
Hubungan Daniel dan Khalisha semakin lama terlihat semakin mesra. Tak jarang Daniel menunjukkan perhatiannya yang terkesan berlebihan pada Khalisha di depan umum, selalu saja membuat orang-orang yang melihatnya menjadi iri akan sikap Daniel yang romantis. Perhatian Daniel padanya tentu saja sukses membuatnya bahagia sekaligus malu karena menjadi tontonan orang.
Tak hanya kemesraan mereka saja, kebanyakan fans Daniel yang tak setuju dengan hubungan mereka, lambat laun mulai menerima kenyataan akan idolanya itu. Mereka semua sadar kalau mereka tak berhak ikut campur dengan urusan Daniel, bagaimanapun juga mereka hanyalah sebatas pengagum saja. Namun sayangnya, ada satu orang yang masih tak terima dengan hubungan Daniel dan Khalisha. Dia merasa kalau Khalisha tak pantas untuk Daniel. Daniel adalah anak orang kaya, sudah sepantasnya dia mendapatkan pacar yang sama kayanya. Siapa lagi kalau bukan Mikha. Diam-diam dia selalu memperhatikan Daniel. Seperti apa sikap Daniel ketika bersama dengan Khalisha, semua itu tak luput dari penglihatannya.
Iri, tentu saja dia merasa iri pada Khalisha. Betapa beruntungnya Khalisha bisa mendapatkan hati Daniel. Dia yang selama ini selalu mendekati Daniel, namun tak sekalipun Daniel memandangnya. Sedangkan Khalisha, tanpa mendekati Daniel, Khalisha begitu mudahnya meluluhkan Daniel.
"Kenapa kamu nggak bisa menyukaiku, Niel? Kenapa kamu lebih memilih cewek itu daripada aku? Apa kurangnya aku, Daniel? Apa kurangnya aku?" keluhnya dalam hati.
Mikha masih betah dengan tempat persembunyiannya. Wajahnya terlihat kesal. Sementara itu, sepasang kekasih tampak bermesraan seperti biasanya. Mereka sama-sama tak peduli dengan tatapan iri orang-orang yang melihatnya, seolah-olah dunia milik mereka berdua.
"Silahkan Tuan Putri!" Daniel menarik kursi dan mempersilahkan Khalisha duduk.
"Terima kasih, Sayang," ucap Khalisha malu.
Daniel tersenyum mendengarnya. Hatinya berbunga-bunga saking senangnya. Untuk pertama kalinya, Khalisha memanggilnya sayang tanpa paksaan darinya.
"Kamu mau makan apa?"
"Samakan aja sama kamu. Lagian juga kamu yang traktir," jawab Khalisha merasa tak enak, "tapi ini terakhir kali ya kamu traktir aku. Lain kali biar aku bawa bekal aja seperti biasanya."
"Loh, kenapa?" tanya Daniel bingung.
"Aku nggak enak sama kamu. Kamu selalu aja traktir aku, sedangkan aku nggak beri kamu apa-apa. Nanti uang kamu habis lagi kalau traktir aku terus," jawab Khalisha membuat Daniel tersedak ludahnya sendiri.
"Uhuk... uhuk, kamu tadi ngomong apa, Yang?" tanya Daniel memastikan.
"Aku mau kamu jangan traktir aku lagi. Aku nggak mau uang kamu habis gara-gara traktir aku terus. Lebih baik uangnya kan kamu tabung buat keperluanmu," sahut Khalisha.
Daniel sontak tertawa mendengar jawaban Khalisha. Antara gemas dan bangga dengan pacarnya itu. Setahunya, cewek akan senang bila selalu ditraktir sama cowoknya. Sedangkan Khalisha, dia malah merasa tak senang bila terus ditraktir. Ia benar-benar beruntung mendapatkan pacar sebaik dan selugu Khalisha.
"Kok kamu ketawa sih? Ada yang lucu?" tanya Khalisha bingung.
Daniel segera menghentikan tawanya, lalu berkata, "Nggak. Nggak ada yang lucu."
"Trus kenapa kamu ketawa?"
"Aku merasa menjadi pacar yang paling beruntung di dunia ini," ucap Daniel bangga.
Wajah Khalisha memerah saking malunya. "Udah ah. Nggak usah gombal."
__ADS_1
"Siapa yang gombal? Aku nggak gombal. Aku ngomong apa adanya," sahut Daniel, lalu bangkit, "kalau begitu aku beli makanan dulu, ya. Tapi maaf ya, Yang. Mungkin agak lama. Aku mau ke toilet dulu."
"Nggak apa-apa. Buruan sana! Nanti kamu ngompol lagi."
"Kamu duduk manis ya di sini, Yang. Aku pergi dulu." Daniel lantas melangkah pergi meninggalkan Khalisha.
Seperti perkataan Daniel, Khalisha duduk manis seorang diri di kantin. Namun yang membuatnya aneh, tak ada seorang pun yang berniat untuk duduk di tempatnya. Padahal jelas-jelas kalau kursi yang tersedia di kantin penuh, namun mereka berjalan melewatinya begitu saja.
"Wah wah wah, kok duduk sendirian di sini? Mana Daniel? Ditinggal, ya? Apa jangan-jangan Daniel mulai bosan ya sama kamu," ucap cewek yang tak lain adalah Mikha. Ia memang sengaja menghampiri Khalisha saat dia sedang sendiri.
Khalisha diam saja. Ia malas meladeni gadis yang pernah menghinanya itu. Baginya, meladeni orang-orang seperti gadis di depannya itu hanya membuang-buang waktunya saja, hanya bisa membuat emosi saja.
"Kenapa diam? Apa ucapanku benar?" tanya Mikha tersenyum sinis, "makanya, jadi orang itu harus sadar diri dong. Jangan mimpi ketinggian. Kamu itu nggak pantas jadi pacar Daniel. Kamu dan Daniel itu nggak selevel. Ya ibarat langit dan tanah. Daniel itu langitnya, sedangkan kamu itu tanah yang hanya pantas untuk diinjak-injak."
Perkataan Mikha tentu saja membuat telinga Khalisha panas, membuatnya harus mengatur napasnya untuk mengendalikan emosinya. Ia tak mau gara-gara gadis yang tak dikenalnya itu membuat suasana di kantin menjadi heboh.
"Kenapa diam?! Jawab dong! Kamu bisu ya," bentak Mikha, membuat semua orang yang ada di kantin langsung melirik ke arahnya.
"Udah ngomongnya?" tanya Khalisha dingin, "daripada kerjaanmu menghina orang terus, bikin dosa kamu bertambah, lebih baik baik tuh mulut dipakai zikir."
"Nggak usah sok alim deh kamu. Pakai nyuruh orang zikir segala. Kamu itu yang harus zikir dan sadar diri. Kamu itu cewek miskin yang nggak ada apa-apanya. Status kamu itu di sini rendah, nggak selevel sama orang-orang yang ada di sini," hina Mikha.
Khalisha tersenyum sinis. "Aku memang miskin dan nggak selevel dengan orang-orang kaya seperti kamu. Dan aku sadar akan hal itu. Tapi dihadapan Allah, kita semua sama. Semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah. Jadi, apa yang perlu kita sombongkan. Harta? Kita nggak ada yang tahu ke depannya akan jadi seperti apa. Dan soal Daniel, kamu nggak ada hak buat ikut campur. Bila dia memang bosan sama aku seperti yang kamu katakan tadi, itu urusanku sama dia. Masalah pantas nggak pantasnya aku dengan Daniel, itu juga bukan urusanmu. Ngerti?"
Mikha terdiam. Hatinya marah, namun ia bingung ingin menjawab apa untuk membalas Khalisha.
"Kalau suatu saat nanti Daniel putusin aku dan dia punya pacar lagi, aku nggak akan seperti kamu yang marah-marah dan menghina orang lain. Aku lebih memilih untuk mengikhlaskan semuanya. Jodoh itu ada di tangan Allah. Aku yakin, Allah akan memberikan jodoh yang terbaik untukku," sambung Khalisha tenang.
Semua yang ada di kantin tampak takjub dengan jawaban Khalisha. Tadinya mereka pikir akan ada pertengkaran antara kedua gadis itu, namun yang mereka lihat, Khalisha bisa mengontrol emosinya dan menjawab hinaan Mikha dengan tenang. Dan satu hal yang membuat mereka sadar, semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah. Tak sepantasnya mereka menyombongkan apa yang dititipkan Allah pada mereka.
"Sebaiknya kamu ikhlaskan Daniel. Aku tahu kamu suka sama dia. Aku ngerti kalau kamu marah sama aku dan nggak terima kalau aku pacaran sama Daniel. Tapi kamu juga harus ngerti, perasaan nggak bisa dipaksakan," ucap Khalisha kembali.
Mikha tak dapat membendung air matanya. Semua yang dikatakan Khalisha menusuk hatinya.
"Tapi kenapa? Kenapa Daniel nggak bisa suka sama aku? Kenapa?"
"Karena perasaan nggak bisa dipaksakan." Bukan Khalisha yang menjawab, melainkan Daniel. Setelah keluar dari toilet, ia bergegas menuju kantin untuk membeli makanan untuk Khalisha. Namun setelah tiba di kantin, ia melihat Khalisha dihina oleh Mikha. Jujur saja, ia geram mendengar hinaan Mikha dan ingin membuat perhitungan dengannya. Namun, saat mendengar balasan Khalisha, ia kembali bangga pada pacarnya itu.
Khalisha dan Mikha sontak menoleh ke asal suara. Daniel melangkah mendekati Khalisha. Tanpa diduga-duga, Daniel langsung memeluk Khalisha, membuat semua yang ada di kantin bersorak melihatnya.
__ADS_1
"Kamu apa-apaan sih? Lepaskan aku! Malu tahu dilihatin begini," ucap Khalisha berusaha melepaskan pelukan Daniel.
Daniel pun melepaskan pelukannya, lalu menatap lekat Khalisha. "Kamu tahu, aku bangga banget sama kamu. Ini salah satu alasan yang membuat aku suka sama kamu. Kamu membalas orang-orang yang menghina kamu bukan pakai emosi dan membalas menghina mereka. Tapi ucapan kamu secara tak langsung menasehati mereka untuk mengingat Allah."
Khalisha tersenyum mendengarnya, beda halnya dengan Mikha. Hatinya sakit. Tak hanya sikap Daniel yang lembut pada Khalisha, namun juga perkataan Khalisha yang secara tak langsung menyindirnya.
"Dan untuk kamu Mik, sepertinya kamu sudah lupa sama peringatan aku dulu. Jangan salahkan aku kalau aku bikin perhitungan sama kamu," ucap Daniel menatap tajam Mikha.
Mendengar hal itu, Khalisha sontak menggenggam tangan Daniel. "Kamu nggak usah bikin perhitungan apa pun sama dia. Aku kan nggak apa-apa."
"Nggak bisa, Yang. Dia itu sudah menghina kamu. Aku dari tadi sudah ingin menjahit mulutnya itu," ucap Daniel geram.
Tak hanya Mikha saja yang kaget, Khalisha pun juga kaget. Setahunya, Daniel berada di toilet. Ia tak tahu kalau Daniel sudah berada di kantin dan menyaksikan semuanya.
"Jadi, kamu lihat aku menghina dia?" tanya Mikha lirih.
"Iya. Dari tadi aku lihat bagaimana kamu menghina Khalisha. kamu tahu, Mik, sikap kamu itu membuatku semakin membencimu."
"Daniel, sudah ya. Lebih baik kita pergi dari sini," bujuk Khalisha. Ia tak mau emosi Daniel semakin naik dan membuat keadaan semakin kacau.
"Nggak bisa begitu, Yang. Nih anak harus dikasih pelajaran biar nggak seenaknya menghina kamu. Emangnya dia itu siapa? Dia juga nggak punya apa-apa. Semua yang ada pada dirinya, itu pemberian dari orang tuanya," ucap Daniel masih tak terima.
Khalisha tak kehabisan akal. Ia harus secepatnya membawa Daniel menjauh dari Mikha agar Daniel tak berbuat aneh-aneh pada Mikha.
"Sayang, udah ya marahnya. Gantengnya hilang loh kalau marah-marah terus. Aku kan nggak apa-apa, jadi kamu nggak usah ya bikin perhitungan-perhitungan segala," ucapnya dibuat selembut mungkin, "kita pergi, yuk!"
Daniel mengatur napasnya untuk meredakan emosinya. Khalisha benar-benar membuatnya tak bisa berkutik. Ia selalu tahu bagaimana membuatnya tak bersikap kejam pada orang lain.
"Baiklah, kita pergi dari sini. Tapi kamu kan lapar, kita beli roti dulu ya."
Khalisha tersenyum manis dan terus menggenggam tangan Daniel, membuat Daniel ikut tersenyum. Ia dan Daniel lantas melangkah pergi melewati Mikha yang terus diam. Namun, Daniel menghentikan langkahnya, membuat Khalisha ikut menghentikan langkahnya.
"Satu hal yang perlu kamu ingat, sampai kapan pun aku nggak akan pernah bosan sama Khalisha. Yang ada, aku malah semakin suka sama dia. Akan kupastikan, aku nggak akan putusin Khalisha," ucap Daniel membelakangi Mikha, lalu pergi meninggalkan kantin bersama dengan Khalisha.
Mikha terduduk. Tak diperdulikannya tatapan kasihan dan remeh para murid di kantin. Air matanya mengalir semakin deras.
"Makanya, jadi orang itu jangan sombong. Gitu kan akibatnya. Masih untung pacarnya Daniel bisa menenangkan Daniel. Kalau nggak, habis sudah nasibmu di sini," celetuk salah satu murid.
Mikha hanya diam. Pikirannya terus merenungi apa yang dikatakan Khalisha. Selama ini ia memang tak pernah mengingat Allah. Ia merasa dirinya terhormat karena terlahir dari keluarga yang kaya. Papa dan mamanya yang sibuk bekerja dan memanjakannya dengan mengabulkan apa pun yang dimintanya, membuatnya menjadi gadis yang angkuh dan sombong. Tak ada siapa pun yang mengajarkan agama padanya. Mungkin karena itu jualah, ia masih tak bisa terima bila Daniel menjadi orang lain.
__ADS_1
***