Take My Heart

Take My Heart
BERTEMU LAGI


__ADS_3

Teriknya sinar matahari rupanya tak menyurutkan semangat Khalisha dalam membantu neneknya. Tak diperdulikannya keringat yang mengalir deras di keningnya. Dengan dua keranjang kecil di tangannya, ia terus berjalan tanpa adanya keluh kesah yang keluar dari mulutnya.


Seperti biasa, Khalisha tak pernah membiarkan neneknya sendirian berjalan jauh. Sepulang sekolah, ia memang sering membantu neneknya berjualan kue di jalan-jalan. Tak tega rasanya membiarkan nenek berjalan seorang diri menjajakan kue-kue buatannya. Alhasil, setiap ada waktu luang, ia pasti akan menyempatkan dirinya untuk menemani sang nenek pergi kemana pun.


Sejujurnya, nenek tak tega melihat Khalisha berjalan jauh menemaninya. Seharusnya sekarang waktunya dia beristirahat, atau paling tidak belajar di rumah. Lelah sudah pasti dirasakannya sekarang. Sepulang sekolah sudah harus membantunya mencari nafkah.


"Kita istirahat dulu di sini, Lis," ucap nenek menghentikan langkah kakinya. Nenek lantas duduk di pinggir jalan.


Tanpa berkata apa pun, Khalisha meletakkan keranjang yang dibawanya dan duduk di samping nenek. Kira-kira dua jam ia habiskan di pinggir jalan. Namun, sangat disayangkan, kue yang terjual hanya sedikit.


Kedua matanya lantas melirik ke arah kiri dan kananya. Sepi, hanya kata itu yang ada di benaknya saat ini. Hanya terlihat beberapa orang yang berjalan cepat melintasi gang besar itu. Sangat wajar bila kebanyakan orang memilih untuk menghabiskan waktunya di dalam rumah. Siang hari merupakan waktu yang tepat untuk istirahat. Apalagi, sinar matahari yang menyengat kulit, sudah pasti membuat orang-orang malas untuk keluar rumah. Melihat kesunyiannya itu, membuat Khalisha merasa kalau jalan di gang itu adalah miliknya.


"Lis, kamu haus? Nenek carikan minuman dulu, ya. Kamu tunggu di sini!"


Nenek lantas berdiri dan hendak melangkahkan kakinya mencari warung terdekat. Namun, langkahnya terhenti karena tangannya tiba-tiba dipegang oleh Khalisha.


"Nenek duduk aja di sini. Biar aku saja yang beli minum," ucap Khalisha mencegah.


"Tapi, Lis. Kamu kan sudah capek. Seharusnya habis pulang sekolah tadi, kamu itu istirahat di rumah. Kamu nggak perlu ikut Nenek jualan keliling begini. Jadi, biar Nenek aja yang beli minumnya," bujuk nenek.


"Nggak apa-apa, Nek. Aku sekalian mau jalan-jalan di sekitar sini. Bosan nunggu pembeli yang nggak datang-datang," balasnya beralasan.


Nenek berpikir sesaat. Kedua matanya lantas memandang sekelilingnya. Nenek akhirnya menyerah. Wajar saja bila Khalisha merasa bosan. Sejak tadi, tak ada satu pun yang membeli kue jualannya di sini.


"Ya udah kalau kamu maunya gitu. Tapi, kamu harus cepat kembali, ya. Hati-hati!"


Khalisha lantas bangkit dan melangkah pergi meninggalkan neneknya. Sebenarnya, ia sendiri tak tega meninggalkan neneknya sendirian. Namun, daripada membiarkan neneknya kehausan dan berjalan lagi mencari warung, lebih baik dirinya saja yang melakukannya.


Rumah-rumah di gang besar itu rata-rata terlihat bagus dan luas. Hampir semua rumah memiliki halaman depan yang dipenuhi dengan bunga-bunga indah di sana. Hanya saja, dari setiap rumah yang dilewatinya, tak terlihat seorang pun berada di beranda rumah. Hal itu membuatnya menjadi salah satu alasan untuk segera pergi ke tempat yang lain.


Ia lantas mempercepat langkah kakinya saat melihat sebuah warung. Ia harus segera kembali, lebih tepatnya tak ingin membuat neneknya menunggu terlalu lama. Hanya saja, hal yang tak terduga kembali terjadi dalam hidupnya. Entah ini adalah takdir atau hanya kebetulan saja. Tak di sekolah, di luar kafe, bahkan di gang besar ini, lagi-lagi ia dipertemukan dengan Daniel.


"Loh, kita ketemu lagi," sapa Daniel agak kaget melihat Khalisha yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


Yang disapa malah menatap dingin, lalu pergi begitu saja menuju deretan botol-botol minuman yang tersusun rapi. Daniel menatap kesal. Untuk kesekian kalinya, ia diabaikan begitu saja. Ia pun buru-buru mengambil beberapa makanan ringan, lalu melangkah dengan cepat menghampiri Khalisha.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanyanya mencoba memulai percakapan.


"Apa kamu nggak lihat kalau aku sedang cari minuman?" sahutnya ketus. Ia lantas mengambil sebotol air mineral.


Daniel menghela napas, lalu berkata, "Bukan itu maksudku."


Khalisha sama sekali tak melihat ke arah Daniel yang tampak kebingungan. Dengan botol air mineral di tangannya, ia kembali melangkah melewati Daniel dan menuju ke meja pemilik warung.


Bukan Daniel namanya bila ia menyerah begitu saja. Ia pun ikut menghampiri pemilik warung untuk membayar semua belanjaannya. Dengan percaya diri, ia menyerahkan selembar uang seratus ribu pada pemilik warung.


"Punyanya aku aja yang bayar, Bu," ucap Daniel ramah.


"Nggak usah," ucap Khalisha menolak. Ia lantas mengeluarkan uang sepuluh ribu, lalu berkata, "Bu, saya bayar punya saya ini."


"Kenapa kamu nggak mau aku bayarin?" tanyanya tak mengerti. Biasanya teman-temannya sangat suka bila ia mentraktir makanan atau minuman, namun cewek yang satu ini malah menolaknya mentah-mentah.


"Aku masih sanggup bayar yang ini," balas Khalisha dingin.

__ADS_1


"Kalian berdua, ini bayarnya pakai uang yang mana?" tanya Ibu pemilik warung memotong percakapan mereka.


"Pakai uang saya aja, Bu."


Ibu pemilik warung lantas mengambil uang Khalisha. Tak butuh waktu lama baginya untuk menyerahkan beberapa lembar uang kembaliannya. Dengan cepat, ia mengambil uang tersebut dan bergegas pergi meninggalkan warung. Takutnya bila ia tak kembali secepatnya, nenek akan merasa khawatir dan akan pergi mencarinya.


"Hei, Lis, kamu mau kemana?" seru Daniel memandang Khalisha yang berjalan dengan cepat. Ia buru-buru meletakkan makanan ringan yang dipilihnya di atas meja sang pemilik warung.


Khalisha sama sekali tak menggubris seruan Daniel. Ia terus saja berjalan dengan cepat. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah kembali secepatnya ke tempat neneknya duduk menunggu kedatangannya.


Melihat sosok Khalisha yang baru keluar dari warung, Daniel jadi panik sendiri. Ia ingin menyusul Khalisha, lebih tepatnya ingin mengetahui kemana lagi Khalisha pergi.


"Bu, cepetan bungkus semua punya saya ini! Saya buru-buru."


Ibu pemilik warung pun segera menghitung dan memasukkan semua makanan ringan yang diambil Daniel ke dalam kantong plastik, lalu menyerahkannya kepada Daniel.


"Semuanya jadi—"


"Ini Bu uangnya," potong Daniel menyerahkan uang seratus ribu tadi. Dengan cepat, ia mengambil kantong plastik tersebut dan bergegas pergi menyusul Khalisha.


"Tunggu dulu, Nak! Kembaliannya!" teriak Ibu pemilik warung yang tak lagi didengar oleh Daniel. Ibu pemilik warung menghela napas, lalu bergumam, "Anak muda zaman sekarang, tingkahnya kok pada aneh-aneh?"


Sementara itu, Khalisha akhirnya menghentikan langkah kakinya. Tanpa berkata apa pun, ia membuka tutup botol air mineral yang dibelinya dan menyerahkannya pada neneknya yang duduk menunggu pembeli.


"Kamu belinya kok cuma satu aja, Lis?" tanya nenek tak lantas mengambil begitu saja air yang dibeli oleh cucunya itu.


"Uangnya nggak cukup kalau aku beli dua," terangnya singkat, "Nenek minum aja dulu!"


"Trus kamu gimana? Kamu kan juga haus," tanya nenek merasa bersalah.


Mau tak mau, nenek mengambil minuman dari tangan Khalisha dan meneguknya dengan pelan hingga menyisakan setengah botol. Nenek lantas menyerahkannya kembali pada Khalisha.


"Kamu habiskan aja, Lis! Nenek sudah nggak haus."


Dan lagi-lagi, tanpa berkata apa pun, Khalisha langsung mengambil botol air tersebut. Tak bisa ia sangkal, teguk demi teguk air memberikan kesegaran pada tenggorokannya yang kering.


Daniel yang terus berlari kecil akhirnya berhenti juga. Dengan napas yang terengah-engah, ia menemukan sosok yang tengah dicarinya itu. Khalisha terlihat sedang bersama dengan seorang wanita tua. Ia tak tahu ada hubungan apa antara Khalisha dengan wanita tua tersebut. Daripada penasaran dan tak mau lari kecilnya tadi menjadi sia-sia, ia pun memutuskan untuk menghampiri Khalisha.


"Kuenya, Dek?" tawar nenek ketika melihat Daniel datang mendekat.


Tak seperti nenek yang tampak berharap, Khalisha justru menatap malas.


"Kamu lagi, kamu lagi. Ngapain kamu ke sini?"


"Gitu amat sih, Lis. Aku kan baru nyampe," sahut Daniel cemberut.


"Siapa dia, Lis? Teman kamu?" tanya nenek menatap bergantian.


"Iya, Nek. Saya temannya Khalisha. Nama saya Daniel," ucap Daniel memperkenalkan diri.


"Jangan ngomong sembarangan kamu! Sejak kapan aku berteman sama kamu?" balas Khalisha dingin.


Nenek yang sejak tadi melihat mereka, menghela napas lega. Senang rasanya mengetahui Khalisha mau berteman dengan orang lain. Walaupun Khalisha masih dingin padanya dan tak mau mengakuinya sebagai teman dihadapannya, setidaknya ia tahu bila ada seseorang yang mau menemani Khalisha selain dirinya dan suaminya.

__ADS_1


"Tega banget sih kamu ngomongnya begitu. Kita kan sudah beberapa kali ketemu, masa nggak nganggap aku sebagai teman," balas Daniel.


Setelah berkata seperti itu, ia merasa bingung sendiri. Ia tak tahu kenapa saat bersama dengan Khalisha, sifatnya yang seharusnya dingin langsung berubah. Padahal sebelumnya, ia tak pernah bersikap seperti itu pada orang lain, termasuk pada orang tua dan sahabatnya sendiri.


Nenek tersenyum melihat sikap Daniel pada Khalisha, lalu berkata, "Teman kamu itu benar loh, Lis. Kamu jangan bersikap seperti itu."


"Tuh, dengerin apa kata Nenek kamu. Kamu harus perlakukan aku dengan baik."


Khalisha menatap kesal pada Daniel. Cowok yang ada disampingnya itu memang tak punya kerjaan lain selain mengganggunya. Ia tak bisa mengerti dengan jalan pikiran Daniel. Dari sekian banyak orang, hanya dirinya saja yang terus diganggunya. Dia bahkan sampai mengikutinya dari warung hingga ke tempat neneknya berada.


Kedua mata Daniel tiba-tiba terpaku pada dua keranjang kecil di hadapan nenek Khalisha.


"Kalian jualan kue?" tanya Daniel penasaran.


"Iya. Ini jualan Nenek dan Khalisha," sahut nenek ramah.


"Kalau gitu aku beli ya, Nek. Boleh, kan?"


"Bukannya kamu udah beli makanan ringan di warung? Kok mau beli kue lagi?" potong Khalisha.


"Emangnya kenapa kalau aku udah beli makanan ringan? Kue kalian kelihatannya enak. Aku mau." Daniel lantas mengambil uang di kantong celananya dan menyerahkannya pada nenek.


"Besar banget uangnya. Emangnya kamu mau beli berapa?" tanya nenek.


"Semua uang ini aku beli kue Nenek dapat berapa banyak?" tanya Daniel yang membuat nenek dan Khalisha kaget.


"Semuanya?! Nggak salah? Kamu lagi ada acara apa?"


"Aku nggak ada acara apa-apa," sahut Daniel spontan.


"Jangan bilang kalau kamu mau makan semua kue ini sendirian," tebak Khalisha.


"Iya. Aku kan sendirian di rumah. Jadi ya kuenya kumakan sendiri," jawab Daniel dengan entengnya.


"Kamu gila ya mau makan kue sebanyak ini sendirian? Bisa-bisa kamu sakit perut nanti. Lagi pula, kue ini kalau disimpan semalaman, rasanya nggak akan seenak ketika baru dibeli. Kue yang kami jual bukan kue kering dan tahan lama," terang Khalisha tak habis pikir dengan Daniel.


Nenek menatap kaget. Untuk pertama kalinya nenek melihat Khalisha memperhatikan orang lain. Biasanya, Khalisha acuh tak acuh pada orang lain. Selain ekspresi datar dan marah ketika dirinya tak sengaja menyebut kata mawar, tak ada ekspresi lain yang terlihat di wajah Khalisha. Melihat Khalisha seperti itu tentu membuat harapannya besar pada anak laki-laki di hadapannya itu. Ia sangat berharap kalau anak laki-laki itu bisa membuat Khalisha berubah seperti dulu lagi.


Nenek lantas mengambil beberapa kue jualannya dan memasukkannya ke dalam kantong plastik.


"Kamu bawa ini aja dulu. Kalau kamu suka, kamu bisa beli nanti sama Nenek. Kamu juga bisa pesan sama Khalisha. Kalian satu sekolah, kan?" ucap nenek sembari menyerahkan kantong plastik kecil.


"Iya, Nek. Aku satu sekolah sama Khalisha," sahut Daniel lantas mengambil kantong plastik tersebut. Tangannya yang masih memegang uang seratus ribu, kembali ia serahkan pada nenek.


"Nggak usah. Untuk hari ini, gratis buat kamu."


"Tapi, Nek—"


"Nggak apa-apa. Anggap aja itu sebagai rasa terima kasih Nenek karena kamu sudah mau berteman dengan cucu Nenek ini," potong nenek tersenyum senang.


"Terima kasih, Nek. Nanti kalau aku pengen, aku pesan lewat Khalisha aja ya, Nek. Jadi, Nenek nggak usah repot-repot ke sini."


Entah kenapa, Daniel merasa senang. Akhirnya, ia mempunyai alasan untuk menemui Khalisha di sekolah. Susah sekali baginya untuk bertemu, apalagi mengobrol dengannya. Bila dipikirkan kembali, biasanya dirinya yang dikejar-kejar oleh para cewek. Mengajaknya mengobrol, menonton pertandingannya, apa pun itu dilakukan para cewek untuk bisa dekat dengannya. Namun, sekarang malah kebalikannya. Ia merasa kalau dirinyalah yang sedang mengejar-ngejar Khalisha. Mungkin saja, itu adalah karma karena selama ini ia selalu mengabaikan para cewek yang berusaha mendekatinya.

__ADS_1


***


__ADS_2