
"Baik anak-anak, sampai di sini dulu pelajaran kita hari ini. Jangan lupa PR dikumpul minggu depan!" ucap Bu Nina mengakhiri pelajaran. Bu Nina lantas mengambil tas dan beberapa buku yang tergeletak di atas meja guru, lalu melangkah pergi meninggalkan kelas.
Sepeninggal Bu Nina, suasana kelas yang semula hening seketika menjadi gaduh. Para penghuni kelas buru-buru menyimpan buku mereka dan melakukan kegiatan yang biasa mereka lakukan di saat guru tak ada di kelas. Mengobrol, bernyanyi, main game di ponsel, semua itu mereka lakukan dengan santai. Namun, di antara para penghuni kelas, ada salah satu dari mereka yang terlihat tak senang dengan situasi yang terjadi saat ini. Dia diam membisu di kursinya, menatap bosan pada pemandangan yang selalu dilihatnya setiap hari.
Cuaca di luar terasa panas menyengat. Bila biasanya dia memilih bermain voli di lapangan, untuk hari ini dia merasa malas keluar kelas. Namun sayangnya, banyaknya siswi yang duduk mengerumuninya, membuatnya tak betah berlama-lama berada di kelas. Dia merasa risi dengan keadaan ini. Ingin sekali dia mencari tempat yang tenang dan tentunya sebuah tempat di mana dia bisa bebas dari para cewek.
Cowok itu lantas melirik ke arah Nathan yang duduk di sampingnya. Tak seperti dirinya yang risi, Nathan malah terlihat senang dikelilingi oleh para cewek. Sesekali, Nathan tertawa bersama mereka. Entah apa yang sedang dibicarakan mereka. Rasa bosan membuatnya tak tertarik mendengarkan obrolan seru mereka. Dia mendengus kesal. Bisa-bisanya sahabatnya itu menikmati situasi yang membosankan ini. Sepertinya, setiap hari dikelilingi para cewek tak pernah membuatnya merasa bosan.
"Daniel, aku nonton loh pertandinganmu kemarin. Kamu bagus banget mainnya," puji salah satu cewek yang duduk di dekatnya. Tak lupa pula, sebuah senyuman ia pajang semanis mugkin di bibirnya.
Tak sepatah kata pun keluar dari mulut cowok yang dipanggil Daniel itu. Tak ada senyuman yang terlihat di wajahnya, bahkan sekedar menatap cewek itu pun, dia sama sekali tak mau melakukannya. Sikap Daniel yang lagi-lagi dingin kepadanya tentu saja membuat cewek itu merasa kecewa. Tiga bulan lamanya dia mencoba mendekati Daniel, namun semua yang dilakukannya itu berujung sia-sia. Daniel terus saja mengabaikannya, menganggap dirinya tak pernah ada.
Nathan yang sejak tadi mengobrol dengan para cewek akhirnya melirik ke sampingnya. Ia menghembuskan napas dengan berat. Tak sekali dua kali saja ia melihat Daniel bersikap dingin kepada para cewek, namun sudah berkali-kali. Sudah lama ia berteman dengan Daniel, jadi bisa dipastikan bila ia mengenal seperti apa Daniel. Ia sendiri bahkan sering bertanya-tanya akan sifat Daniel yang begitu dingin pada orang lain, terutama pada cewek.
"Niel, kamu jangan gitu dong sama cewek! Dia kan kemarin sudah bela-belain nonton pertandingan kamu. Bersikap ramahlah dikit sama dia. Jangan kamu cuekin terus orangnya. Anggap saja sebagai tanda terima kasih karena dia sudah menontonmu kemarin," tegur Nathan.
Bukannya menyetujui ucapan sahabatnya itu, Daniel malah menatap tajam pada Nathan. Terlihat jelas sekali bila ia tak suka Nathan ikut campur dalam urusannya, apalagi sampai memintanya untuk merubah sikapnya. Menyebalkan sekali. Ia lantas bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan Nathan dan fans ceweknya begitu saja. Nathan dan cewek-cewek yang duduk di dekat Daniel tentu saja kaget dengan kepergian si empunya kursi, terutama cewek yang bernama Mikha. Bingung dan kecewa, kira-kira itulah yang tergambar di wajahnya saat ini. Bagaimana tidak. Dia sudah berusaha bersikap sebaik dan semanis mungkin di depan Daniel, namun Daniel tetap saja tak menanggapi kehadirannya.
Dua orang cowok yang duduk di belakang Nathan menonton dengan tatapan yang bingung. Andhika dan Bayu, begitulah orang-orang memanggil mereka. Mereka yang asyik mengobrol, tak memperhatikan apa yang terjadi pada kedua sahabatnya itu. Tak biasanya Daniel pergi tanpa Nathan. Sepertinya, mereka berdua sedang bertengkar.
"Than, kenapa tuh Daniel? Kok dia tiba-tiba pergi? Kalian berdua berantem, ya?" bisik Andhika penasaran. Selama ia bersahabat dengan Daniel, Nathan adalah orang yang paling dekat dengan Daniel. Jarang sekali ia melihat Daniel bersikap dingin dan pergi begitu saja tanpa Nathan.
"Iya, Than. Kamu apain tuh anak? Dia nggak pernah loh bersikap seperti itu sama kamu? Kayaknya tuh anak marah banget sama kamu" sambung Bayu yang juga penasaran.
__ADS_1
Nathan menoleh ke belakang, lalu berkata dengan entengnya, "Biasa, Dik, Yu. Dia pasti tersinggung karena aku tegur tadi. Biarin aja dulu. Nanti juga balik lagi."
Andhika membulatkan bibirnya membentuk huruf "o", mulai mengerti dengan apa yang terjadi di antara Nathan dan Daniel.
"Emangnya kamu tegur apa lagi dia? Apa kamu nggak capek menegurnya terus?"
"Mau gimana lagi. Habisnya dia juga sih yang mulai duluan. Kamu lihat cewek yang duduk di sebelah kursi Daniel." Nathan lantas melirik ke arah Mikha, membuat Andhika ikut melirik ke arahnya, "dia tadi mencoba mengobrol sama Daniel. Boro-boro ditanggapin, dia malah diam trus pergi begitu aja. Apa susahnya sih bersikap ramah dikit sama orang? Kalau nggak bisa, seenggaknya kan bisa coba tanggapin kalau orang lagi ajak ngobrol."
"Oh. Kukira apaan tadi. Kamu ini kayak baru kenal aja sama Daniel. Dia kan memang begitu orangnya. Kamu juga sudah sering menegurnya, kan. Lagi pula, dia sudah besar. Sudah SMA. Dia bisa pikir sendiri gimana harus bersikap sama orang lain," ungkap Andhika.
Nathan tersenyum kecil. Yang dikatakan Andhika memang benar. Daniel sudah dewasa. Dia pasti tahu apa yang dilakukannya. Sepertinya, ia terlalu ikut campur dalam pribadinya.
"Benar tuh kata Dhika. Kita semua kan tahu Daniel itu orangnya dingin. Susah diajak bicara. Aku dan Dhika bisa sahabatan sama dia juga karena kamu," timpal Bayu, "trus sekarang gimana? Daniel kalau udah ngambek, susah buat baikinnya."
Satu per satu fans Daniel kembali ke kursi mereka masing-masing. Mereka semua sama-sama kecewa karena sang idola pergi begitu saja. Hal itu pun juga berlaku pada Mikha. Cowok yang disukainya sudah tak ada di dalam kelas. Tak ada lagi alasan baginya untuk berlama-lama duduk di dekat kursi Daniel. Ia juga merasa agak risi pada Nathan. Setelah Nathan mengobrol dengan Andhika dan Bayu, Nathan terus saja menatapnya.
Melihat ekspresi Mikha, Nathan tersadar dari lamunannya, lalu buru-buru berkata, "Maaf, aku pasti sudah membuatmu nggak nyaman."
"Nggak kok," jawabnya singkat. Ia segera bangkit dan mengangkat kursi yang didudukinya untuk dikembalikan ke tempatnya semula.
"Tunggu!" Nathan buru-buru mencegahnya.
Mikha menatap bingung, tak mengerti kenapa Nathan mencegahnya pergi. Rasa-rasanya, ia tak punya masalah dengan siapa pun, termasuk dengan Nathan. Tak pernah sekali pun ia menegur Nathan, walaupun ketika berada di dekat Daniel.
__ADS_1
"Nama kamu Mikha, kan? Tolong maafin sikap Daniel tadi, ya. Dari dulu sikapnya memang gitu sama orang," ucap Nathan tersenyum kecil.
"Aku tahu itu. Daniel selalu seperti itu padaku," ucap Mikha tersenyum kecut. Ia lantas melangkah pergi sambil membawa kursi yang didudukinya. Kecewa rasanya, namun sayangnya tak ada yang bisa ia lakukan. Ia sangat berharap suatu hari nanti, Daniel memberikan padanya sebuah kesempatan.
Daniel, cowok keren yang satu ini memang sangat populer di sekolah. Bagaimana tidak. Wajah yang tampan, tubuh yang atletis, kulitnya yang tak terlalu cokelat, ditambah lagi dia adalah kapten tim voli di sekolah, membuat banyak kaum hawa mengejar-ngejar dirinya. Walaupun sifatnya dingin dan masa bodoh, tak satu pun fans ceweknya yang berpindah haluan mengejar cewek lain. Hanya saja, tak satu pun dari mereka yang berhasil menarik perhatiannya. Padahal, Nathan sebagai sahabat baiknya sudah berkali-kali memperkenalkan cewek cantik padanya. Namun hasilnya tetap saja sama, mereka semua menyerah karena sikap Daniel yang dingin.
Daniel bukan satu-satunya cowok populer di sekolah. Nathan, Andhika, dan Bayu, mereka tak kalah populernya seperti Daniel. Sifat mereka yang ramah kepada semua orang, membuat fans cewek mereka lebih banyak daripada Daniel.
Daniel, Nathan, Andhika, dan Bayu sudah bersahabat sejak SMP. Mereka selalu melakukan apa pun bersama. Berangkat dan pulang bareng dari sekolah, mengobrol di kantin sekolah, bahkan mereka masuk ke dalam tim olahraga yang sama—tim voli. Kebersamaan mereka yang lama tentu saja membuat mereka saling mengenal sifat satu sama lain. Hanya saja diantara mereka, Daniel lebih dekat dengan Nathan. Itulah sebabnya, ketika Daniel marah kepada Nathan, Andhika dan Bayu merasa kaget dan heran.
***
Daniel berjalan dengan gontai seorang diri. Ia biarkan kedua kakinya melangkah tak tentu arah di koridor sekolah. Kedua matanya sesekali melirik ruangan kelas yang pintunya terbuka lebar. Dari luar kelas, ia bisa melihat keseriusan para penghuni di daIamnya dalam mengikuti pelajaran yang diajarkan guru di depan kelas.
Langkah kakinya tiba-tiba berhenti tepat di depan sebuah kelas. Pandangan matanya kini terpaku pada seorang gadis, lebih tepatnya gadis yang berani mengabaikannya.
"Sedang apa kau di sini? Kembali ke kelasmu sekarang!" tegur Bu Lina dari dalam kelas.
Suara Bu Lina membuat Daniel tersadar dari lamunannya. Di tatapnya sebentar Bu Lina, lalu buru-buru melangkah menjauhi kelas tersebut. Daniel tersenyum puas. Ia akhirnya mengetahui di mana kelas gadis itu. Itu artinya, ia bisa leluasa bertemu dengan gadis itu. Entah kenapa, ada banyak ide yang tiba-tiba terlintas di dalam pikirannya. Ia sendiri agak tak percaya dan bingung dengan isi pikirannya itu. Bisa-bisanya ia memikirkan gadis aneh itu.
"Gadis aneh, karena kau sudah berani mengganggu pikiranku, kau tunggu saja nanti. Aku akan kasih kamu pelajaran," batinnya bersemangat.
***
__ADS_1