
...happy literasi beloved readers...
"Sayang, kami sudah tiga hari walaupun berat rasanya berpisah dengan baby boy namun perusahaan gak bisa di tinggal terlalu lama. Mama, papa sama oma rencana akan pulang besok. "
"Tinggallah lebih lama ma ,,," Ratu berusaha menahan mereka karena merasa tak akan sanggup jika setiap hari hanya bertiga sedangkan baby boy belum bisa diajak main.
"Kami akan sering-sering berkunjung sebelum baby boy bisa dibawa pulang. " ucap mama Lilian sengaja menekan kata diajak pulang sebagai isyarat pada Ratu bahwa mereka harus kembali ke tanah air.
Ratu hanya tersenyum kecut sebagai jawabannya, Rafka hanya bisa menghela napas panjang melihat senyuman Ratu, ia tahu arti senyuman itu.
"Malam semakin larut, sebaiknya kamu istirahat nak, mumpung baby boy masih anteng tidurnya. " ucap papa Bram karena ia pun ingin segera beristirahat.
"Oma pun sudah ngantuk. " timpal oma berjalan ke arah kamarnya.
Walaupun terasa berat namun Ratu pun masuk ke dalam kamarnya diikuti oleh Rafka. Ratu memilih tidur di sofa dekat boks baby boy yang belum diberikan nama.
"Sayang, kenapa tidur di situ. "
"Bisa gak sih, mas gak usah selalu berusaha berbicara denganku. " ketus Ratu
__ADS_1
"Segitu bencinya kamu padaku ? padahal Mas sama sekali gak selingkuh. " gumam Rafka pelan namun masih terdengar oleh indera pendengaran Ratu.
Ratu tak menggubris Rafka yang menatapnya dengan sendu, matanya terpejam sempurna walaupun kesadarannya masih penuh. Rafka yang mengira jika Ratu telah terbang ke alam mimpi menghampiri wanita yang telah melahirkan keturunannya itu.
"Apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan maafmu Sayang ? mas akan menuruti semua syaratmu kecuali berpisah, mas sangat mencintaimu, hanya kamu yang bertahta di hatiku." Rafka berbicara di hadapan Ratu yang masih setia memejamkan matanya dengan napas teratur seolah ia benar-benar tertidur. Saat mata Rafka berkedip tanpa sadar setetes air bening jatuh tepat mengenai kelopak mata Ratu sehingga tanpa sadar Ratu membuka matanya, posisi mereka sangat tidak menguntungkan bagi Ratu dimana dirinya sedang telentang sedangkan wajah Rafka tepat berada di atasnya. Posisi sangat ambigu.
Oek oek oek
Rafka menggaruk kepalanya yang tidak gatal, baru saja ia ingin mencicipi bibir manis yang tak pernah ia nikmati lagi namun baby boy seolah tak membiarkan papanya bersenang-senang sedikit.
"Biar mas yang mengurus pria kecil itu. " ucap Rafka salah tingkah kemudian berdiri dan menghampiri boks bayinya.
Ratu segera mengambil alih putranya dari gendongan Rafka dan menyusuinya. Dengan rakusnya sang baby boy mengisap sumber kehidupannya.
"Sisakan sedikit buat papa, nak. " Rafka terus menatap wajah mungil pria kecil yang menguasai bagian favoritnya.
"Mas lebih baik tidur daripada ngomong gak jelas. " kesal Ratu mendengar ucapan unfaedah pria yang menatap assetnya.
"Enak ya, nak, nikmat banget kayaknya. Papa juga pingin dong." Rafka seolah tuli tak menggubris perkataan Ratu yang menatapnya kesal.
__ADS_1
"Mas !! hentikan !! jangan ganggu anakku !! suara Ratu naik satu oktaf
"Anak kita sayang, aku yang kerja keras asal kamu lupa. " Rafka sengaja memancing emosi Ratu agar wanita cantik itu berbicara dengannya.
"Hanya anakku !! saat aku hamil muda kamu dimana ??? kamu sibuk mengurus mantanmu !! asal kamu lupa. " ucapan Ratu membuat hati Rafka tercubit. Matanya berkaca-kaca menatap Ratu yang sudah mulai bertanduk.
"Besok aku akan pulang bersama mama, aku memang tidak pantas mendapatkan maafmu. Tolong jaga anak kita dan beritahukan padanya jika papanya sangat menyayanginya dan mencintai mamanya sepenuh hati. " Rafka berjalan gontai keluar dari kamar.
Pertahanan Ratu kini runtuh, airmatanya luruh membasahi pipinya. Ia mengelus lembut kepala putranya. Ia tak tega memisahkan bayi mungil itu dengan papanya namun luka hatinya masih basah dan menyisakan perih. Ratu kini dilema.
💞💞💞💞
Rafka : orthoooooorrrrr ,,, kamu benar-benar jahat, kurang kerjaan 😡😡😡
Othor : sorry Raf, othor hanya mengkhayal yang jahat itu tangan othor 🤣🤣🤣✌✌
Rafka : 😡😡😡😡
Maaf upnya agak telat tapi lumayan kan 2x sehari
__ADS_1
terima kasih dukungannya