
Bel sekolah pertanda istirahat telah berbunyi. Wajah Mayang yang tampak kusut seketika menjadi ceria. Bagaimana tidak. Selain karena pelajaran matematika yang memusingkan kepala, guru yang mengajar pun terkenal sebagai guru killer. Karena itulah, Mayang sangat senang ketika jam istirahat tiba.
Hal yang serupa pun juga dirasakan Khalisha. Wajahnya tampak bersemangat. Namun bedanya, ia bersemangat karena tak sabar ingin makan bekal buatannya. Menit-menit masuk jam istirahat, tiba-tiba saja perutnya minta diisi makanan. Ia pun buru-buru memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dan mengambil bekal makan siangnya itu.
"Apa aku nggak salah lihat? Itu Daniel, kan?" tanya salah satu siswi yang duduk di kursi belakang di sebelah Mayang.
"Iya benar. Itu Daniel," balas teman sebangkunya dengan mata yang masih tertuju pada pintu kelas, "ya ampun, Deniel menuju kelas kita. Untung aja aku belum ke kantin."
"Ya ampun, beruntung banget aku hari ini. Mimpi ya apa aku semalam sampai-sampai Daniel masuk ke kelas kita," seru siswi di belakangnya.
Melihat teman-teman sekelasnya yang terus menatap ke arah pintu kelas, Mayang dan Khalisha pun sontak mengarahkan pandangan mata mereka mengikuti teman-teman sekelasnya. Pantas saja para siswi yang tertinggal di kelas menjadi bersemangat. Mereka melihat Daniel berjalan memasuki kelas mereka dengan gayanya yang cool.
Saat memasuki kelas, kedua mata Daniel sama sekali tak melihat ke arah para siswi yang tampak antusias dengan kedatangannya. Tatapan matanya hanya tertuju pada satu tempat, tempat di mana Khalisha sedang duduk menatapnya.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Khalisha masih dengan tatapan yang tertuju pada Daniel.
Daniel menatap meja Khalisha. Seperti yang sudah ia duga, Khalisha pasti membawa bekal makanan. Tangannya pun spontan mengambil bekal makanan Khalisha.
"Ngapain kamu ambil bekal makananku? Sini kembalikan!" seru Khalisha sembari meraih bekal makanannya.
Bukannya mengembalikan bekal Khalisha, Daniel malah mengangkat tinggi-tinggi bekal tersebut, membuat Khalisha mau tak mau bangkit dari kursinya.
"Daniel, jangan main-main! Tolong kembalikan bekalku! Aku udah lapar ini," pinta Khalisha dengan nada yang menyedihkan.
Mayang dan juga teman-teman sekelasnya tampak kaget dengan tingkah Daniel dan Khalisha, terutama Khalisha. Yang mereka lihat selama ini, Khalisha sangat pendiam. Jarang sekali ia mau berbicara dengan orang lain. Wajahnya pun selalu datar. Namun yang mereka lihat sekarang sangat berbeda dari yang biasanya.
"Daniel, kembalikan bekalku!" pinta Khalisha kembali dengan suara yang agak tinggi. Wajahnya tampak kesal. Tinggi badannya yang tak setinggi Daniel membuatnya susah untuk mengambil bekal makanannya dari tangan Daniel.
"Temani aku makan!" seru Daniel yang membuat semua yang ada di kelas ternganga.
"Hah?! Kamu ke sini cuma pengen ditemanin makan?" tanya Khalisha tak habis pikir dengan pikiran Daniel, "ya ampun, Daniel. Kamu kan bisa makan sama teman-temanmu."
"Tapi aku maunya sama kamu, Lis. Kalau kamu nggak mau, ini bekal nggak akan kukembalikan," ancamnya.
Khalisha kaget mendengarnya. Dengan kesal, ia berkata, "Mana bisa begitu. Itu bekal kan punyaku."
"Ayolah, Lis. Temani aku makan," ucap Daniel dengan wajah yang memelas.
__ADS_1
Khalisha menghela napas. Tangannya masih tak bisa mengambil bekal makanannya, tapi perutnya sudah sangat keroncongan. Dengan terpaksa, ia pun akhirnya menyerah.
"Ya, ya, aku ikut kamu. Sini kembalikan!" ucapnya pada akhirnya.
Daniel tersenyum penuh kemenangan. Ia tahu kalau Khalisha tak akan bisa menolaknya. Bukannya mengembalikan bekalnya, tangannya malah menggenggam tangan Khalisha, membuat Khalisha kaget dengan ulahnya.
"Aku pinjam Khalisha," ucapnya, lalu menarik tangan Khalisha dan berjalan keluar kelas.
Niat hati ingin makan di dalam kelas, namun ulah Daniel membuatnya makan entah kemana. Karena tangannya digenggam Daniel, dengan terpaksa ia pun berjalan mengikuti Daniel.
Mayang terus menatap kepergian Khalisha dan Daniel. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya untuk menghentikan keusilan Daniel pada Khalisha tadi. Kali ini ia hanya menjadi penonton saja. Ia sendiri masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi. Dua orang yang ia ketahui dingin dengan orang lain, bisa sama-sama menunjukkan sikap yang berbeda. Sungguh tak disangka, dua orang dengan sifat yang tak jauh berbeda bila sedang bersama bisa memperlihatkan sisi lain dari mereka.
***
Suasana kantin yang ramai menjadi heboh dengan kedatangan Daniel. Bagaimana tidak heboh. Daniel datang dengan tangan yang menggenggam tangan Khalisha. Kebanyakan dari mereka menatap kaget. Selama ini, Daniel tak pernah dekat dengan gadis mana pun. Mereka mengira gosip yang dulu pernah beredar tidaklah benar. Namun, melihat sikap Daniel yang lembut pada Khalisha, perlahan-lahan mereka mulai percaya.
Khalisha yang merasa kalau dirinya menjadi pusat perhatian menjadi tak nyaman berada di kantin. Ia sama sekali tak menyangka kalau Daniel sangat populer di sekolah. Hanya duduk dengannya saja sudah menjadi bahan pembicaraan. Kotak bekal yang sudah dibukanya hanya ditatapnya saja. Nafsu makannya tiba-tiba saja menghilang.
Daniel yang terus memperhatikan Khalisha tersenyum kecut. Bisa-bisanya ia lupa kalau Khalisha tak nyaman berada di tempat yang ramai, apalagi menjadi pusat perhatian. Walaupun dirinya tak masalah dengan semua itu, namun bukan berarti orang-orang yang ada di dekatnya akan sama dengan dirinya.
"Tutup bekalmu! Kita pergi dari sini," suruh Daniel tiba-tiba.
"Cari tempat yang lebih sepi. Di sini terlalu ramai," jawab Daniel, lalu menutup bekal Khalisha.
Baru saja Daniel bangkit dari bangkunya, tiba-tiba saja Nathan, Andhika, dan Bayu datang menghampirinya. Wajah mereka sama-sama tampak kesal.
"Kamu mau kemana? Kita baru aja nyampe," ucap Bayu, lalu duduk di tempat Daniel.
Tanpa persetujuan Daniel, Andhika dan Nathan pun langsung duduk. Dengan tenang, mereka memakan makanan yang mereka beli.
Daniel menatap kesal ketiga sahabatnya itu. Ia yang awalnya ingin berduaan dengan Khalisha menjadi rusak karena kedatangan mereka. Dengan terpaksa, ia kembali duduk. Namun, bukannya duduk di tempatnya semula, ia duduk di samping Khalisha.
"Keterlaluan kamu, Niel. Mentang-mentang ada Khalisha, kamu lupa sama kita-kita," omel Nathan.
"Tau nih. Semenjak ada Khalisha, kamu itu lupa sama kita. Ke kantin aja nggak bareng kita. Padahal kan kita juga laper," sambung Bayu ikut mengomel.
Andhika tersenyum melihat dan mendengar perkataan kedua sahabatnya itu. Lucu sekali melihat mereka. Mereka malah terlihat seperti cewek yang sedang kesal sama pacarnya.
__ADS_1
"Maaf ya. Gara-gara aku, kalian ke sini nggak bareng Daniel," ucap Khalisha tiba-tiba. Ia merasa bersalah sama teman-teman Daniel.
Nathan dan Bayu sontak menatap Khalisha. Beberapa detik kemudian, mereka tertawa melihat Khalisha yang polos. Mereka sama sekali tak menyangka bila perkataan mereka akan membuat Khalisha merasa bersalah.
"Ngapain kamu minta maaf? Mereka cuman bercanda," ucap Daniel.
"Tapi kan gara-gara aku, kamu ke sini nggak bareng sama mereka. Seharusnya kamu tadi ke sini sama mereka aja, bukan sama aku. Aku kan bawa bekal sendiri. Aku bisa makan di kelas," balas Khalisha mulai mengomel.
Daniel menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Ia tak tahu harus bicara apa pada Khalisha. Khalisha benar-benar menganggap serius perkataan Nathan dan Bayu. Padahal, Nathan dan Bayu sedang bercanda.
Nathan, Andhika, dan Bayu tertawa melihat Daniel. Baru kali ini, Daniel tak berkutik dengan seseorang. Biasanya bila didekati seorang cewek, Daniel akan mengeluarkan kata-kata pedasnya. Namun, hanya dengan Khalisha, sikap Daniel menjadi berbeda.
"Iya tuh, Lis. Padahal kita kan bisa bareng ke sini. Ini malah hilang duluan," ucap Nathan pura-pura kesal.
Daniel langsung menatap tajam ketiga sahabatnya itu, membuat Nathan, Andhika, dan Bayu seketika menghentikan tawanya. Mereka pun langsung melanjutkan makan mereka, terutama Nathan. Ia tak lagi bicara apa pun. Ia memilih untuk pura-pura tak tahu.
Karena tak jadi pergi, Daniel membuka kembali tutup bekal makanan Khalisha. Ia melihat isi bekal Khalisha berbeda dari hari-hari sebelumnya. Nasi goreng dengan telur dadar, itulah makan siang Khalisha kali ini. Ia pernah melihat isi bekal Khalisha yang nasinya lebih banyak daripada lauknya.
"Tumben hari ini nasi goreng, Lis."
"Lagi pengen aja," sahut Khalisha, lalu memasukkan nasi goreng buatannya ke dalam mulutnya.
Daniel memasukkan beberapa bakso ke dalam bekal Khalisha. "Untuk kamu. Makan yang banyak."
"Terima kasih," balasnya kembali memakan nasi gorengnya.
"Cie... cie... romantis banget," goda Nathan tiba-tiba, membuat Andhika dan Bayu menahan tawa.
Bukannya malu, Daniel malah mendengus kesal. Ia benar-benar menganggap mereka sebagai pengganggu. Belum juga kekesalannya hilang, datang satu lagi pengganggu ke mejanya. Tanpa basa-basi, dia langsung duduk di samping Khalisha.
"Lis, kupikir kamu sama Daniel pergi kemana. Ternyata ke sini. Kalau tahu kamu dibawa Daniel ke sini, aku kan bisa bareng sama kalian," ucap cewek yang tak lain adalah Mayang.
"Maaf ya, May," ucap Khalisha menghentikan makannya. Ia juga merasa bersalah pada Mayang.
"Santai aja kali, Lis. Nggak usah dipikirkan," sahut Mayang tersenyum.
Khalisha, Mayang, Andhika, Nathan, dan Bayu bersikap biasa saja. Namun berbeda dengan Daniel. Daniel malah merasa semakin kesal. Bukan kesal pada sahabatnya dan teman Khalisha, ia kesal pada dirinya sendiri. Seharusnya tadi ia membawa Khalisha ke taman belakang sekolah. Di sana, ia bisa berduaan dengan Khalisha dan tak akan mungkin ada pengganggu.
__ADS_1
Kedua matanya lantas melirik ke arah Khalisha, lalu menghela napas. Khalisha tampak merasa nyaman dengan kehadiran mereka. Ia tersenyum kecil memandang Khalisha. Untuk kali ini, ia akan membiarkan para pengganggu ada di antara mereka. Namun untuk lain kali, ia tak akan membiarkan satu orang pun mengganggunya saat bersama dengan Khalisha.
***