Take My Heart

Take My Heart
ADA APA DENGAN DANIEL?


__ADS_3

Pagi ini langit terlihat cerah. Upacara bendera berlangsung dengan hikmat. Semua murid mulai berhamburan menuju kelas mereka. Ketika murid lain berjalan dengan santai menuju kelas, Daniel malah melakukan hal yang sebaliknya. Ia berjalan dengan cepat menuju kelasnya, meninggalkan ketiga sahabatnya yang berjalan santai diiringi dengan obrolan seru mereka. Sebenarnya, setalah upacara bendera selesai, ia ingin bertemu dengan Khalisha. Masih ada beberapa menit sebelum masuk kelas, ia bisa memandang wajah Khalisha dulu. Namun sayangnya, setelah upacara selesai, Khalisha berjalan cepat bersama dengan seorang cewek. Dan sialnya, ketika mengejarnya, Khalisha sudah masuk ke dalam kelas. Dengan berat hati, ia terpaksa mengurungkan niatnya itu.


Daniel duduk dengan wajah yang muram. Berkali-kali ia menghela napas, lalu menempelkan dagunya di kedua tangannya yang dilipat. Bila dipikirkan kembali, ia menjadi kesal pada dirinya sendiri. Jika saja ia tak bermain game hingga tengah malam, ia tak akan bangun kesiangan. Sudah pasti ia bisa menjemput Khalisha di rumahnya untuk berangkat bersama ke sekolah. Namun, apa boleh buat. Semuanya sudah terjadi. Daripada mendapat hukuman karena terlambat, ia pun memutuskan untuk langsung berangkat ke sekolah. Ia yakin kalau Khalisha sudah ada di sekolah. Dan benar dugaannya. Ketika ia baru tiba di lapangan sekolah, ia melihat Khalisha berjalan menuju lapangan sekolah seperti murid-murid lainnya.


Nathan, Andhika, dan Bayu yang baru saja masuk kelas menangkap sosok Daniel yang duduk dengan wajah yang tak seperti biasanya. Baru kali ini mereka mendapati wajah Daniel yang selalu dingin kepada orang lain berubah menjadi muram tak bersemangat. Sebenarnya bukan mereka saja yang merasa aneh, fans cewek yang sekelas dengan Daniel pun dibuat heran. Hanya saja, mereka tak berani mendekati ataupun mengganggu Daniel. Mereka semua takut kalau hal itu akan membuat Daniel marah pada mereka.


"Kenapa tuh anak? Tumben banget mukanya ditekuk begitu," bisik Bayu dengan tatapan yang masih tertuju pada Daniel.


"Nggak tau. Lagi kesambet setan kali," bisik Nathan asal.


Andhika tersenyum kecil mendengar jawaban Nathan. Ia lantas berbisik, "Kalau ngomong itu jangan ngaco kamu, Than. Ini kan masih pagi. Mana ada setan keluyuran pagi-pagi begini."


"Siapa tahu aja ada. Lah, itu buktinya si Daniel. Pagi-pagi udah ditekuk aja mukanya," sahut Nathan dengan tatapannya yang aneh pada Daniel.


"Palingan juga lagi mikirin cewek pujaannya," bisik Bayu menebak.


"Iya, ya. Kok aku nggak kepikiran ke situ, ya?" bisik Nathan melirik ke arah Bayu. Dengan senyum mengejek, ia kembali berkata, "Wah, Yu, tumben banget kamu pintar? Kemana aja otakmu selama ini? Kok pintarnya baru sekarang?"


Mendengar perkataan Nathan, Daniel mendengus kesal. "Sialan kamu, Than. Kalau mau puji, ya puji aja. Nggak usah pake nyindir segala."


"Ya mau gimana lagi. Itu kan kenyataannya," ejek Nathan kembali.


Andhika tertawa kecil melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Ada aja ucapan Nathan yang berakhir pada keributan kecil antara dia dengan Bayu. Di antara dirinya, Nathan, Daniel, dan Bayu, Nathan adalah yang paling iseng. Nathan memang suka melakukan keisengan pada Bayu, membuat Bayu sering kesal padanya.


Bila mereka tak bersahabat lama, tentunya Bayu akan benar-benar bermusuhan dengan Nathan karena ucapannya. Pemandangan seperti ini memang sudah biasa di antara dirinya, Nathan, Daniel, dan Bayu. Perbedaan sifat di antara mereka dan juga pertengkaran-pertengkaran kecil yang sering terjadi itulah yang secara tak sadar membuat persahabatan di antara mereka awet hingga sekarang.


"Kalian berdua kok kerjaannya ribut terus? Nggak bosan apa?" tanya Andhika menyudahi pertengkaran Nathan dan Bayu.


"Nathan tuh yang mulai duluan," sahut Bayu kesal.


"Udah. Nggak usah dipermasalahkan lagi. Yuk, samperin Daniel! Mumpung Pak Husen belum masuk," ucap Andhika melangkah menuju mejanya.


Nathan dan Bayu pun akhirnya menyudahi pertengkaran mereka. Melihat Andhika pergi, Nathan dan Bayu ikut melangkah pergi menuju meja mereka. Kedua mata mereka tak terbiasa melihat Daniel yang murung tak bersemangat. Melihat ekspresi Daniel sekarang, mereka lebih menyukai Daniel yang dingin.


"Niel, ternyata kamu udah ada di sini? Kenapa nggak nunggu kita?" tanya Nathan basa-basi. Ia lantas duduk dan meletakkan tasnya di atas meja.


Daniel sontak tersadar dari lamunannya. Ia menoleh kaget pada Nathan yang sudah duduk di kursinya. Saking asyiknya dengan pikirannya, ia sampai tak menyadari kedatangan ketiga sahabatnya itu.

__ADS_1


"Kalian udah datang?" tanya Daniel terlontar begitu saja dari mulutnya.


"Kamu ini kenapa sih, Niel? Tumben banget wajahmu ditekuk begitu. Kalau ada masalah, cerita-cerita dong ke kita. Siapa tahu kita bisa kasih solusinya," ucap Nathan agak khawatir.


"Iya, Niel. Kamu cerita aja ke kita. Kalau kita bisa, kita pasti bakalan bantu," sambung Andhika.


"Benar tuh kata Nathan sama Dhika. Kalau ada masalah, jangan disimpan sendiri. Kita ini kan sahabat. Kita pasti bakalan bantuin kamu," timpal Bayu.


Daniel menatap aneh. Ia sama sekali tak mengerti dengan arah pembicaraan ketiga sahabatnya itu. Yang ada, ia malah sedikit kesal karena mereka bertiga sudah mengganggu lamunannya.


"Niel!" panggil Nathan dengan suara yang mengagetkan.


"Apa?" tanya Daniel malas.


"Cepat ceritakan masalahmu itu apa!" sahut Nathan tak sabar ingin mendengarnya.


"Siapa bilang aku punya masalah? Aku nggak ada masalah, kok," ucap Daniel berbohong.


"Nggak usah bohong deh, Niel. Kalau kamu beneran nggak ada masalah, nggak mungkin wajahmu ditekuk begitu."


"Udah deh, Niel. Cerita aja ke kita. Kita bakalan bantu kamu, kok," ucap Bayu tiba-tiba. Ia sebenarnya sangat penasaran ingin mendengar cerita Daniel. Jarang-jarang Daniel mau cerita tentang masalahnya.


"Kalau Daniel nggak mau cerita, nggak usah dipaksakan," ucap Andhika akhirnya. Tak tega juga rasanya melihat Daniel terus dipaksa.


Nathan dan Bayu terdiam. Apa yang dikatakan Andhika benar. Mereka tak bisa memaksa Daniel bila Daniel tak mau berbagi cerita pada mereka.


"Ya deh, ya. Kami nyerah," ucap Nathan kecewa.


Melihat ketiga sahabatnya kecewa, ia merasa tak tega. Walau bagaimanapun juga, mereka adalah sahabatnya dan selalu ada untuknya.


"Baiklah, baiklah. Aku akan cerita," ucap Daniel akhirnya.


Nathan, Andhika, dan Bayu sangat senang mendengarnya. Mereka sudah tak sabar ingin mendengar apa yang menjadi pengganggu dalam pikiran sahabatnya yang dingin itu.


"Khalisha pergi."


Nathan, Andhika, dan Bayu sama-sama kaget mendengarnya. Ternyata benar tebakan Bayu. Daniel bisa sampai murung karena memikirkan Khalisha.

__ADS_1


"Dia pergi kemana? Dia pindah rumah atau pindah sekolah?" tanya Nathan penasaran.


"Nggak. Khalisha nggak pindah rumah dan sekolah."


"Kalau nggak pindah rumah dan sekolah, trus kemana dia pergi? Kalau cerita jangan setengah-setengah, dong. Aku nggak ngerti," ucap Nathan bingung.


Daniel menghela napas. Wajahnya kembali murung. "Khalisha pergi dari rumahku. Dia pulang ke rumahnya."


Nathan, Andhika, dan Bayu sama-sama melongo mendengar jawaban Daniel. Beberapa detik kemudian, mereka tertawa. Tak pernah ada di pikiran mereka bila ada saat di mana seorang Daniel bisa murung hanya karena seorang gadis.


"Ya ampun, Niel. Kamu sampai kayak gini cuman gara-gara itu?" tanya Nathan tanpa menghentikan tawanya.


"Sangat wajar kalau dia pulang. Dia kan punya rumah dan keluarganya sendiri. Lagian, dia juga kan bukan keluarga kamu. Nggak baik bagi dia untuk berlama-lama tinggal di rumah kamu. Kamu nggak bisa seenaknya ngurung dia di rumahmu," terang Andhika.


"Tapi kan aku nggak bisa ketemu dia. Tadi aja aku nggak bisa jemput dia di rumahnya," ucap Daniel jujur.


"Ya ampun, Niel. Baru kali ini aku lihat kamu seperti ini. Tuh cewek hebat banget, bisa membuat seorang Daniel yang dingin dan cuek berubah," ucap Bayu kagum pada sosok Khalisha.


"Kamu kan bisa ketemu dia di sekolah. Nanti pas istirahat, kamu samperin aja dia di kelasnya," saran Andhika.


"Tapi tetap aja nggak bisa ketemu dia sepuasnya. Jam istirahat kan sebentar. Apalagi sekarang, dia sudah punya teman. Bakalan susah aku ketemu sama dia. Dia pasti sama temannya terus," keluh Daniel.


Bayu tertawa kecil. "Kayaknya kamu beneran suka sama si Khalisha itu."


"Suka?" tanya Daniel bingung.


"Ya, suka. Kalau ketemu dia, rasanya senang banget. Tapi kalau nggak ketemu dia, rasanya kangen berat. Pikiran terus saja terbayang-bayang wajahnya," terang Bayu tersenyum.


"Duh, kata-katanya. Kok bagus banget ya penjelasannya? Kayak kamu punya pacar aja," tanya Nathan menggoda Bayu.


"Belum tahu aja kamu, Than. Aku memang sudah punya pacar. Kalau aku nggak punya, mana mungkin aku berani ngomong begitu," sahut Bayu menyombongkan dirinya.


"Hah?! Kamu udah punya pacar? Kok nggak cerita ke kita?" tanya Nathan kaget. Ia sama sekali tak menyangka bila Bayu ternyata sudah punya pacar.


"Sengaja aku nggak kasih tahu kalian. Kalian kan masih jomblo. Nanti malah kecantol lagi sama pacarku. Pacarku itu cantik, loh."


"Bilang aja kalau kamu cemburu," ucap Nathan tertawa kecil.

__ADS_1


Daniel tak lagi mendengarkan obrolan ketiga sahabatnya itu. Ia masih memikirkan perkataan Bayu. Jujur saja, ia sendiri masih bingung dengan perasaannya sendiri. Ia tak tahu apakah dirinya memang menyukai Khalisha atau tidak. Kepulangan Khalisha seakan membuatnya kehilangan semangat. Ia bahkan sempat masuk ke kamar yang pernah ditempati Khalisha. Entahlah. Yang ia tahu, ia ingin selalu berada di sisi Khalisha.


***


__ADS_2