
...happy reading beloved readers...
"Ke rumah masa depan kita. "
"Tapi aku gak mau melibatkan diri dalam penataan rumah itu. "
"Jangan mendebatku terus-terusan, honey. Aku adalah suamimu suka ataupun tidak begitu pula dengan rumah itu kamu harus ikut terlibat di dalamnya karena kamu adalah nyonya rumahnya. "
Kata-kata Rafka sukses membuat bibir Ratu terkunci, dalam hati ia membenarkan setiap ucapan Rafka. Perlahan ia menarik napas panjang pasrah. Rafka pun ikut terdiam dan terus melajukan mobil memasuki pintu gerbang sebuah rumah mewah yang tak jauh dari rumah sang oma sesuai dengan janjinya. Bagaimana pun Rafka juga tak ingin jauh dari rumah sang oma yang akan tinggal sendiri saat mereka hidup mandiri.
"Ayo turun ,,," ajak Rafka saat telah mematikan mesin mobil.
Ratu mengikuti langkah kaki Rafka, matanya mengitari rumah dengan gaya minimalis namun terkesan mewah dan elegan, aristekuturnya membuatnya berdecak kagum. Rumah tersebut sesuai dengan impiannya, bagaimana bisa Rafka membangun rumah impiannya? rasa kagumnya dengan rumah tersebut tak dapat ia sembunyikan sehingga membuat Rafka tersenyum.
'Semoga ini adalah awal kebahagiaan kita, honey.' batin Rafka berdoa
"Waoww cantik banget rumahnya. Siapa arsiteknya ??? kayaknya aku harus bertemu dengannya. " sedemikian kagumnya Ratu pada rumahnya hingga tak menyadari ucapannya.
"Gak boleh !!" kesal Rafka tak terima
"Kakak kenapa ???"
"Ayo masuk ke dalam ,,," Rafka melangkah masuk kedalam rumah mendahuluinya dan mengabaikan pertanyaan Ratu.
Ratu kembali mengikuti Rafka masuk kedalam rumah. Interiornya sangat berkelas, semua perabotnya terlihat mahal dan mewah. Lagi-lagi Ratu berdecak kagum.
"Kamarku yang mana, kak ,,," tanya Ratu saat membuka pintu kamar satu persatu.
"Maksudnya ??"
"Kamar yang akan aku tempati, kak ,,,"
"Maksudnya kita tidur di kamar yang berbeda ?? Gak ada yang namanya pisah kamar. Kita adalah suami istri yang sah walaupun hatimu masih beku namun kita harus tetap tidur di ranjang yang sama. " Sengit Rafka seraya mengikuti jarak dengan Ratu, ia tak terima dengan cara berpikir istrinya yang sangat keras kepala.
Ratu meremang saat Rafka berbicara bagaimana tidak, napas Rafka terasa hangat menerpa wajahnya dan bau mint yang berasal dari mulutnya saat berbicara membuatnya semakin tergoda belum lagi aroma parfum yang maskulin menguar dari tubuhnya membuat otaknya tiba-tiba melanglang buana. Wajahnya memerah dan jantungnya berdegup kencang.
__ADS_1
"Kakak jangan terlalu dekat, aku gak suka. "
"Ada apa dengan wajahmu ??? kenapa memerah seperti itu ???" Rafka pura-pura panik dan kembali memanfaatkan kesempatan untuk menyentuh wajah istrinya.
"Jangan terlalu sering modus, kak ,,," Ratu menepis tangan Rafka kasar yang mengusap lembut pipinya.
"Modus pada istri sendiri itu gak ada salahnya apalagi istri seperti kamu yang tak mau di sentuh. " ucap Rafka mencium pucuk kepala Ratu kemudian buru-buru menjauh sebelum wanita itu mengamuk.
"Rafkaaaaa ,,," Ratu berteriak karena kesal selalu menjadi korban modusnya pria itu.
"Terima kasih untuk panggilannya, dan aku harap kedepannya jangan pernah lagi memanggilku kakak. " balas Rafka enteng sambil tersenyum lebar.
"Jangan terlalu berharap, kita hanya bersama sementara waktu. Saat semua usai maka kita akan berpisah dengan cara baik-baik. "
Mendengar ucapan Ratu, emosi Rafka tak dapat ia kendalikan. Matanya merah menyala mendekati Ratu yang masih asyik mengagumi interior rumah mereka. Seketika Rafka membalikkan badan Ratu menghadapnya dan memangsa bibir ranum wanita itu. Ratu ternganga tak percaya dengan perlakuan Rafka yang diluar ekspektasinya.
"Lain kali jangan pernah mengulang kata-kata itu lagi jika tidak ingin aku melakukan hak yang lebih dari ini" ucap Rafka menahan nafsunya kemudian menjauh dari Ratu. Ia tidak ingin kebablasan dan melakukan yang seharusnya ia lakukan sejak malam pertama mereka.
Ratu meninggalkan tempat dimana Rafka berada, ia tidak ingin larut dalam suasana yang membuat kesehatan jantungnya bermasalah. Sedangkan Rafka berusaha menenangkan adik kecilnya yang mulai menuntut.
'Sabar ya, kamu akan mendapatkan hakmu tapi tidak sekarang. ' gumam Rafka berusaha menetralkan sesuatu dibawah sana.
Rafka pun menyusul Ratu setelah menenangkan adik kecilnya, ia perlahan menginjak gas dan melajukan mobilnya keluar dari pintu gerbang rumah mereka. Satpam yang bertugas pun tampak menutup pintu gerbang. Rafka mengarahkan mobil ke rumah sang oma yang jaraknya tak jauh dari rumah mereka.
"Maaf jika aku salah dimatamu tapi dimata siapapun gak ada salahnya aku melakukannya padamu. " ucap Rafka tersenyum tipis hingga Ratu tak menyadarinya saking tipisnya senyuman pria itu.
Bersamaan dengan mobil yang mereka tumpangi tiba di rumah oma Kailani, Ratu keluar tanpa berkata apapun.
"Lho sayang, kalian kok cepat banget pulangnya, biasanya kan jelang magrib baru tiba. " tanya oma Kailani saat melihat Ratu dan Rafka keluar dari mobil.
"Iya oma, pria itu membawaku melihat-lihat rumahnya. " jawab Ratu asal
"Hussshhh ,,, dia itu suamimu sayang dan rumah itu adalah rumah dimana kalian akan bersama saling mencintai dan menyayangi serta membesarkan anak-anak kalian. "
"Aamiin Yaa Rabbal Alaamiin. " timpal Rafka khusyu'. Entah sejak kapan ia berdiri di sisi Ratu.
__ADS_1
"Ya sudah kalian istirahat sana ,,, oma menunggu si Joko. " usir oma secara halus.
"Om Joko ??? untuk apa, oma ,,,," Ratu tak melanjutkan langkahnya mendengar sang oma menyebutkan nama notaris sekaligus orang kepercayaannya.
"Gak ada apa-apa sayang, hanya ada sesuatu yang ingin oma konsultasikan dengannya. "
"Setelah urusan oma dengan om Joko selesai tolong suruh bibi memanggilku, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan mengenai hotel kita." ucap Ratu pelan saat melihat Rafka telah menghilang di balik pintu kamar mereka.
Ratu kemudian berjalan menuju kamarnya setelah dibalas anggukan oleh oma Kailani. Wajah Ratu kembali datar saat melihat Rafka duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, ia lalu mengambil handuk dan baju ganti serta pakaian dalam kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Tak ada drama melupakan pakaian ganti.
'Kapan ya aku bisa memelukmu tanpa penolakan. ' batin Rafka meringis.
Sungguh malang nasibnya istrinya sendiri belum bisa ia apa-apakan sementara di luar sana gadis-gadis dengan sukarela bersiap menunggunya untuk diajak tidur. Lamunan Rafka terhenti saat terdengar pintu kamar mandi terbuka, Ratu keluar dengan rambut terlilit handuk sehingga memperlihatkan leher jenjangnya yang seputih mutiara, Rafka langsung berdiri dan mendekati Ratu, ia semakin tergoda saat aroma sabun Ratu menguar menguasai indera penciumannya.
"Honey, izinkan aku memelukmu ,,," ucap Rafka dengan mata berkabut dan langsung memeluknya sebelum Ratu meresponnya.
Rafka tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, ia langsung menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya dan memberinya kecupan ringan pada ceruk leher Ratu. Ia sudah pasrah entah istrinya mau marah atau mengamuk yang penting saat ini dirinya harus melakukannya.
Sedangkan Ratu merasakan lemas tak bertenaga saat Rafka mencium lehernya. Benda kenal dan basah itu demikian dahsyat pengaruhnya pada kesehatan jantungnya.
"Stop kak ,,," ucap Ratu pelan tak bertenaga. Untungnya Rafka masih memeluknya sehingga ia tak jatuh ke lantai.
"Maaf tapi aku masih belum puas memelukmu. " Rafka mengangkat tubuh Ratu dan mendudukkannya di sofa.
"Tapi kakak sudah janji ,,,"
"Aku mandi dulu. " potong Rafka seraya meremas pelan gunung berapi milik Ratu.
"Rafkaaaaa ,,,," Ratu berteriak dengan wajah memerah tak menyangka tangan pria itu semakin kurang ajar.
💞💞💞💞
Selamat pagi semoga hari libur ini para readers sehat dan bahagia
Jangan lupa tinggalkan jejaknya
__ADS_1
Dan othor ucapkan terima kasih bagi yang sudah meninggalkan jejak berjejaknya
Love you more