Take My Heart

Take My Heart
PULANG


__ADS_3

Daniel menatap lekat Khalisha yang sudah berdiri di ambang pintu kamarnya. Sebuah tas tampak menggantung di punggungnya. Ia masih tak percaya bila hari hari ini adalah hari di mana Khalisha pergi meninggalkan rumahnya. Waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin Khalisha datang ke rumahnya.


"Daniel!" panggil Khalisha membuyarkan lamunan Daniel.


"Ya, Lis," jawab Daniel lesu.


Khalisha menatap aneh Daniel. Dari tadi ia sudah merasa kalau ada yang berbeda dengan majikannya itu. Entah kenapa, pagi ini Daniel terlihat lesu. Dia terlihat lebih banyak melamun. Bahkan pada saat sarapan pun, Daniel sama sekali tak menghabiskan makanannya.


"Kamu kenapa? Kamu sakit?" tanyanya khawatir.


"Nggak. Aku nggak sakit," jawab Daniel tersenyum kecil.


"Beneran nih nggak sakit? Kamu kelihatan lesu gitu," tanya Khalisha memastikan.


"Beneran. Aku nggak sakit," jawab Daniel meyakinkan.


"Syukurlah kalau kamu nggak kenapa-napa. Ngomong-ngomong, kamu jadi nggak mengantar aku pulang? Kalau nggak bisa antar aku, aku bisa kok pulang sendiri."


"Jangan coba-coba pulang sendiri! Kalau kamu pulang sendirian, aku akan potong gaji kamu," ucap Daniel mengancam. Ia tak mau Khalisha pulang sendirian.


"Ya, baiklah. Aku nggak akan pulang sendiri," jawabnya agak takut. Ia jadi takut kalau Daniel benar-benar memotong gajinya yang tinggal setengah itu.


"Bagus, bagus," sahut Daniel tersenyum pada Khalisha.


Khalisha sudah tak sabar ingin pulang ke rumah. Bagaimanapun juga, sudah seminggu ia tak pulang ke rumah dan hanya satu kali saja ia bertemu dengan kakek dan neneknya, dan itu pun ia bertemu saat di sekolah. Harus ia akui, ia sangat merindukan kakek dan neneknya di rumah. Ia sangat rindu melihat adegan kemesraan yang mereka tampilkan setiap harinya.


"Yuk, jalan! Aku sudah nggak sabar ingin ketemu sama kakek dan nenek," ucap Khalisha bersemangat.


"Kamu yakin mau pulang sekarang?" tanya Daniel memastikan. Sejujurnya, ia sangat berharap Khalisha merubah pikirannya untuk pulang. Berat rasanya melihat Khalisha meninggalkan rumahnya.


"Tentu saja aku yakin. Aku bahkan sudah siap dari tadi. Tapi, kenapa kamu tanyanya begitu?" tanya Khalisha aneh.


"Nggak apa-apa. Cuman ingin tahu aja," jawab Daniel gugup. Ia takut Khalisha akan menjauh darinya bila dia tahu kalau dirinya tak ingin dia pergi.


Daniel menghembuskan napasnya dengan berat. Bila sudah begini, ia sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Tak mungkin ia memaksa Khalisha untuk tetap tinggal di rumahnya. Ia juga sadar akan statusnya yang bukan siapa-siapanya Khalisha. Dengan berat hati, ia mengambil kunci motornya yang tergeletak di atas meja belajarnya, lalu melangkah pergi menuju parkiran rumahnya.


Tanpa banyak bicara, Khalisha mengikuti langkah majikannya itu. Ia benar-benar sudah tak sabar ingin melihat ekspresi kakek dan neneknya saat melihat kedatangannya. Mereka pasti akan merasa senang dan juga rindu seperti yang ia rasakan.


***


Berulang kali nenek menghela napasnya. Kedua matanya menatap malas kue-kue yang berjajar rapi di depannya. Sudah tiga jam lamanya nenek duduk di beranda rumahnya menunggu pembeli datang. Namun, hanya ada beberapa orang saja yang membeli kue buatannya itu.


Sejak Khalisha menginap di rumah Daniel, nenek memutuskan untuk berjualan kue di rumah. Nenek sama sekali tak bersemangat berkeliling menjajakan kuenya. Karena itulah, penghasilannya menjadi menurun. Walau begitu, nenek sama sekali tak peduli.


"Nek, berapa ini semua?" tanya salah satu pembeli sembari menyerahkan kue-kue yang telah dipilihnya.

__ADS_1


Kakek yang baru saja datang segera menghampiri istrinya. Kakek menepuk pelan pundak nenek seraya berkata, "Nek, ada pembeli."


Nenek sontak tersadar dari lamunannya. "Kakek sudah pulang? Kok aku nggak lihat?"


"Gimana mau lihat, kamu kerjaannya melamun terus," jawab kakek menghela napas, "nanti aja kalau mau ngomong. Kamu layani pembeli dulu."


Melihat ada beberapa pembeli yang sedang menunggunya, nenek segera bangkit dan melayani mereka. Kakek yang sedang melihat kelakuan istrinya itu geleng-geleng kepala. Kakek tahu kalau saat ini istrinya itu sedang memikirkan Khalisha.


Setelah para pembeli pergi, nenek kembali duduk. Lagi-lagi, nenek menghela napas. Rasa rindunya benar-benar tak bisa ditahan.


"Kelihatannya kamu sangat merindukan Lisha?" tanya kakek duduk di samping nenek.


"Iya. Aku memang sangat merindukan cucu kita. Aku ingin ketemu sama Lisha," jawab nenek sedih.


Kakek tersenyum kecil menatap nenek, lalu mengelus dengan lembut rambut istrinya itu. "Kalau kamu mau, kita bisa pergi ke rumah Daniel. Kita kan sudah minta alamat rumahnya."


Mendengar hal itu, semangat nenek seketika muncul. "Iya, ya. Kok aku nggak kepikiran, ya. Yuk, kita ke sana sekarang!"


Nenek lantas memasukkan kue-kue yang tersisa ke dalam wadah besar. Mengingat akan bertemu dengan Khalisha, nenek tak henti-hentinya tersenyum. Nenek sudah tak sabar ingin bertemu dengan Khalisha, melepaskan rindu yang sudah nenek tahan beberapa hari ini.


Kakek tersenyum melihat kelakuan istrinya itu. Kakek sangat senang melihat nenek kembali bersemangat. Sejujurnya, bukan nenek saja yang merindukan Khalisha. Walau tak menunjukkannya, dirinya juga sangat merindukan Khalisha. Sesampainya di rumah Daniel, kakek berniat untuk membujuk Daniel agar mau membiarkan Khalisha kembali ke rumah. Tanpa adanya Khalisha di rumah, rumah terasa hampa.


Baru setengah kue-kue dimasukkan ke dalam wadah, kedua mata nenek seketika terfokus pada sebuah motor Kawasaki Ninja hitam yang tiba-tiba berhenti tepat di depan rumahnya. Nenek mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Sebuah senyuman sontak terukir manis di bibirnya.


Kakek yang melihat tingkah nenek lagi-lagi tersenyum dibuatnya. Tak hanya karena tingkah nenek yang terlihat kekanak-kanakan, tapi juga karena cucu kesayangannya itu sudah pulang ke rumah.


Khalisha segera turun dari motor Daniel. Ia buru-buru melepaskan helm milik Daniel dan berjalan dengan cepat menghampiri kakek dan neneknya. Ia sangat senang melihat kakek dan neneknya yang tampak sehat-sehat saja.


Nenek langsung memeluk Khalisha. Rasa rindunya seketika hilang saat melihat Khalisha ada di hadapannya. Namun, Khalisha tak membalas pelukan neneknya. Kedua matanya malah terpaku pada kue-kue dagangan nenek.


"Nenek jualan di rumah?" tanya Khalisha. Yang ia tahu, nenek sangat jarang jualan di rumah. Nenek lebih suka berkeliling daripada menunggu pembeli datang ke rumah.


Nenek segera melepaskan pelukannya. "Iya, Lis. Selama kamu nginap di rumah Nak Daniel, Nenek jualannya di rumah aja. Nenek nggak ada semangat buat jualan keliling."


"Iya, Lis. Kakek juga sama. Kakek nggak bersemangat melakukan pekerjaan Kakek," ucap kakek ikut nimbrung. Sejak tadi kakek belum memeluk cucu kesayangannya itu.


Khalisha menatap sedih. Ia merasa bersalah pada kakek dan neneknya. Jika bukan karena dirinya, mungkin tak ada yang berubah pada kedua orang yang telah membesarkannya itu.


"Maafin Lisha, Nek, Kek. Ini semua salah Lisha."


"Ini semua bukan salah kamu, Lis. Kamu nggak usah merasa bersalah. Nenek dan Kakek nggak pernah menyalahkanmu," ucap nenek tersenyum.


"Betul tuh apa yang dikatakan Nenekmu. Kakek juga nggak pernah menyalahkanmu," sambung kakek.


"Makasih ya, Kek, Nek. Aku menyayangi kalian," ucap Khalisha memeluk kakek dan neneknya.

__ADS_1


Kakek dan nenek sama-sama kaget. Mereka tak percaya akan mendengar secara langsung kata sayang dari mulut Khalisha. Sudah lama mereka menunggu momen yang membahagiakan ini. Sepertinya, tak sia-sia mereka mengizinkan Khalisha menginap di rumah Daniel. Ketika Khalisha pulang, mereka bisa merasakan sedikit perubahan dalam diri Khalisha.


Kakek dan nenek segera melepaskan pelukan mereka. Mereka lantas menatap Daniel yang sejak tadi berdiri memandang mereka. Kakek dan nenek jadi merasa bersalah pada Daniel. Saking asyiknya melepas kerinduan mereka, mereka jadi melupakan Daniel yang telah mengantar Khalisha pulang ke rumah.


"Daniel!" panggil kakek, "ke sini, Nak!"


Mendengar panggilan kakeknya Khalisha, Daniel pun melangkah dengan pelan menghampiri kakek, nenek, dan Khalisha. Sejujurnya, ia merasa sangat canggung berhadapan dengan kakek dan neneknya Khalisha. Ia tak tahu harus bersikap seperti apa di depan mereka.


"Ada apa ya, Kek?"


"Kakek mau bilang terima kasih sama kamu. Kamu udah mau repot-repot mengantar Lisha pulang," ucap kakek tersenyum.


"Kakek nggak usah berterima kasih sama aku. Ini sudah menjadi tanggung jawabku mengantar Khalisha pulang dengan selamat," sahut Daniel lega.


Kakek berpikir sesaat, lebih tepatnya mencari kata-kata yang tepat untuk menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya itu. Kakek tak mau sampai salah bicara dan membuat Daniel menjadi salah paham padanya ataupun tersinggung dengan ucapannya nanti.


"Kek, Nek, Lis, aku pamit dulu," ucap Daniel pamit. Tak enak juga rasanya berlama-lama di rumah Khalisha. Mereka pasti ingin menghabiskan waktu bersama.


"Tunggu sebentar, Nak Daniel," ucap kakek buru-buru mencegah.


"Apa ada ya, Kek?"


"Ada yang ingin Kakek bicarakan. Ini masalah Khalisha," ucap kakek akhirnya, "emmm... begini, Nak Daniel. Kakek mau minta tolong sama kamu."


"Kakek mau minta tolong apa?" tanya Daniel bingung.


"Kakek minta tolong sama kamu untuk tidak membawa Khalisha lagi. Cukup ini saja Khalisha menginap di rumah kamu. Kakek dan Nenek nggak sanggup jauh-jauh dari Lisha. Bisa nggak, Nak Daniel?" pinta kakek dengan wajah memelas.


Daniel benar-benar kaget mendengar permintaan kakek Khalisha. Di satu sisi, ia bisa mengerti akan hal itu. Kakek mana yang bisa tenang membiarkan cucu perempuannya menginap di rumah seorang cowok. Namun di sisi lain, hatinya sangat sedih karena Khalisha tak akan lagi menginap di rumahnya. Ia akan kembali kesepian tanpa teman mengobrol saat malam di rumahnya.


"Nak Daniel, Kakek mohon sama kamu. Jangan bawa Khalisha pergi dari rumah ini. Kalau kamu mau belajar, rumah ini selalu terbuka lebar untukmu. Kamu bisa sesuka hati datang ke sini. Tapi Kakek mohon sama kamu, biarkan Khalisha tetap di sini," ucap kakek memohon.


"Iya, Nak Daniel. Nenek juga mohon sama kamu. Nenek nggak bisa jauh-jauh dari cucu Nenek ini," ucap nenek ikut memohon.


Daniel tersenyum kecut. "Iya, Nek, Kek. Kalian tenang aja. Aku nggak akan bawa Khalisha menginap lagi di rumahku."


Mendengar hal itu, kakek dan nenek bisa bernapas lega. Kebahagiaan tentu saja terpancar di wajah mereka. Mereka tak perlu takut lagi karena Khalisha tak akan pergi lagi dari mereka.


"Terima kasih ya, Nak Daniel," ucap kakek.


"Iya, Nak Daniel. Nenek juga mengucapkan terima kasih sama kamu," ucap nenek tersenyum bahagia.


Bila sudah begini, Daniel tak bisa menggunakan cara yang sama untuk membuat Khalisha berada di sisinya seharian. Tak tega juga rasanya melihat kakek dan nenek Khalisha memohon padanya untuk tidak membawa Khalisha pergi. Apalagi, mengingat umur mereka, tak baik bagi mereka untuk dibiarkan tinggal berdua di rumah. Takutnya, hal-hal yang tak diinginkan malah terjadi di saat Khalisha pergi. Untuk itu, ia tak boleh mementingkan egonya dan membiarkan Khalisha terus berada di sisi mereka.


***

__ADS_1


__ADS_2