Take My Heart

Take My Heart
MENGINAP DI RUMAH DANIEL


__ADS_3

Suasana di ruang tamu terasa canggung. Baik kakek maupun nenek sama-sama diam menatap Daniel. Mereka tampak kaget dengan apa yang dikatakan olehnya. Di sisi lain, Khalisha duduk tak tenang di dekat mereka. Tak sepatah kata pun berani ia keluarkan dari mulutnya. Namun, kedua matanya terus saja memperhatikan kakek, nenek, dan juga Daniel.


Seperti perkataannya di kantin tadi, Daniel benar-benar datang ke rumah Khalisha. Karena berangkat sekolah ia bersama dengan Khalisha, saat pulang sekolah pun ia harus mengantar pulang Khalisha. Hanya saja, bukannya setelah mengantar Khalisha langsung pulang ke rumah, ia malah bertamu di sana.


Berbeda dengan Khalisha yang tak tenang, Daniel malah terlihat biasa saja. Ia tampak yakin kalau kakek dan nenek Khalisha akan mengizinkan Khalisha untuk menginap di rumahnya. Menurutnya, alasan yang digunakannya itu sangat masuk akal. Jadi, tak ada sedikit pun keraguan yang hinggap di hatinya.


"Apa Kakek nggak salah dengar? Kamu minta Kakek mengizinkan Khalisha nginap di rumah kamu?" tanya kakek tak percaya.


"Iya, Kek. Kakek nggak salah dengar. Seperti yang kukatakan tadi, aku datang ke sini mau minta izin sama Kakek dan Nenek agar memperbolehkan Khalisha buat nginap beberapa hari di rumahku," jelas Daniel.


"Emangnya nggak bisa ya kalau nggak nginap? Kalian kan bisa belajar bersama di sekolah," ucap nenek memberi saran.


"Sebenarnya bisa saja seperti itu, Nek. Kalau aku dan Khalisha sekelas, aku bisa saja meminta Khalisha mengajariku saat jam istirahat kedua. Tapi masalahnya, aku dan Khalisha beda kelas. Apalagi, Khalisha juga nggak ada handphone. Sangat susah untuk mencari Khalisha selain datang ke kelasnya. Kalau Khalisha menginap di rumahku, aku gampang menemui Khalisha kapan pun. Ini untuk sementara aja kok, Nek. Setelah ulangan nanti, aku akan mengantar Khalisha pulang."


"Tapi, masa sih harus menginap? Apa nggak ada cara lain? Kamu kan laki-laki. Apa yang akan dikatakan teman-teman kalian kalau melihat kalian tinggal bersama?" tanya nenek tak rela bila Khalisha meninggalkan dirinya, walaupun hanya untuk beberapa hari saja. Apalagi, dia akan menginap di rumah seorang cowok, itu yang lebih membuatnya tak rela.


"Iya, Daniel. Apa nggak ada cara lain selain menginap di rumah kamu?" tanya kakek sependapat dengan nenek.


Melihat kakek dan nenek Khalisha seperti itu, tak tega juga rasanya bila ia terus memaksakan kehendaknya. Daniel mulai ragu akan keputusannya itu. Ia jadi takut kalau hal ini akan membuat dirinya dipandang jelek oleh kakek dan neneknya Khalisha.


Khalisha menghembuskan napas dengan berat, lalu berkata, "Aku di sana itu bukan hanya untuk membantu Daniel belajar aja, tapi juga bantu bersih-bersih rumahnya. Aku kan sekarang kerja sama dia."


Perkataan Khalisha tentu saja membuat kakek dan nenek terkejut. Mereka sama sekali tak tahu menahu mengenai hal ini. Selama ini Khalisha tak pernah cerita pada mereka. Dia melakukan kegiatan seperti biasanya, seolah-olah tak ada yang terjadi pada dirinya.


"Kamu kerja sama Daniel? Kerja apa? Kenapa kamu nggak bilang sama Kakek?" tanya kakek marah.


"Maaf. Aku lupa memberitahu kalian soal ini," jawab Khalisha merasa bersalah.


"Seharusnya kalau ada apa-apa, kamu cerita sama Kakek dan Nenekmu ini. Kami akan berusaha membantumu, Lis. Jangan diam aja. Trus, kamu kerja apa?"


"Aku kerja jadi pembantunya. Kakek dan Nenek nggak usah khawatir. Yang ditawarkan Daniel sangat menarik. Gaji yang kudapatkan nggak semuanya dipotong untuk mengganti androidnya yang rusak. Aku masih bisa dapat uang," terangnya dengan tenang.


Nenek menatap sedih Khalisha. Sebagai pengganti orang tuanya, nenek tak bisa berbuat banyak untuk cucunya itu.


"Lis, kenapa kamu nggak mau terima uang Nenek? Nenek kan pernah bilang kalau Nenek punya sedikit tabungan. Kamu bisa pakai tabungan itu untuk mengganti handphone Daniel yang rusak. Nggak perlu jadi pembantu begini."


"Iya, Lis. Kamu nggak usah ya kerja. Kakek masih kuat kok kerja. Kakek juga punya sedikit tabungan. Kalau tabungan Kakek dan Nenek digabung, uangnya pasti cukup buat mengganti handphone Daniel," bujuk kakek.


Di dalam hatinya, Khalisha semakin merasa bersalah. Ia telah membuat khawatir dua orang yang telah membesarkannya itu.


"Sebaiknya Kakek dan Nenek simpan aja tabungan kalian. Mungkin suatu saat nanti, Kakek dan Nenek akan membutuhkannya. Mengenai ganti rugi ini, aku sendiri yang harus menggantinya karena ini adalah kesalahanku."


"Tapi, Lis—"


"Kakek dan Nenek tenang aja. Aku hanya seminggu menginap di rumah Daniel. Setelah dia selesai ulangan, aku akan langsung pulang," potongnya cepat.


Kakek menghembuskan napas dengan berat. Tak ada lagi yang bisa kakek lakukan untuk mencegah Khalisha. Begitulah Khalisha. Bila ada kemauan, akan sulit bagi orang lain untuk mengubah pikirannya. Tampaknya Khalisha sudah membulatkan tekadnya. Kakek hanya bisa mengalah dan mendoakannya.

__ADS_1


"Kalau itu memang kemauanmu, Kakek nggak bisa berbuat apa-apa lagi. Kakek mengizinkanmu nginap di rumah Daniel. Tapi, kamu harus baik-baik di sana. Jaga dirimu baik-baik ya, Lis," jawab kakek menyerah.


Nenek menoleh kaget pada kakek. Bisa-bisanya suaminya itu mengizinkan cucu kesayangannya menginap di rumah seorang cowok.


"Apa Kakek gila? Kenapa Kakek membiarkan Khalisha nginap di rumah cowok? Kalau Khalisha nanti kenapa-napa gimana?" tanya nenek kesal.


Kali ini giliran Daniel yang dibuat kaget. Ia benar-benar tak menyangka nenek Khalisha akan berpikir yang tidak-tidak tentangnya.


"Nenek tenang aja. Aku nggak akan berbuat macam-macam pada Khalisha. Lagi pula, aku nggak cuma berdua aja kok dengan Khalisha di rumah. Aku jamin, Khalisha akan baik-baik saja."


"Sudahlah, Nek. Biarkan Khalisha menginap di rumah Daniel. Nenek seperti nggak tau Khalisha aja. Sekali dia menginginkan sesuatu, nggak ada orang lain yang bisa mencegahnya," tutur kakek. Sebenarnya, kakek sendiri masih ragu akan keputusannya itu. Namun, kakek tak punya cara lain untuk mencegah cucunya itu.


Mendengar perkataan suaminya itu, nenek akhirnya menyerah. Dengan berat hati, nenek merelakan Khalisha untuk menginap di rumah Daniel.


"Kamu harus janji sama Nenek. Kamu nggak akan berbuat macam-macam sama Khalisha," ucap nenek menatap tajam Daniel.


"Iya, Nek. Saya janji," sahut Daniel tersenyum kaku.


"Kakek dan Nenek tenang aja. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Kalau begitu, aku siap-siap dulu."


Setelah berkata seperti itu, Khalisha bangkit dan melangkah pergi menuju kamarnya. Ia harus menyiapkan pakaian yang akan dibawanya ke rumah Daniel. Melihat bagaimana ekspresi kakek dan neneknya saat berbicara tadi, tekadnya untuk bekerja dengan Daniel menjadi semakin bulat. Tak ada waktu baginya untuk meragukan keputusannya itu. Ia bukanlah anak orang kaya yang bisa mempunyai banyak uang walaupun kerjaannya hanyalah bermalas-malasan saja. Ia harus rela menghemat uang yang jumlahnya tak seberapa untuk beberapa hari. Menjadi pembantu Daniel memang pilihan yang tepat untuk mendapatkan uang. Ia bisa bekerja sekaligus belajar di sekolah.


***


Jarum jam kini menunjukkan pukul 21.00. Setelah makan malam, Daniel mengajak Khalisha masuk ke kamarnya. Kedua mata Khalisha tampak takjub dengan isi kamar Daniel. Kamar Daniel terlihat sangat luas. Selain televisi, banyak sekali buku-buku yang tertata rapi di rak-rak yang menempel di dinding kamarnya. Tak jauh dari tempat tidurnya, terdapat meja belajar lengkap dengan laptop dan juga printer. Dan yang paling penting, kamar Daniel begitu bersih dan rapi. Sepertinya, cowok yang satu ini sangat suka akan kebersihan.


Seumur hidupnya, ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di tempat sebagus rumah Daniel. Tak pernah sekali pun ia berani membayangkannya. Mungkin bagi orang lain, kamar Daniel terlihat biasa saja. Namun baginya, kamar Daniel adalah kamar idaman.


Khalisha pun segera duduk di samping Daniel. Namun, pikirannya sama sekali tak tertuju pada buku-buku yang tergeletak di lantai. Pikirannya kembali teringat ketika ia baru tiba di rumah Daniel. Rumah Daniel memang besar dan luas, namun suasana di rumah Daniel jauh lebih sepi daripada rumah kecilnya. Ketika ia datang, ia hanya melihat Bi Nani pembantu di rumah Daniel. Ia sama sekali tak melihat ayah, ibu, ataupun saudara Daniel. Bahkan sampai malam pun, ia masih tak melihat mereka.


Daniel menatap Khalisha yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. Mungkin, Khalisha masih keberatan untuk menginap di rumahnya. "Ada apa, Lis? Kamu sakit?"


Khalisha tersentak kaget. Pandangan matanya kembali pada Daniel yang sedang menatapnya bingung. "Nggak. Aku nggak sakit."


"Trus kenapa kamu bengong? Kamu nggak suka ya nginap di rumahku?"


Walau penasaran, Khalisha merasa tak enak bila dirinya bertanya pada Daniel mengenai keluarganya. Itu adalah privasinya, sedangkan dirinya hanyalah orang luar yang mampir ke rumahnya, tak punya hubungan apa pun dengan Daniel. Tentu saja tak baik baginya untuk mencari tahu hal itu.


"Kalau kamu diam, berarti benar dong. Kamu beneran nggak suka nginap di rumahku. Apa kamu ingin kembali ke rumahmu?" ucap Daniel agak kecewa.


"Bukan begitu," sahut Khalisha buru-buru.


"Kalau begitu kenapa, dong?" tanya Daniel penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Khalisha, "ngomong aja, Lis. Nggak apa-apa, kok."


"Dari tadi aku nggak lihat ayah dan ibu kamu. Apa ayah dan ibu kamu masih kerja? Kok mereka belum pulang?"


Daniel tersenyum kecut. Ternyata yang sedang dipikirkan Khalisha adalah ayah dan ibunya. Sudah lama sejak teman-temannya pertama kali datang ke rumahnya, baru kali ini ada orang yang menanyakan keberadaan mereka. Ia tak kaget lagi bila Khalisha menanyakan keberadaan ayah dan ibunya. Ini adalah pertama kalinya Khalisha datang ke rumahnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Apa aku salah ngomong?" tanya Khalisha bingung.


"Nggak kok. Kamu nggak salah ngomong," sahut Daniel cepat, "papa dan mamaku lagi ada di luar kota. Mereka lagi sibuk bekerja di sana. Jadi, mereka jarang ada di rumah."


"Jadi, kamu sering sendirian di rumah?"


"Nggak bisa dibilang begitu juga. Di rumah ini, aku tinggal sama Bi Nani."


"Tinggal berdua sama Bi Nani? Emangnya kamu nggak punya saudara?"


"Nggak. Aku anak tunggal."


Khalisha tak lagi bertanya. Ia kini sudah tahu kenapa rumah yang besar ini terasa sangat sunyi. Bila dipikirkan kembali, ia sungguh sangat beruntung memiliki kakek dan neneknya. Sesibuk apa pun mereka, mereka selalu ingat untuk pulang. Tak pernah sekali pun mereka membiarkan dirinya terlalu lama sendirian di rumah.


"Kamu kok nanyanya papa dan mamaku?"


"Cuma penasaran aja," jawab Khalisha seadanya.


Daniel menatap kaget, lalu tersenyum. Jarang sekali ia melihat Khalisha yang penasaran akan sesuatu. "Tumben kamu penasaran. Biasanya nggak peduli sama sekali. Pasti karena di sini sepi ya, makanya kamu nanyanya begitu. Mohon dimaklumi ya, Lis. Di sini memang selalu seperti ini. Makanya, aku senang ada kamu di sini. Bosan sekali sendirian di sini. Nggak ada yang bisa ku ajak ngobrol. Kalau ngomong sama Bi Nani, pasti topik pembicaraannya tentang harga sayur dan ikan di pasar."


Mendengar perkataan Daniel, Khalisha bisa membayangkan betapa kesepiannya Daniel saat berada di rumahnya. Tak ada saudara yang bisa diajak bertukar pikiran, ayah dan ibunya pun sibuk bekerja, pasti itulah penyebab sifat Daniel yang aneh. Mungkin untuk mencari perhatian orang lain, dia jadi bersikap seperti itu. Walaupun pertanyaan yang dilontarkannya itu sangat wajar, namun entah kenapa ia malah merasa bersalah pada Daniel.


"Maaf." Satu kata itu tiba-tiba saja terlontar dari mulutnya.


"Maaf, kenapa kamu minta maaf?" tanya Daniel bingung.


"Maaf karena aku bertanya seperti itu."


"Ngapain kamu minta maaf. Wajar saja kalau kamu nanyanya begitu. Kamu kan baru pertama kali datang ke rumahku," balasnya tersenyum, "kamu sendiri. Cerita dong tentang ayah dan ibu kamu. Waktu aku datang ke rumah kamu, aku sama sekali nggak melihat mereka."


Lagi-lagi Khalisha tersentak kaget. Mulutnya tertutup rapat. Ia sama sekali tak ingin membicarakan ayah dan ibunya. Rasa sakit seketika memenuhi hatinya. Kenangan yang terlalu menyakitkan baginya.


"Kamu kenapa, Lis?" tanya Daniel bingung melihat Khalisha yang tampak gelisah.


"Aku nggak kenapa-napa," jawabnya sekenanya.


"Beneran nih kamu nggak kenapa-napa? Wajah kamu pucat, loh. Kalau gitu kupanggilkan dokter aja, ya. Kayaknya kamu sakit," ucap Daniel khawatir.


"Nggak usah. Aku beneran nggak kenapa-napa."


Daniel merasa ada yang aneh pada Khalisha. Tadi dia terlihat baik-baik saja, tapi setelah ia bertanya tentang ayah dan ibunya, Khalisha langsung bersikap aneh. Sepertinya, dia tak ingin membicarakan orang tuanya.


"Ngomong-ngomong, kamu belum cerita soal ayah dan ibu kamu. Aku kan sudah cerita soal ayah dan ibuku, sekarang giliran kamu yang cerita. Kan nggak adil kalau aku cerita sendiri," ucap Daniel memancing.


"Bisa nggak kita mulai belajarnya? Nanti kita tidurnya kemalaman," ucap Khalisha mengelak. Ia lantas mengambil salah satu buku di lantai secara acak.


Melihat ekspresi Khalisha seperti itu, Daniel tak lagi bertanya tentang orang tuanya. Pasti ada sesuatu yang terjadi antara Khalisha dengan orang tuanya yang tak ingin diketahui oleh orang lain. Ia lantas mengambil buku seperti yang dilakukan Khalisha.

__ADS_1


Tak terasa malam semakin larut. Baik Daniel maupun Khalisha mulai fokus dengan buku yang ada di tangan mereka. Beberapa kali Daniel bertanya pada Khalisha, Khalisha pun menjelaskannya dengan serius. Hanya saja, lama kelamaan Daniel mulai tak fokus pada apa yang dijelaskan Khalisha. Dia malah diam-diam memandangi Khalisha.


***


__ADS_2