
...happy literasi beloved readers...
Randy dan Andhini memarkir asal mobilnya dan segera bergegas masuk kedalam hotel dan mencari keberadaan Rafka.
"Ada apa, bos ,,,"
"Ada apa kak ,,," kompak Randy dan Andhini penasaran.
"Ratu ,,,"
"Ratu ??? ada apa dengannya ?" Andhini bertanya dengan wajah penasaran.
Saat keduanya tiba, perlahan karyawan hotel yang mengelilingi Rafka perlahan membubarkan diri, mereka tak ingin ikut campur dengan permasalahan keluarga bos mereka.
"Ratu pergi keluar negeri tanpa memberitahukanku, dia telah meninggalkanku." ucap Rafka dengan tatapan kosong, airmatanya tak terbendung.
" Maksudnya pergi gimana, sih kak. Ngomong yang jelas dong. " balas Andhini gemes.
Perlahan Rafka kemudian menceritakan pembicaraannya dengan Ratu semalam. Ia tak menyangka jika Ratu marah besar padahal ia hanya kasihan dan bermaksud menolong Nadia.
"Aku kan sudah mengingatkanmu bos. Sekarang nikmati deritamu dan jangan pernah mengharapkan bantuan dariku karena itu adalah kesalahanmu sendiri. " Randy mengomeli bos sekaligus sahabatnya.
"Berdoalah agar Ratu kembali. Karena tanpa suami pun dia pasti bisa hidup dimanapun ia berada. " Andhini ikut menimpali ucapan Randy dengan emosi.
"Apa yang harus aku lakukan, Ratu dalam keadaan hamil kalau ada apa-apa yang terjadi pada anak kami, bagaimana ,,," Rafka mengalihkan tatapannya pada Randy dengan tatapan memelas.
"Keluarkan wanita tak berguna itu dari rumahmu setelah itu berusahalah mencari keberadaan Ratu. "
"Wanita ?? kak Rafka memiliki wanita idaman lain ?? astaga dimana perasaanmu, kak. Istri lagi hamil malah memasukkan wanita lain dalam rumah."
"Jangan salah paham, aku hanya ingin menolongnya. Demi kemanusiaan. " Rafka berusaha membela diri.
__ADS_1
"Karena rasa kemanusiaan itulah yang telah membuat istrimu memilih untuk pergi. Menolong itu ada batasnya. bukan dengan membawa mantan masuk kedalam rumah tangga kalian. "
Andhini ternganga mendengar ucapan Randy, ia tak menyangka Rafka bisa bertindak bodoh. Rasa iba oalah sahabatnya menyeruak membuat airmatanya luruh. Ia bisa merasakan rasa sakit hati yang dirasakan oleh Ratu.
'Jaga dirimu dimanapun kamu berada my Queen ,,,' batin Andhini sedih
"Honey, kita sebaiknya pulang, biarkan dia mencari solusi permasalahannya. " Randy menarik lembut tangan istrinya keluar dari hotel.
"Mas, tolong bawa pak Rafka ke kamar pribadi nona Ratu, biarkan dia beristirahat dan jangan sampai ada orang yang menemuinya kecuali kedua orang ini. " ucap Randy memperlihatkan foto mama Lilian dan papa Bram.
Setelah menitipkan Rafka pada salah satu karyawan hotel, Randy melanjutkan langkahnya keluar diikuti oleh Andhini. Sebenarnya Randy merasa iba melihat kesedihan Rafka namun ia ingin memberikan efek jera pada bosnya itu, semoga saja ia menyadari kesalahannya.
Sementara di tempat lain, mama Lilian segera menghampiri papa Bram yang baru saja turun dari mobil, airmatanya membasahi pipinya membuat papa Bram berlari kecil mendapati mama Lilian kemudian menggandengnya agar duduk di kursi teras.
"Ada apa, ma ,,,, kok nangis ,,," papa Bram khawatir melihat keadaan istrinya
"Menantu kita pa ,,,hiks hiks hiks. "
"Dia pergi ,,, hiks hiks hiks " jawab mama Lilian sambil menyodorkan surat yang baru saja ia terima.
Papa Bram segera mengambil surat tersebut dari tangan mama Lilian, ia segera membacanya dengan rasa penasaran yang memuncak. Selama ini anak dan menantunya baik-baik saja bahkan mereka sudah saling mencintai apalagi saat ini Ratu sedang hamil melengkapi kebahagiaan mereka.
Assalamualaikum ma, pa ,,,
Mama dan papa, maafkan Ratu karena harus pergi dari kehidupan mas Rafka, bukan karena marah atau tidak bahagia. Mas Rafka pria yang baik bahkan saking baiknya ia menolong Nadia dengan menyuruhnya tinggal di rumah kami beberapa minggu ini tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu.
Ma, pa, aku hanya manusia biasa yang punya perasaan. Mungkin dengan kepergianku, mas Rafka bisa menyelami keinginan hatinya. Jangan khawatirkan cucu kalian, aku akan menjaganya dengan baik.
Sekali lagi maafkan menantu yang tak berbakti ini. Jaga diri kalian.
^^^Ratu Alisha Naransya ^^^
__ADS_1
Papa Bram meremas kertas tersebut, rahangnya mengeras menahan amarahnya. Rasanya ia ingin mencabik-cabik putranya yang sangat bodoh itu. Tanpa berbicara, papa Bram masuk kedalam rumah kemudian keluar lagi sambil berbicara dengan seseorang di telepon.
"Seret wanita itu keluar dari rumah putraku dan bawa kemana saja kalian inginkan. " perintah papa Bram memutuskan panggilan selulernya.
"Halo Randy, mana Rafka !!"
"Aku tinggal di hotel KAIL_NA, om."
"Kamu sudah tau yang terjadi ???"
"Sudah om, makanya aku tinggalkan dan menyuruhnya berusaha sendiri. "
"Bagus." papa Bram kembali menutup panggilan sepihak.
Melihat sang istri yang terus-terusan menangis membuat papa Bram sadar dari kemarahannya dan segera menghampiri istrinya tercinta.
"Ma, jangan menangis terus gak baik untuk kesehatan." bujuk papa Bram lembut
"Mama malu sama tante Kailani atas kejadian ini, pa. "
"Kita segera menemui tante Kailani dan meminta maaf padanya. Siapa tahu beliau mau mengatakan di mana menantu dan calon cucu kita berada. " ucapan papa Bram menghentikan tangisan mama Lilian. Benar yang dikatakan suaminya.
Mama Lilian segera masuk kedalam kamar mengganti bajunya sebelum berangkat ke rumah oma Kailani. Dengan harapan wanita yang sangat dekat dengan menantunya itu bisa memberikan informasi tentang keberadaan Ratu dan calon anaknya.
💞💞💞💞💞
hai up up up
selamat membaca semoga terhibur
terima kasih dukungannya
__ADS_1