Take My Heart

Take My Heart
ULANG TAHUN


__ADS_3

"Lis, temani aku!" ajak Daniel tiba-tiba.


Khalisha sontak menghentikan belajarnya. Ia menoleh kaget ke arah pintu kamarnya yang sudah terbuka lebar. Saking fokusnya belajar, ia sampai tak menyadari ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya. Untung saja saat ini ia sedang duduk belajar. Jika ia sedang mandi atau tidur siang, ia pasti akan sangat malu dengan keberadaan Daniel di kamarnya.


"Malah bengong. Ikut aku!" Daniel mendengus kesal. Bukannya segera menghampirinya, Khalisha malah duduk diam menatapnya.


"Emangnya mau kemana?" tanya Khalisha menatap bingung. Tak biasanya Daniel mengajaknya jalan pada sore hari.


"Nanti kamu juga bakalan tahu," sahut Daniel tersenyum kecil, "yuk, jalan! Kalau nggak berangkat sekarang, nanti kita pulangnya kemalaman lagi."


Daniel lantas melangkahkan kakinya meninggalkan kamar Khalisha. Ia main-mainkan kunci motor di tangannya. Entah kenapa, ia ingin Khalisha menemaninya ke tempat favoritnya. Mungkin karena ia mulai terbiasa dengan keberadaan Khalisha di rumahnya.


Khalisha menghela napas. Ia tak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang diinginkan oleh majikannya itu. Ia pun lantas bangkit dari kursinya dan berjalan mengikuti Daniel. Jujur saja, ia sangat malas pergi keluar rumah. Ia lebih suka menghabiskan waktunya belajar di kamar daripada jalan-jalan entah kemana.


***


Motor melaju dengan kencang kira-kira sekitar 40 menit. Selama itu, Khalisha memegang erat jaket Daniel. Kelopak matanya ia tutup rapat-rapat. Ketenangan yang selama ini ia tunjukkan dalam kondisi apa pun, untuk sore ini sama sekali tak berlaku. Bersamaan dengan lajunya motor Daniel, jantungnya terus berdegup kencang. Ketakutan kini menguasai seluruh tubuhnya.


Ini adalah pertama kalinya Khalisha melihat Daniel mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Biasanya berangkat dan pulang sekolah, Daniel mengendarai motornya dengan santai. Sikapnya ini tak seperti Daniel yang ia kenal. Dalam ketakutannya, ia masih sempat-sempatnya memikirkan Daniel. Ia penasaran dengan apa yang terjadi pada Daniel saat ini.


Daniel akhirnya menghentikan laju motornya. Kedua matanya lantas menatap sekelilingnya, lalu melepaskan helm yang menempel di kepalanya. Namun, ketika berbalik hendak melepaskan helm Khalisha, ia tampak kaget melihat Khalisha yang menutup kedua matanya dengan tangannya yang memegang erat jaketnya. Sebuah senyuman tanpa sadar terpampang di bibirnya. Baru kali ini ia melihat ekspresi lain dari Khalisha, ekspresi ketakutan yang jarang sekali terlihat di wajahnya.


"Lis, buka matamu! Kita sudah sampai," ucapnya sembari melepaskan helm di kepala Khalisha.


Khalisha lantas membuka kelopak matanya. Pandangan matanya sontak ia edarkan di sekelilingnya. Bingung, itu mungkin kata yang tepat dengan apa yang dirasakannya saat ini. Ia tak mengerti kenapa Daniel mengajaknya ke tempat sebagus ini.


"Kamu pasti takut, ya? Maaf ya, Lis. Nanti pulangnya aku nggak akan ngebut lagi," ucap Daniel merasa bersalah. Ia lupa kalau Khalisha sedang bersamanya.


"Nggak apa-apa," sahut Khalisha pelan.


"Ngomong-ngomong, kamu bisa nggak lepasin jaketku?" tanya Daniel tersenyum kecil.

__ADS_1


Khalisha sontak melepaskan genggaman tangannya. Ia mulai bisa menguasai dirinya. Jantungnya yang tadi berdegup kencang, perlahan-lahan kembali normal. Saking takutnya, ia sampai tak menyadari kalau Daniel sudah sampai di tempat tujuannya.


Daniel segera turun dari motornya. Tanpa menunggu Khalisha, ia berjalan dengan pelan menuju tepi danau. Ia tersenyum kecil. Tiap kali menatap danau, kerinduannya akan masa kecilnya sedikit terobati.


Walau tak mengerti dengan apa yang dilakukan Daniel sekarang, Khalisha memilih untuk mengikuti saja kemana pun Daniel melangkah. Ia kini berdiri tepat di samping majikannya itu. Kedua matanya lantas melirik Daniel. Daniel diam membisu. Kedua matanya tampak menikmati pemandangan yang ada di depannya. Sebenarnya, ia ingin bertanya pada Daniel alasan dia mengajaknya ke danau. Namun, melihat ekspresi Daniel, ia urungkan rasa penasarannya itu. Ia tak ingin mengganggu Daniel untuk saat ini.


Ia lantas mengarahkan pandangan matanya ke arah danau. Mungkin karena air danau yang tenang, ia ikut merasakan ketenangan. Khalisha mulai menikmati sore ini. Semilir angin sayup-sayup menggodanya, membelai tiap-tiap helai rambut panjangnya yang hitam. Ini adalah pertama kalinya ia datang ke danau. Pemandangan yang tenang, ini sangat cocok dengan dirinya.


Ramainya orang-orang yang datang ke danau sama sekali tak berpengaruh pada Daniel dan Khalisha. Baik Daniel maupun Khalisha sama-sama asyik memandang ke arah danau. Daniel tiba-tiba menghela napas, lalu mengambil batu kerikil yang ada di depan kaki kanannya dan melemparkannya ke arah danau. Air danau yang tenang kini dihiasi riak kecil, membuat kedua mata Khalisha tertarik untuk melihatnya.


"Kenapa kau lempar batu ke danau?" tanya Khalisha menatap bingung.


"Aku lagi membuang satu kenangan burukku ke danau," jawab Daniel menatap lembut Khalisha. Ia kembali mengambil batu, lalu memberikannya pada Khalisha seraya berkata, "Kamu mau mencobanya?"


"Emangnya cara itu beneran bisa membuang kenangan buruk?" tanya Khalisha tak percaya.


"Coba saja."


"Gimana, Lis?" tanya Daniel tersenyum kecil.


"Aku nggak merasakan apa-apa," sahut Khalisha jujur.


"Kenapa caraku ini nggak berhasil ke kamu?" tanya Daniel masih memikirkan caranya yang tak berhasil pada Khalisha, "apa kamu punya banyak kenangan buruk?"


"Sudahlah. Nggak usah dibahas," ucap Khalisha mengelak. Ia tak ingin membahas hal-hal yang menyangkut dengan kenangannya, "ngomong-ngomong, kamu bawa aku ke sini cuman mau lempar batu aja?"


Bukannya menjawab pertanyaannya, Daniel malah duduk. Kedua matanya kembali memandangi danau yang tenang. Aneh sekali. Khalisha belum pernah melihat Daniel seperti ini.


"Daniel!" panggilnya pelan.


Daniel menghembuskan napas dengan berat, lalu berkata, "Waktu kecil, papa dan mamaku selalu mengajakku datang ke sini tiap kali aku ulang tahun. Kami biasanya piknik bareng di sini. Mamaku pasti menyiapkan kue kecil dengan satu lilin di atasnya. Aku ingat banget, saat itu kami tertawa bersama. Aku dan papaku sering bertanding lempar batu ke danau. Kata papaku, kalau aku punya kenangan yang ingin aku buang, anggap saja batu yang kulemparkan itu adalah kenangan buruk. Ketika kita melemparnya ke danau, itu berarti kita membuang kenangan buruk kita. Tapi lama-kelamaan, mereka semakin sibuk dengan pekerjaan mereka. Mereka jadi jarang pulang ke rumah, apalagi meluangkan waktunya untukku. Tiap kali aku ulang tahun, aku selalu sendiri. Mereka tak lagi ingat padaku."

__ADS_1


Khalisha tak tahu harus berkata apa. Selama ini ia selalu berpikir kalau orang yang banyak uang pastilah bahagia. Tak pernah terlintas di pikirannya kalau Daniel yang statusnya sebagai anak orang kaya ternyata hidupnya tak sebahagia yang terlihat.


"Tapi sore ini aku senang banget. Kamu tahu nggak kenapa?" tanya Daniel yang membuat Khalisha menggeleng pelan, "karena sore ini aku datang ke sini nggak sendirian."


"Jelas saja kamu ke sininya nggak sendirian, kamu maksa aku ikut," sahut Khalisha agak kesal.


"Mau gimana lagi. Aku maunya kamu yang nemenin di sini," ucap Daniel agak malu.


"Oh ya, kamu tadi bilang kalau kamu datang ke sini tiap ulang tahun, kan?" tanya Khalisha memastikan.


"Ya, memangnya kenapa?" tanya Daniel bingung.


"Berarti seharusnya teman-teman kamu ada di sini dong. Trus kemana mereka sekarang? Kok nggak ada yang samperin kamu di sini?" Khalisha menatap sekelilingnya. Dari sekian banyaknya pengunjung yang datang, tak ada satu pun yang datang menghampiri Daniel.


"Nggak usah celingak-celinguk! Teman-temanku nggak ada yang tahu hari ulang tahunku dan tempat ini," jawabnya santai.


Khalisha kaget mendengarnya. Lagi-lagi ia tak mengerti dengan jalan pikiran Daniel. Setahunya, Daniel mempunyai banyak teman. Akan lebih seru bila ulang tahun dirayakan bersama dengan teman-temannya. Namun, Daniel sama sekali tak memberitahukan tanggal ulang tahunnya kepada teman-temannya. Dia malah memilih untuk merayakannya sendirian.


"Kamu nggak ucapin selamat ulang tahun sama aku. Aku kan sekarang lagi ulang tahun," pinta Daniel.


"Kamu ini aneh deh, Niel. Kamu ini kan lagi ulang tahun, tapi kenapa kamu nggak kasih tahu teman-temanmu? Trus juga ngapain kamu ke sini rayain ulang tahun sendirian?" tanya Khalisha bingung.


"Ya nggak apa-apa. Aku pengennya yang tahu ulang tahunku dan tempat ini adalah orang yang spesial," sahut Daniel menatap lekat Khalisha.


"Terserah kamu saja lah," ucap Khalisha tak mau ambil pusing dengan perkataan Daniel, "tapi, selamat ulang tahun. Maaf, aku nggak kasih kamu apa-apa."


"Nggak apa-apa. Aku udah sangat senang kamu temani aku di sini."


Sore ini adalah sore yang spesial bagi Daniel. Bagaimana tidak. Di hari ulang tahunnya kali ini, ia ditemani oleh seorang gadis yang perlahan-lahan masuk ke hatinya. Walaupun tak ada papa dan mamanya di sisinya, setidaknya rasa kesepiannya sedikit terobati dengan keberadaan Khalisha. Ia tersenyum senang. Ia sangat bersyukur bisa bertemu dengan Khalisha.


***

__ADS_1


__ADS_2