
Libur panjang telah usai. Hari ini adalah hari pertama para penghuni sekolah kembali melakukan aktivitasnya di sekolah. Khalisha duduk dengan tenang di kursinya. Kedua matanya menatap lembar demi lembar buku di mejanya. Namun sayangnya, ia sama sekali tak bisa fokus membacanya.
Tak terasa dua jam telah berlalu. Suasana yang tercipta di dalam kelas sangatlah ramai layaknya pasar. Semua penghuni kelas tampak asyik dengan urusan mereka masing-masing. Ada yang asyik mengobrol, bernyanyi, bahkan ada pula yang memukul meja hingga menghasilkan alunan musik. Tak hanya itu saja, beberapa dari mereka pergi keluar kelas di saat pelajaran seharusnya berlangsung. Ketidakhadiran para guru di dalam kelas sudah pasti membuat kebahagiaan terpampang jelas di wajah mereka. Anehnya, hal yang serupa tak hanya berlaku pada satu kelas saja. Kelas yang lain pun juga sama gaduhnya. Mungkin saja untuk hari ini para guru memberikan sedikit kelonggaran para muridnya, memberikan mereka kebebasan sebelum kembali melakukan aktivitas belajar mengajar.
"Eh, lihat tuh si kutu buku!" bisik gadis yang duduk di baris paling belakang, "si kutu buku lagi belajar. Parah tuh anak. Padahal lagi nggak ada guru, kita kan bisa santai-santai. Heran deh. Kok betah ya dia di depan buku terus. Kayak nggak ada bosan-bosannya gitu."
"Iya, ya. Aku juga heran sama si Lisha itu. Padahal banyak loh yang bisa dikerjakan selain belajar. Ngobrol-ngobrol, kek. Makan di kantin juga boleh. Gila tuh anak. Kalau aku, jangankan baca satu buku, baru selembar aja rasanya udah mau tidur," sahut gadis lain yang duduk di sampingnya.
Gadis lain yang duduk di depan mereka tampak memperhatikan Khalisha. Ia bergumam, setuju dengan pendapat kedua temannya itu. Khalisha memang terlihat berbeda dengan teman-teman sekelasnya. Tak seperti murid lain yang memilih menghabiskan waktu luangnya di sekolah dengan berkumpul bersama di kantin ataupun di tempat-teman yang nyaman untuk mengobrol, Khalisha malah lebih memilih untuk menyendiri dan belajar. Tak sekali dua kali saja dirinya melihat Khalisha seperti itu, namun sejak ia sekelas dengannya—tepatnya dari kelas X. Ia sama sekali tak pernah melihat Khalisha bersama dengan orang lain, walaupun hanya sekali. Sejujurnya, ia sudah lama ingin berkenalan dengan Khalisha. Ia ingin tahu seperti apa Khalisha sesungguhnya. Hanya saja, ia merasa bingung bagaimana menjadi teman dari orang yang pendiam seperti Khalisha. Apalagi, kedua temannya pun terlihat tak begitu menyukai Khalisha.
Gadis itu tiba-tiba saja bangkit dari kursinya. Kedua gadis yang sejak tadi membicarakan Khalisha sontak menatap kaget padanya.
"Kamu mau kemana, May?"
"Aku mau samperin Khalisha, Sis," jawab gadis yang bernama Mayang.
"Ngapain kamu ke sana? Seperti nggak ada kerjaan aja." Gadis yang bernama Siska itu tampak tak suka bila Mayang menghampiri Khalisha.
Mayang menghela napas dengan berat. Ia sudah bisa menebak kalau menghampiri Khalisha tak akan semudah yang di pikirannya. Aneh sekali. Tak pernah sekalipun ia melihat Siska bertegur sapa dengan Khalisha, namun Siska terlihat tak suka padanya. Entah ada dendam apa di antara mereka. Tiap kali ia menanyakan hal itu, pada akhirnya yang ia dapatkan bukanlah jawaban, melainkan omelan pedas dari kedua temannya itu.
Untuk pertama kalinya ia ingin mengenal seseorang selain kedua teman dekatnya itu. Siska dan gadis di sebelahnya yang bernama Dita adalah teman dekat Mayang sejak kelas X. Kemana-mana mereka selalu bersama-sama. Banyaknya waktu yang dilaluinya bersama mereka, tak heran bila ia sedikit mengenal sifat Siska dan Dita. Namun, ada satu sifat mereka yang sama dan tentunya membuatnya tak suka. Mereka berdua sama-sama suka memandang rendah orang lain. Mungkin karena mereka adalah anak orang kaya, sehingga mereka memandang orang lain hanya dari kekayaannya saja.
"Lebih baik kamu duduk lagi. Percuma saja kamu ke situ. Kamu hanya akan ngomong sama patung," ucap Siska sinis.
Telinga Mayang panas mendengarnya. Mereka mulai lagi menghina orang lain. Ia tak lagi berkata apa pun—lebih tepatnya malas untuk mendengarkan ucapan pedas yang akan keluar dari mulut Siska selanjutnya. Ia lantas melangkah pergi menuju meja Khalisha.
Sama seperti Siska, Dita yang diam memperhatikan merasa heran dengan sikap Mayang hari ini. Rasanya aneh melihat Mayang yang tiba-tiba tertarik pada Khalisha. Selama ini, ia tak pernah melihat Mayang meninggalkan Siska begitu saja seperti tadi, apalagi hanya karena seorang kutu buku. Ini jelas bukan gaya Mayang.
Semua orang di dalam kelas sudah tahu bagaimana sifat Khalisha. Dia selalu sendirian dan jarang bicara dengan orang lain. Sifatnya yang tertutup itulah yang membuat teman-teman sekelasnya merasa enggan berteman dengannya. Mereka lebih memilih menjauhinya daripada mendekati dan mencoba berteman dengan Khalisha. Namun anehnya, dia bersikap biasa-biasa saja, seakan tak perduli akan hal itu. Dia malah tampak santai melakukan kegiatan rutinnya yang terkesan membosankan itu.
Pandangan mata Khalisha kini tak lagi tertuju pada buku yang dipegangnya, melainkan pada seorang gadis yang tengah berdiri di hadapannya. Gadis itu tersenyum manis padanya, seolah-olah sudah lama mengenal dirinya.
"Hai!" sapanya canggung.
__ADS_1
Khalisha diam menatapnya, seolah tak percaya ada seseorang yang datang menyapanya. Rasanya agak aneh. Dari kelas X, belum pernah ada sekalipun orang yang mau menyapanya karena dirinya yang penyendiri.
Mayang agak risi mendapat tatapan aneh. Kira-kira semenit berlalu dengan cepat, namun Khalisha masih tak menanggapi sapaannya itu. Jangankan bicara padanya, sekedar senyum pun dia tak mau melakukannya. Bingung rasanya menghadapi orang yang pendiam. Ini adalah pertama kalinya ia mencoba berteman dengan orang seperti Khalisha.
"Hai! Aku nggak tahu apakah kamu mengenalku atau nggak, tapi kita sudah sekelas dari kelas X. Namaku Mayang. Kulihat kamu selalu duduk sendirian. Apa aku boleh duduk di sini?" tanyanya ragu. Ia tak tahu bagaimana memulai pembicaraan dengan Khalisha.
Kedua mata Khalisha hanya menatapnya sekilas. Ia lantas kembali menatap baris-baris kalimat dalam buku yang dipegangnya itu.
"Terserah kamu," jawabnya datar.
Mayang terkejut mendengarnya. Khalisha akhirnya menanggapinya. Daripada nanti Khalisha mengubah pikirannya, ia pun segera duduk di sebelahnya. Jarang sekali ia bisa melihat Khalisha berbicara. Ini adalah momen langka yang sayang untuk dilewatkan.
"Makasih ya sudah mengizinkan aku duduk di sini," ungkapnya senang.
"Nggak perlu berterima kasih. Lagi pula itu bukan kursi milikku. Aku nggak berhak melarang siapa pun duduk di situ," sahut Khalisha tak acuh.
Suasana di antara mereka terasa canggung. Sepatah dua patah kata tak lagi keluar dari mulut dua gadis itu. Mayang sendiri bingung ingin bicara apa lagi pada Khalisha, sedangkan Khalisha tampak sibuk dengan bukunya.
"Kamu lagi baca buku apa?" tanya Mayang, namun sebenarnya tak sungguh-sungguh bertanya. Mungkin bisa dibilang sebagai pengisi kekosongan di antara mereka.
Mayang tersenyum kecut menatap Khalisha. Ia benar-benar diabaikan. Seumur hidup, ini pertama kalinya ia mendapat perlakuan seperti itu dari teman sekelasnya. Seperti dugaannya, Khalisha memang susah untuk didekati.
"Hmm... apa kau selalu seperti ini dengan orang lain, Lis?"
Pertanyaan Mayang membuat fokus Khalisha kembali terganggu. Ia lantas menutup bukunya. Kedua matanya kini menatap Mayang di sampingnya.
"Apa maksudmu?"
"Sepertinya kamu terbiasa sendiri. Aku nggak pernah lihat kamu berteman atau ngobrol dengan yang lain. Apa kamu nggak bosan sendiri terus?"
"Nggak."
"Kenapa? Semua orang kan butuh yang namanya teman," tanya Mayang kaget sekaligus penasaran.
__ADS_1
"Aku lebih suka sendiri."
Melihat ekspresi Khalisha, Mayang tak tahu harus berkata apa. Usahanya untuk berteman dengan Khalisha ke depannya pasti akan sulit. Anehnya, bukannya pergi dan menjauh dari Khalisha, ia malah merasa penasaran dengan diri Khalisha. Ia ingin tahu apa dirinya bisa membuat Khalisha yang dingin dan suka sendiri itu bisa membuka diri dan berteman dengan orang lain.
"Begitu sukakah kamu sendiri? Apa kamu benar-benar nggak mau mencoba berteman dengan orang lain? Kita kan makhluk sosial. Kita hidup pasti membutuhkan orang lain. Kamu nggak bisa terus-terusan hidup sendiri seperti ini. Suatu saat, entah kapan itu, kamu pasti akan membutuhkan orang lain," tanyanya serius.
Khalisha tampak berpikir. Butuh satu menit baginya untuk menjawab pertanyaan Mayang.
"Kamu benar. Kita sebagai manusia, pasti tak akan bisa hidup sendiri. Sekarang atau suatu saat nanti, kita pasti akan membutuhkan bantuan dari orang lain. Hanya saja, nggak semua orang bisa cocok satu sama lain. Itu juga berlaku dalam pertemanan. Bila ada yang ingin berteman denganku, maka orang itu harus bisa menerimaku apa adanya. Bila dia bisa menerimaku apa adanya, maka aku juga akan menerimanya apa adanya."
Mayang tercengang mendengarnya. Sejak tadi ia berbicara, Khalisha sama sekali tak menatapnya dan hanya menjawabnya dengan singkat. Walau percakapan yang terjadi ini terdengar seperti bertukar pendapat, namun ia tak menyangka bisa membuat Khalisha yang jarang bicara itu bisa serius menanggapi perkataannya. Ia merasa sangat senang. Ini benar-benar sebuah kemajuan.
"Kenapa bengong? Apa ada yang salah dari ucapanku tadi?" tanya Khalisha bingung.
Mayang tersentak dari lamunannya. Ia tersenyum kecil menatap Khalisha.
"Nggak. Nggak ada yang salah dari ucapanmu tadi. Aku hanya senang karena kamu sudah mau ngobrol denganku."
Aneh sekali. Ini adalah pertama kalinya ada seseorang yang merasa senang hanya dengan mendengarnya bicara panjang lebar. Ia sendiri sadar kalau sifatnya yang tertutup itu membuat teman-teman sekelasnya menjauhinya. Namun, baru kali ini ada seseorang yang mau menghampirinya dan berbicara padanya.
"Kalau kau menganggap berteman harus seperti itu, apa boleh aku menjadi temanmu? Aku ingin tahu, apakah aku bisa cocok menjadi temanmu atau nggak," tanya Mayang sedikit bersemangat.
Kali ini Khalisha yang tersentak kaget. Kedua matanya menatap lekat Mayang, seolah-olah tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Ia buru-buru merubah ekspresi wajahnya seperti biasanya.
"Terserah kamu saja. Aku nggak pernah melarang siapa pun kalau ingin berteman denganku. Tapi, kuharap kamu nggak menyesal dengan keputusanmu ini. Aku nggak seperti teman-temanmu yang lain."
"Kenapa aku akan menyesal?" Mayang tak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan Khalisha.
"Kamu lihat sendiri kan aku seperti ini. Daripada menyesal, lebih baik kamu kembali saja sama teman-temanmu."
Mayang tersenyum kecil mendengarnya, membuat Khalisha bingung. "Baiklah, baiklah. Aku mengerti. Makasih ya, kamu sudah mau menerimaku sebagai temanmu."
Khalisha tak lagi menanggapi perkataan Mayang. Tak diperdulikannya suasana kelas yang masih dalam keramaiannya. Ia lantas mengalihkan pandangannya pada buku yang dipegangnya, kembali fokus pada buku yang tadi dibacanya.
__ADS_1
Bukannya kembali ke bangkunya, Mayang melangkahkan kakinya keluar kelas. Entah kenapa, hari ini ia merasa puas. Senang sekali rasanya mendapat teman baru. Baginya, punya banyak teman itu terasa lebih menyenangkan daripada sendirian. Walau ia tahu akan susah untuk berteman akrab dengan Khalisha, setidaknya ia ingin mengenal Khalisha lebih jauh. Mungkin saja suatu saat nanti, pertemanan yang ditawarkannya itu bisa membuat Khalisha punya banyak teman.
***