto akan memperjuangkan Kikan, tapi ternyata kakak justru membuang Kikan dari tim 1. Aku terkejut," kata Ruby saat mereka bertiga berkumpul. Meskipun terkejut, dia nampak senang. Kata membuang Kikan saja sudah mengatakan dia senang akan berita itu. "Namun memang siapa yang berbuat, dia memang harus bertanggung jawab."
"Kikan tidak melakukan kesalahan. Pindahnya ke tim 2, hanya mengikuti prosedur. Lagipula dia hanya di mutasi, bukan di buang," ralat Dicto.
"Terserahlah. Bagiku, dia tetap seperti di buang. Bagaimana mungkin kita di keluarkan dari tim saat proses pembuatan iklan masih berlangsung. Namun memang harus begitu," kata Ruby seperti mendesak Dicto untuk mengatakan bahwa Kikan itu sudah membuat masalah.
"Mungkin seseorang bisa membuang Kikan, tapi aku tidak.” Dicto mengisyaratkan kalimat ini sedang mencela seseorang. “Jangan memperbesar soal ini jika masih ingin tetap dalam tim 1," ancam Dicto gerah.
"Kakak akan membuang ku ke tim lain?" tanya Ruby tidak percaya.
__ADS_1
"Berhentilah, sayang ...," lerai Astra. Ruby menipiskan bibir geram.
...***...
Kikan datang ke lokasi syuting. Dia ada perlu dengan ketua tim 2 yang ikut melihat jalannya proses syuting iklan. Sayangnya saat di telepon, wanita itu tidak mengangkat ponselnya. Sungguh ini tidak menyenangkan. Ia harus bertemu dengan semuanya tepat ketika acara syuting. Padahal dia sudah keluar tim itu. Namun ini tetap pekerjaan. Dia harus kesana sekarang juga.
Dari area parkir kendaraan, ia sudah lihat sibuknya lokasi syuting. Setelah menghela napas, ia segera turun dari mobil. Dia naik mobil online karena tadi tidak membawa mobil.
Langkahnya perlahan menuju lokasi. Kepalanya melihat ke kanan ke kiri. Karena di dekat air mancur, orang-orang yang dicarinya tidak ada.
"Kak Kikan!" panggil Arin. Kikan menoleh lalu tersenyum. Perempuan ini memeluk tubuh Kikan. Seperti menjadi kebiasaannya, jika bertemu dengan Kikan. "Kenapa kesini? Kakak balik lagi ke tim 1 kan?" harap Arin.
"Bukan. Sepertinya tidak mungkin. Aku hanya ada perlu dengan Bu Dena," kata Kikan.
"Yahh ... Aku pikir Kakak kembali ke tim kita." Arin kecewa.
"Tidak. Kemana yang lain? Kok enggak kelihatan?" Kikan melihat tidak banyak orang di sekitar area peralatan sutradara.
"Kamu sendiri, kenapa terpisah dan enggak makan siang?" tanya Kikan heran.
"Aku lagi sama Rangga," bisik Arin. Kikan tersenyum mendengar itu.
"Bisa kasih tahu Bu Denna, aku sekarang di sini?" pinta Kikan.
"Kenapa tidak mendatangi Bu Denna saja?" tanya Arin heran.
“Tidak. Aku bukan bagian dari pekerjaan ini. Tidak nyaman jika berkeliaran di sekitar proyek Glow ini, Arin," jelas Kikan.
“Soal produk yang di unggah tanpa ijin itu kan bukan salah Kakak,” bela Arin berbisik.
“Ssst ... Sudah. Aku minta tolong panggilkan Bu Denna.” Kikan mengentikan pembicaraan soal kasus itu.
__ADS_1
...***...
Aurora mendekat ke tenda Dicto beserta ketua tim lainnya.
"Halo Dicto," sapa perempuan ini dengan senyum manisnya. Orang-orang mempersilakannya untuk duduk di sebelah pria ini. Manajernya pun menyiapkan tempat duduknya dengan baik.
"Halo," sahut Dicto singkat.
"Manajerku bilang, kamu ada perlu denganku," kata Aurora sambil menopang dagunya melihat wajah Dicto yang tengah meneguk minuman. Bola mata Dicto melirik ke sekitar.
"Tidak. Lain kali saja," kata Dicto menolak.
"Lain kali? Kenapa?" tanya Aurora heran. Apalagi saat Dicto masih melihat ke sekeliling dengan was-was. "Jangan pedulikan mereka. Kalau kamu memang ada perlu denganku, bicara saja." Aurora yakin untuk mendengar kalimat Dicto saat ini.
"Ini bukan pembicaraan yang pantas di dengar orang banyak," kata Dicto.
"Benarkah?" tanya Aurora dengan wajah yakin kalau itu adalah kalimat yang membahagiakan.
"Tidak enak jika banyak yang mendengar. Lebih baik kita bicara berdua saja," sahut Dicto. Aurora tersenyum lebar.
"Kamu malu?" tanya Aurora dengan sedikit menggoda.
"Tidak, tapi aku yakin kamu yang malu," kata Dicto serius. Dia memberi kode pada orang-orang untuk menjauh.
"Aku? Benarkah? Apa sebenarnya yang ingin kamu bicarakan, sampai harus menyuruh mereka semua pergi?" tanya Aurora makin penasaran. Namun wajahnya tidak lagi senang seperti tadi. Raut wajah serius Dicto membuatnya was-was.
"Kenapa kamu sengaja membocorkan desain produk Glow yang belum keluar untuk di konsumsi publik?" tanya Dicto masih tetap dengan wajah seriusnya.
"Produk Glow?" tanya Aurora menarik tubuhnya untuk tidak mendekat Dicto. "Apa maksudmu?" tanya Aurora bersikap tenang.
"Jangan bertingkah kau tidak tahu apa-apa, Aurora. Aku sudah menanyai manajer dan orang-orang di sekitarmu saat survei lokasi waktu itu." Sorot mata Dicto tajam. Raut wajah itu tidak main-main.
...____...
__ADS_1