
"Kenapa kita ke sini? Ulang tahunmu kan sudah lewat," tanya Khalisha bingung.
Daniel tersenyum kecil menatap Khalisha. "Emangnya aku harus ulang tahun dulu ya baru boleh ngajak kamu ke sini? Ya nggak gitu juga kali, Lis. Aku lagi bosan banget di rumah. Nggak apa-apa kan kalau aku ngajak kamu jalan ke sini?"
"Nggak apa-apa sih. Cuma aneh aja."
"Aneh kenapa?" tanya Daniel bingung.
"Kenapa kamu ngajak aku? Kenapa nggak ngajak teman-teman kamu aja?"
"Yah, mau gimana lagi. Aku kan maunya jalan sama kamu, bukan sama mereka," jawabnya santai.
Khalisha membulatkan bibirnya membentuk huruf "o". Ia tak lagi bertanya. Ia memilih untuk menuruti keinginan Daniel. Protes ataupun tidak, ia juga tak bisa berbuat apa-apa.
Sebenarnya, ia tak mengerti dengan apa yang dipikirkan Daniel. Biasanya di minggu pagi, ia akan menemani sang nenek berjualan keliling. Namun, pagi-pagi dirinya sudah dikejutkan dengan kedatangan Daniel di rumahnya. Tanpa persetujuannya, Daniel langsung meminta izin kepada kakek dan neneknya untuk membawanya jalan-jalan. Dan parahnya, kakek dan neneknya setuju begitu saja. Mereka bahkan terlihat senang melihat kepergian dirinya.
"Kamu suka nggak kalau aku ngajak kamu jalan-jalan ke sini?" tanya Daniel dengan pandangan mata yang mengarah pada keindahan danau.
"Bohong kalau aku bilang aku nggak suka tempat ini. Walau di sini ramai, tapi saat melihat danau ini, hatiku sangat tenang. Rasanya damai aja," jawab Khalisha ikut memandang keindahan danau yang tenang.
"Berarti kalau aku sering ngajak kamu ke sini, kamu mau kan?" tanya Daniel penasaran.
Khalisha menatap Daniel. Bukannya segera menjawab, ia malah bingung. Ia tak mengerti dengan pertanyaan Daniel.
Daniel menatap lekat Khalisha. Semakin lama, perasaannya semakin dalam. Berdua bersama Khalisha membuatnya merasa nyaman. Tak pernah ia merasakan perasaan seperti ini sebelumnya selain bersama dengan Khalisha.
"Lis!" panggilnya pelan.
Khalisha sontak tersadar dari lamunannya. Kedua matanya kembali fokus pada Daniel. Namun entah kenapa, tatapan mata Daniel membuat jantungnya berdetak cepat. Ia pun buru-buru mengatur napasnya untuk mengurangi detak jantungnya.
Daniel yang tak kunjung mendapat jawaban tentu saja dibuat bertanya-tanya. Mungkin cewek lain akan langsung menerima ajakannya itu, namun hal itu justru tak berlaku pada Khalisha. Bukannya langsung menerima ajakannya, dia malah terlihat bingung.
"Kamu kenapa? Kok bengong? Lagi mikirin apa? Apa perkataanku tadi berlebihan? Kamu nggak mau ya sering-sering aku ajak ke sini?" tanyanya bertubi-tubi.
__ADS_1
"Bukan, bukan begitu," jawab Khalisha serba salah. Ia bingung bagaimana menjelaskannya pada Daniel.
"Trus, kamu mikirin apa dong? Kalau kamu nggak suka aku ajak jalan-jalan ke sini, kamu ngomong aja. Aku nggak apa-apa kok," ucap Daniel agak kecewa.
Khalisha mengatur napasnya, lebih tepatnya mencoba mengumpulkan keberaniannya. "Maaf. Aku sama sekali nggak ada maksud menyinggung kamu. Bukannya aku menolak kalau kamu mau sering ngajak aku datang ke sini. Itu hak kamu. Sebagai pembantumu, tentu saja aku akan menuruti perkataanmu. Tapi, kuharap kamu mau mengerti kalau aku bukan pengangguran di rumah. Aku juga punya tanggung jawab yang lain, seperti membantu kakek dan nenekku."
Daniel mengerti perkataan Khalisha. Ia juga tahu kalau Khalisha punya pekerjaan sendiri di rumahnya. Walau ia kecewa karena Khalisha masih menganggapnya sebagai majikannya, setidaknya ia merasa senang karena Khalisha tak menolak ajakannya.
"Itu artinya, kamu mau dong sering-sering aku ajak jalan-jalan ke sini?" tanyanya memastikan. Bukan apa-apa. Takutnya, ia terlalu berharap.
"Kalau aku sudah menyelesaikan pekerjaanku di rumah ya. Aku nggak tega soalnya membiarkan kakek dan nenek mengerjakan semuanya."
Mendengarnya saja sudah membuat hati Daniel berdetak tak karuan. Khalisha yang tak menolak ajakannya membuat satu kenangan di danau ini, sebuah kenangan bahagia bersama dengan orang yang disukainya. Namun sepertinya, ia harus berjuang lebih keras untuk membuat Khalisha suka padanya.
Ia lantas mengedarkan pandangannya. Pandangannya seketika terfokus pada satu arah. Tanpa berkata apa pun, ia melangkah pergi meninggalkan Khalisha.
Khalisha menatap bingung kepergian Daniel. Ia tak mengerti kenapa Daniel pergi meninggalkannya begitu saja. Tak mau sendirian di tempat yang tak ia kenal, ia pun berniat untuk menyusul Daniel. Namun, saat ia memperhatikan arah tujuan Daniel, ia pun akhirnya memutuskan untuk mengurungkan niatnya itu. Ia menghela napas lega. Ia pikir Daniel meninggalkannya seorang diri. Rupanya, Daniel pergi ke warung. Mungkin dia merasa lapar, sehingga pergi tanpa berkata apa pun padanya.
Kedua matanya lantas kembali menatap danau. Danau yang tenang benar-benar membuatnya damai. Mungkin juga karena perasaan damai itulah yang membuat Daniel sering pergi ke danau ini, walaupun ia tahu alasan lainnya.
Khalisha sontak terkejut. Saking asyiknya menikmati keindahan danau, ia sampai tak menyadari kedatangan Daniel.
"Hei, kusuruh makan malah bengong," tegur Daniel.
"Kamu tau aja kalau aku belum makan," sahut Khalisha menerima kantong plastik itu. Ia lantas mengambil sebungkus roti dan memakannya. Perutnya memang sangat kelaparan. Pagi-pagi Daniel sudah datang menjemputnya, membuatnya lupa sarapan.
Daniel tersenyum memandang Khalisha. Khalisha tampak lahap memakan roti yang dibelinya, membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Dari caranya makan, ia bisa menebak bila Khalisha sangat kelaparan. Bagaimana tidak. Jam tujuh pagi dirinya sudah memarkirkan motor ninjanya di depan rumah Khalisha. Biasanya di hari minggu, orang akan memilih untuk bermalas-malasan. Apalagi untuk anak sekolahan seperti dirinya dan Khalisha yang harus bangun pagi berangkat ke sekolah, pasti akan merasa senang dan bermalas-malasan di rumah pada hari libur.
"Pelan-pelan makannya! Rotinya masih banyak, kok," tegurnya.
Khalisha langsung menelan roti di mulutnya. "Ini semua gara-gara kamu. Pagi-pagi sudah mengajakku ke sini. Aku bahkan belum makan sama sekali."
Mendengar nada Khalisha yang marah membuat Daniel merasa bersalah dan juga menyesal. Bisa-bisanya ia membuat kesan buruk pada Khalisha. Padahal, ia sedang mendekati Khalisha. Seharusnya, ia memberi kesan baik padanya.
__ADS_1
"Maaf." Hanya kata itu yang terdengar dari mulutnya.
"Nggak apa-apa," ucap Khalisha. Ia lantas mengambil sebungkus roti dan membukanya. "Ini, makanlah! Kamu kan yang membeli roti ini, masa aku makan sendirian. Kamu juga harus menemaniku makan."
Bukannya segera mengambil roti, Daniel malah tersenyum. Hatinya sangat bahagia mendapat perhatian dari Khalisha. Jujur saja, ia sangat berharap bila perhatiannya ini bisa menjadi pertanda bila Khalisha mulai membuka hatinya.
"Kenapa nggak diambil? Kamu nggak suka roti? Kalau gitu kenapa kamu beli rotinya banyak?" tanya Khalisha bertubi-tubi.
Tangan Daniel sontak mengambil roti yang bungkusnya sudah dibukakan oleh Khalisha. Dengan mata yang masih tertuju pada Khalisha, ia makan dengan perlahan. Sungguh di luar dugaan. Ia tak menyangka jika keputusannya mengajak Khalisha jalan-jalan ke danau favoritnya membawa berkah tersendiri bagi batinnya. Rasanya ingin sekali ia menghentikan waktu. Ia tak ingin momen bahagia ini berlalu dengan cepat.
"Gimana kalau kita lihat-lihat ke sana?" tanya Daniel antusias, "di sana tempat favorit orang-orang. Aku ingin berfoto sama kamu di sana."
Khalisha menatap ke arah yang ditunjuk Daniel. Benar saja. Ada banyak orang yang berfoto ria di sana, terutama para pasangan.
"Baiklah. Kita ke sana," jawabnya setuju. Ia tak ingin mengecewakan Daniel yang terlihat antusias, mungkin lebih tepatnya takut ditinggal sendirian.
Mereka pun akhirnya melangkah pergi menuju ke tempat yang diinginkan Daniel. Banyak sekali orang yang berlalu-lalang di sana. Mereka sama sekali tak memperhatikan sekeliling mereka. Mereka tampak senang berfoto di tempat-tempat tertentu.
Dengan cepat, Daniel mengambil android barunya dan menyalakan layar benda pipih itu. Tanpa sadar, Daniel merangkul Khalisha agar lebih dekat dengannya. Dengan senyuman yang terpajang di bibirnya, ia memfoto dirinya dan Khalisha beberapa kali.
"Sudah berfotonya?" tanya Khalisha tiba-tiba.
"Sudah, Lis," jawabnya senang.
"Kalau gitu, bisa nggak kamu lepaskan tanganmu?"
Daniel sontak melepaskan tangannya. Dengan senyum tak bersalah, ia berkata, "Maaf, ya. Aku terlalu semangat berfoto sama kamu."
Entah kenapa, mendengar hal itu, ada rona merah yang terlihat di pipi Khalisha. Perasaannya menjadi tak karuan. Belum pernah ia merasakan perasaan ini sebelumnya.
Daniel asyik menatap foto-fotonya bersama dengan Khalisha. Tanpa pikir panjang, ia menjadikan salah satu foto itu sebagai walpaper androidnya.
"Bagus juga fotonya. Padahal belum jadian, tapi fotonya malah mirip pasangan kekasih. Semoga aja jadi kenyataan," batinnya senang.
__ADS_1
***