TAKDIRMU BERSAMAKU

TAKDIRMU BERSAMAKU
BAB 50


__ADS_3

...happy literasi beloved readers...


Pagi-pagi mereka pindah rumah, hanya acara kecil-kecilan karena semua sibuk maklum akhir tahun. Hal itu pun berlaku untuk Rafka dan Ratu. Setelah bersantap siang bersama Rafka segera kembali ke kantor sedangkan Ratu hanya bekerja dari rumah bersama sekretaris sekaligus sahabatnya. Mama Lilian dan oma Kailani nampak bersantai di ruang keluarga.


"Gimana hubungan mereka, tante ,,," mama Lilian cukup penasaran dengan anak dan menantunya.


"Tante juga bingung karena Ratu sangat keras kepala, walaupun tante yakin Ratu pun memiliki perasaan pada nak Rafka. "


"Kita harus mengatur strategi agar mantuku itu menyadari perasaannya pada suaminya. Aku takut jika Rafka putus asa dan masa bodoh maka kita akan gagal menimbang cucu. " ucap mama Lilian pelan.


"Ide bagus, tante setuju demi kebahagiaan mereka. " balas oma Kailani antusias


"Demi cucu yang banyak, tante ,,," mama Lilian dan oma Kailani tertawa lepas


Mama Lilian kemudian membisiki oma Kailani dan di balas anggukan kepala oleh sang oma tanda mengerti. Wajah oma Kailani terlihat sedikit khawatir takut jika siasat mereka tak berhasik atau bahkan semakin memperparah keadaan mengingat cucunya itu sangat sulit di tebak.


"Kamu yakin ??"


"Harus yakin, tante ,,,"


"Apanya yang harus yakin, ma ,,," tanya Ratu yang tiba-tiba telah berdiri di belakang mereka.


"Astaga bikin kaget aja, sejak kapan berdiri di situ ,,," balik tanya oma Kailani sambil mengusap dadanya karena kaget.


"Baru aja, oma ,,, aku mau ngantar Dhini keluar tapi melihat oma sama mama bisik-bisik makanya aku mendekat. " jawab Ratu apa adanya.


"Dhini pamit dulu oma, tante ,,," Andhini mendekati kedua wanita cantik beda generasi itu kemudian mencium punggung tangan keduanya bergantian.


"Assalamualaikum ,,,"


"Waalaikumsalam ,,, hati-hati di jalan, sayang ,,, "


"Iya oma." balas Andhini kemudian keluar bersama Ratu.


"Pertimbangkan tawaranku." ucap Ratu sebelum Andhini masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Setelah mobil yang di kendarai Andhini menghilang, Ratu segera kembali ke ruang keluarga untuk bergabung dengan kedua wanita yang sangat ia hormati.


"Sayang, sudah malam tapi kok Rafka belum pulang ,,,"


"Biasa ma, ini kan akhir tahun pasti kak Rafka sibuk. " ucap Ratu apa adanya.


" Tapi tahun lalu dia gak sesibuk ini ,,, mama jadi khawatir. "


"Ya mungkin tahun ini berbeda ma, aku juga sibuk tapi untungnya aku hanya memegang cabang perusahaan jadi gak sesibuk kak Rafka. " ucap Ratu berusaha tenang walaupun kata-kata ditambah ekspresi mama Lilian sedikit berpengaruh pada ketentraman hatinya.


"Oma istirahat lebih dulu ,,,"


"Mama juga, sayang ,,, kalau papa pulang tolong bangunkan mama, ya ,,,"


Malam semakin larut, udara dingin pun terasa menggigit hingga ke tulang-tulang. Mama Lilian sudah masuk kedalam kamar karena papa Bram sedang sibuk jadilah mama Lilian menginap begitu pula dengan oma Kailani sejak pembicaraan mereka berakhir, beliau langsung beristirahat.


Ratu melihat jam dinding yang terus berputar tanpa bisa di hentikan, matanya tak berkedip menatap benda bulat yang di dedikasikan sebagai sang penunjuk waktu. Tak ada tanda-tanda Rafka akan pulang. Ratu kemudian masuk ke dalam kamar lalu berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan diri, kebiasaan sebelum tidur harus dalam keadaan bersih agar tidurnya nyenyak.


Baru saja Ratu memejamkan matanya, terdengar bunyi mobil menyapa indera pendengarannya. Yakin bahwa itu adalah mobil Rafka, kemudian ia bergegas keluar kamar dan membukakan pintu.


'Aku sudah berusaha membuka hatiku namun kenyataannya dia menghabiskan malam entah dengan siapa.' batin Ratu tersenyum kecut.


Rafka pun tak mengucapkan sepatah kata karena kelelahan, ia segera membersihkan diri dan tak sengaja mencium bajunya yang sudah berganti bau.


'Shiiittt ,,, wanita gila. Apa mungkin Ratu menciumnya ??' batin Rafka segera menyudahi mandinya. Ia ingin menjelaskan pada Ratu kegiatannya sepanjang hari.


Matanya mengitari kamar tidur namun yang dicari tak ada di tempat padahal sudah tengah malam. Rafka mengacak rambutnya semakin putus asa. Rasanya ujiannya semakin berat saja. Kenapa aku selalu diuji seperti ini ??.


Sementara itu di meja makan, Ratu sedang menenangkan dirinya dengan menenggak air putih. Kenapa ia harus marah jika Rafka memutuskan untuk mencari kepuasan di luar ? bukankah hal yang wajar karena ia tak bisa menjalankan kewajibannya sebagai istri ? bukankah ini adalah alasan yang tepat untuk membebaskan diri darinya ? Entah mengapa ada rasa berat dalam diri Ratu untuk mengambil langkah terakhirnya.


Setelah merasa cukup tenang dan bisa menguasai diri, Ratu kembali ke kamar. Ia bukanlah anak-anak yang harus tidur terpisah jika sedang ada masalah.


"Sayang ,,, syukurlah. Aku kira kamu tidur di kamar lain. " Rafka langsung menarik tubuh Ratu ke dalam pelukannya.


"Istirahatlah kak ,,," ucap Ratu mendorong halus tubuh Rafka. Ia tak ingin bekas wanita lain menyentuhnya.

__ADS_1


Sambil tersenyum Rafka mengambil posisi pada bagian kasurnya. Ia melupakan niat awalnya yang ingin memberikan penjelasan pada Ratu. Perlahan Ratu pun mengambil posisi pada bagiannya. Ia perlahan menutup mata dengan membelakangi Rafka. Ada rasa nyeri di dalam sana yang mengantarnya hingga ke alam mimpi. Setetes caranya bening lolos dari matanya, entah mengapa ada rasa sakit di dalam sana padahal ia sudah memakluminya. Mereka terlelap hingga fajar menyingsing dan menebar kebaikannya dengan membagikan sinarnya secara adil pada seluruh penghuni semesta.


"Lho mama kok pagi-pagi sudah di dapur. Biar aku aja ma ,,," ucap Ratu yang bermaksud menyiapkan sarapan namun ternyata mama mertuanya sudah lebih dulu bangun.


"Kita masak sama-sama, biar cepat. " balas mama Lilian tersenyum lembut


"Rafka semalam pulang jam berapa ?"


"Entahlah ma, aku gak sempat liat jam." jawab Ratu pendek.


Keduanya kembali berkutat dengan pekerjaan masing-masing, Ratu berusaha mengabaikan rasa yang tak jelas dalam hatinya. Tanpa mereka sadari Rafka sejak tadi mendengar pembicaraan kedua wanita kesayangannya. Sudah menjadi kebiasaan Rafka jika matahari sudah menampakkan diri maka ia tak akan bisa tidur lagi walau bagaimanapun lelahnya.


Rafka tersenyum melihat istrinya yang sibuk mengaduk nasi di wajan. Ia membayangkan setiap pagi sebelum ke kantor istrinya itu akan menyiapkan sarapan dan segala keperluannya.


Saat membalikkan badannya, Ratu tak sengaja melihat bayangan Rafka dengan ekor matanya, seketika rasa kesal dan sakit di dalam sana kembali ke permukaan. Matanya hanya menatap Rafka dengan tatapan yang sulit dimengerti. Rafka terkesiap dengan tatapan Ratu yang berbeda dari biasanya.


"Selamat pagi sayang ,,," sapa Rafka langsung memeluk dan mencium Ratu tanpa malu-malu. Kesempatan gak akan datang dua kali. Rafka tahu jika Ratu tak akan menolaknya di depan anggota keluarga.


"Astaga , pria ini tak tahu malu. Ini dapur dan ada mama disini kalau kamu gak liat. " mama Lilian memukul pelan lengan anaknya.


"Kan istri sendiri, ma ,,, gak ada salahnya kan untuk mempercepat pembibitan. " Rafka terkekeh dengan ucapannya sendiri.


'Pembibitan apa, pabriknya aja masih tersegel. ' batinnya meringis.


Ratu mendorong tubuh Rafka dengan sangat halus hingga tak terlihat oleh mama Lilian. Rafka mengerutkan dahinya karena merasakan penolakan dari istrinya itu, semalam juga ia ditolak. Fix Ratu tak menginginkan pelukannya padahal beberapa hari ini kontak fisik ringan seperti ini sering ia lakukan walaupun harus mendapatkan pelototan gratis dari istri tercintanya.


💞💞💞💞


Rafka : Astaga thor, ujiannya kok berat banget sih


Othor : Salah sendirilah kenapa gak jelasin ke Ratu tentang aroma parfum di bajumu, jelas-jelas itu wangi parfum cewek lho


Rafka : owalaaaaahhh, aku lupa, thor. 😭😭


Othor : 🤣🤣🤣🤣😅😅😅 (ketawa jahat)

__ADS_1


Selamat pagi, jangan lupa jejaknya


__ADS_2