
Kedua mata Khalisha terus menatap tiga bahan makanan yang diambilnya dari dalam lemari makanan. Sebatang tempe, dua potong tahu goreng sisa makan malam, dan seikat kangkung yang telah layu, hanya bahan-bahan itu saja yang ada di dalam lemari makanannya. Ia menghela napas berat saat melihat kangkung di atas meja. Jika saja di rumahnya ada kulkas, kangkung yang dibeli neneknya kemarin siang mungkin tak akan selayu ini.
Lama kelamaan menatap bahan makanan itu, membuatnya bingung ingin memasak apa. Apalagi, ia tak terlalu pandai memasak seperti neneknya. Ia tak tahu apakah hasil masakannya nanti akan sesuai dengan lidah nenek dan kakeknya atau malah sebaliknya.
Biasanya neneklah yang menyiapkan sarapan. Namun untuk pagi ini, Khalisha sengaja bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan. Tak mungkin bila ia membiarkan neneknya yang sedang sakit untuk menyiapkan sarapan pagi. Ia tak mau kaki nenek semakin sakit karena terlalu capek mengurus rumah.
Seperti hari-hari biasanya, setelah salat subuh, nenek pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Walau kakinya terasa nyeri, nenek tak bisa lepas begitu saja dari tanggung jawabnya. Menyiapkan sarapan untuk suami dan juga cucunya merupakan salah satu tugasnya di rumah. Namun, saat memasuki dapur, langkahnya seketika terhenti. Kedua matanya menatap kaget.
"Lis, kok kamu ada di sini? Sebaiknya sekarang kamu kembali ke kamar. Biar Nenek saja yang masak."
Khalisha sontak menoleh kaget ke arah pintu dapur. Karena asyik dengan pikirannya sendiri, ia sampai tak menyadari kehadiran neneknya. Ia lantas melangkah menghampiri nenek yang masih berada di ambang pintu.
"Nenek kenapa ada di sini? Seharusnya Nenek itu tidur lagi di kamar. Kaki Nenek kan masih sakit. Biar pagi ini aku saja yang menyiapkan sarapan."
"Tapi, Lis, nanti kamu kelelahan lagi. Pagi ini kamu kan sekolah. Nanti kamu malah terburu-buru lagi."
Khalisha menghela napas. "Bahan makanan yang mau dimasak cuman ada tiga. Kalau dimasak, paling juga dapat dua piring aja. Masak begitu dikit nggak bakalan bikin lelah, apalagi terburu-buru ke sekolah. Jadi, sekarang Nenek kembali ke kamar dan istirahat aja. Urusan sarapan, biar aku aja yang urus."
"Tapi, Lis—"
"Nggak ada tapi-tapian. Nenek istirahat aja di kamar," potong Khalisha cepat.
Nenek menghela napas. Nenek tak bisa berkutik melawan cucunya itu. Apa boleh buat, mau tak mau nenek menuruti apa yang diinginkan oleh Khalisha. Dengan berat hati, nenek pun melangkah pergi kembali ke kamarnya.
Tak terasa jarum jam telah menunjukkan pukul 05.35. Khalisha tak punya banyak waktu untuk pusing memikirkan makanan apa yang harus disajikan pada kakek dan neneknya. Ia harus segera mandi dan bersiap berangkat ke sekolah. Tangannya lantas mengambil tempe dan memotongnya dengan cepat. Masa bodoh dengan hasil masakannya nanti. Yang terpenting, makanan yang dimasaknya bisa dimakan.
***
Jarum jam kini telah menunjukkan pukul 06.30. Khalisha sudah duduk dengan tenang di samping kakek. Suap demi suap nasi, Khalisha lahap dengan santainya. Untung saja yang dimasak cuma sedikit. Jika makanan yang dimasaknya banyak, ia tak bisa membayangkan dirinya yang akan begitu tergesa-gesa menyiapkan semuanya sebelum berangkat ke sekolah. Mungkin juga ia akan terlambat datang ke sekolah.
"Makanannya enak nggak, Kek?" tanya nenek tersenyum senang. Memasak adalah hal yang jarang Khalisha lakukan di rumah. Kegiatan yang sering Khalisha lakukan selain membantunya jualan kue adalah belajar.
"Tentu saja enak. Tapi yang ini lebih enak daripada biasanya," puji kakek, lalu kembali memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
"Jadi maksud Kakek, makanan yang biasa Nenek masak itu nggak enak?" tanya nenek mendengus kesal.
Kakek terbatuk mendngarnya. Tangannya sontak mengambil segelas air dan meneguknya hingga habis. Kedua matanya lantas menatap nenek. Dilihat dari ekspresinya, sepertinya istrinya itu tersinggung dengan ucapan jujurnya tadi.
"Bukan... bukan begitu maksud Kakek, Nek. Bagi Kakek, makanan apa pun yang Nenek masak itu selalu enak." Kakek buru-buru menjelaskan. Tentu saja kakek tak mau istrinya itu semakin marah dan berakhir dengan mengabaikannya.
"Baguslah kalau begitu," ucap nenek puas dengan jawaban kakek, "tapi wajar aja kalau Kakek bilang makanan ini lebih enak. Pagi ini kan yang masak bukan Nenek."
Kakek tak terkejut lagi mendengarnya. Di rumah hanya ada dua perempuan. Kalau bukan istrinya yang memasak, pastilah cucu kesayangannya itu yang memasak.
"Pantasan saja rasanya beda. Masakanmu ini rasanya mirip sekali dengan masakan ibumu, Lis. Kakek nggak nyangka. Nggak cuma wajahmu aja yang mirip sama ibumu, masakanmu juga mirip. Kakek jadi kangen sama ibumu, Lis," puji kakek tersenyum.
Perkataan kakeknya itu membuat pikirannya kembali teringat akan sosok ibunya yang baik. Wajahnya, senyumannya, sikapnya, semua itu terekam jelas di memori otaknya. Ia buru-buru menepis semua itu, berusaha melupakan semua ingatan itu. Suapan terakhir ia makan dengan cepat. Ia ingin segera berangkat ke sekolah untuk menghindar dari perkataan kakek yang akan membuatnya teringat akan masa lalu yang selalu ingin dilupakannya itu.
Khalisha lantas bangkit dari kursinya dan pergi dengan membawa piring dan gelas kotornya. Setelah mencuci piring, ia melangkah dengan cepat menuju kamarnya untuk mengambil tas.
__ADS_1
Kakek dan nenek menatap aneh kepergian Khalisha. Mereka sama-sama merasa kalau sikap Khalisha agak aneh, tepatnya setelah kakek membicarakan ibunya.
"Kakek merasa nggak kalau sikap Khalisha jadi aneh?" tanya nenek berbisik.
"Iya, Nek. Kakek juga merasa begitu. Apa Kakek salah ngomong ya tadi?" sahut kakek bingung.
Tok... tok... tok...
Mendengar suara ketukan pintu, kakek dan nenek menghentikan obrolan mereka. Mereka berdua sama-sama heran. Tak biasanya ada seseorang yang bertamu ke rumah di pagi hari, apalagi pada jam orang-orang berangkat kerja ataupun berangkat ke sekolah. Nenek lantas bangkit dari kursinya. Tak enak rasanya membiarkan tamu di luar menunggu terlalu lama.
"Nenek duduk aja. Biar Kakek yang bukain pintu," cegah kakek.
"Tapi, Kek—"
"Udah, duduk aja. Kaki Nenek kan lagi sakit. Untuk sementara ini, jangan terlalu banyak bergerak. Biar Kakek aja yang bukain pintu," potong kakek, lalu bangkit dan melangkah pergi menuju pintu depan.
Dengan langkah yang terburu-buru, Khalisha menghampiri neneknya yang masih berada di meja makan. Tanpa ia sadari, jarum jam telah menunjukkan pukul 06.40. Ia harus segera berangkat ke sekolah. Jarak antara rumahnya dengan sekolah bisa dibilang cukup jauh. Apalagi, pagi ini ia harus berangkat dengan berjalan kaki, membuatnya membutuhkan lebih banyak waktu untuk bisa sampai ke sekolah. Mau bagaimana lagi. Sepeda yang biasa ia gunakan sedang rusak. Tak ada pilihan lain selain berjalan kaki. Uang yang diberikan neneknya harus bisa ia irit agar bisa digunakan selama beberapa hari ke depan.
"Nek, aku berangkat dulu. Udah telat, nih," ucapnya, lalu mencium punggung tangan nenek. Kedua matanya lantas menatap kursi yang ditempati kakek. Namun, sosok yang dicarinya tak ada di tempat. "Kakek mana, Nek?"
"Kakek ada di depan. Lagi terima tamu," jawab nenek sembari mengambil piring kotor.
"Tamu? Tumben ada tamu. Siapa yang datang?" tanya Khalisha heran.
"Nenek juga nggak tau."
"Kalau gitu aku berangkat ya, Nek." Khalisha lantas melangkah meninggalkan nenek.
"Uang jajan masih ada yang kemarin. Aku juga udah bawa bekal," sahut Khalisha tanpa menghentikan langkahnya.
Nenek menatap sedih kepergian Khalisha. Diusianya yang masih muda, dia tak bisa hidup seperti anak-anak lainnya. Ketika anak-anak lainnya menghambur-hamburkan uang pemberian orang tua mereka, Khalisha malah harus menghemat uang yang diberikannya dan menahan apa pun yang dia inginkan. Dia malah harus pintar mengatur keuangannya yang sedikit. Andai saja dirinya adalah orang kaya, nenek pasti tak akan membiarkan hidup Khalisha susah.
Khalisha yang sedang menuju pintu depan melihat kakeknya berdiri di ambang pintu yang terbuka lebar. Terlihat sangat jelas bila kakeknya itu sedang mengobrol dengan seseorang. Hanya saya, ia tak bisa melihat orang yang sedang berbicara dengan kakek. Rasa penasaran akan tamu itu seketika kembali datang dalam pikirannya.
Tiba-tiba saja kakek membalikkan tubuhnya. Melihat Khalisha sedang berjalan ke arahnya, kakek segera berseru, "Khalisha, cepat kemari! Ini ada temanmu."
Seruan kakek tentu saja membuat Khalisha kaget. Rasa-rasanya, ia tak pernah memberitahukan alamat rumahnya pada siapa pun, termasuk pada Mayang yang saat ini sedang dekat dengannya. Daripada penasaran, ia pun melangkah dengan cepat menghampiri kakek.
Khalisha menatap tak percaya. Seorang cowok yang secara tak langsung adalah majikannya itu tengah berdiri di depan rumahnya. Ia heran sekali dan bertanya di dalam hatinya, "Kenapa dia datang ke sini? Dari mana dia tahu alamat rumahku?"
"Lis, cepat pakai sepatumu! Kalau nggak berangkat sekarang, nanti telat lagi," tegur kakek.
Khalisha sontak memakai sepatunya. Walau tak mengerti apa-apa, ia melakukan apa yang diminta oleh kakeknya itu. Setelah selesai, ia segera bangkit dan mencium punggung tangan kakek.
"Kek, aku mau berangkat ke sekolah."
"Kalian hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut!" ucap kakek mengingatkan, "Daniel, tolong jaga cucu Kakek, ya."
"Ya, Kek. Kakek tenang aja. Aku akan jagain Khalisha," sahut Daniel tersenyum kecil.
__ADS_1
Khalisha kaget mendengar percakapan singkat dari dua lelaki yang berdiri di dekatnya itu.
"Kek, apa maksud Kakek menitipkanmu pada Daniel. Aku bisa menjaga diriku sendiri, kok. Jadi, aku nggak butuh orang lain untuk jaga diriku."
Kakek menghela napas dengan berat. Ada kesedihan yang terpancar di mata kakek. Mungkin karena selama ini Khalisha selalu melakukan apa pun sendirian, sehingga dia tak sedikit pun berpikir untuk mengandalkan orang lain.
Daniel lantas memakaikan helm yang sengaja dibawanya lebih pada Khalisha. "Ayo naik! Nanti telat lagi."
"Maksudmu... aku berangkat ke sekolah sama kamu?" tanya Khalisha bingung.
"Trus menurutmu, ngapain aku jauh-jauh datang ke sini kalau bukan buat jemput kamu," sahut Daniel. Ia lantas mendekatkan wajahnya pada Khalisha, lalu berbisik, "Kamu nggak ada hak buat nolak aku. Ingat! Aku sekarang adalah majikan kamu. Kamu harus nurutin semua keinginanku."
Khalisha menghela napas. Dengan berat hati, ia duduk di motor Daniel. Rasanya agak aneh. Ini pertama kalinya ia berangkat ke sekolah naik motor, apalagi motor mahal seperti motornya Daniel. Tanpa diketahui Khalisha, Daniel tersenyum senang. Tak rugi ia jauh-jauh datang ke rumah Khalisha. Lagi-lagi, keberuntungan berpihak kepadanya.
***
Pagi ini terasa aneh. Sejak turun dari motor Daniel, banyak sekali tatapan mata yang mengarah pada Khalisha, terutama para siswi. Tatapan mereka tentu membuat Khalisha bingung dan juga tak nyaman. Baru kali ini ia merasa tak nyaman berjalan di koridor sekolah.
Khalisha melirik Daniel yang berjalan di sampingnya. Daniel terlihat santai berjalan koridor sekolah. Sepertinya, dia sama sekali tak terpengaruh dengan tatapan mata yang terus mengarah padanya.
Di sisi lain, Daniel melirik ke arah Khalisha. Padahal penampilan Khalisha terlihat biasa saja, tapi entah kenapa kedua matanya sangat betah untuk memandangnya. Agar terlihat meyakinkan sebagai majikan, Daniel melepaskan tasnya dan menyerahkannya dengan paksa ke tangan Khalisha.
"Bawa tasku!" perintahnya.
Khalisha diam saja membawa tas Daniel. Tas Daniel ternyata lumayan berat, membuat tangannya terasa pegal. Sepertinya, banyak sekali buku yang dibawanya.
"Lis, ngomong dong!" pinta Daniel bosan. Ia malas kalau setiap kali bertemu dengan Khalisha, selalu dirinya yang berinisiatif untuk memulai percakapan.
"Ngomong apa?" tanyanya datar.
"Terserah kamu aja. Ngomong apa, kek."
Khalisha berpikir sesaat. Tiba-tiba saja, ia teringat pada beberapa pertanyaan yang mengganjal di hatinya.
"Kamu tahu dari mana rumahku? Perasaan aku nggak pernah memberitahumu alamat rumahku."
Mendengar pertanyaan itu, Daniel menghela napas. Pikirannya kembali teringat di saat ia mengantar Khalisha pulang kemarin. Tak seperti orang lain yang senang ketika diantar pulang olehnya, Khalisha justru sebaliknya. Dia malah terlihat tak senang diantar olehnya. Yang ada, dia malah mendesaknya untuk menurunkannya di jalan. Dengan berat hati, ia menuruti permintaan Khalisha. Sampai saat ini, ia tak mengerti kenapa Khalisha tak mau diantar olehnya sampai ke rumahnya. Namun, karena ia ingin tahu di mana Khalisha tinggal, ia pun diam-diam mengikuti Khalisha sampai ke rumahnya.
"Daniel!" tegur Khalisha menatap aneh.
Daniel sontak tersadar dari lamunanya. "Kenapa, Lis?"
"Kenapa kamu bengong?"
"Nggak kok. Aku nggak bengong. Emangnya ada apa?"
"Kamu masih belum jawab pertanyaanku tadi. Dari mana kamu tahu alamat rumahku?"
"Itu bukan urusanmu. Kamu nggak perlu tahu itu," sahutnya malu. Ia tak ingin ada orang yang tahu akan tindakannya yang menurutnya memalukan itu, terutama Khalisha. Ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Khalisha bila dia tahu kalau dirinya mengikutinya, "udah, ah. Nggak usah banyak ngomong! Bawa aja yang benar tasku! Jangan sampai tasku itu jatuh."
__ADS_1
Khalisha benar-benar bingung dibuatnya. Jelas-jelas Daniel yang memintanya untuk bicara. Belum ada dua menit ia bicara, ia sudah diminta diam. Daripada kepalanya menjadi pusing memikirkan sikap Daniel yang aneh, ia lebih memilih untuk diam dan mengabaikannya. Dengan tas Daniel di tangannya, ia pun berjalan mengikuti Daniel menuju kelasnya.
***