
Daniel menelusuri lorong sekolah dengan langkah yang dibuat sepelan mungkin. Sebuah senyuman tak henti-hentinya tersungging di bibirnya. Pagi ini ia memulai harinya dengan bahagia. Pagi-pagi ia sudah berdiri di depan rumah Khalisha, menjemput sang pujaan hati untuk berangkat bersama ke sekolah.
Banyak sekali sorot mata yang mengarah padanya. Namun, bukan Daniel namanya bila ia merasa risih dengan keadaan seperti itu. Wajahnya tampak biasa saja. Ia sama sekali tak memperdulikan mereka.
Namun lain halnya dengan Khalisha. Ia justru merasa risih dengan tatapan tak biasa itu. Ada yang menatapnya kagum karena tak banyak orang yang berhasil jalan bersama dengan Daniel yang dingin, namun sayangnya, kebanyakan dari mereka justru menatap iri dan tak suka padanya. Pasalnya, banyak yang mendekati Daniel, namun hanya Khalisha yang mereka anggap tak selevel itulah yang bisa menaklukan hati Daniel.
"Daniel, lepasin dong tanganku! Kamu nggak malu apa dilihatin begitu?" bisik Khalisha malu.
Bukannya melepaskan genggaman tangannya, Daniel malah mempererat genggaman tangannya.
"Daniel, lepasin dong tanganku!" pinta Khalisha kembali.
"Nggak mau," tolak Daniel.
"Kok nggak mau sih? Emangnya kamu nggak malu apa jadi tontonan begini?"
"Kenapa aku harus malu?" tanya Daniel menatap lekat Khalisha, "aku kan hanya menggandeng tanganmu, bukan melakukan hal yang senonoh."
"Tapi aku malu jadi tontonan begini."
"Jangan pedulikan mereka! Lihat aja aku!" pintanya, "aku sudah lama loh menantikan saat-saat ini. Berangkat ke sekolah bareng pacar aku, makan bareng, kencan. Pokoknya hari ini aku mau nempel terus sama kamu."
Khalisha tertawa kecil mendengarnya. "Kalau kamu nempel terus sama aku, trus gimana masuk kelas nanti? Nggak mungkin kan kamu masuk ke kelas aku?"
Daniel menghela napas berat. Bila ia bisa memilih, sudah pasti ia akan mengikuti kemana pun Khalisha pergi.
"Andai aja aku yang punya sekolah ini, aku pasti akan minta pindah kelas," gumamnya yang masih bisa terdengar oleh Khalisha, membuat Khalisha menggelengkan kepalanya.
"Kamu ini aneh ya, Daniel," ucap Khalisha tersenyum.
"Aneh?! Aku aneh apanya?"
"Ya aneh aja. Kayaknya di sekolah kita banyak yang suka sama kamu, tapi kenapa kamu malah milih aku? Kan kamu tau sendiri kalau aku banyak kurangnya. Kurang cantik, kurang kaya, pokoknya kurang segalanya deh," ungkap Khalisha.
Daniel menghentikan langkah kakinya, lalu menatap lekat Khalisha. "Kenapa kamu ngomongnya begitu? Dengar ya, Lis! Aku sama sekali nggak peduli, mau kamu miskin, nggak cantik. Di mata aku, kamu itu cewek yang istimewa. Kamu baik, mandiri, mau bekerja keras, yang paling utama kamu itu nggak melihat orang dari luarnya. Itu yang membuat aku suka sama kamu. Aku nggak peduli orang lain lihat aku apa. Bagiku yang terpenting, kamu itu selalu ada di sisiku. Aku ingin kamu menyukaiku, seperti aku menyukaimu."
__ADS_1
Khalisha sangat terharu mendengar perkataan Daniel. Ia benar-benar bersyukur karena sudah dipertemukan dengan cowok yang tulus kepadanya. Ia tak pernah menyangka bila cowok yang ada di hadapannya itu bisa membuka hatinya yang tertutup rapat.
"Makasih. Makasih banyak, Daniel. Aku akan belajar menyukaimu sepenuhnya, sama kamu menyukaiku."
"Menyukaiku sepenuhnya? Itu artinya kamu sudah menyukaiku dong, Lis?" tanya Daniel tersenyum.
Khalisha sontak memalingkan wajahnya. Ia tak mau Daniel melihat wajahnya yang memerah.
"Iya kan, Lis? Kamu sebenarnya menyukaiku juga kan," goda Daniel.
Belum juga puas menggoda Khalisha, Nathan, Andhika, dan Bayu tiba-tiba datang menghampirinya. Daniel mendengus kesal melihat ketiga sahabatnya itu. Ia masih ingin berduaan dengan Khalisha, namun sudah ada pengganggu yang datang.
"Ngapain kalian ke sini?" tanya Daniel dingin.
"Ya ampun, Niel. Baru juga ke sini, udah jutek aja tuh muka," sahut Nathan, "oh ya, itu pasti cewek kamu Khalisha. Kenalin, aku Nathan sahabatnya Daniel."
Nathan lantas mengulurkan tangannya, hendak bersalaman dengan Khalisha, namun segera ditepis oleh Daniel.
"Nggak usah pegang-pegang!"
"Yang boleh pegang Khalisha itu cuman aku," sahut Daniel tegas.
"Gitu amat sih, Niel. Kita kan sahabatan. Cuma kenalan aja masa nggak boleh. Aku juga nggak naksir sama pacar kamu."
"Tetap nggak boleh. Khalisha itu milikku."
Andhika dan Bayu tertawa kecil melihatnya. Bertahun-tahun lamanya mereka bersahabat, baru kali ini mereka melihat sisi lain dari Daniel. Daniel yang dingin dan masa bodoh dengan sekitarnya, kini terlihat posesif. Bahkan dari jauh, mereka bisa melihat sikap Daniel yang romantis terhadap Khalisha.
"Lis, tumben kamu masih ada di sini? Biasanya sudah ada di kelas," tegur Mayang baru datang.
Khalisha sontak menoleh kaget ke arah Mayang. Saking asyiknya melihat perdebatan di antara kedua sahabat itu, ia sampai tak menyadari kedatangan gadis yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya itu.
"May, kamu sudah datang?" tanyanya bingung.
Tanpa sengaja Mayang melihat tangan Daniel yang menggenggam tangan Khalisha.
__ADS_1
"Kalian berdua pacaran?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulutnya.
"Iya, kami berdua pacaran." Bukan Khalisha yang menjawab, melainkan Daniel. Sedangkan Khalisha, ia tampak geragapan, tak tahu ingin bicara apa.
Mayang sudah pasti kaget mendengarnya. Ia sudah lama curiga kalau Daniel suka dengan Khalisha. Namun, ia tak menyangka kalau Daniel benar-benar akan jadian dengan Khalisha. Di satu sisi, ia merasa senang dengan hubungan mereka berdua, namun di sisi lain, ia merasa khawatir pada sahabatnya itu. Yang ia tahu selama ini, banyak cewek-cewek yang berusaha mendekati Daniel. Ia hanya takut kalau di antara cewek itu ada yang iri dan berbuat yang tidak-tidak pada Khalisha.
"Kalian berdua beneran jadian?" tanyanya memastikan.
"Iya, aku sama Khalisha sudah jadian," balas Daniel kembali.
"Kapan? Kamu kok nggak cerita sama aku, Lis? Aku kan sahabat kamu. Apa jangan-jangan selama ini kamu nggak nganggap aku sebagai sahabat kamu?" tanya Mayang pura-pura kesal.
"Bukan, bukan begitu, May," balas Khalisha merasa tak enak, "aku sudah nganggap kamu sebagai sahabat aku kok."
"Trus kenapa kamu nggak cerita?"
Khalisha menghela napas. "Gimana mau cerita, jadiannya aja baru kemarin."
"Oh, jadi baru kemarin jadiannya," celetuk Bayu tiba-tiba.
"Ya."
"Selamat ya, Niel. Akhirnya kamu jadian juga," ucap Andhika senang, "kuharap kalian berdua langgeng, yah kalau bisa sih sampai menikah."
"Ya, semoga aja hubungan kalian sampai ke jenjang pernikahan," timpal Bayu tersenyum.
"Amin. Semoga aja doa kalian cepat terkabul," ucap Daniel dengan santainya, lalu melirik ke arah Khalisha, "tuh, dengerin, Lis! Kemarin aku ngajakin nikah, kamu malah ngusir aku."
Khalisha sontak mencubit tangan Daniel. Ia merasa malu dengan apa yang diucapkan Daniel.
"Aduh... sakit, Lis. Kok kamu cubit aku, sih? Seharusnya kamu aminin dong doa mereka," tanya Daniel sembari mengusap-usap tangannya yang sakit. Khalisha benar-benar mencubitnya dengan sekuat tenaga.
"Makanya, kalau ngomong jangan asal main jeplak aja. Baru kemarin jadian, sudah ngajak nikah aja. Emangnya nikah itu gampang? Lulus SMA aja belum, udah main nikah-nikahan segala," omel Khalisha kesal.
Daniel tertawa kecil. Di matanya, Khalisha yang sedang kesal terlihat sangat menggemaskan. Lain halnya dengan Mayang, Nathan, Bayu, dan Andhika. Mereka sama-sama terperangan dengan pasangan yang baru jadian itu.
__ADS_1
***