Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 29 Menyembunyikan luka


__ADS_3

“Kamu baru pulang?” tegur ibu lembut saat Kikan hendak membuka pintu kamar. Kikan berjingkat kaget karena tidak menduga ibunya masih belum tidur.


 


“Oh, ibu membuat Kikan kaget saja. Ya Bu. Ibu belum tidur?” tanya Kikan seraya mengelus dadanya.


 


“Ya. Ibu tidak bisa tidur.”


 


Mendengar itu, Kikan langsung mendekat. Ia urung masuk ke dalam kamar. “Tangan ibu sakit? Apa sudah di minum obatnya?” tanya Kikan khawatir. Dia langsung melihat tangan ibu yang memakai Arm Sling dengan teliti.


 


“Bukan. Tangan ibu memang kadang sakit, tapi enggak apa-apa. Ibu sudah minum obatnya, kok," tepis ibu mengurangi rasa khawatir putrinya.


 


“Harus rutin ya, Bu. Jangan bolong-bolong minumnya. Biar cepat sembuh,” nasehat Kikan.


 


“Iya, ibu tahu. Kamu ganti baju dulu, terus makan.”


 


“Ya.” Kikan masuk ke dalam kamar. Meskipun ia sudah makan, tapi ia harus tetap makan demi menyenangkan hati ibunya. Dia tidak pernah menolak saat di suruh makan oleh ibu.


 


**


 


“Jangan menyiapkan makan untuk Kikan, Ibu ...,” seru Kikan segera mendekat saat melihat ibu menyiapkan nasi ke atas piringnya. Ia langsung meraih centong nasi di tangan ibu. “Tangan ibu kan sakit. Jadi biar aku saja yang ambil makanannya. Mungkin kalau tidak ada orang, ibu bisa mengambil makanan untuk ibu sendiri, tapi jika untuk aku, biarkan saja aku yang mengambil sendiri.”


 


Ibu tersenyum. “Enggak apa-apa. Tangan yang sakit itu kan yang kiri. Ibu masih bisa memakai tangan kanan. Bukan sakit kedua-duanya."


 


Kikan menghela napas mendengar ibu membela diri. Sebenarnya dia dan ibu sama saja. Selalu merasa baik-baik saja meskipun sedang sakit. Itulah yang di alami dia sekarang.


 

__ADS_1


“Ibu lihat ada surat pengunduran diri di tempat sampah. Kamu mau berhenti kerja dari sana?” tanya Ibu mengejutkan. Kikan menatap ibu dengan bingung.


 


Tangan Kikan menyendokkan nasi dan menyuapi mulutnya. Dia tidak tahu harus menjawab apa saat pertanyaan itu terlontar dari bibir ibu begitu saja. Ini sangat tiba-tiba.


 


"Ibu tidak mempermasalahkan itu. Terserah kamu, tapi coba pikir baik-baik. Itu kan tempat impian kamu dulunya,” kata ibu sama seperti Astra.


 


“Hanya ingin suasana baru,” sahut Kikan singkat. Ibu mengangguk berusaha mengerti. Beliau tidak bertanya apa-apa selanjutnya. Itu justru membuat Kikan tidak bisa tenang.


 


“Ibu itu setiap hari selalu berdoa, kamu dapat pekerjaan dan jodoh yang baik. Jadi jangan khawatir. Kemana saja kamu pergi, semua akan menjadi hal baik untukmu. Karena doa ibu selalu menyertaimu," kata ibu tulus.


 


Kikan segera berdiri. Ia harus minum. Kakinya melangkah ke rak dapur mencari gelas. Lalu membuka pintu kulkas dan mengambil botol air dingin. Ia tuangkan dan segera meminumnya. Ibu masih mengamati dari belakang.


 


Kalimat ibu tadi sungguh membuat hatinya terenyuh. Ia ingin menangis. Bulir air mata saja sudah menggenang saat ia berjalan menjauh dari meja makan untuk mengambil air minum.


 


 


 “Ibu tidak tidur? Aku akan tidur setelah selesai makan,” kata Kikan kembali memasang wajah baik-baik saja miliknya tadi.


 


“Ya, baiklah. Ibu akan tidur lebih dulu. Semoga kamu tidur nyenyak, Kikan.” Ibu mengelus pipi Kikan dan beranjak pergi menuju ke kamar beliau. Setelah yakin ibu masuk ke kamar, Kikan langsung menitikkan air mata.


 


**


 


Jika biasanya ia berangkat kerja dengan hati bahagia, kali ini Kikan harus selalu memberikan doktrin pada dirinya sendiri agar bisa tetap menjalani pekerjaan dengan biasanya. Harus bisa!


 


“Sedikit bengkak,” gumam Kikan saat bercermin pada kaca mobil. “Namun aku masih bisa beralasan lelah karena ibu. Maafkan aku ibu. Selalu menggunakan nama ibu demi menyembunyikan rasa sedihku.”

__ADS_1


 


Setelah tadi malam menangis agak lama, kini kepalanya menjadi pusing. Kikan menuju pantry perusahaan dan ingin membuat kopi cappucino. Setelah menuang satu sachet kopi cappucino ke dalam gelas, Kikan meletakkan gelasnya di bawah kran dispenser. 


 


Ia juga mencoba menghilangkan pusing karena marah yang tidak bisa di ungkapkan semua.


 


Dalam bayangannya, ia berpikir akan langsung bisa keluar dari perusahaan ini dengan cepat. Namun ternyata tidak semudah itu. Astra menahannya. Mengingatkan lagi tentang impian dia sebelum menjadi AE seperti sekarang.


 


Ada sedih yang menyesakkan di dada mendengar itu. Rasa sedih mulai menyelubungi relung hatinya.


 


Seseorang tiba-tiba menekan tombol pada dispenser. Hingga membuat air itu berhenti mengalir. Kikan terkejut dan menoleh cepat. Ia langsung membuat raut wajah muak saat tahu itu adalah Dicto. 


 


"Airnya hampir tumpah karena sudah penuh," kata Dicto memberi tahu. Kikan menunduk melihat gelasnya yang airnya sudah penuh pada batas garis gelas. Airnya penuh. Sedikit saja ada goncangan, air panas itu akan tumpah. Namun tangan Kikan terburu-buru ingin mengambil gelas itu. Air kopi panas itu langsung tumpah mengenai tangannya.


 


Sebenarnya Dicto sudah ingin menjulurkan tangan untuk membantu memegangi gelas. Dia sudah menduga bahwa air itu akan tumpah pada punggung tangan perempuan ini. Karena ia melihat Kikan terkejut melihatnya.


 


"Aw," desis Kikan meletakkan gelas itu kembali pada bawah kran. Lalu menarik tangannya dan menekan-nekan punggung dan jari-jari tangannya untuk mengurangi perih.


 


Tiba-tiba saja Dicto menarik tangannya.


 


“Apa yang kamu lakukan?" tegur Kikan marah sekaligus terkejut. Ternyata Dicto meletakkan tangan Kikan yang terkena air panas itu ke bawah kran air yang sudah menyala.


 


"Tanganmu harus disiram dengan air yang mengalir," kata Dicto langsung memberi penjelasan. Kikan hendak menarik tangannya dengan paksa. Namun Dicto menahannya dengan cepat. "Tahan ini setidaknya selama 20 menit, Kikan. Jangan sampai terlambat melakukannya," kata Dicto seraya menatap Kikan yang berada dekat dengannya.


 


"Jadi kamu harus terus memegang tanganku selama itu padahal aku tidak mau?" tanya Kikan dengan nada bicara yang dingin. Pandangan matanya juga sama. Dingin dan tajam. Dicto tahu ada jejak tangisan di sana. Kemudian dia melirik ke arah tangannya yang masih memegangi tangan perempuan ini.

__ADS_1


_____



__ADS_2