
Daniel masih menggenggam erat tangan Khalisha, seakan menyalurkan kekuatannya kepada kekasih pujaannya itu. Walau wajah Khalisha tampak biasa saja, ia tak pernah bisa menebak isi hati Khalisha, apakah dia memang baik-baik saja atau malah sebaliknya.
Mengingat hinaan yang terlontar dari mulut Mikha, hatinya kembali panas. Ingin sekali ia membalas perbuatan Mikha, namun melihat Khalisha yang membujuknya, membuatnya berpikir dua kali untuk membalas orang-orang yang telah menyinggungnya itu. Ia menghela napas. Itulah susahnya memiliki pacar yang terlalu baik, dan untuk itulah ia bersyukur karena dipertemukan dengannya dan bisa memilikinya.
Ia menghentikan langkahnya, membuat Khalisha ikut menghentikan langkah kakinya. Kedua matanya lantas menatap lekat, membuat yang ditatap menjadi salah tingkah.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Khalisha gugup.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Daniel cemas.
Khalisha kini menatap bingung pacarnya itu. "Aku baik-baik aja. Kenapa kamu nanyanya begitu?"
"Kamu beneran baik-baik saja?" tanya Daniel memastikan.
"Ya, aku baik-baik saja. Kenapa, sih?" tanya Khalisha semakin bingung.
"Kamu sama sekali nggak sakit hati sama hinaan orang tadi?" Daniel tak menyebut nama Mikha karena ia sangat muak dengannya.
Khalisha tersenyum kecut. "Bohong kalau aku nggak sakit hati sama ucapannya itu. Tapi kalau aku ikut-ikutan menghina dia, lalu apa bedanya aku sama dia?"
Daniel langsung memeluk Khalisha, berusaha menguatkan kekasihnya itu. Sekarang ia tahu kalau sebenarnya hati Khalisha masih sangat sakit, hanya saja semua rasa sakit itu dia tutupi dengan wajahnya yang datar.
"Aku bukan orang yang suka menghina dan merendahkan orang lain. Aku sadar diri kok. Sampai kapan pun juga, aku tak akan pernah selevel dengan orang-orang yang ada di sini. Mereka semua menilaiku hina karena aku miskin."
"Siapa bilang semua orang di sini memandang hina kamu?" tanya Daniel masih memeluk Khalisha, "aku, Nathan, Andhika, Bayu, dan sahabat kamu Mayang, kami semua nggak pernah memandang rendah kamu, Lis. Kami nggak pernah melihat kamu dari seberapa kayanya kamu. Kami murni berteman dengan kamu karena kamu orang yang baik. Mungkin kalau mereka melihat kejadian di kantin tadi, aku yakin mereka akan marah dan nggak akan tinggal diam melihat kamu dihina seperti itu. Mereka pasti juga akan bangga melihat cara kamu menghadapi Mikha tadi, sama seperti aku yang bangga sama kamu. Kamu tahu, aku sangat bersyukur bisa memiliki pacar sebaik dan kuat sepertimu, Lis."
Khalisha mendongak dan menatap lekat Daniel. Tak ada kebohongan yang terlihat dimatanya.
"Dulu aku selalu merasa kesepian. Walaupun ada Nathan, Andhika, Bayu, dan Bi Nani di rumah, hatiku selalu saja merasa kosong. Kamu tahu kan, papa dan mamaku nggak pernah ada buatku. Mereka lebih memilih pekerjaan mereka daripada aku. Tapi, ketika kamu datang ke dalam hidupku, aku merasa hidupku kembali berwarna. Aku bahagia ketika sedang bersamamu. Tadi kamu bilang kalau jodoh itu ada di tangan Allah kan, mulai saat ini dan seterusnya aku akan berdoa sama Allah agar aku terus dijodohkan sama kamu. Aku nggak mau berpisah sama kamu, Lis. Aku sangat menyayangimu. Belum pernah aku merasakan rasa sayang sebesar ini selain sama kamu," ungkap Daniel tulus.
Khalisha bahagia sekaligus tersipu malu mendengarnya, "Terima kasih karena kamu sudah menyayangiku, Daniel. Aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu. Setelah ayah dan ibuku meninggal, aku takut untuk berteman apalagi punya pacar. Aku takut kehilangan, karena aku tahu rasanya kehilangan itu sangat menyakitkan. Tapi, semua itu berubah karena kamu. Kamu yang merubah pendirianku selama ini."
Sebuah senyuman sontak terukir di bibir Daniel. Bohong bila ia tak bahagia mendengar perkataan Khalisha. Untung saja ia bisa menahan diri dan ingat kalau dirinya sedang berada di sekolah, mungkin saja saat ini ia mencium Khalisha saking gemasnya.
"Wah wah wah, dicariin nggak tahunya ada di sini. Peluk-pelukan lagi," seru Nathan tiba-tiba.
__ADS_1
Khalisha sontak mendorong Daniel. Tak perlu ditanya lagi, wajahnya merah merona saking malunya karena kepergok oleh teman-temannya. Terlihat Nathan, Andhika, Bayu, dan Mayang datang menghampiri. Berbeda dengan Nathan, Andhika, dan Bayu yang tersenyum aneh melihatnya, wajah Mayang malah terlihat cemas.
Berbeda halnya dengan Daniel. Ia malah mendengus kesal melihat kedatangan teman-temannya itu. Jarang sekali ia bisa memeluk Khalisha, namun sayangnya kesenangannya itu malah harus berakhir dengan cepat.
"Percuma aja dari tadi kita cariin mereka. Mereka malah enak-enakan di sini. Cari tempat lain dong kalau mau bermesraan. Nggak kasihan apa sama yang jomblo," sindir Bayu, lalu melirik Andhika.
"Kenapa kamu melihat aku?" tanya Andhika menatap aneh Bayu.
"Cih, nggak nyadar. Makanya Dhik, cepetan cari pacar dong. Biar nggak ngiri sama mereka."
"Siapa bilang aku iri sama mereka? Aku nggak kepikiran punya pacar. Bagiku saat ini sekolah yang terpenting," sahut Andhika tak terima, "lagi pula kenapa cuman aku aja yang kamu sindir, Bay? Tuh yang di samping kamu juga masih jomblo."
Nathan langsung menatap tajam Bayu, "Apa? Mau nyindir aku? Awas kamu, ya."
"Nggak jadi deh," sahut Bayu tertawa kecil.
Mayang menatap lekat Khalisha, "Kamu nggak apa-apa, Lis? Di kantin aku dengar kamu dihina sama salah satu pengagumnya Daniel."
"Aku nggak apa-apa, kok," sahut Khalisha tersenyum menatap sahabatnya itu.
Khalisha tertawa kecil melihat ekspresi Mayang, "Kenapa jadi kamu yang marah?"
"Ya iyalah aku marah. Masa sahabat aku dihina, aku diam aja nggak marah. Aku benar-benar nyesel nggak ikut kamu tadi," sahut Mayang, kemudian menatap tajam Daniel, "kamu juga, Niel. Kenapa kamu diam aja melihat Khalisha dihina. Seharusnya kamu balas perlakuan tuh cewek biar nggak ganggu Khalisha lagi."
"Hei, jangan salahkan aku. Aku udah ingin balas tuh cewek, tapi Khalisha mencegahku. Dia malah nggak mau aku balas kelakuan tuh cewek," sahut Daniel tak terima disalahkan.
Mayang kembali menatap Khalisha, "Kenapa kamu cegah Daniel buat balas tuh cewek? Dia sudah menghina kamu loh, Lis. Kamu nggak boleh diam aja. Kamu harus balas tuh cewek."
"Nggak usah lah, May," tolak Khalisha.
"Kok nggak usah sih, Lis? Dia sudah jahat sama kamu. Kalau kamu diam aja, nanti tuh cewek kelakuannya semakin menjadi. Bukannya minta maaf dan menyesal, yang ada kamu malah dijahatin terus sama dia," sahut Mayang sedikit kesal dengan sahabatnya itu. Ia tahu kalau Khalisha adalah gadis yang baik. Dia pasti tak akan menyimpan dendam pada orang yang telah menyakitinya. Namun, bukan berarti dia harus menerima semua perlakuan jahat orang lain tanpa membalasnya.
Daniel, Nathan, Andhika, dan Bayu tampak memikirkan ucapan Mayang. Mereka sebenarnya sangat setuju dengan Mayang untuk membalas perbuatan Mikha agar kedepannya kejadian tak menyenangkan seperti ini tak terjadi lagi. Namun melihat sifat Khalisha yang terlalu baik, mereka tak yakin bisa melakukannya.
Khalisha menghela napas berat, "Buat apa aku membalas perbuatan dia? Nggak ada untungnya buat aku, May. Hanya buang-buang waktu saja. Lebih baik aku belajar daripada mengurusi dia."
__ADS_1
"Tapi—"
"Jangan gara-gara satu orang membuat kita menjadi orang jahat, May. Kalau aku membalas perbuatan dia, bukannya aku sama jahatnya seperti dia? Lagi pula kalau kita saling balas-membalas, kapan selesainya? Nggak capek apa hidup penuh dendam? Bukannya sadar, dia malah tambah benci sama aku. Jadi, nggak usah ya balas-membalasnya. Aku ingin hidup tenang," potong Khalisha cepat.
Mayang mendengus kesal dan melipat tangannya di dada, "Ya deh ya deh, aku ngalah. Begini ni kalau temenan sama Bu Ustazah."
Khalisha tertawa kecil mendengarnya. Ia merasa lega karena Mayang mau mendengarkan perkataannya.
"Wah, Niel, beruntung banget kamu dapat pacar seperti Khalisha. Iri deh aku. Aku juga mau dapat pacar kayak dia," bisik Nathan dengan tatapan kagum pada Khalisha.
Daniel langsung menatap tajam. Dengan berbisik, ia berkata, "Kamu ngomong apa tadi? Kamu mau aku bikin bonyok?"
Nathan sontak kaget melihat Daniel yang marah, "Santai kali, Niel, santai! Aku cuman kagum aja kok, nggak lebih. Jangan cemburu, ya."
"Kalian berdua kenapa?" tanya Khalisha menatap bingung Daniel dan Nathan.
Mayang, Andhika, dan Bayu sontak mengalihkan pandangannya pada Daniel dan Nathan. Saking fokusnya pada Khalisha dan Mayang, Andhika dan Bayu sampai tak memperhatikan kedua sahabatnya yang berdiri di samping mereka.
"Nggak apa-apa, Lis. Biasa, bercanda," sahut Nathan cepat.
"Oh, bercanda ya. Tapi, Daniel kok kelihatan marah? Kalian nggak lagi bertengkar, kan?" tanya Khalisha.
"Nggak, Lis. Kami nggak bertengkar," jawab Nathan sedikit gugup.
"Beneran?" tanya Khalisha curiga. Ia tadi melihat wajah Daniel yang tampak marah.
Melihat Khalisha yang mulai curiga, Nathan menyenggol Daniel untuk meminta bantuannya meyakinkan Khalisha.
"Nggak kok, Yang. Kami sama sekali nggak bertengkar. Kami memang lagi bercanda. Kalau lagi bercanda, kami memang kelihatan kayak lagi bertengkar," jelas Daniel mengerti kode Nathan.
"Syukurlah kalau begitu, kupikir kalian tadi bertengkar," sahut Khalisha lega.
"Nggak dong, Yang. Ngapain juga kami bertengkar? Kurang kerjaan." Daniel lantas merangkul Khalisha dan tersenyum manis menatapnya.
Mayang, Nathan, Andhika, dan Bayu menatap malas Daniel. Mereka sama-sama merasa bila sikap Daniel sangat berlebihan. Sifat dingin dan kasar yang biasa dia tunjukkan pada orang-orang langsung berubah menjadi perhatian dan manja bila sudah bertemu dengan Khalisha.
__ADS_1
***