Take My Heart

Take My Heart
TAK FOKUS


__ADS_3

"Baik anak-anak. Cukup sampai di sini dulu pelajaran kita hari ini. Jangan lupa persiapkan diri kalian minggu depan," ucap Bu Nina mengingatkan. Bu Nina lantas mengambil tas dan buku-bukunya di meja guru, lalu melangkah pergi keluar kelas.


Di rasa sosok Bu Nina sudah tak terlihat lagi, para penghuni kelas buru-buru memasukkan buku-buku mereka ke dalam tas, lalu dengan langkah cepat menuju pintu kelas. Walaupun berdesak-desakkan keluar kelas, mereka terlihat sangat bersemangat. Mereka tampak tak peduli sesaknya saling berimpitan. Sepertinya, mereka sangat lega akan semua pelajaran yang telah berakhir.


Satu per satu penghuni kelas telah meninggalkan ruang kelas. Khalisha masih duduk mematung di kursinya. Buku-bukunya masih dibiarkan tergeletak di atas meja. Pandangan matanya terus mengarah pada papan tulis, namun pikirannya terlihat kosong.


"Kamu nggak pulang, Lis?" tanya Mayang berdiri di depan Khalisha.


Suara Mayang sontak membuyarkan lamunan Khalisha. Ia menatap Mayang sekilas, lalu beralih pada buku-bukunya di atas meja. Satu per satu buku ia masukkan ke dalam tas. Mulutnya tetap saja tertutup rapat, membuat Mayang merasa diabaikan.


"Emm... kita pulang bareng yuk, Lis," ajak Mayang untuk mengisi kekosongan di antara mereka.


Lagi-lagi Mayang dibuat kecewa. Khalisha masih saja tak menanggapi perkataannya. Hanya saja, ia merasa aneh dengan Khalisha. Walaupun ekspresi wajahnya selalu datar, namun sikapnya terlihat sedikit berbeda dari hari-hari biasanya. Ia merasa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Khalisha.


"Lis, kamu nggak apa-apa, kan?" tanyanya hati-hati, "kalau kamu sakit, kamu bilang aja sama aku. Aku akan antar kamu ke rumah sakit."


Perkataan Mayang membuat Khalisha kaget. Pandangan matanya kini beralih pada Mayang. Selama ia sekolah, baru kali ini ada seseorang yang mengkhawatirkannya selain kakek dan neneknya. Walaupun begitu, wajahnya tetap saja datar, seolah-olah tak terjadi apa pun dengan dirinya.


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?"


"Hari ini kamu terlihat berbeda aja dari biasanya," jawab Mayang jujur.


"Beda dari biasanya? Apanya yang berbeda?" tanyanya bingung.


"Aku memang belum lama mengenalmu. Mungkin jika dihitung termasuk hari ini, baru dua minggu. Tapi, sedikit demi sedikit aku mulai terbiasanya dengan sikapmu itu. Ekspresimu itu memang selalu sama setiap hari, tapi aku bisa lihat ada yang berbeda dari diammu hari ini. Diamnya kamu hari ini terlihat seperti ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan," ungkap Mayang yakin.

__ADS_1


Khalisha tercengang dibuatnya. Hebat sekali. Padahal Mayang baru mengenal dirinya, dan itu pun masih tak terlalu dekat, namun Mayang bisa menyadari bila ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya. Baru kali ini ada seseorang yang memperdulikannya di sekolah. Walaupun ia sering mengabaikannya, Mayang tak pernah sedikit pun menjauhinya.


"Kuperhatikan dari pagi tadi kamu nggak fokus sama pelajaran. Tadi waktu ditanya sama Bu Nina, kamu kelihatan banget kagetnya. Kamu yang biasanya nggak seperti ini loh, Lis. Apa pun pertanyaan yang diberikan guru, kamu biasanya tenang saat menjawabnya. Jelas banget kalau kamu tadi lagi melamun," tutur Mayang, "sebenarnya kamu ini kenapa?"


"Aku nggak kenapa-napa," jawab Khalisha.


"Kalau kamu lagi ada masalah, kamu bisa cerita sama aku. Jangan disimpan sendiri. Perasaanmu nanti pasti akan lega," bujuk Mayang.


"Nggak ada yang bisa aku ceritain sama kamu," jawabnya dingin.


Mayang menghela napas dengan berat. Sejak awal ia sudah menebak bila Khalisha tak akan mau bicara akan masalahnya.


"Ya udah, kalau kamu nggak mau cerita," ucapnya menyerah. Kedua matanya lantas menatap seisi kelas. "Pulang yuk, Lis! Kelas kita sudah kosong melompong, nih."


Hanya itu yang bisa ia katakan. Ia tak bisa memaksakan keinginannya pada Khalisha. Susah payah ia mendekatinya, mencoba berteman akrab dengannya. Ia tak mau hubungan yang ia bangun ini hancur begitu saja karena rasa penasarannya itu.


"Lis, kapan-kapan aku main ke rumahmu, ya?" tanyanya, namun sebenarnya tak sungguh-sungguh bertanya. Lebih tepatnya, hanya sekedar mengisi kekosongan di antara mereka sejak tadi.


Khalisha sama sekali tak menanggapi pertanyaan Mayang. Kedua kakinya terus melangkah, namun ia sama sekali tak memperhatikan jalan hingga akhirnya kakinya tersandung batu. Melihat hal itu, Mayang buru-buru menangkap lengan Khalisha agar tak terjatuh.


"Kamu nggak apa-apa, Lis?" tanya Mayang cemas.


"Aku nggak kenapa-napa. Makasih sudah menangkapku."


Mayang kaget mendengarnya. Ini adalah pertama kalinya ia mendengar Khalisha berterima kasih padanya. Tanpa sadar, ia tersenyum senang. Akhirnya, ada sedikit kemajuan dalam hubungan pertemanannya.

__ADS_1


"Sebenarnya kamu ini kenapa sih, Lis? Waktu pelajaran juga kamu melamun terus," tanyanya penasaran.


"Aku lagi cari pekerjaan," jawab Khalisha singkat.


"Cari pekerjaan? Kok tumben cari pekerjaan?"


"Aku lagi butuh duit."


"Butuh duit?! Kok bisa? Emangnya ayahmu nggak kerja?" tanyanya semakin penasaran.


Khalisha tak lagi menjawab. Di balik ekspresi datarnya itu, ada sedikit kesedihan yang terpancar di kedua matanya. Secara tak sadar, pertanyaan Mayang membuat kenangan buruk yang susah payah dilupakannya kembali muncul dalam pikirannya.


"Kenapa, Lis? Apa aku salah ngomong?" tanya Mayang menatap aneh.


"Ayo, pulang!" elaknya kembali melangkahkan kaki.


Walau kebingungan dan dipenuhi rasa penasaran, Mayang ikut melangkahkan kakinya meninggalkan halaman sekolah. Di dalam hatinya, ia merasa tak enak pada Khalisha. Sepertinya, ada ucapan dirinya yang telah menyinggung Khalisha.


Hari ini menjadi hari yang berat bagi Khalisha. Bagaimana tidak. Tak satu pun materi pelajaran yang masuk ke dalam otaknya. Dari awal sampai akhir pelajaran, ia sama sekali tak fokus. Ia bahkan sempat kaget saat mendapatkan pertanyaan dari guru. Ini memang tak seperti gayanya yang biasa. Apa pun masalah yang sedang dihadapinya, ia selalu bisa menempatkan dirinya. Ia selalu bisa memisahkan kapan ia harus memikirkan solusi akan masalahnya, dan kapan harus fokus pada hal-hal yang menjadi masa depannya itu.


Namun untuk kali ini, ia tak bisa memisahkan keduanya. Pembicaraan kakek dan nenek dua hari yang lalu benar-benar mengganggu pikirannya. Sampai saat ini, ia masih belum tahu bagaimana caranya meringankan beban mereka. Apalagi, susahnya dalam mendapatkan pekerjaan, tentu saja membuatnya semakin frustasi.


Memikirkan pembicaraan mereka, membuatnya berpikir kalau ia adalah cucu yang tak berguna. Seharusnya di usia senja, mereka tak perlu bekerja keras. Menikmati waktu berdua di rumah bersama dengan anak dan cucu mereka, itu merupakan hal yang paling tepat untuk dilakukan di usia senja. Namun, yang mereka punya hanyalah dirinya saja. Kakek dan neneknya memperlakukannya layaknya seseorang yang sangat berharga. Tak peduli seberapa lelahnya mereka, walau mereka hanya punya sedikit uang, namun hal itu tak sedikit pun membuat mereka menyerah untuk memberikan yang terbaik padanya. Mereka tak pernah mengeluh ataupun memintanya untuk membantu mereka bekerja.


Khalisha menghela napas dengan berat. Hal yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah belajar dengan giat, mempertahankan peringkat satu yang susah payah ia dapatkan. Walau kakek dan neneknya selalu bilang bangga padanya, namun tetap saja hatinya merasa tak tenang bila tak membantu mereka mencari uang.

__ADS_1


***


__ADS_2