Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 26 Surat pengunduran diri


__ADS_3

Setelah berpikir dan mempertimbangkan banyak hal, Kikan memilih menyerahkan surat pengunduran diri. Ia berangkat ke perusahaan dengan niat untuk menyerahkan surat pengunduran diri.


 


Setelah melihat bahwa di dalam ruangan Astra, pria itu sendirian, Kikan segera kesana. Ruby yang melihat surat yang di bawa oleh Kikan, tahu, bahwa itu adalah surat pengunduran diri. Bibirnya tersenyum tipis. Apakah dia senang, jika Kikan keluar dari perusahaan?


 


“Ini apa?” tanya Astra saat Kikan menyerahkan surat dalam sebuah amplop.


 


“Kamu bisa tahu itu adalah surat pengunduran diri,” kata Kikan datar.


 


“Kenapa?”


 


“Aku ingin pekerjaan baru,” sahut Kikan singkat. Astra diam. Dia menatap surat pengunduran diri itu dan mendongak, melihat ekspresi mantan kekasihnya itu.


 


“Maaf. Apa ini semua karena aku, karena aku sudah mengkhianatimu?” tanya Astra tanpa menyamarkan kalimatnya. Kikan menatap Astra lurus-lurus. Ia heran kenapa pria ini dengan mudah mengatakan bahwa dia telah mengkhianati dirinya? Apa dia tidak sadar jika itu akan mengingatkan Kikan akan luka yang amat dalam? Bodoh!


 


“Kamu dan pengkhianatanmu tidak ada hubungannya dengan pekerjaanku. Jadi saat aku memilih keluar dari perusahaan ini, aku bisa pastikan kalau itu tidak ada hubungannya denganmu,” tegas Kikan dengan wajah menahan marah. Seonggok hati terasa sakit.


 


Astra diam lagi. Dia menopang dagu seraya berpikir lagi.


 


“Pikirkanlah lagi Kikan. Ini adalah pekerjaan impianmu,” tutur Astra lembut. Kikan menelan ludah. Dia paham betul pekerjaan ini adalah impiannya. Namun banyak hal yang terjadi membuatnya tidak sanggup bertahan lebih lama di ZEUs. Dia ingin pergi.


 


“Sudah. Aku sudah memikirkannya matang-matang. Jadi terima saja surat pengunduran diri ini, Astra," kata Kikan kesal. Astra menghela napas. Tangannya meraih surat itu dan ... Merobeknya!


 


“Astra ...” desis Kikan tertahan. Matanya melebar melihat apa yang dilakukan pria ini barusan. “Apa yang kau lakukan?” tanya Kikan tidak percaya. Apalagi ketika Astra menyobeknya hingga menjadi kecil-kecil. Lalu membuangnya begitu saja ke dalam tempat sampah. Kikan makin marah. Mata perempuan ini nanar. Napasnya naik turun karena menahan amarah yang memuncak.


 


“Silakan benci orang-orang yang membuatmu terluka, termasuk aku, tapi jangan keluar dari perusahaan ini. Aku tidak rela, Kikan. Aku tahu perjuanganmu untuk sampai pada titik ini. Menjadi AE itu trofi tertinggi yang ingin kamu dapatkan. Aku tidak rela jika kamu membuangnya begitu saja. Karena kamu pasti menyesal, Kikan.” Astra mengatakan banyak hal yang membuat Kikan sesak di dada.


 


Kikan diam seraya mengetatkan rahang dan mengepalkan jari-jari tangannya. Semua yang di katakan pria ini benar, menjadi AE di ZEUs adalah impiannya. Namun apa yang dia lakukan itu tidak berarti.


 


“Apa peduli mu? Kamu tidak tahu apa yang terjadi padaku hingga memutuskan untuk keluar dari sini, Astra. Kamu tidak tahu," tunjuk Kikan dengan mata marah pada Astra.


 


“Aku memang tidak tahu. Namun aku tetap tidak ingin kamu berhenti. Sekarang kembali bekerja Kikan. Tidak ada waktu untuk hal ini,” ujar Astra mengabaikan permintaan pengunduran diri dari Kikan.


 


“Kamu tidak mengerti, Astra ...” kata Kikan ingin menangis saat ini juga. Namun ia mencoba menahan air matanya untuk tidak jatuh. Kakinya melangkah dengan cepat keluar dari ruangan Astra dan menuju toilet. Lalu masuk ke dalam salah satu toilet dan menangis dalam kesunyian sebisa mungkin.


 

__ADS_1


**


 


Dicto di ruangannya, memukul-mukul keningnya dengan kepalan tangannya sendiri. Ia marah. Bukan pada orang lain, tapi pada dirinya sendiri. Dia sudah melakukan hal bodoh. Ia sudah menodai orang yang sama sekali tidak bersalah.


 


Brengsek! Brengsek!


 


Dicto tidak berhenti memaki dirinya sendiri. Ponselnya bergetar. Ada pesan masuk dari nomor milik Astra.


 


“Seperti yang kamu bilang, aku sudah menolak surat pengunduran dirinya. Namun darimana kamu tahu, dia akan mengundurkan diri, Dicto?”


 


Dicto membiarkan pesan Astra begitu saja. Ada hal penting lainnya yang harus ia urusi.


 


Saat Kikan usai mendatangi ruangan Astra untuk menyerahkan surat pengunduran diri, Ruby datang ke ruangannya Dicto karena pria itu memanggilnya.


 


"Halo kakakku." sapa Ruby dengan wajah bahagia. Dicto yakin bahwa adiknya sedang mendapat kabar yang menggembirakan hatinya.


 


"Kamu terlihat sangat bahagia. Pasti keinginanmu tercapai, Ruby," kata Dicto mengomentari raut wajah adiknya.


 


 


"Apa itu?" tanya Dicto.


 


"Ah, kakak mau tahu saja. Ada apa? Kenapa kakak memanggilku?" tanya Ruby kemudian duduk di sofa. Dia mengalihkan perhatian kakaknya dari perbincangan soal apa yang membuat hati Ruby gembira.


 


Dicto berjalan dan duduk di sofa. Tepat di seberang adiknya.


 


“Ada yang perlu kamu bicarakan padaku, Ruby?” tanya Dicto. Ruby mengernyitkan alis. Pertanyaan Dicto aneh. Pria ini tiba-tiba saja bertanya seperti itu.


 


“Kenapa tiba-tiba begitu? Ada apa? Aku tidak paham,” tanya Ruby tidak suka.


 


“Kalau begitu, aku ganti pertanyaannya. Sebenarnya apa tujuanmu mengatakan cerita bohong tentang perempuan yang menggoda Astra?”


 


Bola mata Ruby berkedip-kedip. Tidak menduga maksud kakaknya adalah soal itu.


 


“Apa maksud kakak?” tanya Ruby ingin berkilah.

__ADS_1


 


“Jangan berpura-pura tidak mengerti Ruby. Kamu tahu siapa yang aku maksud. Kikan. Cerita mu tentang dia semua bohong. Kamu memanfaatkan rasa sayangku padamu demi menghancurkan dia. Sebenarnya apa yang kamu rencanakan?” bongkar Dicto marah.


 


Ruby diam.


 


“Kamu sudah memfitnah orang tidak bersalah, Ruby ...”


 


“Kakak tidak mengerti,” ujar Ruby mulai membela diri. Setelah diam tadi, dia mulai bicara dengan lantang. “Dia sudah mengalihkan perhatian Astra dariku. Dia itu ...”


 


“Mantan kekasih Astra bukan?” lanjut Dicto meneruskan kalimat adiknya. Ruby melebarkan mata terkejut. Bola matanya bergetar.


 


“Bukan hanya itu. Dia tetap mendekati Astra meskipun tahu kita sudah menikah. Kamu tahu kan bagaimana perasaanku?” tanya Ruby merasa tersakiti.


 


“Dia bukan hanya mantan kekasih Astra, tapi kamulah yang merebut Astra dari Kikan.”


 


“Apa yang kakak katakan?” Ruby tidak terima.


 


“Tanyakan kebenaran dari Astra. Jangan hanya berpikir kamu yang tersakiti. Jika kamu hanya berpikir untuk menyakiti Kikan tanpa tahu kebenarannya dari Astra, kamu tidak hanya akan melukai orang lain, tapi juga melukai diri kamu sendiri.  Karena sebenarnya kamu tidak mencari kebenaran. Kamu hanya ingin Astra tampak sempurna. Ingin selalu menjadikanmu nomor satu. Padahal dia punya kehidupan asmara lainnya sebelum kamu.”


 


Ruby menitikkan airmata. Dicto tidak tega, tapi dia membiarkan adiknya tanpa memberikan pelukan. Ia ingin sedikit memberi pelajaran bahwa terkadang, semuanya tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.


 


“Astra mengatakan semuanya?” tanya Ruby masih dengan air matanya yang menetes.


 


“Tidak. Aku tidak berhak bertanya. Itu urusanmu dengan dia.”


 


“Jadi Kikan sendiri yang mengatakannya? Dia membuat kakak percaya kalau akulah yang membuat dia tersakiti?” tanya Ruby dengan marah.


 


“Jangan menyalahkan Kikan lagi, Ruby. Kamu harus mengubah cara pikir kamu tentang Astra yang sempurna,” ujar Dicto keras. Tidak mungkin perempuan itu mengatakan semuanya dengan mudah padaku, Ruby. Aku juga telah melakukan kesalahan besar padanya.


 


“Berhenti Kak. Kakak tidak membelaku,” keluh Ruby tidak terima.


 


“Aku harus membiarkanmu karena sepertinya kamu terus saja tidak dewasa,” tuding Dicto. Semua kalimat itu sepertinya juga untuk dirinya sendiri. Yang begitu saja mengabulkan permohonan Ruby yang manja.


____


 

__ADS_1



__ADS_2