
Tak terasa malam semakin larut. Daniel yang biasanya sudah berada di alam mimpi, untuk malam ini kedua matanya masih saja terbuka lebar. Jari telunjuknya tampak asyik memainkan kalung liontin yang diambilnya dari laci meja belajarnya. Melihat liontin itu membuatnya teringat akan wajah Khalisha saat liontin miliknya ia rampas. Walau wajahnya terlihat datar, namun ia bisa melihat kesedihan dari sorot matanya.
Ia menghela napas. Sebagian beban yang selama ini dirasakannya telah menghilang. Mengutarakan perasaan yang selama ini ia pendam membuatnya merasa lega. Namun sekarang, pikirannya malah terasa buntu. Ia malah pusing memikirkan cara untuk mendapatkan hati Khalisha, membuat Khalisha jatuh cinta padanya. Padahal, Khalisha sudah memberinya kesempatan. Dan tentu saja, ia tak boleh menyia-nyiakannya.
Tok... tok... tok...
"Den Daniel! Den sudah tidur?" tanya Bi Nani sembari mengetuk pintu kamar Daniel.
Pandangan mata Daniel sontak mengarah pada pintu kamarnya. Tak biasanya Bi Nani mengetuk pintu kamarnya di tengah malam. Pasti ada suatu hal penting yang ingin dibicarakan padanya.
"Masuk aja, Bi! Pintunya nggak dikunci," serunya menghentikan gerakan kalung liontin.
Mendengar anak majikannya menyuruhnya masuk, Bi Nani pun memberanikan dirinya memasuki kamar Daniel. Dengan perlahan, Bi Nani membuka pintu kamar.
"Maaf, Den. Tengah malam begini Bibi mengganggu," ucap Bi Nani berdiri di ambang pintu. Sebenarnya, Bi Nani merasa tak enak karena telah mengganggu waktu istirahat Daniel. Namun, apa boleh buat. Kalau bukan karena hal yang mendesak, ia pun tak akan mungkin lancang mengganggu anak majikannya itu di tengah malam.
"Nggak apa-apa, Bi. Santai aja. Lagian aku juga belum tidur," sahut Daniel santai, "ngomong-ngomong ada apa ya, Bi? Tumben Bibi belum tidur di jam segini?"
Bi Nani menghirup udara dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan. "Bibi ke sini mau minta izin sama Aden."
"Emangnya Bibi mau izin apa?" tanya Daniel kaget. Tak biasanya pembantu yang sudah dianggapnya sebagai keluarga itu meminta izin padanya.
"Besok pagi Bibi izin pulang kampung ya, Den?"
"Tumben, Bi? Emangnya ada apa?" tanya Daniel heran.
"Anak Bibi sakit, Den," jawab Bi Nani cemas memikirkan anaknya di kampung, "Bibi izin pulang kampung ya, Den. Nanti kalau anak Bibi sudah sembuh, Bibi pasti secepatnya balik ke sini."
"Ya udah, besok Bibi pulang aja ke kampung. Mungkin anak Bibi sakit gara-gara kangen sama Bibi," tebaknya, "besok Bibi berangkatnya jam berapa? Mau aku antar sekalian, Bi?"
"Nggak usah, Den. Bibi nggak usah diantar. Kalau Den Daniel ngantar Bibi, Aden malah telat lagi ke sekolah," tolak Bi Nani.
"Ya udah kalau gitu," ucap Daniel agak kecewa, "Bibi hati-hati, ya. Semoga anak Bibi cepat sembuh."
__ADS_1
"Makasih ya, Den," balas Bi Nani tersenyum senang, "besok Bibi perginya jam 7 pagi. Selama Bibi nggak ada, Den Daniel jangan lupa makan. Tidurnya juga jangan terlalu malam. Nggak baik buat kesehatan. Kalau Aden sakit, siapa yang ngurus Aden selama Bibi pulang kampung?"
Daniel tersenyum melihat Bi Nani. Bi Nani memang sangat perhatian padanya. Berbeda sekali dengan papa dan mamanya. Jangankan perhatian, sekedar pulang dan melihat dirinya saja, mereka jarang melakukannya. Karena itulah, dirinya lebih menyayangi Bi Nani yang statusnya sebagai pembantu di rumahnya daripada orang tuanya sendiri.
Kedua mata Bi Nani tiba-tiba menangkap kalung di genggaman tangan Daniel. Seingatnya, Daniel tak pernah suka apalagi sampai mengoleksi kalung.
"Den, itu kalung punya Aden? Bibi baru lihat," tanya Bi Nani masih tertuju pada kalung.
"Oh, ini," ucap Daniel mengangkat kalung di tangannya, "ini kalungnya Khalisha Bi."
"Kok kalungnya Khalisha ada di tangan Aden?" tanya Bi Nani bingung.
Daniel menghela napas. Dengan ragu, ia berkata, "Aku merampas kalungnya Khalisha, Bi."
Bi Nani sontak kaget mendengar perkataan anak majikannya itu. Dirinya turut andil dalam membesarkan Daniel dari kecil hingga sebesar ini, sifat dan semua kelakuan Daniel tak ada yang tak ia ketahui. Selama dirinya mengurus Daniel, ini adalah pertama kalinya ia mendengar secara langsung kalau anak yang selama ini dibesarkannya itu merampas barang milik orang lain.
"Bibi kok bengong?" tanya Daniel berhasil membuyarkan lamunan Bi Nani.
"Bibi ingat nggak waktu Khalisha nginap di sini?"
"Iya, Den. Bibi ingat. Khalisha bilang dia itu pembantu Aden. Tapi, apa hubungannya dengan kalung Khalisha?" tanya Bi Nani bingung.
Lagi-lagi Daniel menghela napas. Sejujurnya, ia malu mengatakannya, namun di hadapannya Bi Nani, sangat sulit rasanya untuk berbohong padanya.
"Justru ada hubungannya, Bi. Gara-gara aku sita kalung ini dan juga ganti rugi androidku, Khalisha mau jadi pembantuku."
"Kok jadi nyambung ke android, Den?" tanya Bi Nani semakin bingung.
"Jadi begini Bi ceritanya. Aku pas lagi minta nomor handphonenya Khalisha, tiba-tiba aja khalisha jatuh menabrakku. Jadinya ya begitu, androidku jatuh dan rusak. Aku minta ganti rugi, tapi Khalisha nggak punya uang. Jadi, aku menawarkan dia jadi pembantuku, Bi," jelas Daniel, "sebenarnya ya Bi, aku merasa bersalah sama Khalisha. Padahal jelas-jelas aku melihat Khalisha itu didorong sama teman sekelasnya, tapi aku malah minta ganti rugi sama dia."
"Sebenarnya alasan Den Daniel menjadikan Khalisha sebagai pembantu Aden itu apa? Bibi tahu semua sifat Aden. Aden itu bukan orang yang suka memaksa orang lain, apalagi sama orang yang kurang mampu seperti Khalisha."
Daniel tersenyum kecil menatap Bi Nani. Ia memang tak bisa menyembunyikan apa pun dari pembantunya itu.
__ADS_1
"Aku suka sama Khalisha, Bi. Menjadikannya pembantu itu cuma alasan aku biar dekat sama dia," ucapnya malu.
Bi Nani tersenyum mendengarnya. Tak terasa, anak yang dari dulu dirawatnya, kini telah beranjak dewasa. Dia bahkan sudah merasakan apa yang namanya jatuh cinta. Bi Nani lantas menghampiri Daniel di kasurnya. Tangannya pun langsung mengelus lembut rambut Daniel.
"Den Daniel sudah mengungkapkan perasaan Aden sama Khalisha?" tanya Bi Nani menghentikan elusan tangannya.
"Sudah, Bi."
"Trus, Khalisha jawabnya apa?" tanya Bi Nani penasaran.
"Dia nggak jawab apa-apa, Bi. Lagian aku juga tahu kalau dia itu belum ada perasaan apa pun sama aku. Tapi, dia kasih aku kesempatan buat ngejar dia, Bi," jelas Daniel senang, "tapi masalahnya sekarang, aku bingung Bi bagaimana membuat Khalisha suka sama aku?"
Bi Nani tertawa kecil. Baru kali ini dirinya melihat Daniel kebingungan seperti itu. Biasanya dia selalu tak peduli dengan orang lain, termasuk dengan sahabatnya sendiri. Sikap dinginnya lebih menguasai dirinya.
"Saran Bibi, Den Daniel mulai aja dari awal."
"Maksudnya, Bi?" tanya Daniel bingung.
"Kembalikan kalungnya Khalisha, Den. Den Daniel juga berhenti menjadikan Khalisha sebagai pembantu Aden. Walaupun alasan Aden biar dekat sama Khalisha, tapi perhatian yang Aden berikan ke Khalisha pasti Khalisha anggap sebagai perhatian seorang majikan," balas Bi Nani memberi saran, "menurut Bibi, Den Daniel itu jadikan aja Khalisha sebagai teman dekat Aden. Dekatin dia secara perlahan, jangan berlebihan. Buat Khalisha merasa nyaman di dekat Aden. Bibi yakin, lama kelamaan Khalisha pasti membuka hatinya buat Aden."
Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Daniel. Otaknya terus memikirkan perkataan Bi Nani. Jujur saja, hatinya sangat bimbang. Ia tak tahu apakah ia harus mengikuti saran Bi Nani atau tidak. Namun, tak bisa ia sangkal bila saran Bi Nani ada benarnya. Ia juga tak mau Khalisha terus menganggapnya sebagai majikan.
Dirasa sudah terlalu lama dirinya berada di kamar Daniel dan juga urusannya sudah selesai, Bi Nani pun memutuskan untuk segera kembali ke kamarnya.
"Bibi balik ke kamar ya, Den. Den Daniel harus cepat tidur. Besok sekolah loh, Den. Jangan sampai telat gara-gara bangun kesiangan," ucap Bi Nani mengingatkan, "Den Daniel banyak-banyak berdoa aja sama Allah. Minta sama Allah biar dijodohkan sama Khalisha."
"Makasih ya, Bi sarannya," ucap Daniel tersenyum. Ia lalu bangkit dari kasurnya dan menuju meja belajarnya. Tangannya lantas membuka tasnya dan meletakkan kalung Khalisha di kantong kecil di dalam tasnya.
Bi Nani pun tersenyum senang. Tak mau lebih lama mengganggu waktu istirahat Daniel, Bi Nani pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar anak majikannya itu.
"Ya Allah, bantulah Den Daniel mendapatkan hatinya Khalisha. Bantulah Den Daniel mendapatkan kebahagiaannya. Selama ini, Den Daniel kurang mendapatkan kasih sayang dari papa dan mamanya. Untuk kali ini, bantulah dia mendapatkan apa yang diinginkannya. Amin," doanya di dalam hati.
***
__ADS_1