
Jam menunjukkan pukul 9 malam. Khalisha masih setia berkutik dengan bukunya. Namun, apa yang dibacanya tak ada satu kalimat pun yang masuk ke dalam memori otaknya. Hari ini pikirannya sama sekali tak bisa fokus.
Khalisha menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia lantas bersandar di kursinya, lalu menutup bukunya. Percuma saja ia membuka buku dan memaksa untuk membacanya, pikirannya terus saja tertuju pada hal yang lain.
Sejak pulang sekolah tadi siang, otaknya terus saja memikirkan perkataan Daniel di taman belakang sekolah. Walaupun ia berusaha mengalihkan pikirannya dengan melakukan berbagai kegiatan di rumah, tapi tetap saja pernyataan Daniel akan perasaannya membuatnya tak bisa fokus melakukan apa pun.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Khalisha. Ia pun segera beranjak dari meja belajarnya dan menuju pintu kamarnya.
Pintu kamar ia buka dengan perlahan. Terlihat nenek berdiri dengan tangan membawa nampan berisi segelas susu dan sepiring kue. Tanpa berkata apa pun, nenek melangkah masuk ke dalam kamar Khalisha. Kedua mata nenek menatap meja belajar Khalisha. Sebuah buku tampak tergeletak di meja. Nenek tersenyum kecil. Sepertinya, ia datang di waktu yang tepat. Nenek akhirnya meletakkan nampan di meja belajar, lalu duduk di kasur Khalisha.
Khalisha pun melangkah mendekati nenek. Jarang sekali nenek mengantarkan susu dan camilan di malam hari. Entah ada angin apa nenek melakukannya. Daripada penasaran, ia pun duduk di meja belajarnya.
"Tumben Nenek bawa susu dan kue. Ada apa?"
Nenek menghela napas. "Emangnya Nenek nggak boleh bawa susu dan kue buat cucu sendiri?"
"Bukan begitu maksudku, Nek. Cuma tumben aja. Nggak biasanya Nenek begini."
"Mumpung ada, Lis. Lagi pula pas banget kan kamu selesai belajar," sahut nenek tersenyum, "dimakan dong kuenya, Lis! Nenek sudah capek-capek buatnya."
"Ya ampun, Nek. Takut amat kuenya nggak dimakan. Tenang aja! Kue sama susunya pasti ludes masuk ke dalam perutku," canda Khalisha.
Nenek terkejut mendengarnya. Ini pertama kalinya nenek mendengar Khalisha bercanda. Biasanya Khalisha selalu bicara serius, tak peduli dalam situasi apa pun. Rasanya senang sekali melihat perubahan cucunya itu.
"Nenek mau ngobrol apa?" tebak Khalisha. Dengan mata yang masih menatap nenek, ia mengambil kue dan memakannya dengan perlahan.
"Kok kamu tau Lis kalau Nenek mau ngobrol sama kamu?" tanya nenek penasaran.
"Ya tentu aja aku tau, Nek. Nenek kan jarang-jarang masuk ke sini bawa kue sama susu. Biasanya kalau bawa camilan, Nenek pasti mau ngobrol sama aku, kan. Emangnya Nenek mau ngobrol apa?"
"Nenek mau tanya, gimana hubunganmu sama Daniel? Kamu sudah pacaran sama dia?" tanya nenek penasaran.
Khalisha sontak terbatuk. Ia kaget mendengar pertanyaan dari neneknya. Buru-buru ia mengambil susu yang ada di samping kue dan meneguknya hingga setengah gelas.
__ADS_1
"Makanya, Lis, kalau makan pelan-pelan. Keselek kan jadinya," ucap nenek menasehati.
Khalisha diam. Ia tak membalas perkataan neneknya. Entah kenapa hari ini topik pembicaraannya tak jauh dari Daniel. Saat di sekolah, ia sudah dikagetkan dengan perasaan Daniel padanya, dan sekarang ia kembali dikagetkan dengan pertanyaan nenek tentang hubungannya dengan Daniel.
"Gimana, Lis?" tanya nenek kembali.
"Gimana apanya?" tanya Khalisha pura-pura tak tahu.
"Gimana hubunganmu sama Daniel teman cowokmu itu?"
"Biasa aja, Nek," balas Khalisha sekenanya.
"Masa sih? Kok Nenek nggak percaya, ya. Kelihatan banget loh kalau Daniel itu suka sama kamu, Lis," ucap nenek tak percaya.
Khalisha menghembuskan napas panjang. Memang sangat susah menyembunyikan apa pun dari sang nenek. Hanya dari gerak-gerik saja, nenek sudah bisa menebak.
"Jawab dong, Lis! Jangan buat Nenek penasaran," ucap nenek agak mendesak.
"Hubunganku sama Daniel masih sama seperti dulu, masih sekedar majikan sama pembantu," balas Khalisha jujur.
"Kamu nggak ada perasaan apa pun sama Daniel?"
"Aku juga nggak tahu, Nek," jawab Khalisha bingung. Ia sendiri tak tahu apakah yang dirasakannya pada Daniel adalah rasa suka atau bukan.
"Maksudmu, Lis? Nenek nggak ngerti," tanya nenek bingung.
Rasa haus membuat Khalisha kembali mengambil susu dan meminumnya hingga habis. Sejak tadi siang, ia memang merasa kalau dirinya butuh seseorang untuk memberinya nasehat.
"Sebenarnya tadi siang di sekolah, Daniel menyatakan perasaannya sama aku, Nek. Dia bilang, dia suka sama aku dan mau aku menjadi pacarnya."
Sebuah senyuman tentu saja terlihat di bibir nenek. Nenek senang karena ada cowok yang menyukai Khalisha apa adanya.
"Trus, kamu jawabnya apa?" tanya nenek semakin penasaran.
"Itu dia masalahnya, Nek. Aku bingung mau jawab apa sama Daniel. Mau nolak nggak enak, tapi mau terima juga perasaanku masih nggak jelas sama dia," jawab Khalisha mengutarakan apa yang telah mengganggu pikirannya.
__ADS_1
"Nggak jelas gimana maksud kamu? Kalau ngomong yang jelas dong, Lis. Biar Nenek nggak bingung."
"Jujur saja ya, Nek, aku merasa nyaman di dekat Daniel. Daniel itu memperlakukanku dengan baik, sama seperti Mayang."
"Sepertinya Daniel punya posisi tersendiri di hati Khalisha. Semoga aja Daniel bisa meluluhkan hati Khalisha yang dingin," batin nenek berharap.
"Kalau Daniel gimana? Dia kasih kamu waktu buat jawab nggak?"
"Daniel minta aku beri kesempatan untuk membuatku suka sama dia."
Nenek mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan. Nenek mengerti dengan apa yang dirasakan cucunya itu. Khalisha pasti bingung dengan semua ini. Biar bagaimanapun juga, ini pertama kalinya ada cowok yang menyatakan perasaannya pada Khalisha.
Nenek lantas bangkit dan menghampiri Khalisha. Tangannya mengelus dengan lembut kepala Khalisha, berusaha memberikan ketenangan pada cucunya itu.
"Menurut Nenek, kamu beri saja Daniel kesempatan. Hati manusia kan nggak ada yang tahu. Mungkin suatu hari nanti, kamu bakalan suka sama Daniel."
"Aku memang kasih dia kesempatan, Nek," ucap Khalisha menghela napas, "tapi, apa aku nggak keterlaluan ya, Nek?"
"Maksud kamu, Lis?" tanya nenek bingung.
"Aku beri Daniel kesempatan untuk membuatku suka padanya, tapi gimana kalau nanti aku masih nggak suka sama Daniel? Aku kan nggak enak jadinya. Aku beri dia kesempatan, tapi aku juga yang menolaknya. Apa seharusnya aku nggak kasih dia kesempatan ya, Nek? Aku nggak mau menyakiti hati Daniel, Nek."
Nenek tersenyum kecil, lalu berkata, "Nenek rasa kamu nggak salah kasih Daniel kesempatan. Biarkan dia membuktikan perasaannya dulu. Masalah nanti kamu menerima atau menolak perasaannya, kamu jujur aja sama perasaanmu sendiri. Daniel itu anak yang baik. Nenek yakin, dia pasti bisa menghargai apa pun keputusanmu."
"Apakah itu betul, Nek?" tanya Khalisha ragu.
"Tentu saja. Perasaan itu nggak bisa dipaksakan, Lis, kecuali Allah yang melakukannya. Kalau nanti kamu masih nggak suka sama Daniel, ya mau gimana lagi. Tapi, kalau seandainya kamu menolak Daniel, kamu ngomong aja baik-baik sama dia, Lis."
"Ya, Nek. Aku mengerti."
Melihat susu dan kue yang sudah habis, nenek pun mengambil nampan tersebut. "Nenek keluar ya, Lis. Sebaiknya kamu tidur sekarang. Belajarnya besok aja diteruskan."
Nenek lantas melangkahkan kaki keluar dari kamar Khalisha. Nenek sangat senang dengan perubahan sikap Khalisha. Hal yang ditunggu-tunggu akhirnya terjadi juga. Khalisha yang dingin perlahan-lahan mulai berubah. Jarang sekali nenek bisa mengobrol banyak dengan Khalisha. Tiap kali diajak mengobrol, pasti dirinyalah yang paling banyak bicara. Harapannya dari dulu hingga sekarang hanya satu. Nenek hanya berharap suatu hari nanti, cucunya itu kembali ceria seperti dulu lagi.
***
__ADS_1