
Kedua mata Daniel terus memandang sekelilingnya. Bila ia bandingkan dengan dapur di rumahnya, ruangan di mana ia berada sekarang sudah jelas tak ada apa-apanya. Dapur di rumah Khalisha terlihat sangat sederhana. Hanya ada sebuah lemari dan rak kecil, serta sebuah kompor minyak dan kompor kayu. Tak ada kulkas, dan tempat untuk mencuci peralatan dapur pun hanya disediakan sebuah bak besar.
"Nak Daniel, ayo dimakan! Maaf ya, Nak Daniel, makanannya cuman ini," ucap nenek mempersilahkan Daniel makan.
Daniel sontak menatap nenek. Dengan tersenyum, ia berkata, "Nggak apa-apa, Nek. Ini aja sudah cukup."
"Tumben Nenek masak banyak?" tanya Khalisha sembari mengambil nasi.
Daniel yang hendak mengambil nasi agak kaget mendengar pertanyaan Khalisha. Dilihatnya makanan yang ada di meja. Sayur bening, ikan goreng, dan sambal goreng tempe, itulah yang tersedia di meja makan. Hanya tiga lauk makan saja, Khalisha bilang banyak. Pikirannya mulai menerka-nerka kalau selama ini lauk makanan yang dimasak hanya satu piring. Sungguh berbanding terbalik dengannya. Walaupun di meja makan yang makan hanya dirinya saja, namun Bi Nani selalu memasak banyak makanan.
"Ya mumpung ada rezekinya, Lis. Akhir-akhir ini kan jualan kuenya laku terus," ungkap nenek senang. Nenek lantas mengambil nasi dan lauk pauk untuk suami tercintanya.
"Alhamdulillah ya, Nek, Lis, kita diberi rezeki lebih oleh Allah. Jangan lupa ditabung, nanti sisanya kita sedekehkan ke masjid," ucap kakek, lalu mulai memasukkan makanannya ke dalam mulutnya.
"Ya, Kek," sahut nenek dan Khalisha serempak.
Khalisha lantas memasukkan makanannya ke dalam mulutnya. Suap demi suap nasi mulai memberikan kelegaan pada perutnya yang kosong. Rasa lelah memang terasa setelah bekerja, walaupun itu hanya sejam dua jam saja. Memang pas rasanya bila setelah bekerja langsung makan.
Ia melirik ke arah Daniel. Kedua matanya membelalak. Daniel terlihat sangat lahap memakan makanannya. Ketika ia berada di rumah Daniel, Daniel makan tak selahap itu, padahal makanan yang dimasak Bi Nani sangat enak.
Tak hanya Khalisha saja yang membelalakkan matanya, nenek dan kakek pun ikut membelalakkan mata mereka. Mereka sama sekali tak menyangka Daniel yang tergolong anak orang kaya bisa makan makanan sedehana dengan lahapnya.
"Nak Daniel, pelan-pelan makannya! Masih banyak kok makanannya," tegur nenek sangat senang karena makanan yang dibuatnya dimakan dengan lahap.
Mendengar perkataan nenek Khalisha, Daniel sontak terbatuk. Buru-buru ia menuangkan air ke dalam gelas dan meneguknya hingga habis. Kedua matanya tak sengaja menatap nenek, kakek, dan Khalisha. Mereka semua sama-sama sedang menatapnya, membuatnya menjadi malu. Saking asyiknya makan, ia sampai lupa bersikap sopan di hadapan kakek, nenek, dan juga Khalisha. Padahal makanan yang sedang dimakannya saat ini sangatlah sederhana, tapi entah kenapa rasanya begitu enak dari makanan yang pernah dimakannya. Mungkin karena suasananya yang begitu hangat, suasana yang tak pernah ia dapatkan di rumahnya.
"Makanya, pelan-pelan dong makannya. Kan makanannya masih banyak. Kami juga nggak akan menghabiskan semua lauknya," ejek Khalisha.
Daniel hanya bisa tersenyum menatap Khalisha. Ia benar-benar malu dengan sikapnya tadi.
__ADS_1
"Lis, jangan ngomong begitu dong sama Nak Daniel! Nenek malah senang. Akhirnya, ada yang lahap makan masakan Nenek. Itu artinya kan makanan yang Nenek buat enak," ucap nenek membela Daniel.
"Bener tuh kata Nenek kamu, Lis. Kamu jangan ngomong begitu sama Nak Daniel! Nak Daniel makan seperti itu, artinya kan Nak Daniel sangat suka sama masakan Nenek kamu. Akhirnya ya, ada yang mengakui kalau masakan Nenek kamu itu enak," ucap kakek ikut mengejek Daniel dan istrinya.
Nenek merengut mendengarnya. Suaminya itu memang suka bercanda dan mengejek pada orang yang sangat akrab dengannya, terutama mengejek masakannya. Namun untuk Khalisha, baru kali ini dirinya mendengar Khalisha mengejek orang lain.
"O ya, Nenek sampai lupa. Hubungan kalian berdua sudah sampai mana? Sudah pacaran atau masih temenan?"
Khalisha sontak terbatuk mendengar pertanyaan neneknya, sedangkan Daniel tampak biasa saja. Daniel segera menuangkan air dan menyodorkannya kepada Khalisha. Khalisha pun langsung meminum air yang diberikan Daniel.
Ketika Daniel kembali pada makanannya, Daniel menatap aneh pada dua orang yang duduk di depannya itu. Baik kakek maupun nenek Khalisha sama-sama menatapnya dengan tatapan yang aneh.
"Ini Kakek dan Nenek Khalisha kok aneh banget? Lihatin aku lagi. Apa ada yang salah ya dari aku? Tapi mereka kompak banget. Tadi Kakeknya yang tanya begitu, sekarang malah Neneknya," ungkapnya dalam hati.
"Makanya, Lis, jangan mengejek orang. Sekarang gantian kan kamu yang keselek," tegur nenek.
"Kalian belum jawab pertanyaan Nenek. Hubungan kalian berdua sudah sampai di mana? Sudah pacaran atau masih temenan?" tanya nenek kembali dengan antusias.
"Nenek kok nanyanya begitu?" tanya Khalisha malu. Ia sama sekali tak menyangka neneknya akan bertanya seperti itu di hadapan Daniel.
"Kenapa Nenek nggak boleh tanya begitu?" tanya nenek dengan wajah yang cemberut, "kamu sadar nggak, Lis, selama ini Nenek nggak pernah bertemu dengan satu pun teman kamu. Sekali temanmu datang ke rumah, ternyata dia cowok. Wajar kan Nenek nanyanya begitu."
Daniel membelalakkan kedua matanya. "Ada cowok lain yang pernah datang ke sini, Nek?"
"Cowok lain? Siapa?" tanya nenek bingung.
"Loh, tadi Nenek bilang teman Khalisha yang datang ke rumah ini seorang cowok," tanya Daniel penasaran dan juga agak cemburu. Ia tak menyangka ada orang lain yang lebih dulu datang ke rumah Khalisha.
"Oh itu. Kan kamu teman cowok pertama Khalisha yang datang ke rumah," jawab nenek santai.
__ADS_1
Mendengar jawaban nenek, Daniel menghela napas lega. Namun beberapa detik kemudian, ia tersenyum. Hatinya tentu saja merasa bahagia setelah mengetahu bahwa dirinyalah cowok pertama yang datang ke rumah Khalisha.
"Nenek, jangan ngomong sembarangan dong! Aku kan malu, Nek," protes Khalisha.
"Kenapa harus malu?" nenek lantas mengalihkan tatapannya pada suaminya, "coba kamu lihat Kakekmu, Lis. Kakekmu santai-santai aja dengan omongan Nenek."
Kakek yang terkejut namanya disebut-sebut sontak bertanya, "Kenapa Kakek dibawa-bawa?"
"Kamu kan Kakeknya Khalisha. Kamu juga setuju kan kalau Khalisha pacaran sama Nak Daniel?" tanya nenek yang membuat Khalisha semakin malu.
"Nenek, sudah dong ngomongnya! Jangan diteruskan lagi!" pinta Khalisha semakin malu.
Daniel tersenyum memandang Khalisha. Wajah Khalisha yang malu membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Mungkin kalau diijinkan, ia akan langsung mencubit pipinya.
"Jadi Nenek dan Kakek setuju kalau aku pacaran sama Khalisha?" tanyanya memastikan pendengarannya.
"Tentu saja setuju. Nenek lihat kamu anaknya baik, perhatian lagi sama Khalisha," balas nenek.
Daniel yang mendengarnya tentu saja semakin bahagia. Ia tak menyangka akan mendapatkan restu secara mudah dari keluarga Khalisha.
"Tapi ingat ya, Nak Daniel! Walaupun kami setuju Khalisha pacaran sama kamu, kami nggak akan tinggal diam kalau kamu menyakiti Khalisha," ucap kakek dengan tegas.
"Kakek dan Nenek tenang aja. Aku akan berusaha membuat Khalisha bahagia," ucap Daniel tulus. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membuat Khalisha sedih dan selalu membuat Khalisha bahagia.
"Kami pegang omonganmu itu," ucap kakek tersenyum.
Khalisha yang mendengarnya mendengus kesal sekaligus malu. Ia tak menyangka makan siangnya akan diiringi dengan pembicaraan mengenai hubungannya dengan Daniel. Walau sampai saat ini ia masih belum sepenuhnya terbuka pada Daniel, ia senang karena kakek dan neneknya mau menerima Daniel. Terlepas apakah itu sebagai pacar atau teman, ia berharap sikap kakek dan neneknya tak akan berubah pada Daniel.
***
__ADS_1