Take My Heart

Take My Heart
PERINGATAN


__ADS_3

Mayang menghembuskan napas dengan berat. Lagi-lagi tugas menantinya untuk dikerjakan. Walau tugas yang diberikan oleh guru dikerjakan oleh dua orang, tetap saja harus dikerjakan. Namun untunglah, tugas makalah kali ini ia dikelompokkan bersama dengan Khalisha. Bila dikerjakan bersama dengan Khalisha, tugas yang berat pasti bisa diselesaikan dengan mudah. Itulah salah satu keunggulan bila satu kelompok dengan orang pintar. Tanpa banyak bicara, mereka lebih aktif dalam mengerjakan tugas, sedangkan yang lainnya hanya membantu sebisanya saja.


Lain halnya dengan Khalisha. Dari tadi ia masih fokus dengan buku di tangannya. Beberapa kali tangannya terlihat memberi garis bawah pada kalimat-kalimat yang dianggapnya penting. Walau sedikit, setidaknya itu bisa membantu dalam pembuatan makalahnya.


"Lis, ke kantin, yuk!" ajak Mayang memasukkan bukunya ke dalam tas.


"Kamu sendiri aja ya. Aku mau ke perpus," sahut Khalisha menolak.


"Emangnya kamu mau cari buku apa di perpus? Mau cari novel lagi?"


"Bukan. Aku mau cari bahan buat makalah kita." Khalisha lantas membuka kotak pensilnya dan mengambil kartu perpustakaan.


"Makalahnya kan dikumpul minggu depan. Ngapain kita cari bahannya sekarang? Kenapa nggak besok aja?" tanya Mayang agak malas. Ia tahu kalau Khalisha pintar dan juga rajin. Tapi, ia tak menyangka kalau Khalisha akan serajin ini dalam mengerjakan tugas.


"Aku tahu kalau makalahnya dikumpul minggu depan, tapi kalau dikerjakan lebih cepat kan lebih baik. Lagi pula kalau selesainya cepat kan lebih enak. Kita tinggal santai aja, nggak pusing mikirin tugas yang belum selesai," jelas Khalisha, lalu bangkit dari kursinya.


Mayang mengangguk pelan. Memang benar yang dikatakan Khalisha. Lebih cepat tugas makalahnya selesai, ia bisa berleha-leha menunggu di mana tugasnya dikumpulkan.


"Lis, tunggu!" cegahnya cepat.


"Kenapa, May?"


"Aku ikut kamu ke perpus." Mayang lantas mengambil kartu perpustakaan dan bangkit dari kursinya.


Koridor sekolah hari ini terlihat ramai. Padahal bel sekolah tanda istirahat belum berbunyi, namun banyak sekali murid-murid dari berbagai kelas berkerumun memenuhi koridor sekolah. Mungkin para guru sedang rapat di kantor, sehingga membiarkan para murid bertindak sesuka hati.


Khalisha dan Mayang berjalan dengan santai menelusuri koridor. Tak ada percakapan di antara mereka. Mereka tampak asyik dengan pikiran mereka masing-masing.


Langkah kaki Khalisha tiba-tiba berhenti, membuat Mayang ikut menghentikan langkah kakinya. Seorang gadis cantik tengah berdiri tepat di depan Khalisha. Matanya menatap sinis. Senyumnya terkesan mengejek.

__ADS_1


"Kamu Khalisha, kan?" tanyanya tiba-tiba.


"Ya. Kamu siapa ya? Perasaan kita nggak pernah ketemu. Kenapa kamu bisa tahu bisa tahu namaku?" tanya Khalisha bingung. Ia sangat yakin kalau dirinya tak pernah bertemu dengan gadis dihadapannya itu. Namun, gadis itu tiba-tiba saja menghampirinya dengan tatapan tak suka.


"Kamu itu bodoh atau pura-pura bodoh?" tanyanya sinis, "siapa sih yang nggak kenal sama kamu, cewek miskin yang lagi kegatelan deketin Daniel."


Mayang sangat geram mendengarnya. Walau bukan dirinya yang dihina, tetap saja ia marah bila sahabat baiknya dihina sama orang lain. Tak ada angin tak ada hujan, gadis itu tiba-tiba saja datang menghampiri Khalisha dan melontarkan kata-kata yang tak pantas. Padahal, dia sama sekali tak tahu seperti apa sifat Khalisha. Dia juga tak tahu seperti apa kejadian yang sebenarnya. Tapi, bisa-bisanya dia menganggap Khalisha sebagai cewek gatal yang mendekati Daniel. Padahal yang ia lihat selama ini, Daniel lah yang terus menempel pada Khalisha.


"Kenapa diam? Benar kan apa yang ku omongin itu? Kamu itu nggak lebih dari cewek miskin yang berharap punya pacar orang kaya. Seharusnya kamu itu sadar diri. Kamu itu nggak pantas sama Daniel," lanjut gadis itu menghina.


"Tutup mulut busukmu itu! Datang-datang main hina orang aja. Kamu ada di sini buat belajar kan? Apa gunanya kamu ada di sini kalau kamu nggak belajar bagaimana bicara yang baik dengan orang lain? Lebih baik kamu nggak usah sekolah, nggak ada gunanya," balas Mayang ketus. Telinganya sudah sangat panas mendengarkan hinaan gadis itu.


Gadis itu melirik tajam ke arah Mayang. "Berani-beraninya kamu ngomong begitu sama aku! Kamu itu siapa? Ikut campur urusan orang aja. Nggak usah sok jadi pahlawan kesiangan deh. Urus aja urusanmu sendiri."


"Siapa juga yang mau jadi pahlawan kesiangan? Dan kenapa juga aku nggak berani ngomong gitu sama kamu? Emangnya kamu itu siapa? Ratu, yang harus dihormati oleh rakyatnya? Kamu aja nggak menghormati orang lain, ngapain juga aku menghormati kamu?" ucap Mayang masih dengan ketusnya.


"Kau—"


Gadis itu tak terima dengan perkataan Mayang. Ia merasa terhina. Padahal niatnya ingin membuat Khalisha menjauhi Daniel, tapi yang terjadi malah di luar dugaannya. Selain kesal pada gadis di samping Khalisha, ia juga kesal pada dirinya sendiri. Ia salah memilih waktu. Seharusnya, ia menghampiri Khalisha saat dia sedang sendirian.


"Yuk, Lis kita pergi! Buang-buang waktu aja kalau kelamaan di sini," ajak Mayang. Ia lantas menggandeng tangan Khalisha dan melangkah pergi menjauhi gadis itu.


Gadis itu semakin geram. Tangannya lantas mencengkam tangan Khalisha, membuat Khalisha menghentikan langkahnya.


"Lepaskan!" pinta Khalisha dingin.


"Aku nggak akan lepasin kamu," sahutnya menahan emosi.


Mayang terpaksa menghentikan langkahnya. Dengan kesal, ia berkata, "Lepasin tangan Khalisha! Kamu nggak ada kerjaan lain apa selain mengganggu orang?"

__ADS_1


"Aku nggak ngomong sama kamu," sahutnya kesal, "dan kamu, aku masih belum selesai ngomong sama kamu."


"Kamu mau ngomong apa sama aku?" tanya Khalisha malas. Ia benar-benar tak suka dengan suasana seperti ini.


"Aku peringatkan kamu! Jauhi Daniel! Kamu itu nggak pantas buat Daniel! Kalau kamu masih deket-deket sama Daniel, aku pastikan kamu nggak akan pernah tenang berada di sekolah ini," ucapnya mengancam.


"Memangnya siapa kamu? Berani-beraninya kamu ngancam Khalisha untuk dekat sama aku?" tanya Daniel geram. Ia berjalan mendekati Khalisha.


Gadis itu terkejut melihat kedatangan Daniel. Ia sontak melepaskan cengkaman tangannya.


"Daniel, ini nggak seperti yang kamu lihat."


"Memangnya seperti apa yang seharusnya aku lihat?" tanya Daniel dingin. Ia tak suka dengan gadis dihadapannya itu, lebih tepatnya tak suka dengan orang yang suka ikut campur dengan urusan orang lain.


"Aku—"


"Bukankah aku sudah pernah ngomong sama kamu untuk nggak ganggu aku? Aku paling nggak suka sama orang yang suka ikut campur sama urusanku," potong Daniel.


"Kenapa Daniel? Kenapa aku nggak boleh deket-deket sama kamu? Kenapa kamu lebih memilih cewek miskin itu daripada aku? Apa sih hebatnya dia?" tanyanya tak terima.


"Karena Khalisha berbeda. Dia nggak pernah mencoba mendekati aku seperti yang kamu lakukan. Dia juga nggak pernah berpura-pura bersikap baik di depanku. Dia apa adanya. Itulah yang membuatku nyaman ada di dekatnya," jelas Daniel, "Dan kamu Mikha, aku nggak mau lagi melihat kamu mengganggu apalagi mengancam Khalisha."


"Tapi Daniel, aku suka sama kamu. Aku melakukan ini demi kebaikan kamu. Masa kamu deket-deket sama cewek miskin ini. Apa kata yang lain tentang kamu, Daniel. Aku nggak mau kamu diejek," ucap Mikha beralasan. Ia tak mau Daniel tambah benci dengannya.


"Aku sama sekali nggak peduli dengan omongan orang lain. Lagi pula, kamu itu siapanya aku? Kamu harus ingat! Kamu itu bukan siapa-siapaku. Jadi, kamu nggak berhak ikut campur dengan urusanku," ucap Daniel tegas, "dan satu hal yang harus kamu tau. Bukan Khalisha yang dekatin aku, tapi aku yang dekatin Khalisha. Aku harap, kamu nggak melakukan hal ini lagi. Kalau aku sampai tahu kamu mengancam Khalisha, aku nggak akan segan-segan bersikap kasar sama kamu."


Tak terasa air mata keluar dari mata Mikha. Tak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dadanya terasa sesak. Hatinya sangat hancur melihat Daniel ternyata menyukai orang lain.


Mayang hanya diam menyaksikan. Tanpa sadar, ia terpesona dengan sikap Daniel yang membela Khalisha. Menurutnya, sikap Daniel saat ini terlihat sangat keren. Beruntung sekali Khalisha disukai oleh Daniel. Ia pun melepaskan genggaman tangannya dari tangan Khalisha. Ia merasa kalau Khalisha sudah berada di tangan yang tepat.

__ADS_1


Daniel lantas menarik tangan Khalisha dan membawanya pergi. Mau tak mau, Khalisha pun mengikuti Daniel. Daniel sama sekali tak memperdulikan Mayang yang sejak tadi ada di samping Khalisha. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah membawa Khalisha ke tempat di mana tak ada orang yang akan mengganggunya.


***


__ADS_2