Take My Heart

Take My Heart
ANDROID


__ADS_3

Bel sekolah pertanda masuk kelas sudah berbunyi nyaring sejam yang lalu. Namun, para penghuni kelas tak kunjung masuk ke dalam kelas. Mereka malah berkeliaran di sekitar halaman sekolah. Anehnya, tak seorang pun guru yang menegur dan meminta mereka untuk masuk kelas. Para guru malah terlihat duduk santai di bangku yang ada di depan kantor. Mereka tampak asyik mengobrol. Sesekali, pandangan mereka mengarah ke halaman sekolah.


Mayang menarik tangan Khalisha menuju halaman sekolah. Awalnya Khalisha menolak ajakannya itu dan berencana untuk menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah, namun Mayang terus saja memaksanya dan menarik-narik tangannya. Sikapnya yang seperti itu membuat Khalisha sedikit malu. Mau tak mau, ia pun membiarkan Mayang melakukan apa pun yang diinginkannya.


Di sisi lain, Siska dan Dita semakin tak suka melihat kedekatan antara Mayang dengan Khalisha. Sejak berteman dengan Khalisha, Mayang mulai jarang berkumpul dan pergi bersama mereka. Tiap kali mereka mengajak Mayang, Mayang selalu saja menggunakan berbagai alasan untuk menolak ajakan mereka.


Dari hari ke hari, mereka merasa Mayang semakin jauh dari mereka. Yang terlihat jelas di kedua mata mereka, Mayang selalu saja menempel pada Khalisha. Sikap Mayang yang baru itu sering kali membuat mereka tak mengerti dengan jalan pikiran Mayang. Bisa-bisanya dia berteman dengan cewek kutu buku. Padahal dari segi penampilan, mereka justru jauh lebih baik dari Khalisha. Namun tetap saja, mereka tak mengerti kenapa Mayang lebih memilih Khalisha dari pada mereka, mungkin lebih tepatnya daya tarik yang membuat Mayang tertarik untuk berteman dengannya.


Halaman sekolah telah dipenuhi oleh para murid dari berbagai kelas. Kedua mata mereka tampak bersemangat memandang apa yang ada di tengah halaman. Sesekali mereka bersorak-sorai, memberikan dukungan dan semangat kepada beberapa siswa yang kini sedang berjuang membanggakan nama sekolah.


Seperti tahun-tahun sebelumnya, beberapa sekolah mengadakan pertandingan. Dan untuk beberapa hari ke depan, pertandingan akan berlangsung seru di halaman sekolah. Karena adanya pertandingan itulah, para guru lebih memilih tak mengajar dan membiarkan para muridnya meramaikan suasana selama pertandingan berlangsung.


Pagi ini adalah pertandingan voli putra. Seperti biasa, Daniel, Nathan, Andhika, dan Bayu ikut bermain dalam pertandingan tersebut. Bisa dikatakan kalau mereka adalah bintang dalam setiap pertandingan voli di sekolah. Tiap kali salah satu dari mereka mencetak angka, para siswi bersorak-sorai sambil memanggil nama mereka.


Khalisha dan Mayang agak berdesakkan dengan para siswi yang menonton. Padahal mereka berada di barisan belakang, namun banyaknya murid yang antusias menonton, membuat mereka harus rela berdiri berimpitan. Untung saja mereka mempunyai tubuh yang tinggi, sehingga mereka tak kesulitan untuk menonton jalannya pertandingan.


"Ayo, semangat! Kalian pasti menang!" sorak Mayang.


Yang berdiri di depan Mayang sedikit kesal mendengar sorakan Mayang. Mayang berteriak sangat dekat dengan telinga mereka. Namun, Mayang tampak tak peduli dengan tatapan tajam mereka. Dia terus memberikan semangat kepada para siswa yang sedang bertanding.


"Lis, kamu nggak memberikan dukungan sama mereka?" tanya Mayang menghentikan sorakannya.


"Untuk apa? Aku mendukung atau nggak, nggak ada pengaruh apa pun sama mereka. Lagi pula, sudah banyak yang mendukung mereka di sini," jawab Khalisha dingin.


Mayang tak bisa berkata apa-apa lagi. Pikirannya selalu menjadi kosong bila berbicara dengan Khalisha. Ia menghela napas panjang, lalu kembali bersorak.


Daniel mengatur napasnya yang terengah-engah. Kali ini, timnya mendapatkan lawan yang sulit. Beberapa kali pukulannya berhasil ditangkis oleh lawan, membuatnya sedikit kewalahan. Ia sama sekali tak menyangka tim lawan yang dulu berhasil dikalahkan timnya bisa berkembang dengan sangat cepat. Saat pertandingan hendak dilanjutkan kembali, kedua matanya tak sengaja menangkap sosok Khalisha di antara para siswi yang menonton.


"Apa dia sedang menontonku? Aneh sekali. Kenapa melihatnya saja aku jadi senang begini?" tanyanya dalam hati.


Tanpa sadar, ia tersenyum menatap Khalisha. Hanya saja, para siswi yang berada di depannya menjadi salah sangka. Hal itu tentu saja membuat suasana di halaman sekolah menjadi semakin heboh. Ia bahkan sayup-sayup mendengar sesuatu yang membosankan di telinganya.


"Daniel senyum sama aku," ucap salah satu siswi histeris.


"Bukan kamu, tapi aku. Daniel tadi itu tersenyum sama aku," balas siswi lainnya yang tak terima.


Hampir saja terjadi adu mulut di antara siswi tersebut, namun untunglah ada seorang guru yang kebetulan sedang berjalan menuju ke arah mereka. Mau tak mau, mereka menutup mulut mereka daripada mendapat hukuman dari guru tersebut.


Daniel kembali fokus pada pertandingan. Mengetahui Khalisha menonton pertandingan, semangatnya membara dua kali lipat daripada pertandingan-pertandingan yang ia lakukan sebelumnya. Ia harus bermain bagus dan tentunya memenangkan pertandingan ini. Entah kenapa, ia bertekad untuk membuat Khalisha terkesan pada penampilannya.


***


Pertandingan voli putra akhirnya selesai juga. Semua yang ada di halaman sekolah kembali bersorak-sorai merayakan kemenangan. Keberuntungan kembali berpihak pada tim voli sekolah. Seperti pertandingan-pertandingan sebelumnya, Daniel, Nathan, Andhika, dan Bayu banyak membantu tim sekolah dalam mencetak skor. Walaupun menang, para pemain tim voli putra masih harus berlatih keras dan tak boleh meremehkan lawan. Buktinya saja, mereka hampir kewalahan dalam menghadapi tim lawan dan menang dengan skor yang berbeda tipis.


Setelah saling berjabat tangan, para pemain tim voli putra mulai meninggalkan halaman sekolah. Satu per satu penonton pun mulai membubarkan diri mereka. Begitu pula dengan Mayang dan Khalisha. Mereka pun turut pergi meninggalkan halaman.


"Pertandingan tadi seru ya, Lis. Tim voli sekolah kita menang lagi. Mereka memang keren," puji Mayang senang.


Berbeda dengan Mayang, Khalisha tampak biasa saja. Tak ada komentar ataupun ekspresi yang menunjukkan rasa senang karena sekolahnya kembali menang. Ia terus saja berjalan di samping Mayang, mendengarkan semua pujian yang dia lontarkan untuk para murid yang ikut dalam pertandingan.

__ADS_1


Lorong sekolah kali ini tak sepi seperti hari-hari biasanya. Biasanya pada jam-jam tertentu saja lorong sekolah dipenuhi oleh para murid dari berbagai kelas. Setelah pertandingan selesai, tak semua murid masuk ke kelas mereka. Ada yang pergi ke kantin, mengobrol di depan kelas, bahkan ada juga yang pergi ke perpustakaan sekolah.


Tak terasa Mayang dan Khalisha sudah sampai di depan kelas. Dari pintu kelas yang terbuka lebar, terlihat hanya ada beberapa murid saja yang mengisi kekosongan ruang kelas.


"Lis, aku mau ke kantin. Kamu mau ikut nggak? Tenang aja. Hari ini aku traktir kamu, deh," ajak Mayang.


"Kamu aja. Aku mau masuk," jawab Khalisha menolak. Ia tak terbiasa dengan suasana kantin yang ramai.


"Ya udah, deh. Kalau begitu aku pergi dulu." Walau agak kecewa, Mayang melangkahkan kakinya menuju kantin.


Sepeninggal Mayang, Khalisha hendak melangkah masuk ke dalam kelas. Namun, tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggil namanya, membuatnya tak jadi melangkah masuk ke kelas.


"Hai, Lis!" sapa Daniel yang kini berhenti tepat di hadapan Khalisha.


Yang disapa malah diam saja. Ia malah memasang wajah datarnya. Tanpa sepengetahuannya, kedatangan Daniel membuat pandangan mata beberapa orang di dalam kelas mengarah padanya dan Daniel.


"Bagaimana penampilanku tadi? Bagus nggak?" tanya Daniel dengan sedikit harapan akan mendapat pujian dari Khalisha.


"Bagus," jawab Khalisha singkat.


Daniel terdiam. Melihat ekspresi Khalisha dan jawabannya yang hanya satu kata itu, ada sedikit kekecewaan yang ia rasakan. Sekarang, ia tak tahu ingin bicara apa padanya. Khalisha yang terus saja diam membuatnya harus berpikir cepat agar suasana yang mulai canggung ini tak semakin canggung.


"Emmm... Lis, kue yang dijual nenek kamu sangat enak. Aku suka," ucapnya kembali memulai topik pembicaraan.


"Oh." Lagi-lagi hanya satu kata yang keluar dari mulut Khalisha.


"Lis, aku minta nomor kamu dong. Jadi kalau aku mau beli kue, aku tinggal hubungi kamu aja."


"Aku nggak punya," jawabnya spontan.


Daniel menghela napas panjang, lalu berkata "Aku tahu kamu nggak mau nganggap aku sebagai teman. Tapi masa sih kamu nggak mau kasih nomor kamu. Aku kan mau pesan kue. Susah bila tiba-tiba aku ingin makan tapi nggak ada nomor kamu. Nggak mungkin kan aku cari kamu ke kelas cuman mau pesan."


"Bukannya aku nggak mau kasih, masalahnya aku nggak punya hp," jawabnya. Ia tak ingin orang lain salah paham padanya.


Daniel terdiam dibuatnya. Di zaman yang serba canggih ini, ternyata masih ada orang yang tak mempunyai ponsel. Setahunya, ponsel adalah benda penting yang harus dimiliki oleh semua orang. Tak hanya dimiliki oleh anak-anak sekolah seperti dirinya saja, bahkan penjual mie ayam di kantin sekolah pun memiliki ponsel. Namun yang dilihatnya sekarang, Khalisha tak memilikinya. Ia bahkan sampai salah paham padanya, mengira Khalisha tak mau memberikan nomornya.


Sementara itu, Siska dan Dita yang sedang menuju kelas seketika menghentikan langkah kaki mereka. Mereka sama-sama menatap kaget dengan apa yang ada di hadapan mereka saat ini.


"Itu bukannya Daniel ya, Sis. Dia kok ada di depan kelas kita? Lagi ngomong sama siapa dia?" tanya Dita.


"Iya, ya. Daniel lagi ngomong sama siapa, ya? Tapi dari belakang, tuh cewek kayaknya familiar," jawab Siska tampak berpikir, berusaha mengingat cewek yang sedang mengobrol dengan Daniel.


"Kamu tau siapa tuh cewek?" tanya Dita penasaran.


Tiba-tiba saja Siska menepuk-nepuk pundak Dita, seperti mendapat jawaban dari dalam ingatannya.


"Tuh cewek mirip sama si kutu buku," jawabnya.


"Hah, si kutu buku?! Kamu yakin itu dia?"

__ADS_1


"Yakin banget," jawabnya yakin. Tiba-tiba saja, sebuah ide terlintas di pikirannya. "Gimana kalau kita kerjain dia? Dari yang kudengar, Daniel itu sangat dingin sama cewek dan nggak terlalu suka bila dipegang sama orang lain. Kalau dia megang Daniel, pasti Daniel bakalan marah sama tuh cewek."


"Kamu beneran mau ngerjain dia? Kalau tuh cewek bukan si kutu buku gimana?" tanya Dita ragu.


"Santai aja kali, Dit. Percaya deh sama aku. Si kutu buku atau bukan, aku nggak rela ada cewek yang berhasil deketin Daniel." Dengan percaya diri, Siska kembali melangkah pergi menuju kelas.


Walau tak mengerti dengan apa yang direncanakan Siska, Dita menurut saja. Dia pun melangkah pergi di samping Siska.


Siska yang sudah sampai di belakang Khalisha dengan sengaja menabrakkan dirinya ke tubuh Khalisha. Akibatnya, Khalisha menabrak tubuh Daniel dan membuat Daniel menjatuhkan android di tangannya. Tanpa minta maaf, dia masuk begitu saja ke kelas dan duduk dengan tenang di kursinya. Siska tersenyum sinis menatap Khalisha. Ia sama sekali tak menyangka, ulahnya itu membuat android Daniel terjatuh. Padahal, ia hanya ingin membuat Khalisha jatuh dan memegang Daniel saja.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Daniel sembari membantu Khalisha berdiri tegak.


"Nggak apa-apa. Cuman tadi kayaknya ada yang dorong aku," jawab Khalisha membenarkan posisinya.


Apa yang dikatakan Khalisha memang benar. Jelas sekali ia melihat ada seorang cewek yang sengaja mendorong Khalisha. Entah apa tujuan dari cewek itu melakukannya. Yang paling penting, Khalisha tak terluka sama sekali.


Ia lantas mengambil androidnya di lantai. Ia tekan-tekan tombol daya androidnya. Namun sayangnya, layar tipis itu tetap saja mati.


"Lis, androidku nggak mau nyala. Kayaknya rusak. Gimana, nih?" tanyanya sembari menepuk-nepuk androidnya di tangan.


"Maaf, aku nggak sengaja tadi," sahut Khalisha tetap dengan ekspresi datarnya.


Tiba-tiba saja, sebuah ide terlintas di pikirannya. Seketika itu juga, ia mengubah ekspresi wajanya menjadi dingin.


"Aku nggak mau tau. Kamu harus tanggung jawab. Kamu harus ganti rugi. Belikan aku android yang sama persis seperti ini."


"Kamu tenang aja, aku akan bertanggung jawab. Tapi, androidmu itu kelihatannya mahal. Aku hanya punya sedikit uang untuk menggantinya," ucap Khalisha jujur.


"Aku nggak mau tau. Kamu harus ganti rugi. Kan kamu yang membuat androidku ini rusak. Ini benda penting bagiku." Tatapan mata Daniel tiba-tiba tertarik pada kalung perak yang ada di dada Khalisha. Tangannya lantas meraih kalung itu.


Melihat Daniel meraih kalungnya, Khalisha dengan spontan melindungi kalungnya. Namun, bukannya melepaskan tangannya, Daniel malah menariknya dengan paksa hingga membuat rantai kalung itu lepas.


"Kembalikan padaku," pinta Khalisha ingin mengambil kembali kalungnya, namun Daniel menepis tangannya.


Daniel menatap kalung itu, lalu tersenyum penuh arti. "Nggak akan. Kalung ini aku ambil dulu. Kalau kamu sudah mengganti androidku ini, aku akan mengembalikannya padamu."


Ada kesedihan yang terpancar di mata Khalisha. Mau tak mau, ia harus merelakan kalung kesayangannya itu.


"Aku mengerti. Beri aku waktu untuk mengganti androidmu itu. Tapi tolong, tolong kamu jaga kalung itu baik-baik. Kalung itu satu-satunya hartaku yang tersisa."


Baru pertama kali ia melihat Khalisha seperti itu. Tak tega juga rasanya melihatnya sedih. Sepertinya, kalung ini sangat berharga baginya.


"Kamu tenang aja. Aku akan menyimpan kalung ini dengan baik. Aku kembali ke kelas dulu."


Daniel lantas memasukkan kalung itu ke dalam kantong celananya, lalu berbalik dan pergi meninggalkan Khalisha yang masih berdiri menatapnya. Ia tersenyum puas, seperti memenangkan sebuah undian. Namun tetap saja, ia merasa bersalah karena melakukan hal itu pada Khalisha.


Di sisi lain, Khalisha duduk dengan pikiran yang kacau. Ia tak tahu bagaimana mendapatkan uang untuk mengganti android Daniel yang rusak. Ia masih belum bisa membantu nenek dan kakeknya mencari uang, dan sekarang ia malah harus mengganti rugi atas barang yang dirusaknya. Sepertinya, Allah benar-benar suka memberikan cobaan yang berat padanya.


***

__ADS_1


__ADS_2