
Jarum jam telah menujukkan pukul 06.30. Seorang gadis berseragam SMA dengan santainya keluar dari kamarnya. Dengan tas yang menempel di punggungnya, ia melangkahkan kakinya menuju dapur. Suasana di dapur tak lagi terdengar gaduh. Walau masih ada suara yang terdengar, namun tak terlalu parah seperti sejam sebelumnya. Wajahnya terlihat begitu tenang saat mendekati meja makan. Kedua matanya tampak terbiasa dengan pemandangan yang selalu terlihat di sana. Terlihat dua orang yang disayanginya sudah duduk dengan tenang. Sesekali, ada kemesraan yang tak segan mereka perlihatkan layaknya muda-mudi yang sedang dimabuk kasmaran.
Melihat kedatangan gadis itu, wanita tua yang sedang melayani suaminya itu seketika menghentikan keromantisannya. Wanita itu tersenyum kecil. Ada rona merah yang terlihat di wajahnya, lebih tepatnya rasa malu saat mengetahui ada orang lain yang melihat tingkah manjanya tadi.
"Kenapa kamu berdiri terus di situ? Cepat duduk! Nenek ambilkan makanannya." Si nenek segera mengambil piring kosong.
"Nenek nggak usah mengambilkan makanan untukku. Biar aku sendiri aja yang mengambil," ucap gadis itu, lalu duduk di samping kakeknya.
Gadis itu lantas mengambil piring yang ada di tangan nenek dan segera mengisinya dengan nasi dan beberapa sendok sambal goreng tempe.
Kedua mata gadis itu menatap lama makanan yang ada di hadapannya itu. Lagi-lagi lauk yang tersaji di atas meja adalah sambal goreng tempe. Tak ada sayur, ikan, ataupun telur di atas meja. Sepertinya, tempe yang digunakan untuk lauk pagi ini adalah tempe yang diberikan oleh tetangga sebelah rumahnya kemarin sore.
Bila ia bisa berkata jujur di hadapan kakek dan neneknya, ia sudah bosan dengan lauk makannya yang begitu-begitu saja. Sambal goreng tempe, telur dadar, sayur bening, dan mie instan, makanan seperti itulah yang selalu bergantian mengisi perutnya pagi, siang, dan di malam hari. Baginya, makanan yang menjadi menu sarapannya setiap hari itu tak cukup untuk memenuhi gizinya, terutama untuk kakek dan neneknya yang sudah tua. Tubuh mereka pasti memerlukan asupan gizi yang lebih banyak untuk menjaga kesehatan mereka. Namun, apa yang bisa ia lakukan selain menyimpan semua keluhannya itu di dalam hatinya. Melihat bagaimana kondisi keuangan mereka, tak tega rasanya bila dirinya meminta banyak hal pada kakek dan neneknya itu. Sudah cukup rasanya melihat mereka bekerja keras dalam membesarkan dirinya. Walau terasa berat, ia harus bisa menahan semua keinginannya itu, seperti yang sudah-sudah agar tak merepotkan mereka.
"Khalisha, makanannya kok cuman dilihatin doang? Kenapa? Makanannya nggak enak, ya?" tegur nenek dengan lembut. Matanya menatap sedih pada gadis itu.
Gadis yang dipanggil Khalisha itu tersadar dari lamunannya. Ia menatap nenek sebentar, tak tertarik melihat wajah neneknya yang sedang sedih itu.
"Enak, kok," jawab Khalisha dengan ekspresi datar.
"Trus kenapa belum dimakan? Sebentar lagi jam tujuh, loh. Kalau nggak cepetan makannya, nanti kamu telat lagi ke sekolahnya."
Tanpa berkata apa pun lagi, ia memasukkan makanannya ke dalam mulutnya. Suap demi suap nasi dan sambal goreng tempe memberi kelegaan pada pencernaannya yang kosong. Ia tak lagi membiarkan hal-hal aneh kembali mengganggu pikirannya.
Nenek menatap lekat khalisha. Wajahnya semakin sedih melihat cucu kesayangannya itu makan dengan lauk yang seadanya.
"Maafin Nenek ya, Lis. Lagi-lagi makanannya itu lagi. Nenek tahu, kamu pasti bosan. Ya, kan?"
__ADS_1
"Nggak," jawabnya singkat.
Khalisha bisa mengerti bagaimana perasaan neneknya saat ini. Pasti tidak mudah rasanya menyajikan makanan yang sama setiap harinya. Namun, apa yang bisa ia lakukan. Ia sendiri tak punya uang untuk membantu. Hanya dengan memakan apa pun yang dimasak oleh neneknya, setidaknya cara itu bisa membantu mengurangi kesedihan dan rasa bersalah yang neneknya rasakan.
Kakek yang sejak tadi duduk tenang memperhatikan mereka tersenyum simpul. Senang, sedih, dan rasa bersalah, semua itu bercampur aduk memenuhi ruang di hatinya. Senang rasanya melihat kedua wanita yang disayanginya itu bisa menerima kondisi mereka yang serba kekurangan. Namun di sisi lain, hatinya begitu sedih. Sebagai kepala keluarga dan satu-satunya pria, dirinya masih belum bisa membahagiakan istri dan juga cucunya. Ia harus rela melihat mereka berhemat agar kebutuhan sehari-hari yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya tercukupi.
"Lisha, makannya agak cepetan dikit! Kamu ke sekolah naik sepeda, bukan naik motor atau angkot yang cepat. Kalau nggak berangkat sekarang, bisa-bisa kamu telat sampai ke sekolah," tegur kakek menatap lekat Khalisha.
"Ya, Kek. Sebentar lagi selesai," sahutnya singkat. Seperti perkataan kakeknya tadi, Khalisha buru-buru menghabiskan makanannya.
Nenek mengambil sebuah wadah kecil, lalu memasukkan nasi dan juga sambal goreng tempe yang tersisa ke dalamnya. Kedua matanya sesekali melirik ke arah kakek.
"Kek, kemarin Nenek lihat bunga mawar di halaman rumah Bu Linda. Cantik banget deh Kek bunganya. Kalau beli, harganya pasti mahal. Kira-kira kalau Nenek minta satu, Bu Linda bakalah kasih Nenek nggak, ya?" tanya nenek tampak bersemangat. Nenek ingin sekali menanam beberapa bunga mawar di halaman rumahnya.
Khalisha sontak menghetikan suapannya. Jelas sekali bila ia tak suka dengan ucapan yang baru saja terlontar dari mulut neneknya itu. Ia lantas bangkit dari kursinya dan melangkahkan kakinya menjauhi meja makan.
Khalisha seketika menghentikan langkah kakinya. Kedua matanya menatap dingin pada nenek.
"Aku sudah kenyang. Aku berangkat dulu. Nanti telat."
"Kalau gitu kamu bawa ini, ya," ucap nenek sembari menyerahkan bekal makanan di tangannya, "maafin Nenek ya, Lis. Untuk hari ini dan beberapa hari ke depan, kamu harus membawa bekal. Sepertinya untuk beberapa hari ke depan Nenek nggak bisa kasih kamu uang jajan."
"Ya, Nek," jawabnya singkat, lalu mengambil bekal makanan dan memasukkannya ke dalam tas. Namun sebelum pergi, ia kembali berkata dengan nada ketus, "Nenek, kuharap lain kali Nenek nggak lagi menyebut kata itu di hadapanku, apalagi sampai menanam itu di sini. Nenek sudah tahu kan kalau aku nggak suka."
Nenek kaget mendengarnya, "tapi, Lis—"
"Kalau Nenek masih sayang sama aku dan mau aku tetap tinggal di sini, jangan pernah sekalipun menyebut ataupun menanam bunga itu di sini," potongnya mengancam.
__ADS_1
Sedih, ekspresi itu yang terpampang jelas di wajah nenek saat mendengar perkataan Khalisha. Nenek sama sekali tak menyangka bila cucu yang sangat disayanginya itu akan berkata seperti itu padanya.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini, Lis? Nenek rindu sama kamu yang dulu."
Khalisha terdiam. Tak ada lagi kata-kata yang ingin ia lontarkan dari mulutnya. Ia buru-buru mencium punggung tangan kakek dan nenek, lalu pergi begitu saja meninggalkan kakek dan nenek yang menatap kepergiannya dengan tatapan yang sedih.
Bunga mawar adalah salah satu bunga yang disukai banyak orang, terutama oleh para cewek. Selain karena bentuknya yang indah, bunga mawar ternyata dianggap sebagai lambang cinta. Namun sayangnya, tak semua orang menyukainya. Khalisha salah satunya. Gadis cantik yang satu ini sangat membencinya. Bahkan sekedar mendengar kata mawar saja, dia sudah tak suka. Bila dia tak sengaja mendengar kata mawar dari mulut orang lain, dia lebih memilih untuk pergi menjauh. Begitu pula dengan sikapnya pagi ini. Dia lebih memilih buru-buru pergi ke sekolah daripada mendengarkan percakapan kakek dan neneknya yang sedang membahas sesuatu yang dibencinya. Dia tak ingin emosinya meledak pada dua orang yang telah berjasa dalam hidupnya itu.
Sepeninggal Khalisha, kesedihan semakin menguasai hati nenek. Sedih sekali rasanya melihat secara langsung sikap cucunya sedingin es itu. Nenek sendiri tak tahu sampai kapan dirinya harus melihat Khalisha menjalani hidup yang menyedihkan ini.
"Sudahlah, Nek. Kamu tak perlu sedih seperti itu. Ini juga bukan yang pertama kalinya Lisha bersikap seperti itu, kan? Lagi pula, kamu juga yang memulainya lebih dulu. Kamu tahu sendiri kan kalau Lisha tak suka kita membahas apa pun yang berhubungan dengan mawar," ucap kakek mencoba menenangkan istrinya.
Nenek menghela napas dengan berat, "kamu benar, Kek. Aku kok bisa lupa kalau Lisha paling tak suka kita membahas tentang itu. Tapi tetap saja, rasanya sedih banget melihat sikap Lisha tadi. Mau sampai kapan Lisha hidup seperti itu? Aku sangat merindukan cucuku yang dulu."
"Bersabarlah, Nek. Yakinlah, suatu saat nanti cucu kita itu akan kembali lagi," ucap kakek seraya memeluk erat nenek, mencoba menenangkan istrinya itu.
"Tapi sampai kapan, Kek? Sampai kapan aku harus sabar?"
Air mata nenek seketika jatuh membasahi kedua pipinya. Pikirannya pun melayang-layang ke masa lalu, membayangkan seperti apa Khalisha yang dulu.
Kakek tersenyum kecut. Kakek bisa merasakan kesedihan dan kerinduan yang dirasakan istrinya itu. Dirinya juga turut dalam merawat dan membesarkan Khalisha. Semua yang dialami Khalisha, tak satu pun hilang dari ingatannya. Sering kali kakek merasa kecewa pada dirinya sendiri. Dirinya yang sebagai kepala keluarga tak pernah berbuat banyak untuk membahagiakan istri dan juga cucunya.
"Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa kepada Allah. Kita doakan saja agar Lisha selalu dalam perlindungan-Nya, diberi kesehatan, dan diberi kelapangan dada agar bisa menerima kenyataan dan kembali lagi seperti dulu. Itu yang paling penting," ucap kakek sembari mengusap air mata nenek.
Lagi-lagi nenek menghembuskan napas dengan berat. Apa yang baru saja terlontar dari mulut suaminya itu memang benar adanya. Yang bisa dirinya lakukan saat ini hanyalah berdoa dan berpasrah diri kepada Allah. Namun tetap saja, satu-satunya harapan yang tak akan berubah adalah melihat Khalisha menjadi gadis yang ceria.
***
__ADS_1