
Tak terasa dua minggu Khalisha dan Daniel resmi pacaran. Masing-masing dari mereka mulai memahami sifat satu sama lain. Setelah mereka berpacaran, ada perubahan yang terlihat jelas dari diri mereka. Daniel yang selalu bersikap dingin, kini mulai bisa mengobrol dengan orang lain selain sahabatnya. Namun lain halnya ketika sedang bersama dengan Khalisha. Sifatnya langsung berubah drastis. Dia langsung bersikap ramah, mudah tersenyum, bahkan beberapa kali dia terlihat manja kepada Khalisha. Bukannya merasa risih, Khalisha malah terlihat santai menghadapinya. Di matanya, Daniel yang manja kepadanya terlihat lucu dan menggemaskan.
Hal serupa pun juga terjadi pada Khalisha. Khalisha yang awalnya sangat pendiam dan tertutup, kini mulai terbuka pada orang lain. Dia juga lebih banyak tersenyum, walaupun hal itu justru mendapat protes dari Daniel.
"Kami duluan ya Niel, Lis," pamit Andhika tersenyum pada keduanya.
Khalisha balas tersenyum pada Andhika. Namun lain halnya dengan Daniel. Daniel menatap kesal pada pacarnya yang sedang tersenyum pada cowok lain, walau itu sahabatnya sendiri.
"Pulang sana!" usir Daniel cemberut.
"Ya elah, gitu amat sih, Niel. Aku kan cuman pamit sama kalian. Masa nggak boleh," keluh Andhika.
"Kalau mau pulang, pulang aja. Nggak usah pake pamit-pamitan segala."
"Udah, Dhik. Daripada ribut di sini, lebih baik kita pulang," ucap Nathan menatap malas Daniel. Tak cuma sekali dua kali saja Daniel bersikap seperti ini padanya, Andhika, dan Bayu, namun sudah beberapa kali. Ia sendiri juga baru tahu kalau Daniel sangat posesif pada Khalisha.
"Kalian pulang sana! Aku pulang sama Khalisha, nggak pulang sama kalian," usir Daniel kembali.
"Ya ya, nggak usah diberi tahu, kami juga sudah tau kalau kamu ingin berduaan sama Khalisha," balas Nathan.
Andhika, Nathan, dan juga Bayu lantas melangkah pergi meninggalkan Daniel dan Khalisha. Mereka sama-sama tak mau menjadi pengganggu atau penonton saat mereka sedang berpacaran. Apalagi sikap Daniel yang aneh saat bersama dengan Khalisha, membuat mereka sering geleng-geleng kepala.
Daniel menatap lekat Khalisha. "Sayang, kamu jangan tersenyum sama cowok lain," rajuk Daniel sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Khalisha menatap gemas Daniel. Cowok yang terkenal dingin itu kini tengah merajuk padanya, membuatnya ingin mencubit pipinya itu.
"Sayang?! Kenapa kamu memanggilku sayang? Biasanya kamu memanggilku nama," goda Khalisha.
Daniel semakin kesal dibuatnya. Dari ekspresi mukanya saja sudah sangat terlihat jelas bila ia tak suka Khalisha dekat-dekat dengan cowok lain, apalagi sampai memberikan senyum manisnya itu. Tapi begitulah, pacarnya itu sama sekali tak peka padanya.
"Tentu saja karena kamu itu sekarang pacarku. Jadi mulai sekarang, kamu juga harus memanggilku sayang."
"Tapi—"
"Nggak ada tapi-tapian! Pokoknya kamu harus memanggilku sayang!" potong Daniel cepat. Ia juga ingin memperlihatkan pada semua orang kalau Khalisha itu miliknya.
Khalisha menghela napas. Bila sudah begini, mau tak mau dirinya harus menuruti apa yang diinginkan Daniel. Akan sangat susah baginya bila Daniel marah. Daniel pasti akan mendiamkan dirinya, walau tak lama kemudian dia akhirnya menyerah karena tak tahan ingin berdekatan dan mengobrol dengan dirinya. Hanya saja, ada saja tingkah Daniel yang aneh setelah dia marah.
"Coba kamu panggil aku sayang!" suruh Daniel.
"Sayang!" panggil Khalisha malu.
Daniel tersenyum puas. "Gitu dong sayang. Oh ya Sayang, lain kali kamu jangan tersenyum sama cowok lain."
__ADS_1
"Emangnya kenapa aku nggak boleh tersenyum sama cowok? Apa aku jelek kalau aku senyum?"
"Bukan jelek, Lis. Justru senyum kamu itu yang membuat kamu terlihat semakin cantik. Kamu hanya boleh tersenyum sama aku aja, nggak boleh ke yang lain," ucap Daniel tegas.
Khalisha tersipu malu. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Daniel selalu saja berhasil membuatnya bahagia dan tersipu malu.
Ketika sedang asyik menggoda Khalisha, tiba-tiba saja ada beberapa cowok yang datang menghampiri Daniel.
"Loh, Niel, kupikir kamu udah pulang bareng Nathan, Andhika, sama Bayu," ucap Dion.
"Ini juga aku mau pulang," sahut Daniel malas. Ia malah merasa terganggu dengan kehadiran teman-teman sekelasnya itu.
"Oh ya, itu pasti pacar kamu," celetuk Surya, "kenalin dong ke kita."
"Hei, namaku Dion." Dion mengulurkan tangannya ke arah Khalisha, namun segera ditepis oleh Daniel.
Daniel menatap tajam Dion. "Kalau mau kenalan, kenalan aja. Nggak usah pake bersalaman segala."
Dion, Surya, dan yang lainnya melongo menatap Daniel. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat secara langsung sifat Daniel yang seperti itu. Mereka sama-sama tak menyangka kalau Daniel akan seposesif itu pada pacarnya. Hanya bersalaman saja, Daniel sudah melarangnya.
"Ya ampun, Niel. Nggak lengkap rasanya kalau kenalan nggak pake jabat tangan," ucap Dion, lalu tersenyum menatap Khalisha.
"Nggak usah pake senyum segala," sahut Daniel kesal.
"Pulang sana! Nggak usah kenalan sama sayangku," balas Daniel ketus.
Dion, Surya, dan yang lainnya sama-sama menahan tawa mendengar panggilan Daniel untuk pacarnya. Rasanya aneh saja melihat sikap Daniel yang berubah drastis. Selama ini yang mereka lihat dari Daniel hanyalah cowok dingin dan suka berbicara kasar pada cewek.
"Ya elah, Niel, gitu amat sih jadi teman. Kita-kita ini cuman mau kenalan aja loh, bukannya mau merebut pacar kamu itu. Lagian juga kita-kita ini sudah punya pacar. Lebih cantik Lagi daripada pacar kamu itu," ucap Dion.
Daniel mendengus kesal mendengarnya. "Jadi maksud kalian pacarku itu jelek?"
"Bu... bukan begitu maksudku, Niel," balas Dion bingung menjelaskannya.
"Maksudnya Dion itu, pacar kami nggak kalah cantiknya dengan pacar kamu. Jadi, kamu nggak usah takut kalau kami akan merebut pacar kamu," ucap Surya mencoba menjelaskan. Tak tega juga rasanya melihat Dion yang kebingungan.
"Siapa yang kamu bilang takut? Aku nggak takut. Khalisha nggak akan berpaling dariku. Selamanya dia akan menjadi milikku," ucap Daniel tegas.
Khalisha langsung mencubit lengan Daniel. Ia benar-benar malu dengan sikap Daniel pada teman-temannya.
Daniel meringis kesakitan. Ia langsung mengusap-usap lengannya yang dicubit Khalisha.
"Kenapa kamu cubit aku sih, Yang?"
__ADS_1
"Makanya, kalau ngomong jangan sembarangan. Malu tau," balas Khalisha kesal bercampur malu.
"Malu?! Kenapa mesti malu? Benar kan kamu nggak akan berpaling dariku," ucap Daniel polos.
Khalisha kembali mencubit lengan Daniel. Daniel benar-benar tak tahu malu mengatakan kata-kata seperti itu di depan banyak orang.
Mereka yang masih berada di dekat Daniel sama-sama terperangah. Mereka sama-sama tak menyangka bila pacar Daniel sangat berani mencubit Daniel. Selama ini yang mereka lihat, banyak sekali cewek-cewek yang melakukan apa saja demi mendapatkan perhatian Daniel. Walaupun mereka sudah disakiti dengan kata-kata kasar yang keluar dari mulut Daniel, mereka tak pernah melawan dan tetap mendekati Daniel.
"Kok aku dicubit lagi sih, Yang?" tanya Daniel sembari mengelus-elus pundaknya yang sakit.
"Kamu pantas mendapatkannya," sahut Khalisha kesal, "kamu itu kalau ngomong dijaga dong. Jangan kasar kalau ngomong sama orang, apalagi mereka kan teman-temanmu. Mereka kan bisa tersinggung mendengar omongan kamu tadi. Kalau ngomong itu yang sopan dong, yang nggak menyinggung dan menyakiti hati orang lain. Lagi pula mereka kan cuman mau kenalan sama aku. Kenapa jadi merembet kemana-mana?"
Daniel menghela napas. Bila sudah begini, ia tak bisa berkutik. Daripada membuat Khalisha marah, lebih baik dirinya yang mengalah.
"Baiklah. Aku yang salah. Aku minta maaf."
Lagi-lagi, teman-teman Daniel terperangah melihat Daniel yang mau meminta maaf. Cewek di samping Daniel benar-benar membawa perubahan yang baik pada diri Daniel. Daniel beruntung mendapatkannya.
"Maafin sikap Daniel tadi ya," ucap Khalisha ikut meminta maaf atas kelakuan Daniel.
"Kenapa kamu yang meminta maaf? Kan aku yang salah," tanya Daniel bingung.
"Makanya, lain kali kalau ngomong itu hati-hati. Aku harap kamu mau berubah. Aku nggak mau denger kamu ngomong kasar lagi."
"Ya ya, aku akan berubah. Kamu jangan marah ya," ucap Daniel memelas.
"Ya, aku nggak marah."
"Hem... kalian kalau mau romantisan cari tempat lain aja," celetuk Dion tiba-tiba.
"Lebih baik kita pulang sekarang. Aku nggak mau loh jadi nyamuk di sini," ucap Surya.
"Kamu benar, Sur," ucap Dion membenarkan ucapan Surya, "kalau gitu kami pulang dulu, Niel, emmm...."
"Khalisha," sahut Khalisha memperkenalkan diri.
"Khalisha. Kami pulang dulu." Dion bersama dengan yang lainnya lantas melangkahkan kaki meninggalkan Daniel dan Khalisha.
Daniel langsung menggenggam tangan Khalisha. "Yuk, kita pulang! Aku nggak mau diomelin sama nenek dan kakek kamu, Lis. Nanti restuku malah dicabut sama mereka."
Khalisha tersenyum. Ia benar-benar bersyukur mendapatkan pacar sebaik Daniel. Walaupun sikapnya kadang aneh dan membutuhkan banyak kesabaran, namun ia tahu kalau sikapnya itu karena takut kehilangannya.
***
__ADS_1