
Daniel masih belum melajukan motornya meninggalkan rumah Khalisha. Di bawah sinar matahari yang semakin panas, ia malah duduk dengan santainya di atas motornya. Tangannya lantas mengambil benda pipih yang selalu ia bawa di saku celananya, lalu dengan cepat menekan nomor Nathan.
"Halo, Niel!" sapa Nathan di telepon.
"Kamu di rumah?" tanya Daniel tanpa basa-basi.
"Nggak. Aku lagi ada di rumah Andhika. Tumben nanya? Emangnya kenapa?"
"Bayu juga ada di sana?" Bukannya menjawab, Daniel malah balik bertanya.
"Bayu?! Ada kok. Ini orangnya ada di samping aku. Emangnya kenapa sih? Kamu ingin ngomong sama Bayu? Kenapa nggak telpon Bayu aja?" tanya Nathan mulai penasaran.
"Kalau gitu aku ke sana sekarang," balas Daniel langsung memutuskan sambungan telepon sepihak.
Sementara itu di kamar Andhika, Nathan menatap jengkel pada androidnya.
"Kenapa, Than?" tanya Bayu penasaran.
"Ini nih Daniel, main dimatiin aja telponnya. Nggak ada basa-basinya sama sekali," sahut Nathan, lalu menyimpan androidnya di saku celananya.
"Emangnya dia ngomong apa?" tanya Andhika mulai penasaran.
"Dia cuma nanya aku sama Bayu ada di mana, trus katanya mau ke sini," terang Nathan.
Andhika yang mendengar perkataan Nathan malah merasa bingung. Ia merasa tak ada yang salah ataupun aneh dari Daniel.
"Trus, apa yang membuatmu kesal?"
"Aku nanya kenapa, bukannya menjawab eh malah langsung dimatiin aja telponnya. Sebel banget kan," sahut Nathan kesal.
"Ya elah, gitu aja kesal. Bukannya sudah biasa ya Daniel begitu? Kayak cewek aja kamu, Than," ucap Bayu tertawa.
"Tau nih, dikira apa tadi," sambung Andhika ikut tertawa.
Nathan menghela napas. Mendengar ucapan dari kedua sahabatnya itu, ia jadi malu sendiri. Apa yang dikatakan oleh Bayu memanglah benar. Ini bukanlah sekali dua kali saja ia diperlakukan seperti itu oleh Daniel, melainkan puluhan kali. Bisa-bisanya ia kesal untuk hal sepele itu.
Di sisi lain, Khalisha masih setia berdiri di dekat Daniel. Tangannya tampak memegang dua kantong plastik berukuran sedang. Rasanya tak sopan bila dirinya meninggalkan Daniel seorang diri di luar rumahnya. Walaupun ia hanya diam saja memandangnya, setidaknya sebagai tuan rumah ia tak menelantarkan tamunya begitu saja.
"Gimana?" tanyanya penasaran dengan obrolan Daniel di telepon.
Pandangan mata Daniel sontak beralih pada wajah gadis yang terus berdiri di sampingnya itu. Gadis yang sudah disuruhnya untuk masuk itu ternyata masih menemaninya berpanas-panasan di luar. Walau hanya berdiri, entah kenapa ia sudah merasa senang.
"Aku mau ke rumah Andhika sekarang," ucapnya, lalu memasukkan androidnya ke saku celananya.
"Kenapa nggak pulang?"
"Bosan di rumah. Di rumah juga cuma ada Bi Nani. Lagi pula aku juga sekalian mau kasih itu ke mereka," jawabnya, lalu mengambil plastik yang dipegang Khalisha.
"Oh, kalau gitu hati-hati di jalan," ucap Khalisha tersenyum tipis.
"Kamu nggak mau ikut?"
"Ikut?!" tanya Khalisha kaget, "ngapain aku di sana?"
"Ya tentu aja duduk manis memandang wajah tampanku ini," sahut Daniel menggoda.
Khalisha melongo mendengarnya. Bukannya senang, ia malah merasa geli mendengarnya. Gombalan seperti itu memang baru di telinganya karena selama ini ia selalu sendirian.
"Gimana? Jadi ikut nggak?" tanya Daniel dengan senyum lebar di bibirnya.
"Nggak ah. Lain kali aja," tolak Khalisha.
"Yah... sayang sekali. Nggak bisa bermanja-manja sama pacar sendiri deh. Baru juga jadian, kan masih kangen," sahut Daniel berpura-pura sedih.
__ADS_1
Khalisha menatap malas. "Nggak usah lebay deh. Nggak cocok sama kamu. Lagian juga besok kita ketemu di sekolah."
"Hahhh... coba aja kamu punya hp, pasti aku bakalan video call sama kamu," keluh Daniel.
"Bukannya tiap hari kita ketemuan ya di sekolah. Trus ngapain pake video call segala?" tanya Khalisha bingung.
"Yah, kalau cuma ketemuan di sekolah mah nggak puas kangen-kangenannya. Gimana kalau kita nikah aja?" Daniel mengedipkan matanya menggoda Khalisha.
Khalisha langsung mencubit tangan Daniel, membuat Daniel meringis kesakitan. Wajahnya memerah saking malunya dengan ucapan Daniel. Untung saja tak ada orang, ia pasti akan menjadi bahan tertawaan mereka.
"Nih orang pikirannya kemana sih? Belum juga sehari pacaran, udah ngajak nikah aja," batinnya.
"Kok aku dicubit sih, Lis?" tanya Daniel berpura-pura kesal. Dalam hatinya, ia tertawa melihat wajah Khalisha yang memerah karena malu.
"Pergi sana! Teman-temanmu pasti udah pada nungguin," usir Khalisha menyembunyikan malunya.
"Kok aku diusir? Aku kan masih mau berlama-lama sama kamu," ucapnya cemberut.
"Daripada kamu lama-lama di sini ngomong ngaco, lebih baik kamu ke rumah Andhika," sahut Khalisha kesal.
"Siapa juga yang ngaco? Aku serius, kok. Ya udah, deh. Aku pergi sekarang. Jangan kangen aku ya." Daniel lantas melajukan motornya meninggalkan Khalisha.
Khalisha menatap kepergian Daniel dengan geleng-geleng kepala. Ia sama sekali tak menyangka Daniel akan bicara seaneh itu padanya.
***
Di dalam kamar yang tak terlalu luas, tiga cowok tampan tampak asyik menikmati camilan. Sesekali mereka tertawa di sela-sela obrolan yang tak penting.
"O ya, mana Daniel? Kata kamu tuh anak mau ke sini?" tanya Bayu.
"Iya, ya. Padahal sudah 25 menit lalu tuh anak nelpon. Kok nggak nyampe-nyampe ya?" sahut Nathan baru sadar.
Baru juga dibicarakan, orang yang ditunggu akhirnya datang. Pandangan mata Nathan, Andhika, dan Bayu sontak mengarah pada pintu kamar. Dengan santainya dia mendekat dan duduk di antara mereka.
"Dari rumah Khalisha," jawabnya santai.
"Hah?! Apa aku nggak salah dengar? Kamu dari rumah cewek?" Nathan kaget mendengarnya. Baru kali ini ia mendengar sahabatnya itu pergi ke rumah seorang cewek.
"Iya. Emangnya kenapa?"
"Ya nggak apa-apa, sih. Cuma kaget aja. Kamu yang biasanya nggak dingin sama cewek ternyata bisa dekat juga sama cewek."
"Kamu bawa apa, Niel?" tanya Bayu melirik kantong plastik yang dibawa Daniel.
"Donat buatanku," jawabnya tersenyum.
Lagi-lagi Nathan dibuat kaget oleh Daniel. Tak hanya Nathan, Andhika dan Bayu pun ikut kaget mendengarnya. Setahu mereka, Daniel tak bisa memasak. Jangankan memasak, sekedar memegang sayuran pun, Daniel tak pernah melakukannya karena semuanya diurus oleh Bi Nani.
"Serius kamu, Niel? Itu beneran buatanmu?" tanya Bayu tak percaya.
Daniel tersenyum sambil menggaruk-garukkan kepalanya yang tak gatal. "Sebenarnya Khalisha yang buat. Aku cuma bantuin dia mencetak adonannya aja."
"Ya ampun, kupikir kamu beneran yang buat tu donat," sahut Nathan.
Tanpa meminta izin dari si pemiliknya, Bayu langsung mengambil kantong plastik dari tangan Daniel dan membukanya. Saat melihat isi plastik tersebut, Bayu sontak tertawa.
"Bentuk apa ini, Niel? Dimana-mana donat itu bentuknya bulat," ucapnya di sela-sela tawanya.
Karena penasaran, Nathan pun merebut plastik yang dipegang Bayu. Antara kaget, tak percaya, dan juga lucu melihat apa yang dibuat oleh Daniel.
"Apa yang kalian berdua lihat?" tanya Andhika penasaran melihat Bayu yang tertawa dan Nathan yang sedang menahan tawa.
"Coba kamu lihat, Dhik!" Nathan lantas mengangkat salah satu donat.
__ADS_1
Andhika sontak tertawa kecil melihatnya. "Itu donat beneran kamu sendiri yang bentuk?"
"Tentu saja aku. Emangnya kenapa?" tanya Daniel bingung.
"Pantesan bentuknya nggak karuan," sindirnya, "emangnya di rumah Khalisha nggak ada cetakan donat?"
Bukannya malu, Daniel malah terlihat santai. "Ada sih, cuma akunya aja yang mau. Aku mau donat dengan bentuk yang beda. Nggak cuman bulat terus. Kalau kalian nggak mau tuh donat, bawa ke sini! Biar kumakan sama Bi Nani di rumah."
"Jadi ni donat buat kita?"
"Kalau tuh donat bukan buat kalian, ngapain juga aku capek-capek bawa itu ke sini?" sahutnya ketus, "bawa sini kalau nggak mau! Biar kubawa pulang."
Bayu segera menepis tangan Daniel yang hendak mengambil kembali kantung plastik tersebut.
"Enak aja main ambil. Belum juga nyicipin," omelnya, lalu memakan donat yang dipegangnya.
"Tau nih. Aku juga mau cobain donat bentukan anehmu ini," sambung Nathan di sela-sela makannya.
"Tapi kenapa bentuknya kayak gini, Niel? Kenapa bentuknya nggak bulat seperti donat biasanya?" tanya Andhika penasaran.
"Tentu saja karena itu sebagai bentuk perasaaku sama Khalisha. Emangnya apa lagi," sahut Daniel santai.
Nathan, Andhika, dan Bayu sontak tertawa mendengarnya. Mereka sama sekali tak menyangka bila seorang gadis yang bernama Khalisha bisa meluluhkan hati sahabatnya itu.
"Kenapa kalian tertawa?" tanya Daniel menatap bingung pada ketiga sahabatnya itu.
"Akhirnya sahabat kita ini bisa suka juga sama cewek. Padahal aku sempat mikir kalau kamu itu gay," cerocos Bayu.
Daniel sontak memukul kepala Bayu. "Enak aja kamu bilang aku gay. Aku ini cowok normal tau."
"Niel, sakit tahu," sahut Bayu sembari mengusap-usap kepalanya yang sakit, "ya habisnya, sikap kamu dingin banget kalau di dekat cewek,"
"Itu bukan berarti aku gay, Bay. Aku cuman belum nemu yang pas aja sama aku."
"Trus, hubungan kalian gimana? Kamu masih PDKT sama Khalisha?" tanya Andhika tiba-tiba.
"Udah nggak lagi. Aku sama dia udah resmi pacaran," sahut Daniel tersenyum senang.
"Wah, kalau gitu selamat ya. Akhirnya kamu punya pacar juga. Besok kenalin ke kita ya," ucap Nathan bersemangat. Ia penasaran sekaligus ingin mengenal pacar sahabatnya itu.
"Nggak boleh," balas Daniel tegas.
"Ya ampun, Niel. Aku kan cuman mau kenalan, bukan mau merebut pacar kamu," ucapnya mendengus kesal.
"Sekali nggak boleh, ya nggak boleh."
"Udah! Kalian ini kayak anak kecil aja," ucap Andhika menatap malas, "oh ya, ngomong-ngomong traktirannya mana nih? Masa nggak ada traktirannya sama sekali?"
"Lah, yang kalian makan itu apa. Ya itu traktirannya."
"Ini?!" tanya mereka serempak.
"Ya. Emangnya kenapa aku capek-capek bawa tu donat ke sini?"
"Dasar pelit," gerutu Nathan.
"Nggak bermodal," gerutu Bayu.
Daniel langsung memukul kepala Nathan dan Bayu. "Ngomong apa kalian? Seenaknya aja kalau ngomong. Udah untung aku bawain."
"Terserah," jawab mereka malas.
Sambil menikmati donat yang dibawa Daniel, mereka kembali melanjutkan obrolan mereka. Sesekali, Nathan, Bayu, dan Andhika tertawa melihat wajah Daniel yang memerah karena malu. Banyak sekali pertanyaan dan nasehat yang diberikan mereka untuk Daniel. Tak tahu apakah itu penting atau tidak, Daniel hanya diam mendengarkan dan memilah-milah mana yang bisa ia terapkan dalam hubungannya dengan Khalisha ke depan.
__ADS_1
***