
Motor Kawasaki Ninja hitam milik Daniel akhirnya berhenti di parkiran sekolah. Dengan wajah yang ceria, Daniel turun dari motornya. Setelah melepaskan helm dari kepalanya, tangannya segera membantu Khalisha melepaskan helm yang menempel di kepalanya. Terlihat sekali kalau Khalisha masih belum terbiasa berangkat ke sekolah dengan motor. Buktinya saja, jam setengah tujuh pagi Khalisha sudah berpakaian rapi, lengkap dengan membawa tas sekolahnya. Dia bahkan sudah sarapan pagi. Mungkin di pikirannya, dia berangkat ke sekolah dengan jalan kaki seperti sebelumnya, sehingga dia sudah siap lebih awal. Setelah panjang lebar bicara padanya, Khalisha akhirnya setuju untuk berangkat bersamanya. Dia akhirnya duduk di ruang tamu dan menunggu Daniel. Mau tak mau, Daniel yang biasanya berangkat ke sekolah pukul 07.25, dengan terburu-buru segera mandi dan bersiap-siap pergi ke sekolah. Alhasil, untuk pertama kalinya ia berangkat ke sekolah tepat pukul 07.00.
Karena untuk beberapa hari Khalisha menginap di rumahnya, dapat dipastikan bila ia berangkat dan pulang sekolah bersama dengan Khalisha. Sama seperti kemarin, Daniel bertingkah seperti seorang majikan. Ia segera menyerahkan tasnya pada Khalisha untuk dibawanya hingga sampai ke kelasnya, lalu melangkahkan kedua kakinya duluan agar Khalisha mengikutinya di belakang.
Entah ini cuma perasaannya saja atau bukan, suasana di sekolah pagi ini terasa berbeda. Sejak di parkiran tadi, Khalisha merasa banyak sekali tatapan mata yang mengarah pada dirinya. Ia bahkan sempat melihat beberapa dari mereka berbisik. Walau merasa bingung dan risi dengan keadaan sekitarnya, ia mencoba untuk tetap tenang seperti biasanya.
Daniel tampak asyik dengan pikirannya. Tentu saja pikirannya itu tertuju pada satu orang, Khalisha. Ia berangkat bersama dengan Khalisha, namun rasanya seperti berangkat sendirian. Ia lantas memelankan langkah kakinya hingga sejajar dengan Khalisha. Namun, pikirannya masih saja bingung ingin mengobrol apa dengannya.
Semakin lama Khalisha semakin tak nyaman dengan suasana di koridor saat ini. Pandangan mata para murid yang ada di koridor terlihat semakin aneh, terutama murid cewek. Mereka menatap tajam padanya, terkesan membenci dirinya.
"Siapa tuh cewek? Kok bisa sih berangkat bareng Daniel? Pakai diboncengin segala lagi," bisik salah satu siswi yang berdiri di depan pintu salah satu kelas.
"Aku juga nggak tahu. Jangan-jangan pacarnya Daniel lagi. Ya, ampun. Cowok pujaanku ternyata sudah punya pacar," bisik siswi lainnya sedih melihat mereka.
"Masa sih? Nggak mungkin. Penampilannya biasa begitu. Cantik juga cantikan aku kemana-mana. Masa Daniel suka sama cewek begituan?" bisiknya kembali dengan tatapan tak suka.
Sayup-sayup Khalisha mendengar percakapan mereka. Walau tak mendengar semuanya, ia jadi tahu kalau semua orang di koridor sedang membicarakannya.
Tak terasa langkah kaki mereka sudah sampai di depan kelas Daniel. Daniel lantas melangkahkan kakinya hendak memasuki kelas, namun Khalisha terus saja berjalan melewati kelasnya. Daniel menatap Khalisha yang sedang melamun. Dengan langkah cepat, ia menyusul Khalisha yang berjalan entah kemana.
"Lis! Khalisha!" panggil Daniel.
Khalisha tersentak kaget. Ia buru-buru menghentikan langkahnya, lalu menatap aneh pada Daniel yang berjalan menghampirinya.
"Lis, kamu mau jalan sampai kemana?" tanya Daniel menatap aneh.
"Tentu saja ke kelas kamu. Tas kamu kan masih ada sama aku."
"Coba kamu lihat ini di mana!"
Kedua mata Khalisha segera menatap sekelilingnya. Benar yang dikatakan Daniel. Saking asyiknya dengan pikirannya sendiri, ia sampai tak menyadari kedua kakinya yang tengah berjalan entah kemana.
"Maaf," ucap Khalisha dingin.
"Kamu ini sebenarnya kenapa sih, Lis? Jalan kok sambil bengong. Tabrak tembok baru tahu rasa kamu."
"Nggak ada apa-apa. Yuk, jalan!" Khalisha lantas melangkahkan kakinya hendak menuju kelas Daniel. Namun, langkah kakinya terhenti karena Daniel tiba-tiba menarik tangannya.
"Kamu bohong, kan? Jujur deh sama aku. Apa yang lagi kamu pikirkan?" tanya Daniel agak memaksa.
Khalisha menghela napas. Sepertinya, ia tak bisa mengelak dari Daniel.
"Aku nggak tau ini cuman perasaanku aja atau bukan, aku merasa kita lagi diperhatikan."
__ADS_1
Mendengar perkataan Khalisha, kedua mata Daniel sontak memperhatikan sekelilingnya. Pantas saja Khalisha melamun. Para siswi yang masih berada di koridor sedang menatap ke arah dirinya dan Khalisha. Khalisha pasti merasa tak nyaman dengan keadaan seperti ini.
"Kamu nggak usah perdulikan mereka. Mereka lagi kurang kerjaan, makanya jadi begitu. Yuk, ke kelasku! Masih ada waktu sebelum masuk kelas. Aku ingin belajar sebentar," ajak Daniel. Ia lantas melingkarkan tangannya ke bahu Khalisha dan melangkahkan kakinya dengan pelan menuju kelasnya.
Khalisha kaget dengan tingkah Daniel. Sontak saja tangannya melepaskan tangan Daniel. Namun sayangnya, Daniel terus saja melingkarkan tangannya di bahunya.
"Daniel, lepasin tanganmu!" pintanya dingin.
Sebenarnya Daniel merasa kecewa, namun mau tak mau ia harus melepaskan tangannya. Ia ingin terlihat akrab dengannya. Namun yang terlihat, Khalisha justru dingin padanya. Sepertinya, ia telah membuat mood Khalisha yang sudah buruk menjadi semakin buruk dengan tingkahnya itu.
"Maaf," ucapnya merasa bersalah.
"Lupakan saja," sahut Khalisha masih dingin.
Khalisha akhirnya sampai ke kelas Daniel. Ia pun melangkah masuk mengikuti Daniel hingga ke tempat duduknya. Tas Daniel yang ada di tangannya segera ia letakkan di atas meja. Tanpa berkata apa pun, ia melangkah pergi keluar dari kelas Daniel.
Nathan, Andhika, dan Bayu yang sudah duduk tenang sama-sama menatap tak percaya. Baru kali ini ia melihat Daniel mengizinkan seseorang menyentuh barang miliknya. Setahu mereka, Daniel tak pernah suka bila barang miliknya disentuh oleh orang lain, kecuali orang yang benar-benar akrab dengannya.
"Cewek tadi itu siapa, Niel? Kok dia bisa bawa tasmu?" tanya Nathan penasaran.
"Jangan tanya-tanya tentang dia," sahutnya dingin. Entah kenapa, ia merasa tak suka bila ada orang lain bertanya tentang Khalisha.
Nathan tak lagi bertanya. Sepertinya, mood Daniel sedang kurang bagus. Andhika dan Bayu pun tak berani mengganggunya. Akan sangat susah bagi mereka bila Daniel marah.
Ia menghembuskan napas dengan berat. Otaknya masih saja memikirkan Khalisha. Sikap Khalisha yang kembali dingin padanya, apalagi tingkahnya yang tiba-tiba merangkulnya, sudah pasti membuat Khalisha marah padanya. Sepertinya hari ini, ia harus memaksa otaknya untuk mencari cara agar Khalisha tak bersikap seperti saat pertama kali bertemu dengannya, dingin dan terus diabaikan.
Sementara itu, Khalisha duduk tak tenang. Tak hanya di parkiran dan koridor sekolah saja, di dalam kelas pun ia dihujani tatapan aneh dari teman-teman sekelasnya, terutama para cewek. Ia masih tak mengerti alasan mereka terus saja betah menatapnya. Tapi yang jelas, ia merasa sangat terganggu.
Mayang yang merasa ada yang aneh dengan suasana di kelasnya segera melangkah menghampiri Khalisha. Tanpa persetujuan Khalisha, ia duduk di samping Khalisha.
"Lis, kamu merasa nggak ada yang aneh dengan kelas kita. Aku merasa cewek-cewek di sini lagi lihatin kamu," bisik Mayang.
"Ya. Aku juga merasa begitu," jawab Khalisha mencoba untuk tetap tenang.
"Kira-kira kenapa ya mereka lihatin kamu terus?" tanya Mayang penasaran. Kedua matanya kembali melirik teman-teman sekelasnya. Sama seperti tadi, tatapan mereka masih mengarah pada Khalisha. Ia bahkan melihat beberapa dari mereka sedang berbisik, sepertinya sedang membicarakan Khalisha.
Siska dan Dita masuk ke kelas dengan wajah yang kesal. Saat melewati Khalisha, mereka sama-sama menatap tajam padanya. Bagaimana tidak kesal. Baru datang ke sekolah, mereka sudah disuguhkan dengan gosip terbaru di sekolahnya. Parahnya lagi, topik pembicaraan mereka adalah Khalisha, orang yang mereka benci.
"Wah, lagi ada yang senang nih berangkat bareng sama cowok populer di sekolah kita," seru Siska tiba-tiba. Dia memajang senyum sinisnya ke arah Khalisha.
"Ya iyalah senang. Mana mungkin nggak senang. Siapa sih yang nggak suka dianterin sama Daniel si cowok populer," sambung Dita juga dengan senyum sinisnya.
"Tapi kok bisa ya Daniel mau berangkat bareng sama cewek aneh dan miskin kayak Khalisha? Apa nggak bikin malu?" Siska tampak senang melihat Khalisha dipermalukan.
__ADS_1
"Mungkin aja Daniel lagi mencoba sesuatu yang baru," balas Dita asal.
Bisik-bisik kembali terjadi di dalam kelas. Mereka semua membicarakan apa yang dikatakan Siska dan Dita. Walaupun begitu, Khalisha mengabaikan mereka. Ia malas meladeni mereka. Baginya, apa yang mereka bicarakan sama sekali tak penting. Daripada ia pusing memikirkan hal-hal yang tidak berguna, ia pun mengambil buku dari dalam tasnya dan fokus membacanya.
"Kenapa diam? Malu, ya. Ya... hitung-hitung diantar Daniel itu adalah sebuah kehormatan yang jarang kamu dapat ya, Lis. Kapan lagi cewek aneh kayak kamu bisa diantar ke sekolah sama Daniel," ucap Siska menghina.
Mayang yang terus memperhatikan Siska dan Dita tak bisa lagi membendung emosinya. Telinganya sudah sangat panas mendengar perkataan mereka. Melihat sikap mereka yang keterlaluan membuatnya bertanya dalam hatinya, "Mereka benar-benar keterlaluan. Kok bisa sih selama ini aku berteman sama orang yang seperti itu? Nggak ada tata kramanya."
"Siska, Dita, kalian berdua itu kenapa sih kerjaannya menghina Khalisha terus? Salahnya Khalisha itu apa sama kalian? Dia sama sekali nggak pernah ganggu kalian."
"Kok kamu jadi belain dia sih, May?" tanya Dita tak terima.
"Aku bukannya belain Khalisha, tapi sikap kalian ini benar-benar keterlaluan."
"Nggak usah ikut campur! Lagian, apa bagusnya sih berteman dengan Khalisha? Udah aneh, orang miskin lagi," ucap Siska menatap kesal pada Mayang. Bisa-bisanya Mayang membela Khalisha. Padahal, ia dan Mayang sudah berteman lama. Seharusnya, Mayang lebih berpihak padanya, bukan pada Khalisha.
"Kalaupun aku membela, aku lebih baik membela Khalisha daripada kamu dan Dita. Omonganmu sama Dita sudah keterlaluan. Jangan mentang-mentang kalian anak orang kaya, kalian bisa sesukanya menghina orang lain. Coba kalian lihat! Dari tadi kalian terus saja menghina Khalisha, tapi Khalisha diam saja. Dia nggak melawan kalian sama sekali. Jadi, kalian nggak usah terus cari masalah sama dia."
"Ya wajar lah dia diam. Dia pasti takut sama kita. Dia kan bukan apa-apa dibandingkan kita," ucap Siska dengan sombongnya.
Mayang terdiam. Kedua matanya menatap Khalisha yang sedang membaca buku. Ia tahu kalau Khalisha sama sekali tak peduli dengan hal ini. Tapi bagaimanapun juga, dia harus melawan orang-orang yang telah menghinanya. Dia tak bisa terus diam tiap kali dihina seperti itu.
"Kenapa diam, May? Apa yang kukatakan benar, kan?" tanya Siska tersenyum penuh kemenangan. Ia puas melihat Mayang yang kebingungan.
Khalisha yang dari tadi diam menahan emosinya pun akhirnya meledak. Ia tak terima bila orang yang dekat dengannya diperlakukan seperti itu.
"Kalian sudah puas menghinanya? Diam bukan berarti aku takut sama kalian. Aku malas meladeni orang yang nggak penting seperti kalian," seru Khalisha tenang, "daripada menghina terus kerjaan kalian, lebih baik kalian cari kerjaan lain yang lebih bermanfaat."
Semua orang di dalam kelas seketika terdiam. Untuk pertama kalinya Khalisha bicara panjang lebar di depan mereka. Mayang tersenyum puas melihat Khalisha. Namun tidak bagi Siska dan Dita. Mereka tampak kesal dengan perkataan Khalisha.
"Kelakuan kalian ini malah terlihat kayak kalian nggak pernah sekolah. Kayak nggak pernah diajari sopan santun dan berbicara baik sama orang lain," sambung Mayang.
Siska dan Dita semakin geram. Berani sekali Mayang dan Khalisha mempermalukan mereka di depan teman-teman sekelasnya. Mayang yang sekarang benar-benar telah berubah. Itu semua terjadi karena Mayang berteman dengan Khalisha.
Bel sekolah pertanda masuk kelas sudah berbunyi dengan nyaring. Beberapa penghuni kelas yang masih ada di luar kelas bergegas masuk dan duduk dengan tenang di bangku mereka.
"Lis, aku duduk di sini ya?" tanya Mayang berharap.
"Terserah kamu," jawabnya singkat.
Mayang tersenyum senang. Ia buru-buru melangkahkan kakinya menuju tempat duduknya. Tanpa berkata apa pun pada Siska dan Dita, ia mengambil tasnya, lalu kembali pada tempat duduk di samping Khalisha.
Di dalam hati, Khalisha sangat terharu dengan sikap Mayang yang mau membelanya. Selama ia dekat dengan Mayang, ia tahu kalau Mayang adalah gadis yang baik. Mayang tak pernah berhenti berusaha untuk berteman dengannya, padahal ia tahu kalau dirinya sangat tertutup. Mungkin, sudah waktunya ia mencoba untuk membuka hatinya pada orang lain.
__ADS_1
***