Take My Heart

Take My Heart
MEMULAI AKSI PENDEKATAN


__ADS_3

Tak terasa malam semakin larut. Sudah dua jam Daniel merebahkan tubuhnya di kasurnya yang empuk. Namun, rasa kantuk tak kunjung menyerangnya. Beberapa menit ia pejamkan kedua matanya, namun pada akhirnya kembali terbuka menatap langit-langit kamarnya. Walau sudah mengganti posisi tidurnya, ia masih saja tak bisa tidur.


Ia akhirnya menyandarkan tubuhnya. Berulang kali ia menghela napas, berusaha mengosongkan pikirannya. Namun pada akhirnya, pikirannya kembali pada satu nama, Khalisha. Sejak percakapannya dengan Nathan tadi sore, pikirannya selalu saja terngiang-ngiang dengan ucapan Nathan. Bila benar yang diucapkan Nathan, berarti perasaan yang selama ini ia rasakan pada Khalisha adalah cinta. Ia sendiri tak mengerti karena memang selama ini ia tak pernah merasakan perasaan yang tak karuan seperti ini.


Khalisha oh Khalisha. Bagaimana bisa dirinya jatuh cinta padanya. Khalisha sangat jauh berbeda dari tipe cewek idamannya. Sifatnya yang dingin, tertutup, dan tak peduli dengan orang lain, ketiga sifat itu tak ada dalam kriterianya. Tapi anehnya, Khalisha seakan punya daya tarik tersendiri yang membuatnya susah untuk melepaskan pandangannya darinya.


Daniel kembali menghela napas. Sekarang ia malah pusing memikirkan cara untuk mendapatkan hati Khalisha. Apalagi, ini adalah pertama kalinya ia akan mengejar seorang cewek. Ia tak tahu menahu mengenai hal itu. Dan sialnya, Nathan tak memberitahukannya caranya.


"Apa yang harus kulakukan besok? Gimana caranya aku mendekati Khalisha? Dasar, Nathan. Kalau ngomong kok nanggung. Masa nggak kasih aku saran sih buat deketin Khalisha. Khalisha... Khalisha, kau memang hebat. Kau bisa membuatku pusing begini," gumamnya dalam hati.


***


Hari ini Daniel sengaja bangun pagi-pagi sekali, lebih tepatnya ia tak bisa tidur dengan nyenyak. Dengan senyum di wajahnya, ia menatap bayangan dirinya di cermin, memastikan penampilannya sudah rapi. Ia lantas melirik arloji yang melingkar manis di tangan kirinya. Jarum arlojinya menunjukkan pukul 06.30. Waktunya menjemput Khalisha di rumahnya. Ia yakin kalau saat ini Khalisha sedang bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Tak perlu berlama-lama lagi, ia segera menyambar tas dan kunci motor yang ada di meja belajarnya, lalu berjalan dengan cepat menuju pintu rumahnya.


Bi Nani yang sedang menyapu lantai di beranda sontak menghentikan aktivitasnya. Bi Nani menatap bingung majikannya itu. Baru kali ini Bi Nani melihat Daniel tergesa-gesa ingin berangkat ke sekolah.


"Den Daniel sudah mau berangkat ke sekolah?" tanya Bi Nani dengan tatapan bingung.


"Iya, Bi," jawabnya singkat.


"Tumben berangkat ke sekolahnya jam segini? Biasanya jam 7 lewat?"


"Lagi pengen aja, Bi," jawab Daniel sekenanya. Ia lantas duduk dan mengenakan sepatunya dengan cepat.


"Den sudah sarapan belum?"


"Belum, Bi. Nanti aja sarapannya di kantin," jawabnya sembari bangkit, "sudah ya, Bi. Nanti aku telat. Aku pergi dulu ya, Bi."


Daniel lantas mencium punggung tangan Bi Nani, lalu berjalan dengan cepat menuju motornya. Tak lupa sebuah helm ia siapkan khusus untuk Khalisha nanti.


"Hati-hati ya, Den. Bawa motornya jangan ngebut-ngebut!" seru Bi Nani mengingatkan.

__ADS_1


"Ya, Bi." Daniel pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


Bi Nani hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh majikannya itu. Bi Nani bisa melihat perubahan dalam diri Daniel. Daniel yang sekarang terlihat lebih hidup. Berada sendirian di rumah, Bi Nani bisa merasakan rasa kesepian yang di alami oleh majikannya itu. Walaupun teman-temannya sering datang ke rumah, tapi tetap saja hal itu tak akan bisa digantikan dengan kasih sayang orang tua. Dan sayangnya, Daniel bukan anak yang banyak mendapatkan hal itu.


Terkadang Bi Nani merasa kasihan dengan Daniel. Karena orang tuanya jarang pulang ke rumah, sifat Daniel yang terbuka dan ramah pada semua orang perlahan-lahan menjadi dingin dan tertutup. Selain Nathan, Andhika, dan Bayu, Bi Nani tak pernah melihat kedatangan teman-teman Daniel lainnya. Makanya, saat Daniel membawa Khalisha ke rumah, Bi Nani sangat kaget sekaligus merasa senang. Apalagi, Bi Nani juga melihat kalau sifat Khalisha tak jauh berbeda dengan Daniel. Bi Nani malah merasa Daniel dan Khalisha adalah pasangan yang serasi.


***


Motor Kawasaki Ninja hitam milik Daniel akhirnya berhenti di parkiran sekolah. Dengan wajah yang ceria, Daniel turun dari motornya. Seperti sebelum-sebelumnya, setelah melepaskan helm dari kepalanya, tangannya langsung melepaskan helm yang menempel di kepala Khalisha.


Setelah memasukkan kunci motornya di saku celananya, Daniel melepaskan tasnya dan memberikannya pada Khalisha untuk dibawakannya.


"Yuk, masuk!" ajak Daniel tersenyum, lalu melangkahkan kaki memasuki koridor sekolah.


Khalisha pun melangkahkan kakinya mengikuti Daniel. Ia menatap aneh Daniel. Pagi-pagi dia sudah ada di halaman rumahnya, mengajaknya untuk berangkat bersamanya. Setahunya, jarak antara rumah Daniel dengan sekolah cukup jauh. Daniel bisa saja langsung berangkat ke sekolah. Namun, dia malah datang terlebih dahulu ke rumahnya, membuatnya merasa tak enak pada Daniel.


"Daniel, lain kali kamu nggak perlu repot-repot datang ke rumahku," ucap Khalisha memberanikan diri. Ia berharap Daniel tak akan tersinggung dengan apa yang di ucapkannya itu.


Daniel sontak menatap Khalisha. Ada raut kekecewaan yang terlihat di wajahnya.


"Bukan. Bukan itu maksudku," sahut Khalisha buru-buru menyanggah, "aku hanya nggak mau bikin kamu repot."


"Siapa bilang aku repot? Aku sama sekali nggak repot, kok. Justru aku senang bisa berangkat bareng sama kamu," terang Daniel.


"Aku merasa nggak enak aja sama kamu. Rumah kamu kan cukup jauh dari sekolah, masa kamu harus jemput aku dulu di rumah. Kamu kan jadinya harus berangkat agak pagian," sahut Khalisha hati-hati.


"Kenapa kamu harus merasa nggak enak? Ini kan kemauan aku sendiri. Aku sendiri yang ingin jemput kamu di rumah. Tolong jangan larang aku ya buat berangkat bareng sama kamu, Lis," ucap Daniel memohon.


Melihat Daniel seperti itu, Khalisha merasa tak tega. Apalagi, mengingat kebaikan yang dilakukan Daniel padanya, tak adil juga rasanya melarang apa yang ingin dilakukan oleh majikannya itu. Selama itu hal yang positif, tak ada salahnya ia membiarkan Daniel berbuat semaunya.


"Baiklah. Asal nggak merepotkan kamu aja," ucap Khalisha akhirnya.

__ADS_1


Daniel tersenyum senang mendengar ucapan Khalisha. Namun, di tengah kebahagiaannya itu, perutnya tiba-tiba berbunyi minta diisi makanan. Ia sontak memegang perutnya yang kelaparan. Kedua matanya lantas melirik Khalisha, berharap Khalisha tak mendengar suara perutnya.


"Kamu belum sarapan?" tanya Khalisha terlontar begitu saja dari mulutnya.


Daniel sontak menunduk. Ada rona merah yang terlihat di kedua pipinya saking malunya.


"Iya, aku belum sarapan."


"Kalau gitu ke kantin dulu sarapan. Mumpung belum masuk kelas," saran Khalisha.


Lagi-lagi Daniel tersenyum senang. Dengan begini, ia bisa lebih lama berduaan dengan Khalisha. Apalagi, hanya terlihat beberapa murid yang mengisi kelas-kelas yang kosong, membuatnya semakin bersemangat untuk mendekati Khalisha tanpa adanya pengganggu yang datang.


Sesampainya di kantin, Daniel menatap kecewa. Hanya ada kursi dan meja kosong yang berjejer rapi di sana. Tak ada penjual makanan yang buka. Mungkin karena sekarang masih terlalu pagi, sehingga penjual makanan yang biasanya sudah berjejer di kantin masih tutup.


"Kita ke kelasku, yuk! Percuma aja di sini. Belum ada yang buka," ajak Daniel sembari memegang perutnya yang kelaparan.


Bukannya pergi, Khalisha malah menarik tangan Daniel menuju salah satu bangku yang kosong dan duduk di sana. Ia lantas menepuk-nepuk bangku di sampingnya, menyuruh Daniel untuk duduk. Walau bingung, Daniel menuruti kemauan Khalisha.


Khalisha meletakkan tas Daniel di atas meja, lalu melepaskan tas yang sejak tadi menempel di punggungnya. Ia lantas membuka tasnya dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Untuk sementara kamu makan ini dulu. Lumayan buat ganjal perut," ucapnya sembari menyodorkan bekal makanannya.


Daniel menatap kaget. "Tapi, Lis, ini kan bekal makananmu. Masa dikasih ke aku."


"Udah makan aja! Daripada kamu kelaparan nanti di kelas. Sekarang aja tuh perut kamu sudah berbunyi, apalagi nanti saat di kelas. Bisa-bisa kamu pingsan lagi karena kelaparan."


Daniel merasa tak enak sekaligus senang dengan perhatian Khalisha. Ia sama sekali tak menyangka Khalisha akan menyerahkan bekal makanannya padanya. Namun tetap saja, ia kesal dengan dirinya sendiri. Seharusnya, ia juga membawa bekal makanan, sehingga ia tak harus merepotkan Khalisha.


"Kenapa nggak dimakan? Kamu pasti nggak selera ya makan makanan seperti ini?" tanya Khalisha membuyarkan lamunan Daniel.


"Aku selera kok makan makanan seperti ini. Aku itu nggak pilih-pilih makanan," sahut Daniel, lalu membuka tutup bekal.

__ADS_1


Suap demi suap nasi memberi kelegaan pada perutnya yang kosong. Perutnya pun tak lagi berbunyi. Daniel tersenyum kecil. Melihat bekal makanan Khalisha yang diberikan kepadanya, memberikannya sebuah alasan yang bagus untuk menemui Khalisha nanti di kelasnya. Sepertinya, keberuntungan lagi berpihak padanya. Ia bisa mendekati Khalisha tanpa halangan apa pun.


***


__ADS_2